
Setelah salat subuh, semua orang berada di kamar masing-masing. Tampak dari luar, kondisi kamar sepi, tetapi di dalam kamar semua orang sibuk bersiap diri.
Semua orang mengenakan batik kombinasi dengan corak sama. Hanya warna yang sedikit berbeda, membedakan keluarga inti dengan lainnya. Seragam itu memang sudah dipersiapkan begitu selesai lamaran. Pengantin pria tentu lain ceritanya.
Saat jarum pendek berada di antara angka 6 dan 7, penghuni kamar hampir serentak keluar. Senyum mengembang membuat wajah Pak Haris dan Bu Aisyah berseri. Itu karena melihat putra bungsu mereka.
Azka tampak gagah dalam balutan jas dan celana putih. Ini tentu sangat jauh berbeda dengan penampilan kesehariannya. Pakaian formalnya biasanya sebatas kemeja.
“Sudah siap, Ka?” tanya Pak Haris sambil menyambut putranya.
“Insya Allah siap, Yah,” jawab Azka mantap.
“Siapa nama calon istrimu? Jangan-jangan lupa,” ledek Farhan.
“Ish, Mas Farhan ni. Azka ingat dong. Meli Syahrani binti Roni Syahroni,” sahut Azka cemberut.
Semua orang tertawa termasuk Salsa. Tampaknya gadis itu sudah berhasil mengolah rasa.
“Ayo, sarapan!” ajak Bu Aisyah.
Pak Haris dan Bu Aisyah berjalan paling depan diikuti lainnya. Mereka menuju resto hotel.
Saat bersantap, Mira baru menyadari ada yang aneh dengan pakaian yang dikenakan Ratna. Warna batik yang dikenakan berbeda dengan lainnya. Yang bukan keluarga inti mengenakan batik warna merah bata, tetapi Ratna mengenakan warna merah koral. Dan, warnanya sama persis dengan kemeja Rio.
Mira beberapa saat memperhatikan keduanya. Ia menyikut Edi yang duduk di sampingnya. Edi pun ikut memperhatikan setelah mendapat bisikan istrinya.
Tampaknya, Ratna dan Rio justru tidak menyadari pakaian yang tengah diperhatikan Mira. Keduanya tidak saling membandingkan.
Selesai menghabiskan makanan, Via mendekati Mira. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Mira yang diikuti anggukan kepala isri Edi. Keduanya mengulas senyum penuh arti.
Rombongan pun bersiap ke kediaman keluarga Meli. Diam-diam, orang-orang Edi telah bergerak dari hotel sampai lokasi.
Begitu turun dari mobil, Pak Haris dan Bu Aisyah mengapit Azka berjalan di posisi paling depan. Di belakang mereka ada Farhan yang diapit Via dan Eyang Probo. Yang lain mengiringi di belakang.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Meli. Mereka pun dipersilakan ke tempat akad nikah akan dilangsungkan.
Setelah semua orang siap, petugas memeriksa dokumen pernikahan dan meminta Azka mengecek kebenaran data. Selanjutnya pengucapan ijab kabul pun dimulai. Beberapa insiden sempat mewarnai.
“Sah!” teriak orang-orang menggema diikuti ungkapan syukur dan doa.
Keharuan menyeruak dengan cepat. Bu Aisyah pun menyeka air mata yang menggenang. Ia kembali menyaksikan momen mengharukan saat Meli mencium tangan Azka.
__ADS_1
Ketika momen sakral yang mengharukan tengah berlangsung, gawai Farhan berkali-kali bergetar. Farhan bangkit dan sedikit menjauh.
“Assalamualaikum.”
....
“Betul. Azka baru saja selesai mengucapkan ijab kabul. Memang kenapa?”
....
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Lalu, bagaimana kondisinya?”
....
“Baik. Terima kasih atas informasi ini. Nanti saya bicarakan dengan keluarga.”
....
“Waalaikumsalam.”
Setelah menutup pembicaraan, Farhan memberi kode kepada Edi untuk mendekat. Diajaknya Edi menjauh dari tempat prosesi.
“Mas, ada kabar buruk. Om Candra dan Tante Lani kecelakaan. Kita harus ke sana. Coba Mas Edi cari tiket ke Medan. Aku masih sedikit panik.”
“Hanya ada 4 tiket dewas untuk hari ini. Itu pun dari Surabaya nanti sore. Menurut saya, kita ikuti dulu resepsi ini, nanti habis salat zuhur kita ke Surabaya dengan mobil.”
“Apa kira-kira cukup waktunya?” tanya Farhan ragu.
“Insya Allah kita sampai Surabaya paling tidak 45 menit sebelum jadwal terbang,” jawab Edi yakin.
Farhan terdiam ia memikirkan cara yang tepat untuk menghadapi masalah ini.
“Mas Farhan sebaiknya menyampaikan kepada Pak Dokter dan Mbak Via sekarang. Mas Azka jangan diberi tahu dulu. Nanti kita putuskan siap yang akan berangkat.”
Farhan mengangguk setuju. Ia kembali ke tempat duduk semula. Saat itu, para tamu sedang menikmati jamuan tuan rumah.
“Ayah, ada yang mau Farhan sampaikan.”
“Ada apa?” tanya Pak Haris.
“Kita menjauh dulu, Yah!” ajak Farhan.
__ADS_1
Setelah agak jauh dari keluarga. Farhan menceritakan yang terjadi. Ia pun menyampaikan kalau Edi hanya mendapat 4 tiket penerbangan ke Medan melalui Juanda.
“Kita berusaha tenang. Jangan sampaikan kepada yang lain agar tidak terjadi kepanikan. Biarkan resepsi ini berjalan tanpa gangguan. Nanti kita bicarakan saat sudah agak sepi. Yang jelas, kamu dan Via harus berangkat. Dua tiket lainnya kita putuskan nanti,” kata Pak Haris tegas.
“Apa Dek Azka tidak usah diberi tahu, Yah? Kemungkinan dia minta ikut karena Om Candra sudah dianggap ayah kedua. Kalau dia ikut, bagaimana perasaan Meli dan keluarga?” Farhan memberi pertimbangan.
“Tidak. Justru karena hubungan Azka yang dekat itu dia harus tahu. Soal Meli dan keluarga, nanti bisa dibicarakan. Kalau Azka ikut, Ayah tidak ikut. Ayah tetap di sini bersama yang lain sampai nanti sore. Setidaknya, Ayah menjaga kehormatan keluarga besan, tidak ditinggal begitu saja.”
Farhan akhirnya mengangguk setuju. Mereka kembali bergabung untuk sesi foto bersama.
Saat sesi foto itulah Ratna baru menyadari pakaiannya. Banyak mata menatap dirinya dan Rio.
“Haish, ini pasti kerjaan Via. Dia sengaja memilihkan warna yang sama untuk aku dan Mas Rio, berbeda dengan lainnya. Kalau gini aku kan malu jadi diperhatikan. Kayak suami istri saja. Ah, semoga saja jadi nyata,” pikir Ratna.
Sementara Salsa kembali menangkap sosok yang menatapnya semalam. Perasaannya mengatakan cowok itu memendam luka seperti dirinya.
Setelah sebagian tamu pulang, Pak Haris dan Farhan menyampaikan kabar duka dari Medan. Via tentu shock mendengarnya. Ingatannya melayang ke 4 tahun silam. Dadanya serasa dihantam palu.
“Mas, aku nggak mau kehilangan Om Candra. Aku baru menemukan keluargaku, baru dua tahun merasakan kebersamaan . Aku tak mau kehilangan,” isak Via.
“Bu Aisyah mengambil Zayn dari gendongan Via. Dibiarkannya Via bersandar ke Farhan, suaminya.
“Iya, Mas tahu. Dengarkan! Om Candra hanya luka-luka. Makanya kita harus ke sana. Kita berdoa untuk kesembuhan Om Candra,ya!” bujuk Farhan sambil mengusap kepala Via. Sebenarnya, Farhan tidak tahu persis kondisi Pak Candra dan istrinya.
Tak lama kemudian, Via mulai tenang. Ia tak ingin menjadi pusat perhatian. Disekanya air mata di pipi.
“Dek Azka bagaimana?” desis Via.
“Nanti kita beri tahu. Kalau dia memutuskan ikut, dia harus bisa memberi pengertian kepada istrinya,” jawab Farhan.
Setelah Via benar-benar tenang, barulah Azka diberi tahu. Seperti dugaan Farhan, Azka memutuskan ikut. Drama pun terjadi karena mempelai pria berpamitan pergi.
Pukul 12 mereka berempat diantar sopir segera meluncur ke Surabaya. Edi tidak mau gegabah. Pengawalan ketat pun disiapkan. Apalagi, mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Kurang dari 4 jam mereka sampai Juanda. Seperti perkiraan Edi, mereka tiba 50 menit sebelum jadwal keberangkatan.
Kegelisahan tampak di wajah Azka. Tentu saja karena dia baru saja melepas lajangnya. Dia terpaksa meninggalkan gadis cantik yang baru menjadi kekasih halalnya.
*
Bersambung
__ADS_1
Bagaimana insiden saat prosesi akad nikah? Silakan ikuti di novel karya Kak Indri! Jangan lupa selalu dukung kami dengan meninggalkan like dan komentar! Terima kasih kepada Kakak yang telah mendukung kami, baik memberikan like, komentar, rate 5, maupun vote