
Setelah mobil Azka tak tampak, Via dan yang lainnya masuk ke rumah Eyang Probo. Mereka duduk di ruang tamu.
“Eyang jangan sedih gitu, ya. Emmm, apa Eyang tinggal di rumah kami saja biar bisa main sama Zayn? Jadi, Eyang nggak kesepian?" Usul Via.
Eyang Probo tidak bereaksi. Tampaknya ia sedang mempertimbangkan usul Via.
“Eng—gak. Yang ssinni. Pa—gi ssana malam ssinni,” ucap Eyang Probo.
“Jadi, kalau pagi Eyang ke rumah kami, sore kembali lagi ke sini? Begitu?” Farhan mempertegas.
Eyang Probo mengangguk. Seulas senyum menghiasi bibirnya.
“Sesekali biar Zayn yang dibawa ke sini. Besok kami akan cari baby sitter. Kasihan Bu Inah dan Mbok Marsih kalau mengasuh Zayn terus-menerus apalagi membawa ke sini. Zayn sekarang bertambah aktif,” kata Via.
“Ayah setuju usul Via. Eyang kalian bisa terhibur dengan kehadiran Zayn. Besok Ayah sudah harus ke rumah sakit, bundamu ke sekolah," ucap Pak Haris.
“Eyang harus janji nggak boleh bandel, ya! Minum obat harus teratur, makanan dan minuman yang dipantang jangan dikonsumsi! Deal, Yang?” Farhan mengacungkan kelingkingnya.
Sambil terkekeh Eyang Probo mengikuti Farhan. Ia mengulurkan tangannya. Farhan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Eyang Probo.
Tingkah kakek dan cucunya yang seperti anak kecil itu mengundang gelak tawa semua orang. Ruang tamu itu pun menghangat.
Eyang Probo memberi isyarat minta didorong ke ruang kerja. Ia pun mengajak semua ikut ke ruang kerjanya.
"Han, ittu!" Eyang Pobo menyuruh Farhan mengambil dokumen yang ada di dalam lemari.
"Kuncinya mana?" tanya Farhan.
Eyang Probo menunjuk vas yang ada di meja. Ia memberi isyarat bahwa kunci yang dimaksud ada di dalam vas.
Setelah mengambil kunci yang tersimpan di dalam vas, Farhan membuka lemari dan mengambil dokumen yang dimaksud eyangnya. Ia meletakkan dokumen itu ke atas meja.
"Uka! Ca isan di ssitu!" perintah Eyang Probo.
Perlahan Farhan membaca yang tertulis di situ. Ternyata isinya pembagian saham perusahaan milik Eyang Probo dan pembagian jabatan antara Farhan dan Azka.
Farhan menatap eyangnya. Ia tak mengira eyangnya sudah mempersiapkan begitu rinci.
"Kita tunggu Dek Azka kembali agar dia juga tahu," ucap Farhan.
"Kau benar, Nak. Adikmu juga harus tahu kemauan Eyang Probo,"sahut Bu Aisyah.
Baru saja dibicarakan, Azka datang. Wajahnya sedikit ditekuk.
"Kereta yang ditumpangi Meli sudah berangkat?" tanya Bu Aisyah lembut.
Azka hanya mengangguk lesu. Ia mengambil posisi duduk di dekat ayahnya.
"Ka, Eyang Probo punya keinginan untuk Kencana Grup. Kamu perhatikan baik-baik karena ini menyangkut kamu. Bagaimana menurutmu?" ucap Pak Haris.
"Maksud Ayah apa? Azka tidak mengerti," sahut Azka bingung.
__ADS_1
"Han, jelaskan isi dokumen yang tadi kamu baca!" Pak Haris menyuruh Farhan.
Farhan menurut. Ia membaca lagi secara ringkas isi dokumen yang telah dibaca sebelumnya.
"Jadi, Azka memegang anak cabang yang di Kaliurang?" Azka tampak kaget.
Eyang Probo mengangguk mantap. Ia menatap Azka, mengharap persetujuan sang cucu.
"Tapi, Azka kan nggak tahu seluk-beluk perusahaan, cara mengaturnya. Latar belakang pendidikan Azka kan bukan ekonomi." Azka menolak.
"Dek, tenang! Kamu bisa belajar. Usaha yang di Kaliurang berkaitan erat dengan pengolahan hasil perkebunan. Kan itu berkaitan erat. Aku akan bimbing kamu, tenang saja. Sementara kamu juga bisa didampingi asistenku." Farhan menenangkan.
Eyang Probo tampak senang mendengar penjelasan Farhan. Ia mengacungkan jempolnya kepada sang cucu.
"Kalau Om boleh ikut bicara, Azka kan sudah biasa memegang kendali perkebunan. Kamu berarti sudah banyak tahu tentang memimpin perusahaan. Apalagi Farhan siap membantu." Pak Candra menimpali.
Farhan mengulas senyum tipis. Ditatapnya wajah Azka yang masih tampak bingung.
“Dek, menuruti kemauan Eyang sama juga kita berbakti. Toh ini juga banyak manfaatnya. Eyang sebagai pemegang poros utama memberi keputusan yang tidak akan dibantah para bawahan. Perubahan jabatan lebih minim gejolak.”
“Tapi Azka beneran dibimbing, kan?” Azka masih ragu.
“Iya, tentu saja.” Farhan meyakinkan adiknya.
Akhirnya, Azka memberikan anggukan tanda setuju. Eyang Probo tampak tersenyum lega. Pak Haris dan Bu Aisyah pun menampakkan ekspresi yang sama.
“O ya, Via. Besok kau hubungi Ardi. Dia akan belajar di kantor pusat Wijaya Grup. Kakekmu yang membimbing dia langsung,” kata Pak Candra menyela.
“Iya, dia sudah setuju. Dia juga setuju sambil belajar mengelola perusahaan. Om belum tahu strategi kakekmu mengajari Ardi. Apa dia menjadi asisten ataukah ditempatkan sebagai karyawan biasa. Om menyerahkan semua keputusan kepada kakekmu,” jawab Pak Candra.
Via mengangguk-angguk. Ia ikut senang dengan keputusan Ardi. Setidaknya, penerus perusahaan kakeknya sudah ada. Dia tak perlu pusing memikirkannya.
“Oh iya, kita harus bersiap-siap. Dua jam lagi kita berangkat ke bandara, Ka,” ucap Pak Candra.
Azka melirik jam tangannya. Ia menarik nafas yang terasa berat.
“Iya, Om. Eyang, Azka pamit dulu, ya. Doakan semua lancer agar Azka dapat kembali ke Jogja, kumpul sama Eyang ….”
“Juga Meli,” potong Farhan.
Azka melirik kakaknya dengan bibir mengerucut.
“Halah, nggak usah pura-pura. Kakakmu benar. Memang itu maumu, kan? Bunda juga tahu, kok.” Bu Aisyah ikut meledek putra bungsunya.
Semua menertawakan Azka. Bahkan, Eyang Probo pun bisa tertawa lepas.
“Ish, Eyang malah ikut menertawakan Azka. Jadi, Eyang nggak sedih ditinggal Azka, nih?” Azka pura-pura merajuk.
Eyang Probo masih tertawa.. Ia tidak memedulikan sang cucu yang sedang pasang muka cemberut.
“Sudah, nggak usah sok melow! Ayo, bersiap-siap terbang ke Medan! Sabar sebentar, ya! Gak nyampai setengah tahun kamu bisa balik ke sini, kan?” Farhan memainkan alisnya sambil memasang senyum jahil.
__ADS_1
“Ish, setengah tahun. Azka insya Allah wisuda bulan depak, week…!” Azka menjulurkan lidah.
Sungguh, Azka sebenarnya berusaha menjaga perasaan eyangnya agar tidak larut dalam kesedihan. Ia sendiri menutupi kegalauan hatinya, berpisah dengan orang terkasih.
Setelah berpamitan kepada Eyang Probo juga Pak haris dan Bu Aisyah, mereka berlima kembali ke kediaman Via.
Azka tidak lagi mengemudikan mobil. Ia bergabung dengan Via dan lainnya.
Begitu sampai, Pak Candra memberi tahu Via kalau dia butuh bicara dengan Via dan Farhan. Via menyetujui. Ia mengajak om-nya ke ruang kerja setelah menyerahkan Zayn kepada Bu Inah.
“Ada apa, Om?” tanya Via.
“Om mau bicara soal Rahardian dan Jaya Sakti Persada,” jawab Pak Candra.
“Ada apa? Apa kakek sudah berhasil menjalin kontrak dengan mereka?” Farhan ikut penasaran.
“Hampir. Namun, Rahardian bukan anak kemarin sore yang mudah ditekan. Ia sudah terkenal licin di dunia bisnis. Kakekmu berencana mengirim Ardi untuk nego dengan mereka. Ardi kan belum dikenal di kalangan bisnis.”
Via dan Farhan sama-sama terkejut. Mereka tidak mengira langkah berani yang ditempuh sang kakek.
“Apa tidak terlalu beresiko? Apa kira-kira Ardi mampu keluar dari tekanan permainan kata seorang Rahardian?” Via mengungkapkan keraguannya.
“Itulah sebabnya Om minta kamu hubungi Ardi untuk membicarakan hal ini. Selain itu, Ardi juga tidak sendirian. Ia ditemani salah satu orang terbaik kakekmu.”
Meski masih menyisakan keraguan, Via mengangguk setuju. Ia percaya kakeknya sudah memperhitungkan dengan cermat.
“Berarti bukan kantor pusat yang menjalin kerja sama?” tanya Farhan.
“Bukan. Terlalu beresiko kalau sampai kita lengah,” jawab Pak Candra.
Via dan Farhan saling tatap. Kemudian mereka sama-sama menganggukkan kepala tanda setuju dengan rencana Adi Wijaya.
“Om pesan, kalian harus berhati-hati! Jangan sampai Rahardian tahu keterlibatan kalian. Akan sangat berbahaya jika ini terjadi.”
“Iya, Om,” kata Via.
“Jangan khawatir, Om juga tetap memantau.”
Via mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Selama ini om-nya telah banyak membantu.
“Satu lagi! Kalian terus awasi anak buah Rahardian yang dulu terlibat dalam penyekapan! Om khawatir mereka kembali menjadi pengkhianat. Rahardian belum tahu kalau kalian ada di balik pembebasan sandera. Mereka tahunya eyangmu masih bisa menggerakkan anak buahnya mengatasi masalah. Bicarakan hal ini dengan Edi!” pesan Pak Candra.
Lagi-lagi Via dan Farhan hanya bisa mengangguk. Mereka merasa ucapan Pak Candra benar adanya. Risiko yang harus mereka hadapi memang cukup berat. Namun, mereka tak mungkin menghindar.
***
Bersambung
Apa langkah Via selanjutnya? Bagaimana hubungan Azka dan Meli? O iya, ada yang mau cerita CS1 karya Kak Indri Hapsari lanjut season 2? Komen mau di chapter 171 ya!
Dukungan para readers sangat berarti bagi kami.
__ADS_1