
Begitu mobil berhenti di lobi IGD, dua perawat dengan sigap menyambut mereka. Brankar pun sudah siap. Mereka segera memindahkan Via ke atas brankar lalu mendorong masuk ke ruang IGD. Farhan mengikuti dari belakang.
"Bapak mengurus pendaftaran dulu, ya. Biar kami menangani pasien," kata salah satu perawat.
Farhan pun menurut. Ia ke bagian pendaftaran.
"Mas Farhan? Siapa yang sakit?" tanya petugas. Ia sudah termasuk senior sehingga mengenal keluarga dokter yang bekerja di rah sakit itu. Apalagi dokter Haris selaku Kepala Rumah Sakit.
"Istri saya, Bu. Ia demam, tadi sempat kejang-kejang," jawab Farhan.
"Saya minta datanya, ya," pinta petugas itu dengan sopan.
Farhan meminta formulir data pasien. Ia segera mengisi data Via.
"Apa dokter Haris sudah diberi tahu?" tanya petugas itu lagi.
Farhan menggeleng dan menjawab,"Belum. Saya tergesa-gesa ke sini begitu diberi tahu istri saya kejang. HP saya pun tertinggal. Bisa minta tolong beri tahu ayah saya?" Farhan memohon sambil menyerahkan formulir yang telah diisi.
"Tentu. Sepertinya dokter Haris ada. Saya telepon ke ruangan beliau dulu."
Petugas itu meninggalkan Farhan yang duduk di depan meja pendaftaran. Sekitar lima menit kemudian, wanita setengah baya itu kembali.
"Kebetulan dokter Haris belum pulang. Sebentar lagi beliau ke sini. Mas Farhan mau melihat istri Mas?" ujar si petugas.
Farhan mengangguk.
Ia beranjak dari duduknya menuju bilik pemeriksaan. Kebetulan saat itu tidak banyak pasien yang masuk. Hanya ada 2 pasien termasuk Via yang tengah ditangani.
"Dokter masih memeriksa, Mas tunggu dulu, ya!" kata petugas pendaftaran yang mengantarkan Farhan ke tempat pemeriksaan.
Farhan mengangguk. Dari celah tirai, ia dapat melihat seorang perawat tengah mencatat sambil memegang termometer. Tak lama kemudian, ada yang mengambil sampel darah Via.
Farhan terus memperhatikan petugas medis yang tengah memeriksa istrinya. Tepukan di bahu mengagetkan pria yang sedang gelisah itu.
"Via kenapa? Kok sampai dibawa ke IGD?" tanya orang yang menepuk bahunya.
"Ayah? E...sejak kemarin Via nggak enak badan. Selera makannya jadi aneh. Dia juga merasa mual-mual terus. Bahkan, seringnya habis makan dia mutah. Mbok Marsih dan Bu Inah bilang kemungkinan Via ngidam, Yah," jawab Farhan.
"Kalian kan bisa mengecek sendiri pakai testpack," ujar dokter Haris.
"Tadi juga Farhan sudah beli beberapa testpack. Via tes urin sekitar jam 10 tadi," jelas Farhan.
"Hasilnya bagaimana?"
"Belum jelas. Satu garis jelas, lalu ada seperti garis lagi tapi samar. Rencananya besok pagi saat bangun tidur ngecek lagi," jawab Farhan.
Dokter Haris mengangguk-angguk. Lalu, ia masuk ke bilik pemeriksaan Via. Pria berusia 50-an tahun itu berbicara dengan dokter jaga IGD yang sedang memeriksa Via. Beberapa menit kemudian, dokter Haris keluar.
"Istrimu perlu rawat inap. Nanti setelah hasil lab keluar, baru dibawa ke bangsal," kata dokter Haris.
"Memangnya Via menderita suatu penyakit, Yah?" tanya Farhan cemas.
"Diagnosis sementara tifus. Kepastiannya nunggu hasil pemeriksaan sampel darah Via. Tadi sampel darah sudah dibawa ke lab," papar dokter Haris.
__ADS_1
Farhan terdiam. Ia masih terus menatap ke dalam bilik pemeriksaan.
Tak lama kemudian, dokter keluar. Farhan segera mendekat.
"Bagaimana, dok?" tanya Farhan tak sabar.
Dokter yang terlihat masih muda itu tersenyum.
"Saya kira dokter Haris sudah menjelaskan," sahut dokter ramah.
"Kata ayah kemungkinan tifus. Benar begitu?" kejar Farhan.
"Diagnosis saya begitu. Tunggu sebentar lagi! Kalau hasil lab diantar ke sini, akan lebih jelas. Mas Farhan boleh menemani istri dulu."
Farhan mengangguk. Ia masuk ke dalam. Ternyata ayahnya sudah ada di dalam lagi.
"Kok suhunya bisa tinggi seperti ini? Bahkan, Via sampai sempat kejang. Memang sejak kapan Via merasa sakit?" tanya dokter Haris kepada Via.
"Kemarin pagi, Yah. Waktu Via masak, rasanya pusing. Via terus berhenti dan istirahat," jawab Via lirih.
"Sebelumnya tidak merasa apa-apa?" tanya dokter Haris lagi.
"Sedikit. Via sering merasa pegal dan lidah agak pahit. Via kira karena Via sedang banyak kegiatan, sedikit kelelahan."
Tak lama kemudian, dokter jaga IGD masuk sambil membawa hasil lab. Ia berbicara dengan dokter Haris sambil menunjukkan tulisan di kertas yang ia bawa. Dokter senior yang menjabat kepala rumah sakit itu mengangguk paham.
"Via positif tifus. Sebentar lagi, ia akan dipindahkan ke bangsal rawat inap," kata dokter Haris kepada Farhan.
Dua perawat pun masuk bersiap memindahkan Via ke bangsal perawatan. Farhan dan dokter Haris mengikuti brankar yang didorong oleh perawat.
Setelah Via ditempatkan di kamar VVIP, Farhan menawari Via makan.
"Cinta mau makan apa?"
"Mi ayam," jawab Via.
"Eh, nggak boleh. Via harus makan yang halus," sergah dokter Haris.
Farhan bingung. Di satu sisi makanan yang diinginkan Via merupakan larangan, di sisi lain ia kasihan kalau keinginan istrinya tidak dituruti.
"Sebentar! Ayah curiga, nih," kata dokter Haris tiba-tiba.
"Curiga kenapa, Yah?" Farhan mengernyitkan keningnya.
"Sejak kemarin, apa yang Via makan? Apa dia makan yang pedas-pedas atau asam?" selidik ayah Farhan.
Farhan memandang istrinya. Ia baru ingat kaitan makanan dan sakit yang diderita Via.
"Iya, Yah. Kemarin makan bakso. Tadi makan siomay, sambal, dan rujak buah," jawab Farhan sambil menunduk.
Ia merasa bersalah karena menuruti keinginan istrinya dan itu berakibat fatal.
"Masya Allah!" seru dokter Haris. "Pantas saja begini jadinya."
__ADS_1
"Farhan kira itu kemauan calon anak Farhan, Yah," sesal Farhan.
Pak Haris pun geleng-geleng kepala.
"Kamu sudah memberi tahu bundamu?"
"Belum. HP Farhan malah ketinggalan. Itu sebabnya tadi minta tolong petugas pendaftaran IGD untuk menghubungi Ayah."
Pak Haris tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi sang istri.
"Kau suruh orang rumah untuk mengantar keperluan kamu dan Via ke sini!" perintah Pak Haris.
"Titip Dek Via dulu, Yah. Farhan cari Pak Yudi dulu," pinta Farhan.
Setelah ayahnya mengangguk, Farhan bergegas ke IGD lagi mencari Pak Yudi.
Ternyata, Pak Yudi masih duduk di lobi IGD. Farhan segera mendekat.
"Pak, tolong pulang dulu. Minta Bu Inah atau Mbok Marsih untuk menyiapkan baju Dek Via dan saya, juga keperluan lainnya. Istri saya harus rawat inap. O ya, bawakan HP milik saya dan Dek Via beserta charger. Lalu, bilang ke Mas Edi untuk menyiapkan laptop dan berkas laporan," perintah Farhan.
Pak Yudi mengiyakan tanpa banyak tanya. Ia pun segera ke tempat parkir dan melajukan mobil ke rumah.
Farhan buru-buru kembali ke kamar perawatan Via. Ayahnya tengah berbincang dengan seorang perawat. Tak lama kemudian, perawat itu pergi.
"Ada apa, Yah?" tanya Farhan penasaran.
"Ada apa? Maksud kamu?" dokter Haris mengernyitkan dahi kebingungan.
"Itu tadi kan ada perawat ke sini. Ada apa dia ke sini?"
"Oh, itu. Dia cuma nganter obat untuk Via. Sana kasihkan istrimu! Bujuk dia untuk makan bubur!" perintah dokter Haris.
Farhan menurut. Ia mengambil mangkok berisi bubur.
"Cinta makan dulu, ya! Habis itu, minum obat!"
"Via nggak pengin makan bubur," tolak Via.
"Iya, tapi Cinta harus memaksakan diri makan bubur. Via ingin berlama-lama di rumah sakit?" Farhan memberi tekanan.
Via menggeleng. Akhirnya, ia menurut disuapi bubur oleh Farhan. Sesendok demi sesendok bubur mengisi lambung Via.
***
Bersambung
Maaf, yang berharap Via hamil jadi kecewa. Tapi, tetep dukung Author, dong! Klik gambar jempol di akhir episode, komen, juga vote.
Makasih 🙏
Sambil nunggu Via hamil, baca novel karya Aldekha Depe yuk!
__ADS_1