SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Keputusan Farhan


__ADS_3

Farhan terdiam masih menunggu penjelasan dari bundanya.


"Kalau kamu sudah menikah dengan Via, apakah kamu ingin tinggal berdua dengannya? Apakah kamu ingin segera memiliki momongan?"


"Tentu saja, Bun? Apakah Ayah dan Bunda tidak mengharapkan kehadiran cucu?" tanya Farhan balik.


"Tentu saja kami ingin menimang cucu. Namun, ...."


"Namun apa, Bun?" Farhan tak sabar.


"Bagaimana kalau Via belum siap?"


"Lho, bukannya dia bilang siap untuk menikah dalam waktu dekat?"


"Farhan, kamu harus bisa memahami perasaan perempuan. Via masih sangat muda. Dia bersedia menikah lebih karena ingin menyelamatkan perusahaan almarhum papanya. Ayah harap, kalau kamu memang jadi menikah dengan Via, kamu harus bersabar. Menikah tidak hanya menyatukan dua hati, dua pribadi, dua manusia, tetapi dua keluarga. Pernikahan tidak sebatas berhubungan badan dengan halal lalu mendapat keturunan. Lebih dari itu, Han," Pak Haris menimpali.


"Bunda tambahkan, nih. Hakikat pernikahan adalah suatu ikrar janji kesetiaan dan terciptanya pola hubungan yang harmonis saling jujur, percaya dan pengertian antara suami dan isrti dengan tujuan pencapaian ridha Allah. Nah, ketika Via belum siap melakukan tugas sebagai istri, pengertian suaminya dibutuhkan di sini. Selain itu, suami harus membimbing istri."


Farhan terdiam meresapi yang dikatakan kedua orang tuanya.


"Intinya begini Han, kalau kamu menikahi Via, kamu harus bisa bersabar untuk mendapatkan hakmu. Kira-kira sanggup tidak?"


Farhan masih diam. Ia membayangkan bagaimana hidup sebagai suami istri dengan Via.


"Bismillah. Ayah, Bunda, insya Allah Farhan bisa menerima kelebihan dan kekurangan Via. Farhan akan berusaha menjadi suami yang baik. Mohon Ayah dan Bunda berkenan memberikan bimbingan."


"Kamu tidak keberatan seandainya Via belum mau tidur denganmu?" tanya Pak Haris.


"Iya, Yah. Mungkin benar yang Ayah dan Bunda katakan bahwa Dek Via masih belum sepenuhnya siap membina rumah tangga. Farhan harus bersabar membimbing Dek Via."


Pak Haris dan Bu Aisyah saling tatap. Mereka tersenyum lega.


"Tapi, Ayah dan Bunda belum bicara kepada Via, belum melamar Via. Memang kami sengaja bicara denganmu terlebih dahulu. Kalau kamu tidak mau, kami tidak akan menawarkan kamu sebagai calon suami untuk Via. Kamu harus siap seandainya Via menolak," kata Pak Haris.


"Mudah-mudahan Dek Via mau. Ya Allah, tolong bukalah hati Dek Via agar menerimaku sebagai pendamping hidupnya."


"Kamu sedang apa, Han?" tanya Bu Aisyah yang heran dengan sikap yang Farhan tunjukkan.


"Ah, nggak ada apa-apa. Farhan cuma heran dengan sikap eyang tadi."


"Memangnya kenapa dengan sikap eyangmu?"


"Sepertinya eyang sudah tahu tentang hal ini.'"


Pak Haris terkekeh. Ia mencubit pelan lengan istrinya.


"Yang mengusulkan menjadi calon suami Via kan eyang."


Farhan tampak terkejut dan berkata,""Oh, pantes eyang tadi senyum-senyum. Eyang juga langsung mengizinkan Farhan keluar. Bahkan, eyang seperti mengusir."

__ADS_1


"Kau ingat Minggu pagi yang lalu Ayah dan Bunda mendadak dipanggil eyang?


Farhan mengangguk.


,"Saat itulah beliau mengusulkan agar kamu yang menikah dengan Via," ujar Bu Aisyah


"Kalau begitu, kita pulang sekarang. Atau kamu kembali ke kantor, Han?" ucap Pak Haris.


"Bos Farhan sudah memberi dispensasi, kok. Farhan pulang saja."


"Ehm, sudah kangen? Kepengin lihat sang pujaan hati?" ledek Pak Haris.


"Ih, Ayah apaan, sih." Muka Farhan memerah menahan malu.


Pak Haris dan Bu Aisyah tertawa geli. Mereka terlihat bahagia.


****


Via baru saja membereskan meja makan. Ia pun telah mencuci semua peralatan yang kotor.


Dengan langkah santai, ia kembali ke kamar. Sebuah buku tebal diambilnya lalu dibaca sambi duduk di tepi ranjang. Baru satu halaman ia baca, terdengar suara pintu diketuk.


"Tok...tok...tok"


"Boleh Bunda masuk?"


Via mengambil jilbab kaos dan segera mengenakannya. Kemudian, ia membukakan pintu untuk bundanya.


"Untung aku pakai jilbab."


" Ayah boleh masuk?" tanya Pak Haris.


"Tentu saja, Ayah."


Mereka pun melangkah masuk. Via dan Bu Aisyah duduk di ranjang, sedangkan Pak Haris duduk di kursi belajar Via.


"Sedang apa tadi?"


"Baca buku, Bun. Biar besok saat masuk kuliah lagi tidak kaget. Dua minggu lagi kan liburan akhir tahun sudah habis."


"Bagus. Kamu tidak berubah. Masih tetap Via yang semangat belajar dan berprestasi. Bunda bangga kepadamu, Sayang," puji Bu Aisyah.


"Ah, Bunda terlalu memuji. Via jadi malu."


"Kalau memang kenyataannya begitu, masa Bunda mau bilang kamu males."


Via tertawa kecil. Ia sedikit kikuk.


"Mmm, ini ada apa ya? Tumben Ayah dan Bunda ke kamar Via?" tanya Via penasaran.

__ADS_1


"Melanjutkan pembicaraan kita kemarin malam, Vi," jawab Bu Aisyah.


Via mengerutkan keningnya. Sesaat kemudian, mukanya memerah. Ia menundukkan kepalanya.


"Ada yang mau menjadi suamimu dan bersedia menikah dalam waktu dekat ini," kata Pak Haris.


"Si---siapa, Yah?" tanya Via gugup.


"Jangan-jangan Mas Surya. Aduh, gimana kalau beneran dia yang nglamar aku? Aku nggak suka. Tapi kalau nolak, apa tidak mengecewakan ayah dan bunda, terutama Pak Andi. Padahal, Pak Andi begitu baik kepada keluargaku."


"Via, berhubung saat ini setahu kami kamu tidak memiliki keluarga yang bisa menjadi wali, maka lamaran ini kami utarakan kepadamu," lanjut Pak Haris.


Jantung Via berdegup kencang. Ia menunggu penjelasan Pak Haris selanjutnya.


"Vi, apakah kamu bersedia menikah dengan anak kami?"


"Ma---maksud Ayah?"


"Maksud Ayah, apa kamu menerima kalau kami meminangmu untuk Farhan?"


"Mas Farhan?" Via terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka kalau orang yang mengajukan lamaran adalah orang yang sehari-harinya bersama.


"Kenapa mesti Mas Farhan? Bagaimana aku hidup bersama orang sedingin kulkas? Konon orang yang sikapnya dingin, nafsunya besar. Terus, besok habis ijab malamnya dia minta aku melayaninya? Kalau aku nolak, aku berarti tergolong nusyuz, aku dikutuk malaikat semalaman. Kalau aku gak nolak, ...."


"Via kaget, ya?" tanya Bu Aisyah lembut.


Via hanya mengangguk. Pikirannya masih penuh dengan kemungkinan yang terjadi kalau ia menjadi istri Farhan menurut versi Via.


"Apa kamu sedang memikirkan tentang hubungan suami istri? Kamu takut belum bisa memenuhi kewajiban melayani di ranjang kalau suamimu meminta?" tebak Bu Aisyah.


Via menunduk malu. Pipinya memerah.


"Jangan khawatir! Farhan tidak akan meminta kalau kamu belum siap. Kami sudah membicarakan dengan Farhan tentang hal itu."


"Apa? Ayah dan bunda membicarakan masalah seperti itu dengan Mas Farhan? Apa manusia kulkas itu mau terbuka? Jangan-jangan bunda kasih tau cowok itu kalau aku masih takut untuk melakukan kewajiban yang itu. Aduh, aku malu."


"Ada apa, Via? Apa yang mengganjal perasaanmu?" tanya Pak Haris lembut.


Via belum menjawab. Ia masih bimbang.


"Katakan saja, Via. Jangan sampai kamu menerima pinangan ini dengan terpaksa." Bu Aisyah menambahkan.


"Hufff, aku bingung. Apa aku bisa hidup bersama si kulkas? Tapi kalau nolak, apa ayah bunda tidak kecewa? Mereka begitu baik kepadaku, menyayangi aku dengan tulus. Tanpa mereka, aku nggak tahu bagaimana menjalani hidup ini setelah aku nggak punya mama dan papa."


****


**Bersambung


Via menerima lamaran itu nggak ya? Hayo, tebak! Jawabannya ada di episode 52 besok, insya Allah 🙏

__ADS_1


Doakan Author bisa up setiap hari, ya! Biar author semangat, kasih like dong! Syukur-syukur vote juga 😍. Terima kasih 🙏**


__ADS_2