SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Cemburu?


__ADS_3

Ratna berjalan gontai ke meja 19. Wajahnya sedikit pucat.


"Rat, apa sebaiknya kita ke dokter dulu?" tanya Via khawatir.


"Nggak usah. Cuma kayak gini, minum obat diare sudah cukup. Bisa kita ke ruko sekarang?" Ratna tampak lemas.


"Don, kami kembali dulu. Kasihan Ratna kayak gini. Terima kasih sekali atas semua yang kau berikan hari ini. Suatu hari, izinkan aku ganti mentraktir kamu," ucap Via.


"Iya, Vi. Maaf, aku nggak bisa anterin kalian. Aku belum berani nyetir. Hati-hati, ya!"


"Ya, Don. Kami pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Rat, besok pesen rujak satu porsi pakai cabai sekilo!"


"Ih, Doni menyebalkan." Ratna cemberut. Ia berjalan cepat meninggalkan Via dan Doni.


Melihat Ratna ngambek, Via segera berlari menyusul. Diraihnya lengan Ratna begitu jarak mereka sudah dekat.


"Kamu kenapa, sih? Marah sama Doni?" tanya Via.


"Aku takut nggak bisa ngontrol lagi," jawab Ratna tanpa menoleh. Ia terus melangkah ke jalan meski lengannya dipegang Via.


"Maksud kamu?"


"Perutku mules terus, sebentar-sebentar harus ke toilet. Aku malu bolak-balik ke toilet. Lagian jaraknya agak jauh. Belum sampai toilet ...."


Via tertawa geli setelah tahu maksud Ratna.


Mereka kembali menggunakan taksi untuk pulang. Tak lupa, Via mampir ke apotek membelikan Ratna obat diare.


"Vi, Doni perhatian banget ya? Buktinya dia hafal makanan favorit kita. Terutama kamu. Menu yang ia pesan, semua kesukaanmu."


Via hanya diam. Ia sendiri tidak terlalu memperhatikan tadi.


"Dia memang loyal sama teman," gumam Via.


"Ah, aku kira tidak semua. Kamu tuh yang spesial," bantah Ratna.


"Spesial pakai telor?" cibir Via.


"Ah, kamu!" Ratna mendengus kesal.


Sesampai di ruko, Mira tengah merekap pesanan online. Salsa tidak tampak di toko.


"Salsa sudah pulang, Mbak?" tanya Ratna.


"Iya, aku suruh pulang. Belum lama, kok. Paling sekitar 15 menit yang lalu."


"Mbak Mira sudah salat?" tanya Via.


"Lagi dapet," jawab Mira singkat.


"Kalau gitu, kami salat dulu, ya." Via berpamitan ke atas.


Ratna sudah ke atas terlebih dahulu. Dia langsung masuk ke toilet.


"Bisa jemaah nggak, Rat?" tanya Via dari luar kamar.


"Kamu duluan aja!" teriak Ratna.


"Ya udah. Kamu minum obat, ya! Obat kutaruh di meja depan kamar."


Via segera wudu dan salat.


Selesai salat, ia bermaksud menggantikan Mira. Namun, sebuah notifikasi pesan membuat Via menunda niatnya turun.


Farhan


[Senang, ya, ketemu cowoknya yang ganteng?]


Via mengernyitkan keningnya. Ia tidak paham maksud suaminya. Ia mengetikkan pesan balasan dengan hati tidak enak.


Via


[Apa maksud Mas?]


Tak lama sebuah pesan balasan masuk.


Farhan


[Tidak usah pura-pura tidak tahu. Bukannya tadi kamu kencan dengan teman SMA-mu?]


"Apa Mas Farhan tadi nglihat kami di kafe, ya?" batin Via.

__ADS_1


Via


[Tadi memang ketemu Doni di kafe. Itu karena ada informasi penting yang ia sampaikan.]


Farhan


[Informasi penting? Tentang perasaannya kepadamu? Dia nembak kamu lagi? Dan sekarang kamu mau? Begitu?]


Mendadak Via merasa sakit hati. Ia segera mengunci kamar, khawatir ada yang mengetahui ia sedang tidak baik-baik saja.


Tangannya mulai gemetar mengetik pesan.


Via


[Mas kok begitu, sih? Dia membicarakan masalah kecelakaan yang dulu.]


Farhan


[Oh, dia mengungkit tentang jasanya sebagai pahlawan menyelamatkan kamu? Iya?]


"Astaghfirullah, kok dia begini? Apa salahku?" keluh Via lirih. Air matanya mulai meleleh.


Via


[Mas kok suuzan gitu? Doni tidak seperti itu.]


Farhan


[Hhmmm kau bela terus cowok itu.]


Via


[Karena dia tidak bersalah. Dia tidak punya niat buruk. ]


Farhan


[Kalau niatnya baik, kalian tidak berduaan]


Via


[Siapa yang berduaan?]


Farhan


Via benar-benar kesal. Ia membanting ponselnya ke tempat tidur. Air matanya kian deras membanjiri pipinya.


Untuk beberapa saat, Via tenggelam dalam perasaan sedihnya. Namun, ia segera ingat niatnya untuk menggantikan Mira.


Via segera bangkit dan pergi ke kamar mandi. Ia membasuh muka agar tidak terlihat ia baru saja menangis.


Setelah dirasa sembabnya tidak tampak, Via turun menemui Mira. Ponselnya sengaja ia tinggal. Suasana hatinya akan makin buruk kalau membaca pesan dari Farhan.


Via menyibukkan diri melayani pelanggan. Sementara Mira beristirahat sejenak sambil makan siang.


Kala semburat merah mulai menghiasi langit barat, Via dibantu Mira menutup toko. Setelah itu, Via kembali ke kamar sembari menunggu azan magrib berkumandang.


"Ah, aku harus memberi tahu Mas Azka tentang yang dikatakan Doni tadi. Biar Mas Azka yang memikirkan cara mengatasi masalah ini. Masa bodo dengan Mas Farhan."


Via mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia mengetik pesan untuk Azka.


Via


[Aku tadi bertemu dengan Doni di kafe. Kami janjian kemarin. Aku ke sana bersama Ratna. Doni cerita siapa pelaku dan yang menyuruh.]


Ternyata Azka sedang online. Tak berapa lama balasan dari Azka masuk.


Azka


[Memangnya Doni kenal dengan pelaku? Siapa yang melakukannya?]


Via


[Teman SMP Doni. Namanya Agus. Ia tergiur uang imbalan yang bisa digunakan untuk membeli obat-obatan ibunya]


Azka


[Lalu, siapa yang nyuruh Agus?]


Via


[Yang pertama Lia, teman SMA-ku]


Azka

__ADS_1


[Adik Rio?]


Via


[Iya, betul]


Azka


[Yang kedua?]


Via


[Tuan Beno. Nanti aku kirim fotonya. Aku yakin Mas Farhan tahu siapa orang yang bernama Beno itu]


Azka


[Lho, memangnya belum cerita ke Mas Farhan?]


Via


[Belum, males]


Azka


[Kenapa?]


Saat pesan Azka masuk, terdengar azan berkumandang. Via hanya sempat melirik isi pesan Azka. Karena hanya satu kata, Via dapat mengetahui dari notifikasi pesan. Hatinya terasa sakit.


Via bergegas wudu. Ia mengajak Ratna untuk salat berjemaah.


"Sudah baikan, Rat?"


"Sudah, kok. Yuk, salat!"


Via kembali membuka ponselnya setelah salat isya. Ia hafal kebiasaan keluarga dokter Haris. Yang pria selalu berusaha salat fardu berjemaah di masjid atau musala.


Via mengambil nafas panjang sebelum mengetik pesan. Ia teringat rasa sakit hatinya gara-gara pesan Farhan.


Via


[Maaf, tadi Via tinggal salat. Mas Farhan marah ke Via.]


Karena Azka sedang offline, pesan Via belum terbaca. Via memutuskan untuk membuka marketplace untuk mengecek respon pelanggan.


Lima belas menit kemudian, ada pesan masuk dari Azka.


Azka


[Masa sih, Mas Farhan marah? Ada masalah apa?]


Via malas menjelaskan. Ia mengirimkan screenshot percakapan dengan Farhan kepada Azka.


Azka


[Memangnya tadi cuma berdua sama Doni?]


Via


[Enggak. Bertiga dengan Ratna. Mungkin waktu Mas Farhan lihat, Ratna sedang ke toilet. Dia sakit perut, bolak-balik ke toilet.]


Azka


[Oh, begitu. Aku yakin Mas Farhan cemburu. Biar aku yang ngomong ke dia sekaligus membahas kecelakaan itu.]


Via


[Terima kasih]


Azka


[Sama-sama. Aku temui Mas Farhan dulu.]


Via


[Ok]


Percakapan melalui WhatsApp pun berakhir.


****


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan vote agar author semangat terus 😍


Terima kasih atas dukungan pembaca 🙏

__ADS_1


Silakan masuk ke GC-ku. Ada pembagian poin tiap hari lo. Juga ada challenge.


__ADS_2