SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kunjungan ke Jogja


__ADS_3

Meli bengong menatap ayahnya. Ia tak percaya ayahnya menginginkan ikut.


“Ayah kan belum pernah silaturrahim ke tempat besan, Mel. Ya sekalian jenguk eyangnya Nak Azka,” kata Pak Roni sambil tersenyum lebar.


“Iya, Ayah. Azka berterima kasih kalau Ayah ikut,” sahut Azka.


“Mukamu kenapa, Mel? Kok kayak bingung gitu? Tenang, Ayah yang akan beli tiket buat kita bertiga. Kita pakai kereta saja, ya! Selain hemat, Ayah ingin bernostalgia naik kereta,” kata Pak Roni yang mengira Meli kebingungan harus membelikan tiket.


“Kenapa nggak pakai pesawat biar cepat, Yah” Azka menawar.


“Nggak, ah. Ayah sudah lama nggak naik kereta. Ayah kangen duduk di dalam kereta, beli nasi pecel sama temp eke pedagang asongan saat kereta berhenti di stasiun,” kata Pak Roni sambil membayangkan suasana di gerbong kereta.


“Mana ada pedagang asongan di dalam gerbong? Kalau mau beli, ya turun. Ntar selesai beli nasi pecel, keretanya udah berangkat,” ucap Meli menahan tawa.


“Ah, kamu ini. Pokoknya kita naik kereta, ya!” Pak Roni bersikukuh.


“Kalau begitu, saya pesankan untuk hari Jumat pagi, ya,” kata Azka.


Pak Roni bingung. Dia berpikir keras bagaimana Azka pesan tiket.


“Nak Azka mau ke sini untuk beli tiket? Nggak usah, Nak. Ayah bisa beli,” tolak Pak Roni.


Azka terkekeh geli. Ia sampai lupa sedang bicara dengan ayah mertuanya.


“Kenapa, Nak? Ayah dulu sering dimintai tolong antre beli tiket kereta.”


Azka menghentikan tawanya. Ia tersadar kalau berlaku tak sopan terhadap ayah mertuanya.


“Iya, Ayah. Em, maksud Azka, biar Azka pesankan saja via online. Pokoknya begini, lusa Ayah tinggal berangkat saja, ya,” tutur Azka lembut.


“Ah, kau memang menantu yang pengertian. Baiklah kalau Ayah nggak perlu antre. Mel, kau dengar sendiri, kan? Menantuku yang baik akan memesankan tiket. Eh, bagaimana caranya?”


Meli menahan tawa. Ia memasang wajah datar.


“Sudahlah, pokoknya kita tahu beres saja,” jawab Meli.


“Ya, yang penting kita ke Jogja. Fatimah! Besok kau siapkan oleh-oleh buat besan kita, ya!” teriak Pak Roni gembira.


Meli hanya geleng kepala melihat kelakuan ayahnya. Namun, ia juga terhibur dengan kehebohan sang ayah.


“Maafin ayah, Mas. Ayah memang gitu, suka heboh kayak anak kecil,” ucap Meli.


“Kenapa haris minta maaf? Karena beliau, istriku yang cantik telahir untuk jadi pendamping hidupku,” sahut Azka.


Meski sudah biasa mendengar gombalan Azka, Meli tetap saja masih merona kalau digombali.


“Ya sudah, istirahat dulu sana! Mas Azkamu yang cakep ini juga mau menyelesaikan tugas dulu. Assalamualaikum, istriku. MMuuah….”


“Waalaikumsalam, suamiku. Muuuaah!”


***

__ADS_1


Azka mencermati orang-orang yang keluar dari dalam stasiun. Ia khawatir orang yang ia jemput terkewatkan.


Senyum mengembang di bibir lelaki tampan itu saat melihat sosok yang ia tunggu. Seorang wanita berjilbab kuning dan pria berkemeja batik mengiringi langkahnya. Azka segera mendekat.


“Assalanualaikum. Alhamdulillah, sudah sampai Jogja dengan selamat,” ucap Azka.


Salam Azka dibalas ketiga orang itu bersamaan. Meli menyambut uluran tangan Azka dan mencium takzim. Azka melakukan hal yang sama saat menyalami kedua mertuanya.


Azka mengajak Meli dan orang tuanya ke mobil. Kali ini, Azka mengemudikan sendiri mobil bundanya. Ia membukakan pintu belakang untuk orang tua Meli, dan pintu depan untuk istri tercinta. Ia juga memasukkan barang-barang yang mereka bawa.


Tak berapa lama mobil itu melaju meninggalkan stasiun. Beberapa kali Meli melirik Azka yang tengah konsentrasi menyetir.


“Sudah boleh bawa mobil sendiri, Mas?” tanya Meli.


“Dari dulu juga boleh. Aku juga pernah bawa sendiri anterin kamu dulu. Beberapa waktu lalu gara-gara insiden itu semua nggak boleh bawa mobil, harus sopir.”


“Sekarang sudah bebas? Termasuk nggak dikawal?” tanya Meli lagi.


“Kalau pengawalan sih tetap. Kamu juga di Jember diawasi bodyguard, kan?”


Meli mengangguk. Ia tahu orang-orang yang mengawasi keluarganya meski tak mengenal mereka.


Selang seperempat jam kemudian, Meli terlihat bingung. Ia buru-buru bertanya kepada Azka.


“Mas, sepertinya ini bukan jalan menuju rumah bunda. Atau Mas ambil jalan pintas?”


Azka tertawa. Ia memuji daya ingat istrinya.


“Ingatanmu akan jalan bagus juga. Memang ini bukan jalan ke rumah bunda. Kita ke kediaman Eyang Probo. Ayah dan bunda ada di sana.”


Setelah basa-basi sejenak, Meli beserta kedua orang tuanya dipersilakan membersihkan diri terlebih dahulu.


Usai salat, Bu Aisyah mengajak keluarga besannya itu menikmati hidangan yang sudah disiapkan di meja makan. Namun, mereka menginginkan bertemu Eyang Probo terlebih dahulu.


"Assalamualaikum, Eyang. Ini Meli bersama ayah dan ibu." Meli menyapa Eyang Probo.


Pria tua itu menarik sudut bibirnya perlahan, melengkungkan senyuman. Matanya berbinar bahagia.


"Eyang kangen Meli, ya? Eyang mau cerita sama Meli?" tanya Meli.


Meski tidak dapat menjawab dengan kata-kata, Eyang Probo menunjukkan kebahagiaan bertemu cucu menantu.


"Wah, tamu dari Jember sudah datang rupanya. Sehat, Mel? Om, Tante, apa kabar?" Via yang baru datang menyapa.


Meli membalikkan badannya. Senyum lebarnya segera menghiasi bibir.


"Mbak Via di sini? Alhamdulillah kami sehat," jawab Meli.


Via memeluk Meli diikuti cipika-cipiki. Selanjutnya, Via menyalami Bu Fatimah dan menyapa Pak Roni.


"Aku bareng sama Om Candra dan Tante Lena. Mereka ke Jogja bareng Dek Azka," jelas Via

__ADS_1


Benar saja. Baru saja Via menjelaskan, Pak Candra dan Bu Lena masuk ke kamar. Mereka menyapa Eyang Probo yang terlihat semakin cerah. Guest kebahagiaan tampak begitu jelas di wajah keriputnya.


"Wah, Eyang Probo tentu akan semakin cepat membaik, nih. Dapat kunjungan semua cucu menantu dan juga besan," celetuk Bu Aisyah.


"Assalamualaikum. Rupanya semua berkumpul di sini," terdengar suara Pak Haris dari pintu.


"Waalaikumsalam," jawab semua yang ada di kamar.


"Iya, nih. Eyang dapat kunjungan dobel besan Ayah," sahut Azka.


"Ah, benar. Apa kabar nih?" sapa Pak Haris kepada kedua keluarga.


Baik keluarga dari Medan maupun dari Jember menjawab dengan ramah. Senyum mereka terus menghiasi bibir.


"Bagaimana kalau kita serbu hidangan yang sudah disediakan di meja makan?" Bu Aisyah mengajukan tawaran.


"Benar, para besan pasti lelah. Ayo kita istirahat sambil makan!" tambah Pak Haris.


"Eyang kami tinggal dulu sebentar, ya," Farhan meminta izin.


Eyang Probo menganggukkan kepalanya. Senyumnya belum menghilang.


Semua orang kecuali Eyang Probo dan perawat, berjalan keluar kamar. Mereka mengikuti langkah Pak Haris. Via dan Meli berjalan paling belakang.


"Mel, sudah pengin menimang debay?" tanya Via dengan suara lirih.


"Maksud Mbak Via?" Meli tak paham karena dia tak begitu konsentrasi.


"Sudah mau program kehamilan?" Via memperjelas.


Meli kaget. Ia tak mengira akan dapat pertanyaan seperti itu.


"Ah, belum siap, ya? Masih ingin pacaran dulu?" goda Via.


Pipi Meli memerah. Untung saja Via tak begitu memperhatikan.


"Malam ini kami nggak akan ganggu, deh. Nikmati kebersamaan dengan Mas Azkamu," bisik Via ke telinga Meli.


Muka Meli makin memerah. Ia merasa malu meski memang mau.


"Haish, kalian nggak mengganggu, tapi bagaimana kami bebas bermesraan di tengah banyak orang?" keluh Meli dalam hati.


***


Bersambung


Maaf, akhir-akhir ini lagi banyak tugas negara. Tadi takziah dari pagi, baru pulang (eh, jadi curcol).


Kalau masih mengikuti, aku ucapkan terima kasih. Jangan lupa intip novel CS1 karya Kak Indri Hapsari biar tahu siapa Meli, ya!.


Untuk dukung kami, klik like dan tinggalkan komentar.

__ADS_1


Barakallahu fiik



__ADS_2