
Jarum jam panjang dan pendek hampir berhimpitan. Muazin sudah menyerukan panggilan salat zuhur sejak lima menit yang lalu.
Farhan pun segera bersuci dan mendirikan salat. Dengan keterbatasannya, ia tidak pernah absen dari kewajibannya sebagai muslim. Bahkan, ia masih bisa melakukan yang sunah.
Sementara ini, Farhan memang belum bisa salat berjamaah. Di samping kondisi fisiknya yang belum pulih yang membuatnya kadang salat dengan posisi duduk atau berbaring, keselamatannya juga terancam. Edi memberi saran agar Farhan tidak menampakkan diri di hadapan orang lain yang bukan keluarga atau orang dekat.
Demi menjaga keselamatan Farhan, hanya keluarga, dokter, dan beberapa orang lain seperti Doni, yang mengetahui bahwa Farhan masih hidup. Semua sepakat merahasiakan hingga orang yang mengincar nyawa Farhan dapat terungkap.
Edi baru dapat membuat dugaan. Namun, dugaan itu masih belum kuat untuk menyeret pelaku ke meja hijau. Mereka harus bersabar.
Baru saja selesai salat, Bu Aisyah datang. Ia mendengar kalau anak dan cucu pertamanya akan pulang dari rumah sakit. Guru Biologi itu meminta izin kepada kepala sekolah untuk meninggalkan tugas mengajar sebanyak 2 jam pelajaran.
"Apakah sudah siap untuk pulang?" tanya Bu Aisyah.
"Sudah, Bunda. Tinggal menunggu Dek Azka yang menjemput. Katanya dia salat zuhur di masjid dekat rumah sakit. Mungkin sebentar lagi datang," jawab Via.
"Oh, bukan dengan Pak Yudi?" Bu Aisyah tadinya mengira mereka akan pulang bersama Pak Yudi.
"Tidak. Mobil yang dibawa Pak Yudi ke sini dipakai Dek Azka pulang. Dia Farhan suruh ganti mobil yang lebih lapang agar Baby Z nyaman." Kali ini Farhan yang menjawab.
"O begitu. Bunda salat dulu kalau begitu. Sekalian membersihkan diri biar bisa pegang dedek."
Bu Aisyah bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah bersuci dan juga salat, ia menengok Baby Z yang tidur di pangkuan Via.
"Oh, lucunya dia. Sekarang dia tidak terlalu keriput. Kulitnya mulai halus." Bu Aisyah menatap cucunya takjub.
"Iya, Eyang Uti. Dedek juga nggak rewel, nih," sahut Via dengan suara seperti anak kecil.
"Ah, Eyang Uti pengin nyium. Tapi, entar ganggu tidurnya," desis Bu Aisyah menahan gemas.
"Sabar, Bunda. Nanti di rumah Bunda bisa main sepuasnya sama Dedek deh," ujar Farhan.
Bu Aisyah tersenyum lebar. Ia tampak begitu bahagia.
Tak lama kemudian, Azka datang. Ia membersihkan tangannya menggunakan handsanitizer sebelum masuk.
"Sudah siap, Mas?" tanya Azka sambil menatap keponakannya.
"Kamu tanya aku atau siapa?" balas Farhan.
"Ya tanya ke Mas Farhan. Kan tadi sudah menyebut 'Mas'. Gimana, sih?" gerutu Azka.
"Kamu tanya ke aku, kok yang dilihat bukan aku?" protes Farhan.
__ADS_1
"Sudah bosen. Kalau Baby Z nggak ngebosenin," sahut Azka tanpa mengalihkan tatapannya.
Farhan mendengus kesal. Bu Aisyah hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua puteranya tengah berdebat.
"Kalian ni kok selalu saja bertengkar? Padahal, kalau tidak bertemu ya rindu," komentar Bu Aisyah.
Pak Yudi segera mengemasi barang-barang milik Via. Ia meminta kunci mobil kepada Azka. Pria yang sudah bekerja bertahun-tahun kepada keluarga Via itu membawa koper dan tas Via ke mobil.
Baru saja Pak Yudi pergi, dokter Haris datang. Ia sendirian, tidak ada dokter atau perawat yang menemaninya. Itu karena dia memiliki kepentingan pribadi.
"Wah, sudah siap rupanya. Cucu Eyang Kakung masih bobo, nih," ucap Pak Haris sambil menatap cucunya.
"Iya, Eyang. Dedek pinter, nggak rewel," sahut Azka.
"Kalau begitu, kalian bisa pulang sekarang. Bukankah kalian sudah merindukan rumah?" kata Pak Haris.
Via dan Farhan tersenyum. Mereka kompak mengangguk.
"Tentu saja, Ayah. Farhan saja tidak mengira bisa kembali dalam waktu nggak sampai sebulan di rumah Agus."
"Halah, waktu di rumah Agus pasti sudah meresa bertahun-tahun. Iya, nggak?" ledek Azka.
Farhan hanya tersenyum. Ia tidak membalas ucapan adiknya.
Mereka pun keluar ruangan. Pak Haris mengunci pintu dan menyimpan anak kunci ke dalam saku. Bodyguard segera bersiap mengawal.
Tanpa ada halangan apa pun, mereka dapat melakukan perjalanan pulang. Kurang dari satu jam, mereka sudah sampai rumah.
Begitu turun dari mobil, Pak Nono bersama Bu Inah dan Mbok Marsih menyambutnya. Mereka memasang wajah berseri-seri begitu Via turun dengan menggendong Baby Z.
"Alhamdulillah, selamat datang Mbak Via, Mas Farhan. Mari masuk," ucap Bu Inah.
Via berjalan berdampingan dengan Farhan. Azka dan Bu Aisyah mengikuti di belakangnya. Sementara yang lain berjalan di belakang mereka.
Farhan membuka pintu. Mereka berdua terkejut. Pekikan spontan keluar karena taburan bunga mengguyur mereka.
Mereka berdua menatap ruang tamu yang ternyata dihias balon dan kertas krep warna-warni. Senyum merekah di bibir tatkala menatap adanya tulisan "home sweet home".
*"*Ayo, ke kamar bayi! Kasihan Dedek mungkin capek. Mbak Via tidurkan Baby Z di boksnya," kata Azka.
Mereka berempat berjalan ke dalam. Kamar bayilah yang dituju.
Begitu pintu terbuka, lagi-lagi mereka terkejut. Kamar itu sudah dihias. Di dinding dijumpai tulisan 'Welcome Baby Zayn'.
__ADS_1
Via tersenyum dan menatap Azka. Dia menduga adik iparnya yang melakukan itu semua.
Perlahan, Via mendekat ke boks. Dengan hati-hati, diletakkannya tubuh mungil Baby Z ke boks barunya.
Bayi berumur hampir 3 minggu itu masih tetap terlelap. Tampaknya, ia menikmati tempat barunya.
"Ah, lihatlah! Dia begitu lelap tidurnya. Dia betah tampaknya," kata Bu Aisyah.
"Iya, Bun. Dia tidak rewel. Dia manis sekali," sahut Via.
Mereka tersenyum menatap bayi mungil dalam boks itu. Karena bayinya tetap terlelap, Bu Aisyah dan Azka keluar dari kamar.
"Ini pasti kerjaan Dek Azka. Hubbiy masih ingat waktu kita baru menikah? Kamar Hubbiy disulap menjadi kamar pengantin sama Dek Azka," kata Via.
"Iya, tentu saja masih. Fotonya juga masih ada. Anak itu meski jail, usil, tapi perhatian," ucap Farhan.
Tangan Farhan melingkar ke lengan Via. Dikecupnya kepala sang istri dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang. Kau telah berjuang mengandung dan melahirkan anak kita. Semoga kita dapat menjaga amanah yang Allah berikan," bisik Farhan.
"Aamiin."
"Mas Farhan, Mbak Via, ayo makan dulu!" teriak Azka dari luar kamar.
Via dan Farhan segera keluar. Mereka kompak menempelkan jari ke bibir.
"Sssttt, nanti Baby Z bangun!" kata Farhan.
Spontan Azka menutup mulutnya. Ia lupa kalau ada bayi sedang tidur di dalam kamar.
"Bagaimana kalau Dedek bangun saat kita tinggal? Mendingan Hubbiy makan dulu, deh. Biar Via jaga Dedek di sini," ujar Via.
Farhan terdiam sejenak. Ia tampak mempertimbangkan ucapan Via.
"Mending Cinta yang makan duluan. Kan butuh asupan makanan agar ASI lancar."
"Dedek sudah cukup lama tertidur. Kalau bangun, Hubbiy kan nggak bisa menenangkan. Sudahlah, Hubbiy pergilah makan duluan," tolak Via.
Akhirnya, Farhan menurut. Ia mengikuti langkah Azka ke ruang makan. Sementara, Via kembali masuk ke kamar. Ia duduk di sofa dekat boks bayi. Diambilnya benda pipih pintar dari saku gamisnya.
Sekejap kemudian, ia tenggelam dalam kesyikan chatting. Ia menghubungi teman-teman di grup Azrina.
***
__ADS_1
Bersambung
Insya Allah kubuat 2 episode tiap hari. Minimal 1 deh. Terima kasih atas dukungan Kakak 🙏