SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Menguak Kejahatan Masa Lalu


__ADS_3

Mobil hitam yang dikemudikan sopir keluarga Pak Candra memasuki halaman rumah sederhana. Begitu mesin mobil dimatikan, seorang wanita tua bertubuh kurus datang tergopoh-gopoh menyambutnya. Ekspresi bingung tampak nyata di wajah wanita itu


Satu per satu penumpang mobil turun. Eyang Probo yang pertama disusul Farhan dan Via. Pak Haris dan Bu Aisyah menjadi penumpang yang terakhir turun.


Begitu melihat Farhan, kebingungan di wajah wanita itu memudar. Senyum lebar terkembang di bibirnya.


“Alhamdulillah, Nak Farhan bisa datang ke sini lagi. Sudah sembuh, Nak?” ucap wanita yang ternyata ibu kandung Agus.


“Assalamualaikum, Bu. Alhamdulillah Farhan sudah sehat sekarang. Maaf, kami baru bisa berkunjung,” kata Farhan, “Saya bersama keluarga saya, Bu. Ini istri dan anak saya.”


Farhan merengkuh bahu Via lembut. Istri Farhan itu segera berontak lalu mendekat ke ibu Agua. Ia meraih tangan yang sudah keriput itu lalu menciumnya takzim.


“Mari, silakan masuk. Tapi, kediaman kami seperti ini, kotor. Maaf juga tempatnya sempit,” kata ibu Agus  yang terlihat kikuk.


“Sudah, Ibu, tak perlu repot begitu. Kami ke sini ingin bersilaturahim, bertemu keluarga Nak Agus termasuk Agus,” sahut Bu Aisyah.


Ibu Agus mempersilakan tamu-tamunya duduk di kursi yang telah tampak usang. Ia sendiri mengambil kursi plastik untuk dirinya.


“Bu, sebelum saya bicara banyak, saya perkenalkan keluarga saya. Yang rambutnya sudah beruban itu kakek saya, namanya Eyang Probo,” ucap Farhan sembari menunjuk eyangnya memakai ibu jari.


Yang disebut namanya mengangguk sambil tersenyum kepada ibu Agus. Setelah itu, ia memelototi Farhan yang dibalas dengan senyum jail.


“Istri saya tadi sudah saya perkenalkan. Yang dua ini adalah bunda dan ayah saya. Sedangkan yang di luar, namaya Dodo, sopir keluarga om saya,” lanjut Farhan.


Baru saja Farhan selesai memperkenalkan anggota keluarganya, terdengar suara mobil berhenti. Tak lama kemudian, sosok pemuda gagah bertubuh kekar berdiri di pintu. Ia menatap sepintas tamu-tamunya  dengan bingung. Saat matanya menumbuk sosok Farhan, senyumnya merekah.


“Mas Farhan, akhirnya kau datang. Kirain dulu hanya untuk pemanis bibir,” ucap Agus.


Pelukan dua lelaki itu membuat yang hadir terharu. Bahkan, Via sampai menyusut air matanya.


“Aku datang bersama keluargaku. Kau tentu bisa menebak sendiri. Yang tertua tentu kakekku, Eyang Prodo. Yang sepasang di depan kakekku sudah pasti ayah bundaku, dan ini istriku,” Farhan kembali memperkenalkan keluarganya.


Agus mengangguk sembari tersenyum, menatap satu per satu  yang Farhan sebutkan. Terakhir, ia menatap Via.


“Deg!” Dada Agus seakan dipukul dengan keras. Peristiwa beberapa tahun silam seperti  diputar kembali.  Seketika tubuh Agus gemetar. Ia bersimpuh, tak kuat menahan tubuhnya.


“Maafkan aku, tolong maafkan aku. Aku siap menerima hukuman apa pun yang akan Nona berikan. Yang penting,  Nona mau memaafkan aku,” pinta Agus dengan kepala tertunduk.


Semua yang ada di ruangan itu terkejut. Selain Via, tak satu pun yang paham maksud ucapan Agus. Namun, Via sendiri tidak mengira kalau Agus akan bereaksi seperti itu.


“Jangan bersimpuh begitu! Aku sudah melupakannya, kok. Tentu saja aku sudah memaafkanmu. Sekarang bangkitlah, jangan bersimpuh! O ya, satu lagi, jangan panggil nona! Panggil Via saja! Kita sebaya, kan? Kau teman SMP Doni, aku teman SMA-nya,”  ucap Via tulus.


Agus mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Perlahan, ia mencoba berdiri. Kemudian, dengan langkah gontai ia mengambil kursi plastik.


“Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa yang telah Agus lakukan kepadamu, Nak?” tanya ibu Agus penasaran sekaligus cemas.


Via tersenyum lembut. Memorinya pun berputar saat dia selesai ujian.


“Dulu, Agus pernah disuruh Aurelia untuk mencelakai saya dengan menyerempet saya. Allah masih melindungi saya hingga tidak ada cedera seius yang saya alami.” Via menceritakan peristiwa sekitar 4btahun silam dengan sedikit menutupi kondisi dirinya.


Lagi-lagi semua orang terkejut. Mereka tidak mengira Agus pelakunya. Keluarga Via hanya mengetahui pelakunya adalah teman Doni. Sementara, ibu Doni tampak pucat mengetahui perbuatan nak sulungnya.


“Agus, bisa-bisanya kamu mencelakai orang begitu? Di mana otak dan nuranimu?” bentak ibu Agus.


Agus kembali tertunduk. Tanpa dibentak ibunya pun ia sudah merasa sangat bersalah.


Agus menghirup oksigen sebanyak-bangakya lalu dihembuskan kembaliperlahan.


“Waku itu, Ibu sakit dan harus opname. Aku nggak puny a uang untuk membawa Ibu berobat. Makany, saat Aurelia menawariku menceklakai teannya, aku terima. Bayaraku saat itu cukup untuk menutup biaya oname Ibu,” jelas Farhan.


Kini giliran ibu Agus yang terguguk. Ia tidak mengira kalau kondisinya membuat Agus nekad.

__ADS_1


“Yang lebih memalukan selang setahun kemudian. Akgus kembali mendapat perintah semacam itu. Lagi-lagi targetnya Nona Via. Tapi yang nyuruh beda. Saat itu, aku justru mencelakai Doni.” Agus melanjutkan ceritanya.


Ibu Agus kembali ternganga. Ia tak pernah membayangkan anaknya menjadi pelaku kriminal.


“Didorng rasa bersalahku kepada Doni, aku mengakui perbuatanku dengan menceritakan semuanya tanpa ada yang Agus tutupi. Doni tidak hanya memaafkan Agus. Dia yang menyediakan rumah ini dan pekerjaan untuk Agus.”


“Kenapa mesti pindah jauh sampai ke sini?” tanya Pak Haris penasaran.


Agus kembali menarik nafas panjangnya. Dadanya terasa sesak semenjak melihat Via.


“Orang yang nyuruh Agus tidak mengenal kata gagal. Agus  harus membuat Nona Via cedera parah, kalau perlu sampai meninggal. Kalau sampai gagal, nyawa Agus dan keluarga taruhannya.”


“Apa uang itu juga untuk keperluar pengobatan untuk Ibu?” tanya ibu Doni lirih.


Agus mengangguk. Ia merasa sangat bersalah baik kepada Via maupun ibunya. Selama ini ia tak pernah menceritakan tindakan kriminalnya.


“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Toh Nak Agus sudah menyadari kesalahannya dan berusaha lebih baik.” Eyang Probo meredakan suasana yang kurang mengenakkan.


“Selain itu, Doni dan Via juga sudah memaafkan Agus, kan? Jadi, masalah ini tidak usah diperpanjang. Bukan begitu, Via?” tambah Bu Aisyah.


Via mengangguk diiringi senyum yang meneduhkan. Tangannya mengusap kepala Zayn dengan lembut sambil berdoa agar anaknya kelak menjadi orang pemaaf.


“Bu, Nak Agus, kedatangan ke sini di samping silaturrahim, kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kami kepada Nak Agus dan keluarga yang telah menolong anak saya, Farhan. Saya tak bisa membayangkan apa yang akan Farhan alami jika waktu itu Nak Agus tidak membawa Farhan ke sini.” Pak Haris menyampaikan tujuan mereka.


“Itu sudah kewajiban kami sebagai manusia. Yang kami lakukan hanya sedikit, kok. Bahkan, kami tidak bisa membawa Mas Farhan berobat hingga cederanya berlarut-larut,” sahut Agus lirih.


“Tidak, Gus! Yang kau lakukan sangat besar artinya. Kalau kau tak membawaku memakai moil pick up kamu, menutupiku dengan karung, mungkin orang-orang jahat itu sudah menangkapku,” bantah Farhan.


Pak Haris saling tatap dengan istrinya, lalu keduanya tersenyum.


“Begini, Nak.  Farhan pernah bercerita kalau kalian sebenarnya merindukan kampung halaman kalian. Benar begitu?” tanya Pak Haris.


“Benar, Pak. Tapi, demi keselamatan keluarga, kami bertahan di sini. Meski pas-pasan, semua kebutuhan pokok dapat tercukupi. Yang lebih penting lagi, saya mendapatkannya dengan cara halal,” jawab Agus.


Mendadak mereka dikejutkan suara isak tangis. Ternyata, wajah ibu Agus  telah dibanjiri air mata. Agus begitu khawatir melihat ibunya.


“Ibu kenapa? Ibu sakit? Apa kita ke dokter sekarang?” tanya Agus.


Ibu Agus menggeleng. Isaknya masih saja terdengar.


“Ini semua karena Ibu. Kamu berbuat nekad demi mendapat uang untuk biaya pengobatan Ibu. Sungguh, Ibu merasa tak berguna,” keluh ibu Agus di sela isaknya.


“Ibu, sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita menatap masa depan, menatanya agar lebih baik,” kata Bu Aisyah lembut.


“O iya, kembali ke masalah tadi, Gus. Kalau kalian mau, kembalilah ke Jogja! Bukankah kalian menginginkan kembali?”


Agus menatap Farhan ragu. Ia dan keluarga memang ingin tinggal di Jogja. Namun, situasi tidak memungkinkan.


“Mas, rumah kami sudah dijual. Selain itu, keselamatan kami jadi taruhannya jika kami di sana. Orang-orang Beno bisa mengejar aku dan keluargaku,” ucap Agus lirih.


“Tenanglah, Gus. Mereka sudah tidak punya taring. Pak Beno sudah mendekam di penjara. Soal rumah, aku ada rumah yang bisa kalian tempati. Tidak besar, sih.” Farhan menjelaskan.


Seketika mata Agus memancarkan sorot kebahagiaan. Ada secercah harapan di sana. Ia menatap ibunya meminta pertimbangan.


“Terima kasih atas tawaran Nak Farhan. Kami tidak mau merepotkan. Apalagi Agus pernah mencelakai Nak Via. Kalian tidak menghukum Agus saja sudah merupakan anugerah bagi kami,” kata ibu Agus dengan suara serak.


“Ibu, kan kami sudah mengatakan yang lalu biarlah berlalu. Saya ikhlas memaafkan Agus, kok. Soal tawaran pindah ke Jogja jangan dikaitkan dengan masa lalu, Bu. Bagaimana? Soal pekerjaan, Agus bisa bekerja di kantor kami. Untuk sekolah adik-adik Agus, biarlah nanti orang-oang Om Candra yang mengurus kepindahannya. Urusan di Jogja biar menjadi urusan kami,” kata Via.


Mereka kembali terkejut oleh terakan dari dalam. Seorang anak remaja masuk,


“Kita akan kembali tinggal di Jogja, Bu? Horeee! “ teriak anak lelaki itu.

__ADS_1


“Roni, yang sopan dong!” tegur ibu Agus.


Keluarga Farhan tersenyum melihat tingkah Roni. Anak itu begitu bersemangat untuk pindah ke Jogja lagi.


“Bu, Roni semangat sekali, tuh! Ibu tidak usah sungkan. Kami ikhlas, kok. Roni, kamu beneran ingin kembali ke Jogja, sekolah di sana?’ ucap Farhan.


“Iya, Mas. Memangnya bener Mas Farhan ajak kami pindah ke Jogja?”


Farhan mengangguk. Mata Roni memancarkan harapan yang ingin ia raih.


“Bagaimana, Bu? Kalau iya, besok siang berangkat ke Jogja bersama kami,” desak Bu Aisyah.


Setelah terdiam beberapa saat, ibu Agus akhirnya mengangguk setuju.


“Alhamdulillah,” ucap Farhan dan Pak Haris bersama. Yang lain pun ikut mengucap hamdalah.


“Agus, kau selesaikan urusan pekerjaan dengan majikanmu! Kau juga perlu hubungi Doni untuk mengembalikan rumah ini,” kata Farhan.


“Iya, Mas,” jawab Agus. Tenggorokannya terasa tercekat karena menahan bahagia dan haru yang membuncah.


“Aku minta kontakmu, Gus agar mudah komunikasi,” pinta Farhan.


Setelah semua dirasa cukup, keluarga Farhan berpamitan. Ibu Agus baru tersadar kalau ia tidak menyuguhkan apa pun untuk para tamunya.


“Maafkan saya. Aduh, saya jadi merasa tak enak ini. Kenapa saya sampai lupa?” keluh ibu Agus tak enak hati.


Bu Aisyah tersenyum. Ia menenangkan ibu Agus. Selanjutnya, mereka meninggalkan kediaman Agus.


“Sudah ada kabar dari Om Candra?” tanya Farhan kepada istrinya.


Baru saja Via akan menjawab, ia merasakan getaran dari dalam tasnya. Dengan cepat Via mengambil alat komunikasi cerdasnya.


“Assalamualaikum, Om,” ucap Via.


....


“Baru saja meninggalkan rumah Agus. Bagaimana kondisi Lia?”


....


“Baik, Om. Terima kasih informasinya.”


....


“Waalaikumsalam.”


Via kembali menyimpan ponselnya.


“Om Candra?” tanya Farhan.


“Iya. Kata Om, Lia bisa dijenguk. Tapi terbatas.”


“Kalau beitu, kita ke sana,” kata Farhan, “Langsung ke rumah sakit dulu, Pak.”


Sopir keluarga Pak Candra mengarahkan alphard majikannya ke rumah sakit yang disebutkan Via. Dengan kecepatan sedang, waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 20 menit.


 


 


*

__ADS_1


Bersambung


Apa yang terjadi jika Aurelia bertemu  Via dan Farhan? Apakah dia masih menyimpan dendap terhadap pasangan suami istri itu? Temukan jawabannya di next episode! Jangan lupa tinggalkan like dan koment! Aku siap dukung balik karya Kakak. Terima kasih


__ADS_2