
Via bersama Edi bergegas menuju tempat parkir. Mereka baru saja mendapatkan laporan dari Kiki dan meminta mereka untuk ke "markas".
"Mas, apa tidak sebaiknya Mas Farhan juga ke sana?" Via meminta pertimbangan Edi.
"Saya rasa itu lebih baik. Kalau Mas Farhan bisa tentunya," jawab Edi sambil mulai melajukan mobilnya.
Via mengetik pesan kepada Kiki agar pria itu mengirimkan lokasi. Setelah itu, Via menelepon Farhan.
....
"Waalaikumsalam. Via dan Mas Edi saat ini dalam perjalanan ke 'markas'. Hubbiy sibuk nggak? Kalau nggak, bisa ke 'markas'?" tanya Via.
....
"Entahlah, Via juga nggak tahu. Kiki hanya mengatakan penting."
....
"Oke. Nanti Via share lokasinya. Assalamualaikum"
....
Baru saja menutup pembicaraan, pesan dari Kiki masuk. Via segera meneruskan pesan itu kepada Farhan.
Via menyimpan kembali gawainya ke dalam tas. Pikirannya melayang mengingat pesan dari Kiki. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
Selama 30 menit mereka dalam perjalanan. Edi mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah yang terlihat sepi dari luar.
Setelah memarkirkan mobil, Edi segera keluar lalu membuka pintu mobil bagian belakang. Via menyusul turun.
"Kok sepi?" gumam Via.
"Selalu terlihat sepi dari luar. Di dalamnya cukup banyak penghuni. Kita ke sana dulu, menunggu Mas Farhan datang," kata Edi sambil mengarahkan Via duduk di bangku teras.
Lima belas menit Via membiarkan angannya berkelana. Ia sedikit gelisah karena tidak punya gambaran tentang apa, siapa, dan bagaimana yang ada di dalam rumah itu.
Senyum Via mengembang saat melihat mobil Farhan masuki halaman rumah. Ia bangkit menyambut sang suami.
"Ada apa, sebenarnya?" bisik Farhan.
"Via juga nggak tahu. Kiki cuma berpesan agar Via segera ke sini. Katanya berkaitan dengan keselamatan Eyang Probo."
Edi mendekat. Pria itu mengajak ketiganya masuk.
Sampai ruang tamu, suasana masih sama seperti di luar. Sepi, seperti tak berpenghuni.
"Ah, rupanya sudah sampai. Kenapa Bang Edi nggak ngasih tahu akyu?" sapa Kiki dengan gaya sedikit kemayu.
"Harusnya kamu peka. Masa nggak dengar suara mobil?" Edi mencibir.
Tawa Kiki pecah. Ia mengajak Via dan yang lainnya ke dalam. Pak Yudi diminta tetap di ruang tamu.
Begitu masuk ruangan, bulu kuduk Via meremang. Gelap, senyap, dan lembab.
__ADS_1
Belum sempat Via membuka mulut untuk bertanya, lampu ruangan menyala. Tampak tiga orang duduk dalam kondisi terikat di kursi. Dua pria dan satu wanita. Wajah mereka tidak tampak jelas. Via mencengkeram lengan kiri Farhan erat.
"Siapa mereka?" Farhan bertanya dengan suara lirih.
Kiki mendekati dua pria yang wajahnya tertunduk. Ditariknya rambut keduanya hingga wajah mereka tertengadah.
Via terperangah melihat mereka. Wajah mereka tampak lebam dan ada darah kering di sudut bibir.
"Ini adalah orang-orang suruhan bos Jaya Sakti Persada, Rahardian, untuk membunuh Tuan Probo dan mencelakai Pak dokter Haris."
Via dan Farhan tersentak. Mereka tidak mengira akan berhadapan dengan orang yang akan mencelakai keluarga mereka.
"Ba--bagaimana ceritanya, Ki?" tanya Via gugup.
"Mereka disusupkan ke rumah sakit, menyamar sebagai penunggu pasien. Itu sebabnya, mereka bisa berkeliaran di rumah sakit di luar jam bezuk." Kiki mengawali penjelasannya.
"Apa mereka yang membubuhkan racun ke makanan para pasien hingga terjadi kasus keracunan pasien?" tanya Farhan.
"Bukan. Kalau pelaku kasus keracunan belum kami tangkap. Aku sudah tahu siapa mereka, tapi mereka kabur," jawab Kiki dengan suara bass.
"Lalu, apa yang mereka lakukan?" Via bertanya.
"Mereka menyusup ke ruang ICU menyuntikkan obat ke Tuan Probo. Itu sebabnya Tuan Probo sempat drop."
Via dan Farhan saling tatap. Mereka mengangguk paham akan apa yang terjadi.
"Mereka juga hampir mencelakai Nona Meli dan Pak dokter Haris," lanjut Kiki.
Via dan Farhan kembali terkejut mendengar perkataan Kiki.
"Bukankah waktu itu Non Meli datang berkunjung ke rumah sakit? Non Meli sempat sendirian di taman dekat musala? Saat itu mereka mengincar Non Meli. Tapi, saat mereka akan bertindak, anak buah Bang Edi mengetahui. Sayangnya, waktu itu mereka berhasil kabur."
"Kenapa mereka mengincar Meli juga?" gumam Via.
"Untuk mengalihkan perhatian keluarga Mas Farhan. Dengan menciderai Non Meli, konsentrasi terhadap kesehatan Tuan Probo terpecah, mereka bisa leluasa bergerak mencelakai beliau."
Via dan Farhan mengangguk-angguk paham. Mereka bersyukur, Meli tidak celaka.
"Kemarin, mereka juga hampir mencelakai Pak dokter Haris. Nah, gara-gara aksi mereka yang gagal itu, anak buah Bang Edi berhasil menangkap mereka," lanjut Kiki.
"Lalu, siapa wanita itu?" tanya Farhan.
"Penyusup juga. Dia menyamar jadi ART Tuan Probo. Dia juga yang membuat pola makan Tuan Probo jadi berantakan, tidak disiplin lagi," jawab Kiki.
"Berarti, dia ini yang menggantikan Mbok Darmi?" tanya Farhan lagi.
"Siapa Mbok Darmi, Hubbiy?" bisik Via.
"Koki Eyang Probo. Dia berhenti setengah tahun lalu karena sudah tua, ingin istirahat," jawab Farhan lirih.
Kiki melangkah mendekati wanita berusia sekitar 30 tahun itu. Ia menarik kepala wanita itu ke belakang.
"Ini wajah pengkhianat Tuan Probo," ucap Kiki.
__ADS_1
"Apa Eyang Probo memperlakukan Ibu dengan buruk?" tanya Via dengan nada rendah.
Wanita itu menggeleng. Tampak air mata menggenangi pelupuknya.
"Lalu mengapa tega mencelakai Eyang Probo? Apa gaji yang Ibu terima kurang?" tanya Via lagi sambil berjalan mendekat.
Lagi-lagi wanita itu menggeleng.
"Jawab yang bener!" bentak Kiki sambil menepuk bahu si wanita cukup keras.
"Sa--saya terpaksa. A--anak saya diambil anak buah Tuan Rahardian. Kalau saya tidak menuruti perintah Tuan Rahardian, saya tidak akan bisa ketemu dengan anak saya lagi," jawabnya sambil terisak.
Dada Via terasa sesak. Ia teringat pada Zayn.
"Apa selama setengah tahun ini masih bisa bertemu anak Ibu?" tanya Via lembut.
Wanita itu mengangguk, lalu menjawab," Setiap 2 minggu sekali saya diberi kesempatan bertemu meski hanya sebentar. Semakin hari anak saya makin kurus."
Via membalikkan badannya. Dia menghapus air mata yang mulai menggenang.
Farhan tanggap akan perasaan Via sebagai ibu. Ia segera mengambil alih peran.
"Aku mau tanya kepada kalian berdua. Apa alasan kalian menuruti perintah bos Jaya Sakti Persada? Apa kalian tidak punya pekerjaan lain?" tanya Farhan datar.
"Kami sudah bertahun-tahun menjadi anak buahnya. Semua perintahnya harus kami laksanakan. Kalau kami gagal, bisa jadi nyawa kami melayang. Seperti saat gagal mencelakai gadis itu, kami sudah mendapat ancaman," jawab salah satu dari dua lelaki itu.
"Apa kalian biasa melakukan tindakan kriminal?" tanya Farhan lagi.
"Tuan Rahardian itu seorang bos besar. Kalau ada orang yang berbuat salah, mereka harus siap dihukum. Kami biasa mengeksekusi hukuman bagi mereka," jawab yang satunya.
Farhan mengerutkan kening. Ia belum paham maksud lelaki itu.
"Kesalahan seperti apa? Lalu hukumannya apa?" kejar Farhan.
"Tidak melunasi hutang sesuai perjanjian, gagal membuat orang mau bekerja sama, itu contoh kesalahan orang yang harus kami hukum. Hukumannya bisa berupa penyiksaan fisik, bisa juga menyandra keluarga terutama gadis," tutur lelaki yang berbicara tentang hukuman.
Via terkejut. Dengan cepat ia memutar badannya.
"Gadis? Kenapa gadis jadi prioritas?"
"Mereka disandra untuk dijadikan mainan Tuan Rahardian sampai keluarganya bisa melunasi hutang atau kewajiban lain. Atau sampai Tuan Rahardian bosan."
Via tampak geram. Tangannya mengepal erat.
Farhan merangkul bahu sang istri. Ia tahu kalau Via sedang menahan geram.
***
Penggemar Azka dan Meli harap bersabar. Mereka baik-baik saja, kok.
Intip kesibukan Meli bantu olshop Mario, ya!
Jangan lupa dukung kami dengan klik like dan tinggalkan komentar di tiap episode.
__ADS_1
Barakallahu fiik.