
Setelah mobil terparkir rapi, Bu Aisyah dan Via turun. Via berpamitan untuk segera ke kelas.
"O ya, nanti kalau rumah terkunci, kamu cari kunci pintu depan di pot bunga krisan. Yang bunganya ungu."
"Ya, Bun."
"Satu lagi. Sekitar jam 1 siang Pak Tono akan datang menyelesaikan renovasi kamar. Tolong buat minuman!"
"Baik, Bunda."
"Pergilah ke kelasmu!"
Via mencium tangan Bu Aisyah. Lalu ia berjalan dengan langkah cepat ke kelasnya. Baru beberapa meter ia berjalan, terdengar teriakan cempreng yang begitu familiar di telinga Via.
"Via sayaaang. Akhirnya kamu berangkat. Aku kangen."
Via menoleh ke sumber suara. Seorang gadis bertubuh agak gemuk berlari mendekat.
"Lebai kamu, Rat. Kemarin juga ketemu. Selama aku nggak masuk, kita kencan. Kek gitu kok bilang kangen."
"Huh...! Capeknya," kata Ratna sambil mengusap titik-titik peluh di dahi.
"Siapa suruh kamu lari-lari?"
"Iiih...kamu itu nggak tahu terima kasih. Udah dikasih perhatian ma cewek cantik nan seksi, malah nyalahin. Sebel."
"Ya deh, terima kasih Tuan Putri Ratna yang cantik jelita, bodi seksi nan lebar selebar trotoar, saya minta maaf. Terima kasih atas perhatian Tuan Putri."
"Ah, gak ikhlas kamu."
"Seterahlah," Via mengangkat bahunya.
Mereka tertawa cekikikan. Itu kebiasaan Ratna dan Via yang tidak dilakukan beberapa hari ini.
"Sudah lama nggak dengar tawamu. Kukira kamu sudah lupa cara tertawa yang baik dan benar."
Mata Via langsung melotot ke Ratna yang berjalan di sampingnya. Cubitan kecil tangan Via mendarat di lengan kiri Ratna.
"Auw..!" pekik Ratna.
"Kamu nyebelin. Eh tapi keluarga Bu Aisyah memang menyenangkan. Nuansa religius terasa banget di sana. Aku merasa tenang sekaligus malu."
"Maksud kamu?"
"Aku tenang dikelilingi orang-orang baik. Aku mendapat dukungan moral dari mereka. Tapi, aku juga malu karena ilmu agamaku cetek banget. Ngaji aja belum bisa. Sementara keluarga Bu Aisyah alim-alim."
"Bu Aisyah tahu kalau kamu belum bisa ngaji?"
"Iya, tahu karena aku terus terang. Dan Bu Aisyah mau mengajari aku ngaji."
"Wuih... senangnya."
Tak terasa mereka sudah sampai kelas. Beberapa anak sudah datang. Mereka langsung menyambut kedatangan Via.
"Alhamdulillah, si cantik udah bisa berangkat. Seminggu tak ada kamu terjadi KLB di kelas IPA-1 lo!" celetuk Dina.
"KLB?" dahi Via mengerut.
"Kangen luar biasa, " sahut Doni.
"Nah, ni oknum yang paling menderita," kata Ratna sambil menunjuk Doni.
__ADS_1
"Apaan sih," sungut Doni.
Mereka tertawa melihat Doni yang salah tingkah. Sikap Via telah kembali.
Lima menit menjelang bel mendadak Ratna panik.
"Via, aku lupa jam pertama ulangan Bahasa Inggris. Kemarin aku nggak ngasih tahu ke kamu. Aku sendiri semalam lupa belajar. Aduh gimana nih?"
"Bagaimana lagi? Ya ikuti saja! Kerjakan soal sebisamu. Masa kamu mau melarikan diri, tidak ikut ulangan?"
"Kalau aku nggak bisa jawab?"
"Nasibmu sedang sial. Paling juga remidi."
"Kok kamu santai banget?"
"Memang kalau panik soal ulangan berubah jadi mudah. Udah ah, jangan lebay! Dah bel tuh. Siap-siap saja memeras otak."
Tak lama berselang, guru masuk dan ulangan Bahasa Inggris dimulai.
Sudah setengah jam berlalu kertas di depan Ratna belum banyak tulisan. Keringat mulai bercucuran.
Saat waktu tersisa kurang dari 10 menit, Via menggeser selembar kertas ke bawah kertas milik Ratna.
"Salin segera," bisik Via tanpa menoleh.
Ratna bernafas lega. Ia segera menyalin jawaban dari Via.
Ketika bel berbunyi tanda waktu habis, Ratna sudah selesai menyalin jawaban.
"Terima kasih, Via. Kamu memang sahabat terbaikku."
Via mencebik. Ia hanya melirik Ratna sekilas.
"Iya, bermoral. Kalau menerima bantuan saat ulangan juga bermoral?"
"Hehehe...itu kan kepepet. Lagi pula tidak baik menolak bantuan orang lain. Kan bisa menyinggung perasaan."
"Kebanyakan ngeles."
"Enggak. Yang biasa ngeles kan Bu Aisyah."
"Kok bisa?" mata Via terbelalak.
"Bisalah. Ngeles Biologi, bhuahaha..."
"Hus! Jangan keras-keras!"
"Ups, lepas kontrol."
"Kebiasaan. Temani aku ke perpustakaan, ya!"
"Kapan?"
"Tahun depan."
"Cieee... ngambek. Maksudku istirahat pertama apa kedua?"
"Istirahat cuma sekali. Kita pulang jam 11."
"Beneran? Hore...!"
__ADS_1
Via langsung membungkam mulut Ratna. Untungnya guru Matematika belum masuk.
"Jangan keras-keras! Aku nggak enak sama Bu Aisyah. Kan bocoran infonya dari wali kelas kita tadi pagi," bisik Via.
Setelah Matematika usai, Via menggandeng Ratna ke perpustakaan. Sudah lama Via tidak mengunjungi ruang favoritnya.
"Eh, kamu tadi kok bisa mengerjakan ulangan Bahasa Inggris? Tadi malam kamu belajar?"
"Iyalah. Memangnya kamu, belajar pakai SKS."
"SKS?"
"Sistim kebut semalam."
"Ah, kau ini."
Sampai perpustakaan Via langsung mencari buku tentang kesehatan. Sementara Ratna asyik membolak-balik novel.
"Hei, kamu anak yatim piatu bukan?" sebuah kalimat yang terdengar sumbang membuat Via kaget.
"Kenapa kamu tadi bisa bareng Bu Aisyah? Jangan bilang kamu tinggal bersama Bu Aisyah sekarang," kata anak berambut cepak yang berdiri di depan Via.
Via menghentikan pencariannya. Ia menatap anak itu tajam.
"Aku memang tinggal bersama Bu Aisyah. Kenapa? Masalah buatmu?"
"Ckckck... sudah jadi gembel masih sombong. Dulu aku segan karena ayahmu kaya. Tapi, sekarang ayahmu sudah nggak ada, kamu kere. Gitu aja masih sok."
"Aku nggak pernah ada urusan sama kamu. Kenapa sekarang kamu jadi ikut campur urusanku?"
"Kamu manfaatin kondisimu agar Bu Aisyah yang baik itu kasihan, ngasih kamu tempat tinggal. Kamu ingin mendekati Mas Azka, kan?"
"Aku kenal Mas Azka saja baru kemarin."
"Kau kira aku percaya? Aku tahu kamu pasti licik seperti ayahmu. Kata papiku, ayahmu sering berbuat curang demi kelancaran bisnisnya. Ayahmu mati karena keserakahannya. Kamu juga pasti gak jauh beda dengan ayahmu."
Dada Via mendadak sakit. Rasanya seperti dihantam batu yang cukup besar.
"Kau boleh menghinaku. Tapi jangan ungkit orang tuaku," kata Via memelas.
Ratna mendekat saat menyadari ada keributan. Ia melihat Via mulai menangis.
"Halah, mulai drama. Dasar licik! Trik itu juga yang kamu pakai buat narik simpati Bu Aisyah, kan?"
Ratna sudah tidak bisa menahan diri. Didorongnya bahu anak yang berdiri di hadapan Via.
"Hei Lia ubur-ubur! Kamu nggak tahu diri banget sih! Ngaca dong! Via baru dapat musibah. Bukannya kasihan malah ngomong yang nggak-nggak. Kalau tidak mau nolong setidaknya diam."
"Kamu ngapain ikut campur? Pokoknya aku akan nggagalin usahamu ngedapetin Mas Azka. Dasar cewek gatel, gembel nggak tahu diri. Itu pasti didikan orang tuamu yang licik," cecar Lia
"Brukkk...!"
Ratna kaget. Ternyata Via jatuh pingsan.
"Tolong! Via pingsan!" teriak Ratna panik.
Anak-anak yang ada di perpustakaan segera mendekat. Sementara, Aurelia justru bergegas meninggalkan perpustakaan.
Beberapa anak menggotong tubuh Via ke UKS. Untungnya waktu itu UKS kosong.
"Udah biar aku saja yang nungguin. Kalian bisa balik. O iya, minta tolong ada yang lapor ke Bu Aisyah, ya!" kata Ratna.
__ADS_1
Anak-anak yang mengantarkan Via ke UKS pun membubarkan diri.
***