
Pak Haris kembali ke ruang kerjanya. Wajahnya terlihat kusut karena beban pikiran yang berat. Ia baru menerima laporan kejadian yang tak menyenangkan.
“Untunglah Azka sudah berangkat. Kalau tidak, anak itu bisa membatalkan keberangkatannta ke Medan. Aku harus memberi tahu Farhan agar Azka jangan sampai mengetahui hal ini.”
Pak Haris segera mengambil gawainya. Ia mencari kontak Farhan.
....
“Waalaikumsalam. Farhan, Ayah minta tolong agar Azka jangan sampai mendengar berita apa pun dari sini. Terutama kabar buruk. Ayah tidak mau anak itu pulang lagi karena ini saat-saat krusial baginya menyelesaikan thesis. Ayah tidak mau Azka gagal.”
....
“Apa pun. Pokoknya Ayah minta tolong kamu meredam semua berita agar tidak sampai keluar. Kalau Azka sampai mendengar berita buruk, ia pasti pulang. Ayah khawatir thesisnya gagal.”
....
“Ayah tidak tahu ini sabotase atau keteledoran koki, baru saja Ayah mendapat laporan kalau ada pasien keracunan makanan.”
....
“Kau minta tolong Mas Edi kalau perlu.”
....
“Waalaikumsalam.”
Setelaah menutup pembicaraan, dokter Haris mengembalikan alat komunikasi cerdas itu ke tempat semula. Ia memijit keningnya yang sedikit berdenyut. Yang ia khawatirkan saat ini justru si putra bungsu. Saat berpamitan tadi dokter Haris memang sudah memberikan wejangan panjang lebar.
“Azka, baik-baik di sana. Jaga kesehatan juga. Bantu pekerjaan Om Candra!”
“Iya, Ayah. Azka selalu menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab Azka, kok>”
“Selesaikan thesismu segera! Apa kamu nggak ingin berkumpul dengan Meli?”
“Ya jelas sangat ingin, Yah.”
“Itulah. Kamu harus fokus menyelesaikan kuliahmu. Bereskan thesismu sebelum dosenmu pergi! Fokus! Kamu tidak usah memikirkan hal lain, terutama di sini. Eyang Probo biar Ayah saja yang memikirkan. Apa pun yang terjadi, kamu nggak usah pulang sebelum thesismu selesai. Paham?”
“Iya, Ayah. Azka paham. Azka pamit sama eyang dulu.”
Azka melangkah ke dalam. Namun, ia berhenti ketika mendengar teriakan lirih ayahnya.
“Tunggu! Nak Ardi bagaimana? Kamu kan bareng dia ke sininya. Lalu, apa kamu juga bareng Nak Ardi ke Medannya?”
“Nggak, Yah. Ardi masih betah di Yogya. Biar saja dia menikmati masa libur sebelum S-2 Ardi mulai.”
Azka melanjutkan niat semula, berpamitan dengan eyangnya. Dokter Haris menghela nafas panjang.
Pak Haris tersentak dari lamunannya ketika mendengar ketukan keras pintu ruangannya.
“Tok...tok...tok!”
“Masuk!” perintah dokter Haris.
Pintu ruang kerja dokter Haris dibuka. Tampak seorang pria berseragam satpam masuk dengan peluh bercucuran membanjiri wajah hingga tubuhnya.
“Ada apa?” tanya dokter Haris.
“A—anu, dok. Ke—keluar—ga pasien demo. Me—mereka minta ketemu kepala ru—mah ssa—sakit,” jawab pria itu terbata-bata.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menemui mereka.” Pak Haris bangkit dari duduknya.
“Sa—satu lagi, ddokk. Pa—pasien yang keracunan ber—tam—tambah.”
Pak Haris memijit keningnya. Ia melanjutkan langkah menuju bangsal VIP.
Sesampai dekat bangsal, puluhan orang berkerumun sambil berteriak. Muka mereka merah padam. Di sekitar mereka tampak beberapa pria berpakaian serba hitam dengan posisi siaga.
“Mana kepala rumah sakit? Suruh keluar! Dia harus bertanggung jawab!” teriak salah satu di antara mereka.
“Betul! Jangan lari dari tanggung jawab!” teriak lainnya.
Dokter Haris segera mendekat. Ia memberi isyarat agar mereka tenang. Namun, tentu bukan hal mudah menenangkan banyak orang yang tengah tersulut kemarahan.
“Bapak dan Ibu, ini rumah sakit. Saya tahu Bapak Ibu marah. Namun, mohon jaga ketenangan pasien. Bagaimana kalau perwakilan dari kalian bicara dengan saya di ruangan agar bisa tenang? Saya Haris, kepala rumah sakit ini. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab,” ujar dokter Haris setenang mungkin.
Puluhan orang itu berbincang sejenak. Akhirnya tiga orang maju, menyatakan mereka yang mewakili.
“Mari Bapak Ibu, ikut saya ke ruangan!”
Dokter Haris memberi isyarat kepada satpam menyiapkan ruangan untuk mereka berbicara. Satpam pun bergerak cepat.
Di ruang berukuran 4 X 6, mereka duduk di kursi tanpa meja. Wajah-wajah perwakilan keluarga pasien itu masih tampak tegang.
“Bapak dan Ibu, saya selaku pimpinan memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini. Sungguh, ini tidak kami duga karena baru kali ini terjadi,” kata dokter Haris membuka pembicaraan.
“Baru pertama dan mungkin akan disusul rentetan kejadian buruk lainnya. Begitu” ucap seorang pria berusis sekitar 40 tahun.
“Tentu saja kami berusaha agar ini tidak terulang. Saat ini kami sedang menyelidiki penyebabnya.”
“Lalu, bagaimana dengan keluarga kami yang jadi korban? Kami mengambil fasilitas VIP agar mendapat pelayanan prima sehingga cepat sembuh. Eh, malah begini kejadiannya,” gerutu seorang ibu muda.
“Tanggung jawab seperti apa?” ucap pria yang lain dengan nada sinis.
“Seluruh biaya pengobatan akibat keracunan kami tanggung. Jadi, Bapak Ibu tidak usah membayar biaya pengobatan untuk 1 sampai 2 hari ke depan.”
Mereka terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, si ibu muda angkat bicara.
“Saya maunya semua biaya dibebaskan. Itu bentuk pertanggungjawaban yang adil.”
“Maaf, Bu. Kalau semuanya, saya rasa tidak bisa dan itu tidak adil. Kan sebelumnya keluarga Bapak Ibu memang sakit yang bukan keracunan. Jadi, yang kami tanggung biaya pengobatan akibat keracunan,” kilah dokter Haris.
“Nggak bisa! Pokoknya saya minta kami dibebaskan dari semua biaya pengobatan. Kalau tidak, kami akan memperkarakan ke meja hijau.”
Dokter Haris memijit pelipisnya. Kepalanya terasa begitu berat.
:Bagaimana kalau biaya pengobatan selama pengobatan akibat keracunan kami bebaskan dan biaya lain kami diskon 50%?” dokter Haris mengajukan penawaran.
“Nggak bisa! Saya juga setuju dengan usul ibu tadi. Kami bersedia damai asalkan seluruh biaya pengobatan dibebaskan.” Pria pertama memberikan ketegasan.
“Baik, baik. Sebentar, saya berunding dengan bendahara rumah sakit terlebih dahulu.” Dokter Haris keluar ruangan.
Sekitar 5 menit kemudian, dokter senior itu kembali masuk ruangan. Wajahnya tampak lesu.
“Baiklah, kami setuju. Namun, kami minta kasus ini tidak diperpanjang sampai pengadilan. Bapak Ibu semua menandatangani kesepakatan damai ini,” kata dokter Haris.
Ketiganya mengangguk. Dokter Haris segera menghbungi seseorang untuk membuat surat perjanjian.
Baru saja mereka akan melangkah keluar ruangan, seseorang berpakaian kemeja kotak-kotak mendekat. Ia bersiap mengambil foto dokter haris dan tiga keluarga pasien.
__ADS_1
“Tunggu! Siapa Anda?” seru dokter Haris.
“Saya wartawan, dok. Saya dengar ada kasus keracunan makanan menimpa pasien rumah saki itni. Saya ....” ucapan orang itu terhenti. Seorang pria berbadan kekar menarik lengannya menjauh.
Dokter Haris sedikit lega. Niatnya kembali menemui seluruh keluarga pasien terhenti saat ada orang memanggilnya.
“Mas Edi! Ada apa Mas Edi ke sini?” dokter Haris tampak kaget.
“Saya dengar kasus keracunan yang menimpa pasien rumah sakit. Saya langsung ke sini. Bisa kita bicara sebentar, Pak dokter?” ucap Edi lirih.
“Bisa. Saya menemui keluarga pasien dulu.”
Setelah menemui keluarga pasien, dokter Haris mengajak Edi ke ruang kerjanya.
“Silakan duduk, Mas Edi,” ucap dokter Haris ramah.
“Iya, Pak dokter. Terima kasih,” jawab Edi, “Bagaimana kronologi kejadiannya,Pak?”
Pak Haris menceritakan peristiwa keracunan yang dialami pasien rumah sakitnya. Edi mendengarkan sungguh-sungguh sambil sesekali membuat catatan.
“Saya yakin ada unsur kesengajaan. Bolehkah saya menyeledikinya? Tentu saya tidak turun langsung. Teman saya, Kiki, yang akan melakukannya.”
“Tentu saja. Silakan Mas Edi melakukan penyelidikan. Saya akan menyuruh semua karyawan bersikap koopertif. O ya, saya minta tolong agar kasus initidak menyebar,” kata dokter Haris.
Edi mengangguk diiringi senyum. Ia berusaha membuat dokternHaris tenang.
Saat mereka akan meninggalkan ruangan, Kiki datang dengan wajah dibanjiri keluh. Mukanya tampak keruh.
“Mas Edi, gimana perkembangan terbaru?” tanya Kiki to the point.
Edi menceritakan apa yang ia ketahui dari rumah sakit. Ia juga menyampaikan agar berita tersebut tidak tercium wartawan.
“Tadi ada wartawan mau meliput, buak?” ucap Kiki.
“Betul. Kok Nak Kiki tahu?”
“Tahu lah, dok. Kiki gitu loh! Tadi sudah diseret body guard, kan, tu bocah tengik?” lanjut Kiki.
“Iya. Seorang lelaki kekar menyeretnya menjauh. Berarti, pria itu anak buah kalian?” tanya dokter Haris.
“Iyupz, benar sekali,” jawab Kiki sedikit centil.
“O ya, Pak. Saya mohon maaf atas kejadian ini. Kami sudah mencium gelagat orang-orang yang berniat jahat. Tapi kami tidak mengira serangannya ke rumah sakit. Kami pikir mereka akan menyerang Mbak Via, Mas Farhan, Pak dokter dan yang lain.”
Dokter Haris memaksakan senyum. Getir tentu.
“Bisa saya ke ruangan CCTV, Pak?” tanya Kiki.
Dokter Haris mengangguk. Ia menyuruh salah seorang OB yang tengah melintas untuk mengantar Kiki ke ruang CCTV.
***
Bersambung
Terus ikuti kisah selanjutnya, ya! Jangan lupa kunjungi novel keren karya si cantik Kak Indri Hapsari untuk mengetahui kehidupan Meli di Jember. Tentu saja tinggalkan like dan komen di setiap episode, ya!
Terima kasih. Barakallahu fiik
__ADS_1