
Kafe Mickey tidak terlalu ramai. Saat itu memang belum waktu makan siang. Hanya ada 7 orang pengunjung yang menempati 3 meja.
Setelah turun dari taksi, Via dan Ratna melangkah masuk ke kafe. Mereka disambut dengan pelayanan yang baik.
"Selamat siang, selamat datang di Kafe Mickey. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang gadis berseragam warna merah dengan bawahan celana panjang hitam.
"Siang, Mbak. Kami sudah janjian dengan teman. Dia menunggu di meja 19," jawab Via.
"Oh, dengan Mas Doni? Mari saya antarkan ke meja 19."
Via dan Ratna mengangguk. Kemudian, mereka berjalan mengikuti gadis itu.
"Lho, mana Doni?" tanya Ratna kebingungan karena tidak ada siapa pun di meja tersebut.
"Mas Doni ada di dalam. Silakan Mbak duduk dulu. Sebentar lagi makanan kami antar ke sini."
"Eh, kami kan belum pesan apa-apa?" lagi-lagi Ratna bertanya karena bingung.
"Mas Doni sudah memesan. Kalau masih kurang, nanti Mbak bisa menambahkan pesanan. Ada lagi yang dapat saya bantu?"
"Tidak, Mbak. Terima kasih," jawab Via.
Mereka diam menunggu Doni dan menu. Tak sampai dua menit mereka menunggu, seorang cowok berpostur atletis muncul. Di belakangnya dua orang waitress membawa makanan dan minuman.
"Maaf nunggu. Aku ngobrol sama om dulu di dalam," ucap Doni.
"Kami juga baru datang, kok," sahut Ratna.
"O ya, kalau ada menu lain yang mau dipesan, silakan."
"Nggak usah, Don. Ini sudah banyak banget."
"Kalau begitu, silakan dinikmati," kata Doni ramah. Ia sendiri mulai menyeruput es capuccino-nya.
"Maaf, Don, aku nggak jenguk kamu lagi setelah pulang dari rumah sakit. Aku nggak tahu diri, ya?" ucap Via lirih.
"Nggak apa-apa, Via. Lagian aku sudah sembuh. Di rumah aku cuma terapi, kok. Nih, aku sudah bisa jalan. Cuma, jangan ajak aku jogging! Aku belum sanggup."
Ucapan Doni membuat suasana mencair. Mereka tertawa. Via tidak lagi merasa bersalah.
Mereka mulai menyantap makanan. Setelah beberapa suapan, Ratna berhenti. Jiwa keponya mulai memberontak.
"Don, kamu tahu orang yang nabrak Via, ya?"
Doni mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya.
"Ini orangnya," Doni menunjukkan foto Agus, temannya. Di foto tersebut Agus mengenakkan topi dan kaca mata hitam. Wajahnya tidak begitu jelas.
"Dapat foto itu dari mana? Kamu kenal? Kamu sudah ketemu dengan orang itu? Sudah kamu tanyai, siapa yang nyuruh dia melakukan aksi nabrak Via?" Ratna memberondong Doni dengan banyak pertanyaan.
Via menggeleng-gelengkan kepala. Ditepuknya paha Ratna.
"Bisa nggak kamu nanyanya satu per satu? Doni bingung tuh," tegur Via.
Ratna hanya nyengir. Ia tidak merasa bersalah.
"Kebiasaan dari dulu nggak ilang juga," gerutu Doni.
"Yah, dulu kan mau jadi wartawan. Cuma nggak ada yang mau nerima aku," ucap Ratna dengan mimik sedih.
__ADS_1
"Nah, mulai drama."
"Kamu kok nggak punya empati gitu, sih? Kamu kan tiap hari bersamaku. Harusnya kamu menghibur kalau sahabatmu bersedih, Vi."
"Ntar kupanggilin topeng monyet buat menghibur kamu," sahut Via.
Doni tertawa. Sementara Ratna menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Kembali ke laptop! Pertanyaan pertama, siapa nama orang yang ada di foto itu?" tanya Ratna
"Namanya Agus. Lengkapnya Agus Darmadi."
"Pertanyaan kedua, gimana kamu bisa kenal Agus? Aaah, bukan. Kok kamu bisa kenal Agus dan tahu kalau dia pelakunya?" tany Ratna lagi.
"Dia temanku waktu masih duduk di bangku SMP. Bahkan, kami terbilang cukup dekat."
"Aduuuh, sakit," tiba-tiba Ratna merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
"Perutmu kenapa?" tanya Via cemas.
"Don, mules nih. Toilet sebelah mana?"
"Dari sini kamu jalan lurus ke sana, lalu belok kanan."
"Oke, Don. Aku ke toilet dulu. Maaf, ya."
Ratna melesat meninggalkan dua orang yang tengah berbicara serius.
"Lanjutkan tentang Agus," pinta Via.
Doni meminum es cappucino-nya lagi. Setelah itu, baru dia melanjutkan pembicaraan.
"Siapa yang menyuruhnya?"
"Yang pertama, yang di depan sekolah kita, Agus disuruh Aurelia. Itu sesuai prediksi teman-teman kita."
Via mengangguk. Meski banyak tuduhan yang dialamatkan kepada Lia, waktu itu ia masih membelanya karena tidak ada bukti.
"Lalu yang kedua, yang mengakibatkan kamu cedera, apa juga Lia yang menyuruh temanmu?"
Doni menggeleng. Saat ia mau bicara, Ratna datang.
"Huff, lega. Aduh, aku ketinggalan ceritamu, Don. Gimana, siapa otak di balik kecelakaan yang menimpa Via? Si ubur-ubur, bukan?"
Doni dan Via tertawa kecil. Mereka geleng kepala melihat tingkat kepo Ratna.
"Iya, Lia yang menyuruh," kata Doni.
"Nah, sesuai prediksi. Dasar perempuan licik. Aduh, kenapa perutku sakit lagi? Maaf, permisi." Ratna kembali berlari ke toilet.
"Anak itu kenapa, sih? Kok mendadak bolak-balik ke toilet?" gumam Via.
"Paling salah makan kemarin. Eh, aku lanjutin, ya. Yang kedua ini cukup rumit. Dia disuruh seorang direktur. Ia tidak bisa gegabah. Kalau dia membocorkan rahasia siapa yang menyuruhnya, tidak hanya dirinya yang terancam. Keluarganya bisa terseret. Makanya, ia baru memberi tahuku setelah aku mengirim dia dan keluarganya jauh dari sini dan memberi pekerjaan."
"Siapa orang yang menyuruhnya?" tanya Via penasaran.
"Namanya Tuan Beno. Konon di dunia bisnis cukup terkenal meskipun perusahaannya tidak terlalu besar. Aku sendiri tidak paham."
"Kau pernah lihat orangnya? Atau fotonya?"
__ADS_1
Doni membuka layar ponselnya. Ia lalu menunjukkan foto sosok pria berkepala botak dan perut agak buncit. Via ternganga melihatnya.
"Kau mengenalnya, Via?" Doni penasaran melihat reaksi Via.
"It---itu.... Ah, jangan sampai Ratna tahu."
"Ratna? Kenapa memangnya?" Doni makin penasaran.
"Aku kenapa?" Ratna yang baru masuk langsung bertanya begitu mendengar namanya disebut.
"Eh, Ratna. Itu, Doni penasaran kamu kenapa bolak-balik ke toilet," jawab Via.
"Aku baru inget kalau kemarin sore makan rujak."
"Cabainya berapa?" Via iseng menanyakan.
"Tujuh biji," jawab Ratna enteng.
Doni dan Via kaget. Lagi-lagi mereka geleng kepala mengetahui kelakuan Ratna.
"Pantes aja kamu sakit perut, mules-mules gitu. Nggak sekalian cabai sekilo, Rat?" Doni meledek.
"Ih, kamu malah meledek. O ya, kapan kamu ketemu temanmu si Agus?"
"Lima hari yang lalu," jawab Doni.
"Kok baru cerita sekarang?" tanya Ratna lagi.
"Kan aku operasi pelepasan pen. Kamu lupa?" balas Doni.
"Ah, iya. Wah, es alpukatku jadi nggak manis. Gara-gara esnya mencair," ucap Ratna kecewa.
"Minumnya sambil lihat aku aja, Rat. Kan aku manis, ntar es alpukatmu ikutan manis jadinya," goda Doni.
"Diiih, narsis amat!" cibir Ratna. "Aduh, kok mules lagi. Bentar, ya!"
Untuk ketiga kalinya Ratna berlari ke toilet. Via geli sekaligus kasihan.
"Don, tolong kirim foto itu ke aku, ya! Masalah ini harus aku bicarakan dengan keluargaku," pinta Ratna.
"Ok. Sekarang juga aku kirim ke kamu." Doni kembali membuka ponselnya dan mengirim foto Tuan Beno kepada Via.
"Apa dia kerabat Ratna?" tanya Doni.
Via mengangguk. Doni berusaha menyembunyikan kekagetannya.
"Semoga Ratna tidak terlibat," desis Doni.
"Kemungkinan tidak. Tapi, entahlah. Tolong kamu jangan menceritakan kepada orang lain, terutama Ratna."
"Oke," jawab Doni setuju.
***
**Bersambung
Terima kasih atas dukungan seluruh readers 😘😘
Spesial buat yang kasih like semua episode 😘 😘, buat yang kasih rate 5 😘, dan vote 😘😘, serta vote di atas 100 😘😘😘😘😘
__ADS_1
Jangan bosan ngikuti novelku, juga dukung novelku ini**!