SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Azka Ditemukan


__ADS_3

Via segera mengambil gawai miliknya dari tas. Ia menghubungi om-nya.


Bagaimana?” tanya Farhan penuh harap.


“Tadi nyambung sebentar, tidak diangkat. Sekarang tidak diangkat,” gumam Via sambil terus menghubungi om-nya.


Farhan kembali menatap layer ponselnya.Jemarinya menari di atas layar, membuka aplikasi pesan.


[Mas Farhan ke mana? Azka cari di tempat tadi kok nggak ada?]


Farhan mengambil nafas Panjang. Ada rasa sesal akan kecerobohannya.


Sementara Via masih terus berusaha menghubungi Pak Candra melalui telepon rumah. Baru saja tersambung, kembali putus.


“Belum tersambung?” Farhan kembali bertanya dengan wajah penuh kekhawatiran.


“Tadi sudah, tapi terputus,” keluh Via.


Farhan semakin cemas. Ia benar-benar menyesali kecerobohannya.


“Kenapa juga aku ceroboh. Apa yang aku pikirkan tadi sehingga tidak ingat pergi Bersama Dek Azka?” gumam Farhan.


Via mengusap lengan Farhan. Ia mencoba menenangkan suaminya.


“Sabar, Hubbiy. Berusahalah untuk tenang agar bisa berpikir jernih,” bujuk Via.


“Iya. Tapi, Mas khawatir Dek Azka diculik. Tadi dia telepon beberapa kali, sekitar satu setengah jam yang lalu. Ia hanya berkirim pesan sekali. Dia menanyakan posisi kita saat dia baru dari toilet.”


Semua terdiam. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Sampai kediaman Pak Candra, mereka masih membisu.


Farhan segera turun. Ia sampai lupa menunggu istrinya.


Saat sampai di teras, Farhan baru ingat kalau Via tertinggal. Ia beristighfar atas kecerobohannya.


Ia merasa bersalah melihat Via berjalan pelan sambil menggendong Zayn yang tertidur. Rio berjalan di depan Via.


“Maaf, pikiran Mas benar-benar kacau sampai meninggalkanmu kerepotan begini,” ucap Farhan sambil mendekati Via.


Ucapan Farhan sedikit meredakan kekesalan Via karena sikap suaminya. Ia pun membiarkan Farhan mengambil Zayn dari gendongannya.


Saat mereka masuk, Pak Candra ternyata sedang ada tamu. Via dan Farhan pun mengurungkan niat untuk membahas Azka. Mereka ke kamar terlebih dahulu.


“Kenapa aku begitu ceroboh, ya? Adik sendiri sampai dilupakan,” gumam Farhan setelah meletakkan Zayn ke ranjang.


“Ini sebagai pelajaran. Biasakan tenang! Tadi pun aku bisa hilang seandainya di tempat umum. Untung di rumah Om Candra,” gerutu Via. Rupanya masih ada sisa kekesalan atas sikap Farhan.


“Iya, Mas kan sudah minta maaf.” Farhan memasang tatapan memelas.


Via menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar. Tampaknya ia ingin melepas beban perasaannya.


“Kalau Dek Azka belum ditemukan, kita tunda kepulangan kita. Biar Rio saja yang pulang. Mas nggak mungkin pulang tanpa kejelasan nasib Dek Azka,” kata Farhan.


“Bagaimana kalau kita menghubungi Mas Edi?” usul Via.


“Apa hubungannya? Mas Edi kan di Jogja,” sahut Farhan.


Via menepuk dahinya. Ia heran dengan sikap Farhan kali ini. Rasanya Farhan kehilangan sebagian kecerdasannya.


“Mas Edi kan punya hubungan dengan para anak buah Om Candra, termasuk yang di sini. Kita minta Mas Edi menyuruh anak buah Om Candra melacak keberadaan Dek Azka,” jelas Via gemas.

__ADS_1


“Ah, benar juga. Istriku memang cerdas. Huff, aku bersyukur punya istri yang cerdas, cantik, dan paling penting dia sholihah,” ujar Farhan. Secepat kilat ia mencium pipi Via.


“Baru nyadar?” Via mencebik.


Farhan terkekeh. Ia sedikit lega menemukan celah untuk melacak keberadaan Azka. Ia pun segera menghubungi Edi.


Begitu terhubung, Farhan menceritakan kronologi hilangnya Azka. Ia meminta tolong agar Edi segera mencari bantuan melacaknya. Tentu saja Edi langsung menyanggupi.


Via melirik Farhan yang baru saja menutup telepon. Entah kenapa saat ini suasana hatinya agak buruk. Ia tidak terlalu respek dengan kegelisahan Farhan yang belum menemukan Azka.


“Mas Edi siap membantu. Ia akan mengerahkan anak buah Om Candra untuk melacak Dek Azka,” ucap Farhan.


“Hemmm,” gumam Via.


Farhan menatap Via sekilas. Ia heran dengan sikap Via. Tidak biasanya sang istri secuek itu. Namun, Farhan tidak berani menanyai lebih lanjut. Ia khawatir Via justru menjadi uring-uringan.


Baru saja Farhan memasukkan gawai ke saku dan hendak keluar, pintu kamar diketuk diikuti salam. Farhan menjawab sambil membuka pintu.


“Sudah selesai urusan dengan Danu?” tanya Pak Candra.


“Sudah, Om. Kami hanya bertemu dengan istri Om Danu dan adik iparnya,” jawab Farhan.


“Oh, begitu. Yang penting mereka merestui Nak Rio. Di mana dia?”


“Mungkin istirahat di kamarnya.”


“Oh, begitu. Kalian jadi terbang nanti? Sebenarnya Om ingin kalian di sini lebih lama. Tapi, Om juga nggak mungkin memaksa kalian karena kalian punya kesibukan. Jam berapa kalian terbang?”


“Mungkin kami batalkan, Om, ucap Farhan lesu.


“Lho, kenapa?” tanya Pak Candra heran.


“Dek Azka hilang. Kami tidak mungkin pulang sebelum tahu nasib Dek Azka,” jawab Farhan tak bersemangat.


“Aduh, jadi kalian dari tadi sedang mencemaskan Azka? Ayo, kita ngobrol di ruang keluarga sambil menunggu waktu zuhur!” ajak Pak Candra.


Meski bingung dengan sikap Pak Candra, Farhan menurut. Ia mengekor langkah adik dari mertuanya.


“Memang bagaimana ceritanya kalian bisa kehilangan jejak Azka?” tanya Pak Candra.


Farhan menceritakan kronologi kejadian hilangnya Azka. Ia pun menceritakan kalau sudah minta bantuan Edi untuk melacak keberadaan Azka.


“Masya Allah. Jadi begitu ceritanya.”


“Iya, Om. Saya memang ceroboh.”


Pak Candra tersenyum. Ia menatap Farhan sambil terus mempertahankan senyumnya.


“Azka sedang berada di perkebunan. Tadi mandor perkebunan meneleponnya karena ada masalah penting di sana. Azka menelepon minta sopir Om menjemput di lapas. Om kira waktu itu dia masih bersama kalian,” tutur Pak Candra sambil menahan tawa.


Farhan melongo. Ia seperti tak percaya yang Pak Candra katakan.


Baru saja Farhan akan bertanya, ia merasakan ada getaran di saku celananya. Farhan segera mengambil gawainya. Samar terdengar nada khas panggilan anggota keluarga. Saat dilihat layar gawainya, di situ tertulis Adek Ganteng memanggil. Farhan segera menggeser gambar telepon warna hijau. Ia juga memindahkan ke mode loud speaker agar Pak Candra mendengar suara Azka.


“Assalamualaikum, Dek. Kamu di perkebunan? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Farhan tak sabar.


“Waalaikumsalam. Dasar kakak nggak berakhlak. Masa adik seganteng ini ditinggal begitu saja di lapas? Kalau diculik napi jelek, gimana?” gerutu Azka.


“Iya, Mas minta maaf. Mas tahu Mas salah, kok,” ucap Farhan tulus. Kali ini dia kehilangan gairah meledek Azka.

__ADS_1


“Mas Farhan kapan menyadari Azka hilang?” tanya Azka.


“Waktu mau pulang dari rumah omnya Lia,” jawab Farhan jujur.


“Ish, sungguh-sungguh terlalu,” ucap Azka.


“Kok kamu nggak bisa dihubungi, sih? Begitu Mas sadar, Mas langsung hubungi kamu. Tapi HP-mu nggak aktif.”


“Lowbatt. Setelah di sini baru di-carge, pinjem punya mandor.”


Farhan menarik nafas lega. Kecemasannya sudah tak lagi ada.


“Lalu, masalah dengan perkebunan bagaimana?” tanya Farhan.


“Ya nanti Azka selesaikan. Tenang, Azka insya Allah bisa, kok,” jawab Azka penuh percaya diri.


“Kalau begitu, Mas pamit pulang ke Jogja nanti, ya. Kamu nggak nganterin nggak apa-apa. Jaga diri baik-baik,” ucap Farhan.


“Siapa juga yang mau nganterin? Yang ada ntar Azka ikut balik,” sahut Azka santai.


“Ah, kamu ini.”


“Iya, Azka minggu depan pulang, mau nonton orang lamaran.”


“Emang tontonan? Sembarangan kamu!”


Mendadak terdengar suara dari belakang Farhan. Ternyata Rio yang baru masuk.


Begitu mendengar suara Rio, Azka tergelak.


“Santai, Bro! Semoga langsung ijab biar tahu enaknya punya istri,” kata Azka.


“Ah, sok tahu. Kamu saja berjauhan sama istrimu!” Rio mengejek Azka.


“Biarin! Tapi aku sudah merasakan enaknya tidur berdua. Weeek!”


“Sudah, sekarang hampir zuhur. Yuk, siap-siap jamaah!” lerai Farhan.


Ucapan Azka yang menjurus ke hubungan suami istri segera dipotong. Farhan khawatir adiknya terjebak ke hal porno, membicarakan hal tabu yang dilarang agama untuk dibicarakan.


Setelah Farhan berpesan untuk menjaga diri kepada Azka, Farhan menyimpan kembali gawainya. Ia pergi ke kamar untuk mengambil peci. Ia melihat Via tengah rebahan di samping Zayn.


“Mas ke masjid dulu sebentar, ya! Cinta juga segera salat zuhur begitu masuk waktunya. Mumpung Zayn lagi tidur, tuh,” kata Farhan.


“Libur!” sahut Via tanpa beranjak dari posisinya.


“Pantas saja jadi ketus gitu. PMS rupanya,” batin Farhan.


Saat Farhan akan melangkah keluar, gawainya kembali berbunyi. Via bangkit mengambil gawai milik Farhan.


“Mas Edi,” ucap Via.


“Angkat saja! Paling mau ngasih tahu di mana Dek Azka. Mas sudah tahu, kok. Ya sudah, Mas berangkat. Assalamualaikum.”


Setelah menjawab salam Farhan, Via menerima telepon dari Edi. Sesekali dahinya berkerut mendengar penjelasan Edi.


***


Bersambung

__ADS_1


Nantikan kabar dari Edi! Nantikan pula pertemuan Meli dan Azka di next episode. Intip aktivitas Meli saat ini di novel CS! Karya Kak Indri Hapsari. Jangan lupa tinggalkan like dan komentar di setiap episode novel kami!



__ADS_2