SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XLVIII


__ADS_3

Via menutup Al Quran yang baru saja selesai ia baca. Demikian pula Bu Aisyah.


Mushola keluarga dokter Haris kembali sunyi karena hanya dua orang, Via dan Bu Aisyah, yang masih di sana. Tadinya, beberapa pasien dokter Haris dan pengantar sholat maghrib di mushola keluarga berukuran 4X6 meter.


"Bacaanmu semakin bagus. Di kampus kamu ikut qiroati?"


Via mengangguk.


"Target hafalanmu bagaimana?" tanya Bu Aisyah lagi.


"Via ingin dua bulan lagi hafal juz 30."


Bu Aisyah tersenyum lembut. Ia merasa bangga dan haru. Wanita itu masih ingat bagaimana sosok Via sebelum menjadi anak angkatnya. Gadis itu memang baik perilakunya, tetapi sedikit sekali tersentuh aturan agama. Ternyata dalam waktu kurang dari dua tahun Via mengalami perubahan cukup drastis. Allah memang Maha membolak-balikkan hati, memberikan petunjuk kepada yang dikehendaki oleh-Nya.


"Bun, ada yang ingin Via sampaikan," kata Via.


"O ya? Mau bicara di sini atau ...."


"Di sini saja. Kalau di rumah, takutnya Mas Azka atau Mas Farhan dengar."


"Oh, jadi ini rahasia perempuan?" tanya Bu Aisyah sambil tersenyum.


"Emmm---bisa dibilang begitu."


"Oke deh. Silakan, Via mau ngomong soal apa?"


"Anu itu, Bun, soal ...." Via tampak ragu.


Bu Aisyah tersenyum sambil menggenggam kedua tangan Via. Ditatapnya gadis itu.


"Via mau ngomong apa? Katakan saja."


"Masalah perusahaan almarhum papa," ucap Via lirih.


"Oh, itu. Tentang syarat agar kamu bisa menjadi pewaris papamu, sebagai pemegang saham mayoritas?"


Via mengangguk. Sedetik kemudian, ia menunduk.


"Kamu sudah mantap menentukan pilihan kamu?"


"Itu yang akan Via sampaikan. Via butuh masukan dari Bunda."


"Katakan saja!"


"Via tiga kali bermimpi memakai gaun pengantin dan duduk di ruang kerja almarhum papa. Apakah itu petunjuk bahwa Via harus menikah agar bisa membantu perusahaan papa?"


Bu Aisyah terdiam sejenak. Ia mengubah posisi duduknya, berpindah ke samping Via.


"Mungkin begitu. Lalu perasaan kamu sendiri bagaimana?"


"Sejujurnya Via masih bingung. Kan Via harus menikah dalam waktu dekat menurut rancangan Pak Andi dan Pak Arman agar bisa memenuhi permintaan calon investor. Via belum punya calon."


"Insya Allah akan ada yang mau menikah dengan Via jika Allah menghendaki. Bunda akan bantu."


"Ada lagi, Bun. Via masih takut sebenarnya."


"Takut kenapa?"


"Via---Via belum siap sepenuhnya menjadi seorang istri."


"Belum siap? Kenapa?"


"Bukannya seorang istri harus patuh terhadap perintah suami? Kalau suami Via nanti menyuruh Via tinggal bersamanya, nggak boleh kuliah, terus bagaimana? Via ingin menamatkan kuliah Via. Selain itu, Via juga masih ingin main dengan teman-teman Via."


Bu Aisyah menahan tawa. Sambil membelai kepala Via, ia berkata, "Hal itu bisa dibicarakan sebelum pernikahan. Kamu tenang saja."


"Ada lagi, Bun. Via takut soal..." Via kembali tampak ragu.


"Soal apa lagi?"

__ADS_1


"Aa--nu, itu nafkah ba---batin," jawab Via terbata-bata.


"Maksud kamu hubungan suami istri?"


Via mengangguk. Pipinya tampak memerah menahan malu.


"Kenapa? Itu hal yang alami. Suamimu nantinya akan membimbing kamu. Nggak usah takut."


"Via merasa belum siap. Tapi, kalau sudah menikah, menolak permintaan suami kan dosa."


"Kalau suamimu pengertian, ia tidak akan memaksamu. Ia pasti bisa bersabar menunggu kesiapanmu."


Via terdiam. Hatinya sedikit lebih tenang mendengar penjelasan Bu Aisyah.


"Berarti kamu siap menikah dalam waktu dekat?" tanya Bu Aisyah.


"Insya Allah kalau calonnya sesuai, Via siap."


Bu Aisyah menepuk bahu putri angkatnya.


"Bunda akan bicarakan dengan ayahmu."


"Terima kasih, Bun."


"Kamu putri Bunda. Itu kewajiban kami sebagai orang tua. Ah, sebentar lagi masuk waktu isya. Kita di sini saja menunggu waktu sholat tiba, ya."


Via mengangguk. Mereka pun tidak melepas mukena yang dipakai sejak menjelang maghrib.


****


Malam mulai larut. Sepi membungkus kota, jarang ada orang dan kendaraan melintas di jalanan.


Sebagian orang memilih merebahkan diri di tempat tidur. Mereka mengistirahatkan raga yang lelah beraktivitas seharian.


Namun, tidak demikian di kamar yang lampunya masih menyala terang. Sepasang suami istri masih asyik mengobrol.


"Mau Bunda pijit? Kayaknya kok lelah banget? Tadi banyak, ya, pasien yang datang?" tanya Bu Aisyah lembut.


Bu Aisyah tersenyum. Ia duduk di tepi tempat tidur.


"Makanya, tiduran sini! Pijatanku masih enak sepertinya. Gratis lagi," canda Bu Aisyah.


"Ada bonusnya, nggak?" balas dokter Haris.


"Ih, udah dikasih gratis masih minta bonus."


Dokter spesialis penyakit dalam itu terkekeh melihat istrinya pura-pura marah. Ia mendekati sang istri dan dengan cepat mengecup bibirnya yang mengerucut.


Bu Aisyah kaget dengan tindakan suaminya. Spontan ia mencubit pinggang Pak Haris.


"Genit, ah!" pekik Bu Aisyah.


"Genit sama istri kan ga papa."


Bu Aisyah mencebik.


"Mau dipijit nggak? Kalau nggak, aku mau tidur."


"Emang Ayang Bunda nggak capek?" tanya Pak Haris sambil melingkarkan tangannya ke bahu istrinya.


"Enggak. Ada Via, Bunda ringan banget tugasnya. Enaknya punya anak perempuan. Dari dulu aku begitu merindukan punya anak perempuan."


"Ayang nyesel punya anak cowok semua?"


"Ya enggaklah. Apalagi Farhan dan Azka termasuk anak sholeh, penurut lagi."


"Jadi mijit, nih?" Pak Haris mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya sini kalau mau."

__ADS_1


Pak Haris merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bu Aisyah memposisikan duduk di samping punggung sang suami lalu mulai memijit.


"Ah, enaknya." Pak Haris merasakan sensasi pijatan Bu Aisyah yang seperti pemijat profesional.


"Yang, Via tadi bilang kalau dia bersedia menikah dalam waktu dekat ini." Bu Aisyah membuka topik pembicaraan lain.


"O ya? Ayang Bunda nanyain ke Via?"


"Enggak. Via sendiri yang berinisiatif ngomong ke Bunda jelang isya tadi."


"Berarti tinggal membicarakan dengan Farhan."


"Iya. Bagaimana kalau besok siang?"


"Boleh. Aku insya Allah pulang agak awal. Jam 2-nan sampai rumah."


"Kalau begitu, Farhan besok disuruh pulang cepat. Bagaimana?"


"Aku telepon ayah saja biar nyuruh Farhan pulang."


"Eyang?" Bu Aisyah mengernyitkan dahi.


"Iya. Kan ayah bosnya Farhan."


Bu Aisyah terkekeh. Tanpa disadari pijitannya menjadi lebih keras.


"Auw!" pekik Pak Haris tertahan.


"Eh, kenapa?" Bu Aisyah kebingungan.


"Keras amat mijitnya?"


"Maaf, nggak sengaja."


"Iya. Sekarang mijitnya pakai perasaan, ya!"


"Yayang besok yang nelpon eyang?"


"Iya, besok kalau sudah sampai rumah sakit. Kalau di rumah takut ada yang nguping."


"Ni seperti main detektif-detektifan."


Pak Haris tertawa. Bahunya sampai terguncang.


"Sssttt, jangan keras-keras! Ini sudah malam," tegur Bu Aisyah.


"Oh, iya. Karena udah malam, mijitnya udahan aja. Badanku lebih enakan, nggak pegel lagi."


Pak Haris bangun dan duduk menghadap Bu Aisyah.


"Beneran, nih?"


"Atau mau ngasih plus-plus? Hem, iya? Ada bonus, ya?" Pak Haris memainkan alisnya naik turun.


"Apaan, sih? Kalau sudah cukup, aku mau tidur," kata Bu Aisyah ketus. Ia segera mengambil selimut.


Dalam sekejap, wanita itu sudah bersembunyi di balik selimut. Hanya wajahnya yang terlihat.


Melihat tingkah istrinya, Pak Haris hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia sering merasa gemas dengan tingkah sang istri.


Setelah puas memandangi wajah istrinya, Pak Haris bangun dari tempat tidur. Ia mematikan lampu kamarnya lalu menyusul Bu Aisyah ke pembaringan.


****


**BERSAMBUNG


Jangan lupa tinggalkan komentar dan like! Biar lebih semangat, kasih vote yang banyak, ya!


(ni author ngidam vote, ya?) 😆😆😆

__ADS_1


Buat yang setia mengikuti kisah ini, author ucapkan terima kasih**.


__ADS_2