SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pacar Farhan


__ADS_3

Menghabiskan waktu bersama dalam lava tour membuat semua gembira. Perubahan yang nyata terlihat pada diri Mira yang sebelumnya merasa tertekan akibat penculikan yang menimpanya.


Setelah zuhur mereka memutuskan untuk kembali. Meski sedikit penat, mereka tidak ada yang mengeluh.


Pukul 14.00 Farhan sudah sampai ruko. Para gadis turun dan segera masuk ruko.


Sebelum kaki Via menapaki tangga, Farhan menarik tangannya. Via yang tidak menduga akan ditarik, tubuh langsingnya mengikuti tarikan Farhan dan tak sengaja menabraknya.


"Ouh," pekik Via tertahan tangan kiri Farhan yang membekap mulutnya.


"Sssttt, jangan berisik! Nanti dikira ada apa-apa!" bisik Farhan.


"Lah, terus ini ada apa?"


"Setelah mid semester, kita kencan, yuk!"


Via menahan tawanya. Ia merasa Farhan seperti anak SMA yang baru mengenal pacaran.


"Aku serius, Dek. Banyak yang ingin kukatakan kepadamu."


"Ya katakan saja!"


"Butuh waktu dan suasana yang pas."


"Memang sekarang nggak pas?"


"Tentu saja tidak," sahut Farhan cepat.


Via mengangguk. Entah mengapa rasanya Via geli melihat tingkah Farhan kali ini.


"Oke, sekarang aku pulang dulu. Belajar yang rajin! Dua minggu lagi Mas ajak Dek Via ke suatu tempat."


Sebelum Via menjawab, Farhan meninggalkannya. Langkahnya dengan cepat menapaki tangga menuju lantai 2.


"Dek semuanya, aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik, ya!" Farhan pamit dari luar kamar.


"Iya, Mas," jawab Ratna sambil membuka pintu kamar. Namun, Farhan sudah kembali turun.


"Jaga diri baik-baik, istriku! Aku selalu merindukanmu," ucap Farhan.


Dengan gerakan cepat, Farhan mengecup kening Via. Lalu, ia merengkuh tubuh Via dan mendekapnya sebentar.


"Sudah, ya! Assalamualaikum," ucap Farhan lagi.


Via tidak langsung menjawab salam Farhan. Ia mendadak seperti linglung setelah didekap tadi.


"Waalaikumsalam," jawab Via setelah Farhan masuk mobil. Tentu saja cowok itu tak mendengar salam yang diucapkan Via.


"Via, kamu lagi ngapain?" Ratna bertanya dari lantai 2.


"Enggak, enggak apa-apa kok," jawab Via sedikit tergagap. Ia bergegas ke atas.


"Eyang Probo ternyata baik, ya? Nggak nyangka, deh. Padahal ...." Ratna tidak menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Padahal kenapa?"


Ratna menoleh. Ternyata Mira mendengarkan dari kamarnya. Ratna ragu menjawab pertanyaan Mira tersebut.


"Dulu, eyang sempat membenciku karena aku anak almarhum papa, saingan bisnis eyang. Selain itu, eyang juga dihasut oleh saingan papa lainnya. Bahkan, Eyang Probo sempat bekerja sama dengan mereka untuk menyerang bisnis almarhum papa," kata Via.


"Termasuk Om Beno?" tanya Mira dengan suara berat.


"Mungkin. Tapi, sudahlah. Alhamdulillah eyang bisa menerima penjelasan kedua cucunya tentang almarhum papa dan saingannya."


"Kedua cucunya?" Mira tak mengerti.


"Iya, Mas Farhan dan Mas Azka. Mereka mencoba mengumpulkan bukti tentang kelicikan om Danu dan kawan-kawan."


"Berarti mereka perhatian banget sama kamu, ya?"


"Siapa maksud Mbak Mira?" tanya Via tak mengerti.


"Tentu saja Mas Farhan dan Azka."


"Tidak hanya mereka, ayah dan bunda juga. Mereka telah menganggap aku putri mereka sendiri."


“Seneng, ya? Eh, memang kamu nggak naksir mereka, Dek? Mereka kan cakep, baik, sholeh lagi.”


“Jangan-jangan Mbak Mira naksir? Eh, Mas Azka tuh kayaknya naksir Via, deh,” sahut Ratna.


“Uhukkk…” Via yang sedang minum menjadi tersedak.


“Pelan, Dek! Eh, wajar kalau Mas Azka naksir Dek Via. Siapa sih yang nggak naksir cewek cantik gini?” goda Mira.


“Haha…memang kamu nggak naksir Mas Azka, Vi? Mas Azka kan cowok idaman banyak cewek. Tampang jelas oke bingits. Bibir kemerahan karena bukan perokok. Hidungnya mancung dan matanya tajam. Badannya atletis. Kalau di novel-novel romantic digambarkan perutnya kotak-kotak kayak roti sobek. Wuiiih…” puji Ratna.


“Astaghfirullah halaziim. Ratna kok gitu?” protes Via.


“Masak gak boleh mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa, sih?” balas Ratna.


“Mereka sebenarnya sudah punya pacar belum, Dek?” tanya Mira.


“Pacar? Enggaklah. Mereka nggak mau pacaran, Mbak,” jawab Via.


Mira kaget. Matanya menatap Via tak percaya.


“Memang kenapa?”


“Mereka sudah dididik untuk menjaga diri.”


“Maksud Dek Via?” Mira tak paham.


“Ayah dan bunda mengajarkan agar mereka tidak pacaran, menjaga pandangan mereka dari lawan jenis yang bukan mahram untuk menghindari zina. Dalam Al Isra ayat 32 disebutkan, janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina merupakan perbuatan keji dan jalan yang buruk.”


“Nggak boleh mendekati zina? Kalau zina malah boleh?” Ratna menyela.


“Ish, kau ini,” gerutu Via sambil melempar bantal ke Ratna. Lalu, ia melanjutkan,”Allah melarang kita mendekati zina. Mendekati saja tidak boleh. Apalagi, sampai melakukannnya. Itulah indahnya bahasa Al Quran.”

__ADS_1


Ratna meringis dan berkomentar,”Oh, gitu. Kirain…”


“Makanya, kalau kajian dengerin baik-baik! Jangan ngitungin duit melulu!” ejek Via.


“Hehe…kan kamu yang ngajak kajian sambil jualan.”


“Tapi, saatnya kajian ya fokus! Jualannya stop dulu!” sanggah Via.


“Iya, ustazah!” canda Ratna.


“Tunggu! Apa hubungan pacaran sama zina?” tanya Mira.


“Bukannya kalau pacaran orang pengin deket-deket pasangannya? Bergandengan tangan, bahkan kadang berciuman. Saat seperti itu, tentu ada nafsu, kan? Bisa saja seperti itu kebablasan. Ingat, syetan itu licik! Dia akan mengajak manusia untuk berbuat sesat. Paham yang Via maksud?”


“Paham, Ustazah,” jawab Ratna sambil cengengesan.


"Memang mereka nggak pernah suka sama cewek?" tanya Mira lagi.


"Mana Via tahu? Kalau mereka suka dan siap, tentunya mereka akan melakukan proses taaruf lalu mengkhitbah."


"Apaan tuh?"


"Taaruf itu proses kenalan. Mereka menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang calon pasangan. Kalau sudah yakin, barulah mengkhitbah, melamar. Lalu, akad nikah. Begitu, Mbak," jawab Via.


"Berarti mereka belum pernah pegang-pegang cewek?"


Via terdiam. Ia agak bingung menjawab pertanyaan Mira.


"Kalau Mas Farhan jelas sudah pernah. Nggak cuma megang, nyium dan meluk juga sudah. Tapi kan aku sudah jadi pasangan halalnya," batin Via.


"Kok Mbak Mira tanya-tanya terus tentang Mas Azka dan Mas Farhan? Naksir? Mas Azka calon suami Via, tuh," Ratna menyela.


"Ish, sembarangan!" seru Via.


"Eh, beneran mereka nggak pernah gituan sama cewek?" Mira tak memedulikan ledekan Ratna.


"Gituan? Pegang-pegang cewek? Via nggak tahu persis. Insya Allah mereka nggak mau pegang perempuan yang bukan mahram sembarangan," jawab Via diplomatis.


"Oh senangnya kalau bisa jadi pacar Mas Farhan. Sudah ganteng, sholeh, perhatian, mapan pula. Eh, dia nggak mau pacaran, aku kok lupa. Hhmmm, kalau dia naksir aku, tentu aku gak bisa nolak. Tapi, apa mungkin?" pikir Mira.


"Mbak, Mbak Mira kenapa?" tanya Via.


"Eng---nggak, nggak kenapa-kenapa, kok," jawab Mira tergagap. Mendadak wajahnya memerah.


"Mbak Mira kenapa, ya? Kok sepertinya aneh gitu. Apa Mbak Mira naksir Mas Farhan? Ih, kalau bener naksir Mas Farhan, gimana dong? Mas Farhan kan suami Via," pikir Via.


Mereka terdiam. Masing-masing berkelana di lamunan.


***


**Bersambung


Tetap dukung author, ya! Ini dini hari baru selesai bikin episode terbaru biar readers nggak kelamaan nunggu. Eh, emang ditunggu? 🤭

__ADS_1


Maaf, akhir-akhir ini author ga bisa bales koment satu per satu. Tapi, jangan bosen, ya!


Love you 😘😘😘**


__ADS_2