SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ada Bahagia


__ADS_3

Kala rasa cinta mengikat hati dua insan, keinginan untuk dekat selalu menggoda. Bila jarak memisahkan, rindu pun menyandera pikiran. Itulah yang Via rasakan.


Demi mengurangi gelisah karena memikirkan Farhan, ia sering menenggelamkan dalam pekerjaan. Apalagi ketiadaan Edi membuat pekerjaannya lebih banyak. Ternyata, Edi belum bisa kembali sesuai rencana. Namun, hal itu bukan masalah bagi Via.


Banyaknya pekerjaan yang harus Via selesaikan membuat ia bisa melupakan gundahnya. Ia juga banyak belajar menyelesaikan sendiri semua masalah yang ada. Kecerdasan otak ditunjang naluri bisnis seperti papanya membuat semua berjalan lancar.


Sebelum tidur, Farhan selalu menyempatkan video call sekitar setengah jam. Malam ketiga mereka berjauhan ini membuat rindu semakin menggunung. Video call tidak bisa menghapus rindu, hanya sedikit mengurangi keresahan.


Jarum pendek jam baru beringsut sedikit dari angka 9 saat Farhan menekan tombol dial. Tak perlu menunggu hingga panggilan kedua, Farhan sudah bisa mendengar sapaan merdu suara Via.


“Assalamualaikum, Hubbiy.”


“Waalaikumsalam. Cinta sedang apa?”


“Sedang ngecek bahan meeting besok siang. Hubbiy ada di mana? Sepertinya bukan rumah sakit?” Via heran melihat latar belakang Farhan.


“Jeli amat? Iya, Mas nggak di rumah sakit. Dek Azka sudah pulang tadi siang. Sekarang Mas sedang di perkebunan untuk mengusut masalah yang terjadi. Tadi pagi Mas sudah komunikasi dengan kakek tentang tindakan yang akan Mas ambil. Kakek Adi menyerahkan semua kepada Mas. Om Candra juga. Besok pagi insya Allah Om Candra pulang,” papar Farhan.


“Memang apa yang terjadi? Mas sudah membongkar semua masalah perkebunan?” tanya Via.


“Mas sudah menganalisis data yang ada. Besok pagi tinggal cross check. Mudah-mudahan besok semua masalah bisa teratasi sehingga Mas bisa pulang lusa.”


“Aamiin. Semoga begitu. Via sudah kangen,” ujar Via malu-malu.


Farhan terkekeh melihat sikap Via. Ia merasa gemas setiap kali Via bersikap seperti itu.


“Kamu kira Mas nggak kangen? Mas kangennya pakai banget. Coba kalau ada pintu ke mana saja. Mas sekarang pulang, besok pagi ke sini lagi.”


Sekarang ganti Via yang terkekeh mendengar khayalan Farhan.


“Kalau begitu, pinjam saja sama Dora Emon,” usul Via.


“Kantong Dora Emon sedang diperbaiki,” gerutu Farhan.


Tawa Via kian lebar. Ia merasa lucu, seperti anak kecil yang tengah menghayalkan sesuatu yang tidak mungkin.


“Bagaimana dedek bayi? Kandunganmu tidak ada masalah?” tanya Farhan serius.


“Alhamdulillah baik. Gerakannya makin aktif. Sebentar, Via dekatkan ke perut, ya. Hubbiy bicaralah dengannya!” ujar Via. Ia memindahkan posisi ponselnya ke dekat perut.


“Assalamualaikum, Sayang,” ucap Farhan.


“Waalaikumsalam, Ayah,” jawab Via dengan suara dibuat seperti anak kecil.


“Baik-baik di perut Bunda, ya! Dedek nggak boleh merepotkan Bunda. Jaga Bunda baik-baik!” kata Farhan lagi.


“Siap, Ayah!” Lagi-lagi Via mewakili anak dalam kandungannya.


“Ayah sudah nggak sabar ketemu kamu. Dua bulan lagi, ya?”


“Iya, Ayah. Insya Allah kita segera bertemu.”


Farhan terdiam saat melihat perut Via bergerak. Ia memperhatikan betul-betul, baru menjawab.


“Aamiin. Cinta, perutmu bergerak-gerak. Apa itu gerakan dedek?"


"Iya. Mungkin dia senang mendengar suara ayahnya. Dari tadi gerak terus," jawab Via diiringi tawa.


"Subhanallah. Ayah ingin membelaiku, Sayang. Baik-baik, ya! Sekarang, Ayah bicara dengan Bunda dulu, ya!”

__ADS_1


Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Farhan, Via kembali mengarahkan layar ponsel ke wajahnya.


“Bagaimana dengan Mas Edi? Kapan dia kembali?” tanya Farhan kepada Via.


“Rencana sebetulnya tadi. Tapi, ada masalah lagi dengan bapaknya,” jelas Via.


“Masalah apa? Lamaran?” tanya Farhan lagi.


Via mengangguk. Wajahnya berubah sedikit sendu.


“Bapaknya menginginkan seserahannya nggak usah banyak-banyak, resepsinya sederhana saja. Kalau perlu, nggak usah ada resepsi,” kata Via dengan nada getir.


“Masya Allah. Awalnya mempermasalahkan keluarga Mira, sekarang masalah resepsi.”


Farhan terlihat geram. Ia menghembuskan nafas dengan kasar.


“Soal resepsi, sebetulnya Om Candra sudah siap membantu, tetapi sengaja tidak memberi tahu Mas Edi. Om dan kakek maunya ini jadi kejutan.”


“O ya? Baguslah kalau Om Candra siap turun tangan. Tadinya Mas mau bilang ke Mas Edi agar tidak memikirkan masalah resepsi.”


Farhan terlihat senang. Bibirnya mengembangkan senyum lebar.


“Via juga lega. Cuma, Via memang tidak ngasih tahu Mas Edi karena Om Candra melarang. Hubbiy juga jaga rahasia, ya!” pesan Via.


“Siap, Tuan Putri. Sudah dulu, ya. Mas akan mengecek beberapa dokumen untuk memastikan langkah yang Mas ambil besok. Mimpi indah, Cinta. Assalamualaikum. Mmmuaah….” Farhan mengakhiri percakapan.


Via menjawab salam lalu meletakkan kembali benda cerdas itu. Tatapannya kembali ke layar monitor laptopnya.


Setengah jam kemudian, bumil yang masih muda itu membereskan laptop dan kertas-kertas dokumen yang berserakan di meja. Ia bersiap merajut mimpi berteman bantal, guling, juga selimut.


***


Seorang pria berbadan kekar telah duduk di belakang kemudi. Sementara, Via yang duduk di jok belakang masih mengecek isi tasnya. Ia sepertinya mencari sesuatu.


“Bentar, Mas. Perasaan tadi sudah saya masukkan tas,” gumam Via.


“Memangnya Mbak Via sedang cari apa?” tanya Edi memberanikan diri.


“HP, Mas. Tadi sudah saya msukkan lo. Oh, ini dia terselip. Siap berangkat," kata Via.


"Baik, kita berangkat sekarang," sahut Edi.


Ia melajukan mobil menuju Wijaya Kusuma. Kondisi jalan cukup padat karena banyak pengguna jalan menuju kantor maupun sekolah.


Baru saja sampai, Via mendengar notifikasi pesan dari Farhan. Ia segera mengambil ponsel dari dalam tas dan membukanya.


[Alhamdulillah semua selesai. Insya Allah sebentar lagi ke kota, pulang. Tunggu kepulangan Mas nanti malam!]


Tanpa disadari, senyum Via mengembang begitu membaca pesan Farhan. Jari lentiknya menari di atas layar mengetik pesan balasan.


[Alhamdulillah. Via tunggu 😘]


Beberapa saat Via masih menatap layar ponselnya. Pesan balasan yang ia kirim belum juga dibuka. Di layar justru tertera kalau Farhan tidak online lagi. Via pun menyimpan ponselnya kembali.


"Mbak Via, bolehkah saya ke ruko menemui Mira?" tanya Edi ragu.


Via menoleh ke arah pria itu. Ia mengangguk.


"Bagaimana kalau nanti saat makan siang? Kita ajak Mbak Mira keluar makan siang di kafe?" usul Via.

__ADS_1


"Kita? Mbak Via mau ikut?" tanya Edi heran.


"Iya kalau Mas Edi tidak keberatan."


"Tentu saja tidak," sahut Edi cepat.


"Baiklah, kita keluar nanti saat jam makan siang." Via segera masuk ruangannya.


Setelah beristirahat sejenak, Via tenggelam dalam pekerjaannya. Ia baru berhenti karena ada panggilan masuk.


"Assalamualaikum," ucapnya tanpa memperhatikan pemanggil.


"Waalaikumsalam. Cinta, ini video call. Masa Mas lihatnya telinga kamu?"


Via tersentak. Ia buru-buru memindahkan posisi ponselnya.


"Maaf, Hubbiy. Via tadi tidak melihat layar," kata Via gugup. Tak sengaja ia menyentuh tombol rekam.


"Cinta, Mas dalam perjalanan ke kota. Rencananya Mas ke rumah Om Candra dulu untuk berpamitan sekaligus mengembalikan mobilnya. Setelah itu, Mas ke bandara."


"Jauh nggak perjalanan ke rumah Om Candra? Hubbiy sendiri?" tanya Via sedikit khawatir.


"Kurang lebih 2 jam lagi. Tadi sih bersama Bang Tedi..."


"Lalu, sekarang mana orangnya?" potong Via tak sabar.


Farhan tersenyum melihat ketidaksabaran Via.


"Saat ini Mas lagi di bengkel. Ban mobil kempes. Sepertinya ada yang menebar paku, deh. Dua ban kempes nih."


"Bang Tedi ke mana?"


"Bang Tedi pulang duluan. Tadinya mau ikut sampai kota. Kebetulan ada temannya pakai motor melintas barusan. Ia ikut karena istrinya sakit, ia ingin segera sampai rumah."


"Berarti Hubbiy sendirian?" tanya Via makin khawatir.


"Iya. Insya Allah kuat menyetir sendiri sampai rumah Om Candra. Tuh nambal bannya hampir selesai," ucap Farhan seraya mengarahkan kamera ke dua orang yang sedang menambal ban.


"Hubbiy hati-hati, jangan ngebut!" pesan Via.


"Iya, insya Allah akan selalu hati-hati, nanti malam kita bisa bertemu. Cinta jangan terlalu lelah, ya! Jaga diri dan dedek!" Farhan balik berpesan.


Via tersenyum lembut. Ia bahagia saat diperhatikan suaminya meski tiap hari demikian.


"Mas lanjut perjalanan dulu, ya! Ban sudah selesai ditambal tuh. Assalamualaikum. Mmuaah...."


"Waalaikumsalam. Fiiamanillah," bisik Via.


Ponsel Via letakkan kembali di samping laptop. Entah mengapa, ia merasa tidak bersemangat lagi bekerja.


Via melirik jam dinding. Ternyata sudah lewat dari jam 9. Ia segera bangkit mengambil wudu dan salat duha.


***


Mohon terus dukung author dengan memberi like, koment, rate 5 juga vote.


Terima kasih buat readers yang setia dukung author 🙏


Yuk ikuti novel teman author ini!

__ADS_1




__ADS_2