SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Menyusun Rencana


__ADS_3

Pukul 07.30 semua tamu sudah hadir. Eyang Probo paling awal, disusul Pak Andi dan Pak Arman. Kedua orang kepercayaan almarhum Pak Wirawan itu datang menggunakan taksi. Hal ini memang sudah diatur Eyang Probo.


Saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu, Via baru datang.


“Kita ke ruang makan, yuk! Kita sarapan dulu dilanjutkan ngobrol di sana. Bundanya anak-anak sudah menyiapkan hidangan sekadarnya. Mari,” ajak Pak Haris.


Mereka pun beranjak ke ruang makan. Tidak sampai 30 menit, mereka sudah menghabiskan sarapan mereka. Bu Aisyah bersama Via segera membereskan meja makan.


“Kita mulai saja pembicaraan mengenai rencana pernikahan cucu-cucuku. Sambil menikmati kudapan, silakan,” Eyang Probo membuka pembicaraan.


“Dek Andi, kapan calon investor itu masih dengan renaca awal?” tanya Pak Haris.


“Masih, Mas. Mereka meminta bertemu di Jakarta lima hari lagi,” jawab Pak Andi.


“Bagus. Ini bisa menjadi awal kebangkitan PT Wijaya Kusuma. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam melangkah. Jangan sampai musuh-musuh almarhum Wirawan mencium pergerakan kita. Aku sudah janji untuk membantu kalian, tetapi secara diam-diam. Aku sendiri juga terancam. Mereka memang licik.”


“Saya sependapat dengan Tuan Probo. Biarkan mereka mengira Wijaya Kusuma masih terpuruk,” Pak Arman menambahkan.


“Kau orang kepercayaan almarhum? Apa sekarang kau yang mengendalikan Wijaa Kusuma?” tanya Eyang Probo kepada Pak Arman.


Pak Arman mengangguk sambil tersenyum. Eyang Probo menatapnya lekat, seakan tengah menilai kejujuran sosok Pak Arman.


“Berarti semua sepakat kalau pernikahan Farhan dan Via dirahasiakan? Begitu?” tandas Pak Haris.


“Iya, Mas. Sebaiknya dilaksanakan di KUA saja. Mas Haris meminta Pak RT dan RW untuk membantu kita merahasiakan hal ini. Kalau sampai musuh-musuh almarhum tahu, bukan hanya Mbak Via yang terancam, tetapi Mas Farhan juga. Bahkan, tidak mungkin keluarga Mas Haris terseret. Itu sebabnya saya setuju ketika Tuan Probo meminta saya dan Pak Arman datang menggunakan taksi,” ungkap Pak Andi.


“Farhan, Via, kalian tidak keberatan, kan kalau pernikahan kalian untuk sementara dirahasiakan?” tanya Pak Haris.


Farhan dengan mantap mengiyakan pertanyaan ayahnya. Sementara Via yang duduknya agak jauh dari meja tergagap. Rupanya, ia melamun.


“Ii---ya, Via ikut saja bagaimana baiknya.”


“Nak Andi, kau urus pendaftaran ke KUA nanti. Sekarang kita pikirkan setelah mereka menikah,” lanjut Eyang Probo.


“Lima hari lagi Mas Farhan dan Mbak Via ke Jakarta untuk menemui calon investor itu. Saya akan mendampingi. Nanti Mas Farhan dan Mbak Via bisa mempelajari dokumen PT Wijaya Kusuma agar bisa meyakinkan mereka. Sebaiknya Mbak Via jangan datang ke kantor. Bisa jadi ada mata-mata musuh yang mengawasi pergerakan Mbak Via. Kedatangan Mbak Via ke kantor bisa mengundang kecurigaan mereka,” usul Pak Arman.


Eyang Probo mengacungkan ibu jari kanannya kepada Pak Arman. Ia menanggapi usul tangan kanan almarhum Pak Wirawan.

__ADS_1


“Ya, itu benar. Lebih baik Farhan yang urusi itu. Farhan belum banyak dikenal orang. Itu menguntungkan pihak kita.”


“Bukannya Mas Farhan bekerja di perusahaan Tuan Probo? Apa itu tidak mengganggu?” tanya Pak Andi.


Eyang Probo tertawa. Sebagian giginya yang sudah mulai ompong terlihat jelas.


“Dia akan kupecat. Hahaha…. Untuk sementara waktu, biarlah Farhan kuberhentikan dulu. Biar dia membantu Nak Arman memulihkan Wijaya Kusuma. Kelak, ketika Wijaya Kusuma sudah sehat, Via bisa melanjutkan. Aku tidak memuji cucuku, tapi faktanya Farhan bisa dihandalkan. Surya Kencana mengalami kemajuan pesat setelah Farhan masuk. Ia memang berada di balik layar. Sengaja ia tidak memegang jabatan tinggi agar bisa mempelajari masalah di akar,” kata Eyang Probo.


“Terima kasih. Saya yakin kehadiran Mas Farhan akan membantu percepatan pemulihan Wijaya Kusuma,” tutur Pak Arman.


“Eh, kenapa kau malah diam saja, calon pengantin?” ledek Eyang Probo kepada Farhan.


Cowok berkaca mata itu tersenyum menanggapi canda eyangnya. Setelah menggeser posisi duduknya, ia berkata, “Saya menurut apa yang Eyang dan Om rencanakan selagi saya mampu. Pada dasarnya, saya ingin membantu asset keluarga Dek Via pulih.”


“Sekarang, kita bahas mengenai tempat tinggal. Kalau tidak salah, Via tinggal di kost? Bagaimana letaknya?”


“Iya, Eyang. Letak kost Via tidak di pinggir jalan, agak jauh dari rumah lain,” Pak Haris menjelaskan.


“Sebaiknya tidak tinggal di situ lagi. Juga jangan tinggal di sini. Aku mengusulkan Via kontrak rumah di tepi jalan raya yang mudah diakses dan juga diawasi,” usul Eyang Probo.


“Maaf, Eyang, Via punya usaha kecil-kecilan. Maksud Via, saat ini Via belajar jualan bersama teman kuliah Via. Kami tinggal di tempat kost yang sama,” Via menyela.


“Baju, Eyang. Sistim online.”


“Bagaimana kalau sewa ruko saja untuk kau tempati bersama temanmu.”


“Tapi, sewa ruko kan mahal,” protes Via.


“Soal itu tidak usah kau pikirkan. Kau tinggal menempati. Sewa bodyguard untuk mengawasi Via dari jauh.”


“Saya setuju. Apalagi Dek Via sempat diteror beberapa waktu yang lalu,” kata Farhan.


“Nah, intinya sepakat soal tempat tinggal Via, ya? Untuk sementara Farhan dan Via tinggal terpisah. Kalau mau, Farhan bisa ngontrak di rumah dekat ruko yang ditempati Via. Ya, barangkali pengantin baru nggak mau jauh-jauhan,” goda Pak Haris.


Farhan lagi-lagi tersenyum mendapat ledekan. Kali ini pipinya bersemu merah. Sementara Via hanya diam menunduk.


“Sebentar, ada yang ingin aku sampaikan ke Farhan dan Via. Ini serius. Karena pernikahan kalian dirahasiakan demi menjamin keselamatan kalian pribadi, keluarga, juga perusahaan, kalian pun harus menunda untuk punya momongan. Kalau perlu, Farhan jangan tidur dengan Via dulu,” kata Eyang Probo.

__ADS_1


“Yes, itu yang aku mau. Aku tetap bisa menjalani hari-hariku tanpa si kulkas. Aku masih bebas. Ah, senangnya. Ternyata tidak seseram yang kubayangkan,” batin Via.


“Iya, Yang. Farhan tidak keberatan demi melancarkan usaha ini,” jawab Farhan.


“Via bagaimana?”


“Setuju, Eyang,” jawab Via mantap.


“Hal lain kita bicarakan kemudian. Usahakan kita tidak bertemu secara fisik. Kita pun harus hati-hati ketika berkomunikasi menggunakan telepon. Siapkan ahli IT untuk memastikan sambungan kita bersih,” lanjut Eyang Probo.


“Kudapannya kok dianggurin? Memang nggak ada anggur, sih. Yang ada jeruk dan pisang,” Bu Aisyah menyela.


Mereka tertawa kecil. Secara bersama-sama, mereka meraih cangkir berisi teh hangat dan menyesapnya.


Sambil menikmati makanan kecil yang ada, mereka melanjutkan pembicaraan. Saat jarum jam pendek menunjuk angka 9, ketiganya berpamitan.


“Nak Andi langsung ke KUA? Berkas yang dibutuhkan sudah dibawa apa belum?” Eyang Probo mengingatkan.


“Iya, Tuan. Ah, saya hampir lupa. Mas Haris sudah menyiapkan persyaratannya, bukan?Kalau ada yang kurang, gampang dilengkapi besok.”


“Sebentar, aku ambil dulu. Farhan, Via, mana yang tadi kalian persiapkan?” tanya Pak Haris.


Setelah dokumen persyaratan pendaftaran pernikahan diserahkan kepada Pak Andi, Pak Andi pun mohon diri. Ia kembali menggunakan taksi.


“Mas Farhan, ini dokumen PT Wijaya Kusuma yang harus Mas Farhan pelajari. Kalau ada hal yang mau Mas tanyakan, Mas bisa hubungi saya. Kontak saya ada di situ, kok.” Pak Arman menyerahkan sebuah map dan flashdisk kepada Farhan.


“Iya, Om Arman. Terima kasih.”


“Saya permisi, mau ke kantor,” ucap Pak Arman.


Setelah semua tamu meninggalkan kediaman dokter Haris, Bu Aisyah pun bersiap ke sekolah. Ia segera berganti pakaian.


****


Bersambung


Nah, gak usah ngarep diundang pas pernikahan Via dan Farhan, ya! Author juga ga diundang loo...🤭

__ADS_1


Ikuti terus kisah ini! Insya Allah besok pagi up. Jangan lupa berikan jempol, krisan, dan vote 😍


Terima kasih 😘😘😘


__ADS_2