SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Via Menghilang


__ADS_3

Farhan memacu mobilnya menuju rumah. Bayangan wajah pucat Via menari-nari di pelupuk matanya.


Sayangnya, kondisi lalu lintas saat itu tidak mendukung upaya Farhan sampai rumah dalam waktu singkat. Padatnya lalu lintas membuat Farhan tidak bisa memacu kendaraan lebih dari 40 kilometer per jam.


Begitu sampai halaman, Farhan melompat turun. Ia berlari masuk ke dalam rumah.


Karena tidak menjumpai istrinya di lantai 1, Farhan bergegas menuju kamar. Dengan tergesa ia membuka pintu. Namun, ia juga tidak menjumpai Via di kamarnya. Farhan mengecek kamar mandi. Ternyata sama saja, Via tidak ada.


Farhan berlari turun. Ia menuju dapur. Bu Inah sedang menyiapkan makan malam.


"Bu, lihat istri saya? Kok nggak ada di kamar?" tanya Farhan.


Bu Inah menghentikan aktivitasnya memotong sayuran. Ia menoleh ke majikannya.


"Maaf, Mbak Via nggak ke dapur dari tadi. Setelah salat asar, Mbak Via ke kamar. Saya kira masih di kamar," jawab Bu Inah.


Farhan berlari ke luar. Ia mencari di taman. Via sering duduk di ayunan sambil membaca. Namun, ayunan kosong.


Farhan mencari Pak Nono. Ia menjumpai lelaki itu tengah membaca koran.


"Pak Nono, lihat istri saya? Saya lihat mobil ada. Dia nggak pergi, kan?" tanya Farhan dengan nafas tersengal.


Pak Nono kaget. Ia segera melipat koran yang dibacanya.


"Sejak pulang dari masjid, saya nggak lihat Mbak Via keluar. Bukannya di kamar, Mas?" Pak Nono justru balik bertanya.


Farhan tidak menjawab. Ia benar-benar kalut.


Ketika ada getaran dari saku celananya, ia baru teringat benda pipih yang pintar. Farhan segera mengambil ponsel dari saku. Ia abaikan pesan-pesan yang masuk. Sambil berjalan ke dalam rumah, ia mencari kontak Via lalu menghubungi. Ada perasaan lega saat terdengar nada sambung. Berarti Via tidak mematikan ponselnya.


Beberapa saat ditunggu, panggilan Farhan tidak dijawab. Farhan mengulang panggilannya. Sambil menunggu tersambung, ia terus berjalan menuju kamarnya. Sayup-sayup terdengar nada dering dari dalam kamar.


Masya Allah, ternyata HP-nya ditinggal di kamar.


Farhan bertambah kalut. Ia mengecek baju-baju Via. Ia khawatir Via pergi meninggalkannya.


"Baju-baju Cinta masih ada. Ah, dompet. Ada nggak ya?"


Farhan mencoba mencari dompet Via. Ia tidak menemukan.


"Berarti dia pergi. Apa mungkin naik taksi? Coba, aku cek CCTV."


Farhan segera mengecek rekaman CCTV mulai 2 jam sebelumnya. Tampak Via berjalan menuju musala. Lalu, ada gambar yang menunjukkan Via masuk kamar. Beberapa menit kemudian, tampak Via meninggalkan kamar. CCTV di depan menunjukkan Via pergi sebelum Pak Nono dan Pak Yudi pulang dari masjid.


Farhan segera menghubungi kontak Ratna. Ia berpikir Via ke ruko. Namun, ponsel Ratna sepertinya tidak aktif. Sementara Farhan tidak menyimpan kontak Mira.


Farhan segera menghubungi Edi. Saat ia menemui klien di luar, Edi tidak ikut.


"Assalamualaikum," sapa Edi.


"Waalaikumsalam. Mas Edi masih di kantor?"


"Iya. Sepertinya ada orang yang berusaha membobol data perusahaan. Alhamdulillah, tidak berhasil. Kami sedang menyelidiki masalah ini," jelas Edi.


Farhan tidak begitu fokus dengan penjelasan Edi. Ia sedang memikirkan istrinya.


"Mas, tolong sekarang ke ruko! Cek apa istriku ada di sana!" Farhan memerintah dengan nada tegas.


"Baik, saya ke sana sekarang," jawab Edi.


Kenapa nggak telepon Ratna atau Mira, ya? Ah, perintah bos kan harus dilaksanakan. Sekalian ketemu Mira, nih.


Edi pun meninggalkan kantor, melaju ke ruko. Butuh waktu sekitar 15 menit sampai ruko.

__ADS_1


Mira tengah menutup ruko saat Edi sampai. Ia terlihat heran melihat kedatangan Edi sendirian.


"Assalamualaikum. Maaf, Mbak Via ada di sini?" tanya Edi.


"Waalaikumsalam. Enggak, kok. Apa Dek Via bilang kalau dia ke sini?"


Edi terdiam. Ia bingung menjawabnya.


"Eh, enggak. Ini tadi keluar, tapi nggak tahu ke mana."


"Kenapa nggak ditelepon?" Mira bertambah heran.


"Aaa...itu--itu saya tidak tahu. Eh, sebentar." Edi tampak gugup menjawab pertanyaan Mira. Ia kemudian mengambil ponsel pintarnya. Ia bermaksud menghubungi bodyguard yang bertugas mengawasi rumah.


Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan. Edi segera membuka pesan masuk.


[Bos, nyonya muda keluar rumah sendirian, tidak diantar sopir.]


[**Nyonya naik ojol, pengemudinya perempuan.]


[Nyonya ada di makam** ]


Edi menepuk jidatnya. Pekerjaan kantor membuat dia tidak membuka ponselnya sejak tiga jam yang lalu. Ia segera menelepon Farhan.


"Mbak Via ke makam, Mas. Bodyguard terus mengawasi."


"Oh, iya. Kenapa aku lupa? Ke makam mana?"


"Eh, saya lupa belum tanya. Mungkin orang tua Mbak Via," jawab Edi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah. Terima kasih atas informasinya."


Setelah menutup telepon, Edi berpamitan.


"Nggak masuk dulu, Mas? Dek Via sudah ada kabar?" tanya Mira.


"Iya, sudah. Eh, ini sudah sore nanti malah mengganggu," jawab Edi.


"Ya enggaklah. Ini kan sudah tutup."


Haish, aku ngomong apa? Kalau Mas Edi mau, terus aku mesti gimana? Ni mulut nggak bisa terkontrol, sih."


"Beneran nggak ganggu? Bisa minta kopi, dong," ujar Edi.


"I---iya, silakan masuk."


Edi pun melangkah masuk dan duduk di kursi dekat meja kasir.


"Saya buatkan kopi, ya." Mira segera naik ke lantai 2. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa secangkir kopi.


"Ratna ke mana?" tanya Edi basa-basi


"Ke counter. HP-nya trobel."


Oh, mungkin Mas Farhan tadi sudah menghubungi Ratna tapi gagal tersambung karena HP Ratna trobel. Ah, ini kesempatan minta kontak Mira.


"Mungkin tadi Mas Farhan sudah menghubungi Ratna tapi gagal. Oh ya, bisa minta kontak Mbak Mira?"


Mira mengangguk. Ia menyebutkan 12 angka nomor kontaknya.


Baru saja selesai menyimpan kontak, Edi teringat keselamatan majikannya. Ia menjadi merasa bodoh karena malah bersantai di ruko.


"Maaf, Mbak. Saya pamit dulu. Saya harus memastikan kondisi Mbak Via. Terima kasih untuk kopinya. Lain waktu saya main lagi."

__ADS_1


"Oh, begitu. Beneran lain waktu?" tanya Mira.


"Ish, kok aku kayak ngarep gini? Memalukan!


"Insya Allah. Mari. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sementara itu, Farhan segera memutar mobilnya yang belum dimasukkan ke garasi. Ia melaju menuju makam mertuanya.


Dari gerbang makam, ia melihat sosok berjilbab menelungkup di atas pusara. Farhan yakin itu Via. Ia pun setengah berlari mendekati perempuan itu.


Hati Farhan seperti teriris melihat Via duduk bersimpuh, sementara tubuhnya tertelungkup.


"Cinta, maafkan Mas. Mas khilaf, Sayang. Kita pulang, yuk!"


Tidak ada jawaban terdengar. Farhan mengulang ajakannya.


Karena tidak ada reaksi apa pun, Farhan pun jongkok di dekat istrinya. Ia menepuk bahu Via.


"Cinta, ini sudah sore. Mama pasti tidak suka kalau kamu masih di sini sesore ini. Kita pulang, ya," bujuk Farhan lembut.


Via menegakkan tubuhnya. Ia tampak kebingungan. Mata sembabnya mengerjap-ngerjap agar dapat melihat dengan jelas.


"Hubbiy," bisik Via.


Farhan menarik Via hingga jatuh dalam pelukannya. Didekapnya sosok yang ia khawatirkan sejak tadi.


"Maaf, maafkan suamimu ini. Mas khilaf, Mas bodoh, tidak memahami perasaanmu," sesal Farhan. Tak terasa air matanya mulai menetes.


"Via kekanak-kanakan, ya? Entahlah, Via juga nggak tahu. Tapi, hati Via sakit dibentak Hubbiy tadi," ungkap Via.


"Ini salahku. Namanya bumil memang emosinya labil. Sebagai suami, Mas harusnya memahami. Maafkan Mas, ya," kata Farhan dengan suara parau.


Via mengangguk. Ia melepaskan pelukan Farhan.


"Kok tahu Via di sini?" tanya Via.


"Tadi sempat nyari ke mana-mana. Ada yang melihat Cinta ke sini dan menyampaikan ke Mas Edi."


"Via sedih, terus kangen mama papa. Makanya Via ke sini, seolah curhat sama mama sampai ketiduran."


Farhan merasa lega. Ternyata Via tidak marah kepadanya. Dikecupnya kening Via.


"Yuk, pulang! Sebentar lagi magrib," ajak Farhan.


Via mengangguk. Dia berdiri dengan dibantu Farhan.


"Ma, Pa, kami pulang," pamit Via.


Via memekik kaget karena tiba-tiba Farhan mengangkat tubuhnya. Pria itu menggendong istrinya melewati puluhan nisan.


"Tubuhmu ringan banget. Ini tentu karena Cinta ngidam, sering mutah," ujar Farhan.


Sesampai dekat mobil, Farhan menurunkan Via. Dibukakannya pintu mobil untuk sang istri. Setelah Via duduk, Farhan menutup pintu dan memutar untuk duduk di belakang kemudi. Diliriknya sang istri yang wajahnya masih sembab. Kemudian, ia melajukan mobilnya perlahan.


***


Bersambung


Maaf, hari ini terlambat hadir. Sejak kemarin Author sakit. Tadi malam baru dapat tiga paragraf kepala sudah nyut-nyutan. Eh curcol 🙈


Tetap dukung author ya!

__ADS_1


__ADS_2