
Azka mengernyitkan kening membaca pesan dari ayahnya. Ia merasa heran karena tidak pernah ayahnya menyuruh dia pulang kalau tidak ada hal yang penting. Apalagi dia juga disuruh mengajak Meli.
Dia tidak menuju rumah dokter Haris tetapi ke rumah eyangnya. Karena, ia ingin langsung bertanya kepada ayah dan bundanya.
Saat tiba, hanya ayahnya yang Azka jumpai. Sang bunda belum pulang.
“Yah, ada apa sih Ayah nyuruh Azka pulang? Tumben? Mau ada acara? Bukan masalah Eyang Probo, kan” Azka menghujani ayahnya dengan pertanyaan.
Sang ayah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Nanti kamu juga tahu. Meli sudah kamu hubungi? Dia bisa datang, kan?” dokter Haris justru balik bertanya.
“Sudah. Dua jam lagi jadwal pesawatnya mendarat.”
“Kalau begitu, masih ada waktu untuk beristirahat sebelum menjemput istrimu. Pergilah beristirahat! Ayah ada urusan di rumah sakit.”
Azka sebenarnya kecewa karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaan yang mengganjal. Ia memilih ke kamar eyangnya.
“Assalamualaikum Apa kabar, Eyang?” sapa Azka.
Pemuda itu meraih tangan eyangnya lalu dicium takzim. Ia mengambil posisi duduk di tepi ranjang.
“A—lam. Ba—u attang?
“Iya, Eyang. Azka baru sampai. Tadi ngobrol sebentar sama ayah.”
“Anna Haa—yis?”
“Ayah pergi ke rumah sakit, Yang,” jawab Azka.
Azka mengajak eyangnya mengobrol. Ia banyak bercerita tenntang kuliahnya, semua hal yang menyenangkan. Eyang Probo berkali-kali terkekeh mendengarkan cerita Azka yang dibungkus dengan gaya konyol.
“Sebentar lagi Azka kembali ke bandara, ya. Azka mau jemput istri Azka.”
“Mme—li?” Eyang Probo tampak kurang yakin.
“Iyalah, istri Azka kan baru satu eh cuma satu. Meli bilang mau bawakan Eyang donat yang banyak.”
Lagi-lagi Eyang Probo tertawa, menampakan sebagian giginya yang sudah ompong.
*
Menjelang maghrib dokter Haris baru pulang. Azka tidak berani menanyakan kembali tujuan ayahnya menyuruhnya pulang. Ia melihat guratan kelelahan di wajah ayahnya.
Saat makan malam pun, dokter Haris belum memperlihatkan tanda-tanda akan memberikan penjelasan tentang tujuan menyuruh Azka pulang, bahkan juga Meli. Ia lebih banyak menanyakan kegiatan Azka di Medan.
“Jadi, bulan depan sudah ada yang menggantikanmu mengelola perkebunan?”
“Iya, Yah. Azka kan harus mengurus cabang Kencana Grup, sesuai keinginan Eyang.”
“Kenapa bukan Ardi yang menggantikanmu?” tanya Pak Haris lagi.
“Ardi kan mau kuliah di Jakarta. Dia mulai belajar mengurus Kakek Adi Wijaya. Kalau bukan Ardi, siapa lagi? Mbak Via juga sudah pegang Wijaya Kusuma di sini.”
Pak Haris terdiam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Ayah kenapa?” tanya Azka setelah Pak Haris terdiam cukup lama.
“Keluarga Wijaya memang luar biasa. Usaha mereka sangat sukses. Pantas, mereka disegani banyak pengusaha.”
“Iya, Yah. Om Candra saja memiliki perusahaan sendiri yang berkembang pesat meski Kakek Adi memiliki perusahaan besar. Papa Mbak Via almarhum sukses mendirikan Wijaya Kusuma dengan keringatnya sendiri. Sekarang, Mbak Via berhasil mengembangkan Wijaya Kusuma yang pernah terpuruk.”
__ADS_1
“Kamu tahu anak perusahaan Wijaya Kususma?” tanya Pak Haris.
“Enggak, Yah. Memang kenapa? Tanya saja Mas Farhan! Pasti dia tahu,” jawab Azka.
Pak Haris hanya menggeleng sambil tersenyum.
Pembicaraan mereka terjeda saat azan berkumandang. Azka dan ayahnya bersiap ke masjid, sementara Meli dan Bu Aisyah ke musala keluarga.
Menjelang pukul 8 malam, Farhan dan Via datang. Mereka hanya berdua karena Zayn sudah tidur.
“Wah, Meli datang rupanya. Apa kabar, Mel?” sapa Via.
Kedua menantu dokter Haris saling berpelukan. Meli pun bertutur sedikit tentang keluarganya.
“Ayo, kita ke ruang keluarga! Ada yang akan Ayah bicarakan dengan kalian,” ajak Pak Haris.
Anak menantu Pak Haris berpandang-pandangan. Mereka tidak bisa menebak kemauan ayah mereka. Mereka pun menurut, mengikuti langkah Pak Haris dan Bu Aisyah ke ruang keluarga.
“Farhan, bagaimana kondisi Kencana Grup? Ada masalah?” Pak Haris membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang tak pernah dilontarkan.
“Alhamdulillah baik, Yah.”
Farhan sedikit ragu. Belum pernah ayahnya bertanya soal kondisi perusahaan. Pak Haris memang tidak tertarik dengan dunia bisnis. Itulah sebabnya Farhan heran mengapa ayahnya menanyakan soal kondisi perusahaan.
“Via, bagaiman? Wijaya Kusuma juga tidak ada masalah, bukan?” Pak Haris ganti melempar pertanyaan kepada menantu pertamanya.
“Alhamdulillah, Wijaya Kusuma juga baik.” Via pun tak beda jauh dengan Farhan, sedikit bingung dengan pertanyaan yang tak biasa dari ayah mertua.
“Bagaimana dengan investasi yang dilakukan anak perusahaanmu? Apa tidak mengalami kerugian?”
Via tersentak. Dadanya berdesir mendengar pertanyaan itu. Terbersit pemikiran tentang WK Husada. Namun, Via cepat-cepat menepiskannya.
“Berart kamu tahu semua kontrak kerja sama anak perusahaan Wijaya Kusuma?”
“Iya, Ayah.” Dada Via kembali beedebar. Ia kembali teringan kontrak WK Husada dengan rumah sakit Asyifa.
Pak Haris terdiam. Semua juga ikut diam. Ada aroma ketegangan di ruangan itu.
Meli menyentuh paha Azka. Saat Azka menoleh, mata Meli mengisyaratkan tanya tentang yang terjadi. Azka hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti.
“Anak-anak, kalian tentu sudah mengetahui yang baru dialami keluarga kita. Eyang Probo dibuat sakit, ada insiden keracunan di bangsal VIP, ada orang yang hendak mencelakai Ayah dan Meli, juga penculikan. Memang, semua itu bisa diungkap bahkan digagalkan. Untuk itu, Ayah ucapkan terima kasih khususnya kepada Via yang telah menyuruh anak buahnya bekerja keras mengungkap dan menyelesaikan kasus ini. Ayah juga berterima kasih sudah diberi pengawal yang bisa dikata lebih dari cukup.
“Itu sudah menjadi kewajiban Via juga Mas Farhan untuk melindungi keluarga,” sahut Via.
Pak Haris tersenyum dan mengangguk. Ia kembali melanjutkan pembicaraan.
“Ayah mau minta maaf atas keteledoran Ayah yang mengakibatkan kerugian pada anak cabang Wijaya Kusuma,” ucap Pak Haris pelan.
Azka dan Meli kaget juga bingung. Sementara Via dan Farhan tengah berjuang mengatasi dada yang berdegup sangat kencang.
“Via, Ayah tahu kamu bermaksud baik. Kamu tentu yang menyuruh pimpinan anak perusahaan Wijaya Kusuma, WK Husada untuk menjalin kerja sama dengan rumah sakit Asyifa. Kamu tidak ingin rumah sakit colaps karena kehabisan dana pasca peristiwa keracunan di bangsal VIP.Benar begitu?” Pak Haris menghunus tatapan tajam ke Via.
Via gugup. Ia bingung harus menjawab apa. Ia pun tak mendapat contekan jawaban saat meminta kepada Farhan lewat tatapan mata.
“Kalian tidak usah menutup-nutupi hal ini. Ayah sudah tahu, kok.”
Via dan Farhan tersentak. Mereka saling tatap lalu menunduk. Keduanya mirip pesakitan yang tidak bisa mengelak saat ditanyai penyidik.
“A—apa yang Ayah ketahui?” tanya Via gugup.
“Ayah tahu kalian menempatkan beberapa orang di Asyifa untuk memantau keadaan rumah sakit. Ayah tahu kalau kalian lebih dahulu tahu transaksi ilegal pembelian alat kesehatan dengan Global Persada. Dan, Ayah juga sudah tahu tentang WK Husada yang telah menggelontorkan dana untuk Asyifa adalah anak perusahaan Wijaya Kusuma. Tentu Via yang menyuruh mereka, bukan?”
__ADS_1
Skak matt! Itu seandainya mereka sedang bermain catur. Posisi Via dan Farhan sudah tidak lagi bisa lepas. Mereka tidak bisa berkelit dari apa yang Pak Haris katakan.
“Dari mana Ayah tahu?” tanya Farhan lirih.
Pak Haris tertawa mendengar pertanyaan itu. Ia memutar sebuah rekaman video. Di situ tampak seorang petugas cleaning service yang tengah berbicara dengan seseorang melalui gawainya.
“Ayah nggak sengaja memergoki Momon saat menerima telepon dari Edi. Ayah curiga dengan gerak-geriknya. Makanya, diam-diam Ayah mengikuti dan merekamnya. Tadinya, Ayah kira dia bagian dari komplotan dengan Global Persada. Ternyata dia anak buah Edi yang ditugasi mencari data. Dia termasuk berjasa karena berhasil mencuri data di komputer milik Gita.”
Via dan Farhan semakin terjepit. Mau tidak mau mereka harus mengakui kebenaran bahwa mereka terus mengawal Asyifa.
“Maafkan kami, Yah. Kami sungguh tidak bermaksud mempermainkan Ayah. Kami ingin yang terbaik untuk kita, menjaga keselamatan semua.” Via menyampaikan alasanna.
“Ayah tahu dan Ayah juga tidak menyalahkan kalian. Justru Ayah sangat berterima kasih atas perhatian kalian.”
Pak Haris terdiam beberapa saat. Tatapannya menyapu semua yang hadir.
“Anak-anak, apa yang telah kita alami ini kita jadikan pembelajaran. Tidak semua orang yang terlihat baik betul-betul baik. Tidak semua sikap baik kita dibalas hal yang sama oleh orang lain. Tapi, hal itu tidak boleh menjadikan kita berhenti berbuat baik. Hanya, kita harus waspada.”
Pak Haris kembali menjeda ucapannya. Kedua pasang suami istri di depan Pak Haris juga diam, tak berani menyela.
“Tindakan kita terkadang menyakiti orang lain tanpa kita sadari. Bahkan, bisa juga menimbulkan dendam seperti yang terjadi saat ini. Tuan Rahardian masih menyimpan dendam terhadap keluarga Eyang Probo.”
“Jadi, Ayah juga sudah tahu kalau Global Persada masih berkaitan dengan Jaya Sakti Persada?” Farhan menyela.
“Iya. Semua dilatarbelakangi dendam masa lalu. Via juga sudah pernah mengalami pahitnya kenyataan akibat dendam. Oleh karena itu, Ayah berpesan agar dendam jangan diselesaikan dengan kekerasan. Jika seperti itu, bisa jadi dendam tersebut berkelanjutan sampai anak cucu.”
“Iya, Ayah,” desis Via getir.
Azka dan Meli kembali saling tatap. Mereka masih belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi.
“Anak-anak, selain Ayah berpesan soal dendam, Ayah juga akan memberi tahu kalian hal penting. Ayah menjual rumah sakit Asyifa.”
Ucapan tenang Pak Haris dirasa seperti petir menggelegar di siang bolong bagi mereka. Tak ada yang menyangka sang ayah memutuskan sejauh itu.
“Ayah sudah berdiskusi dengan bunda kalian. Ayah lelah dengan dendam karena memang Ayah tidak tertarik dengan dunia bisnis dan kekejaman di kalangan pelakunya. Ayah memilih mundur karena Tuan Rahardian tentu akan terus mencari celah menghancurkan Ayah.”
Wajah dokter Haris tampak sendu. Ia menghela nafasnya.
“Meski rumah sakit lebih mengutamakan layanan, tetapi tetap ada unsur bisnis. Mungkin itu yang diincar Tuan Rahatdi yang menaruh dendam kepada eyang kalian.”
Wajah Via dan Farhan ikut sendu. Mereka paham kerasnya dunia bisnis.
“Semoga dengan mundurnya Ayah, Tuan Rahardian tidak mengusik kita lagi. Usahakan jangan sampai mereka tahu kalau kalian cucu dari Eyang Probo, terutama Azka yang baru akan terjun ke dunia bisnis. Farhan, kamu kelak harus membimbing dan melindungi adikmu karena kamu yang sudah berpengalaman. Ayah mundur juga disebabkan keinginan Ayah merawat eyang kalian lebih intensif”
Keempatnya menunduk. Ada perasaan haru yang menyeruak.
“Sekarang yang penting kalian harus jaga diri baik-baik, saling menjaga dan melindungi.” Bu Aisyah memecah keharuan yang tercipta.
“Dan ingatlah, semua cobaan menunjukkan kasih sayang Allah kepada kita. Semakin tinggi keimanan seseorang, semakin berat ujiannya. Namun, Allah tidak akan memberikan cobaan atau ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Jadikan Allah sandaran utama kita.” Pak Haris menuup pembicaraan malam itu dengan nasihat.
Semua anak dan menantu Pak Haris mengangguk. Mereka tetap optimis menatap masa depan dengan selalu bersadar kepada Sang Pemilik Kehidupan.
TAMAT
Ikuti kisah selanjutnya yang nantinya lebih fokus ke Azka-Meli di MENANTI MENTARI. Agar tahu tentang Meli, jangan lupa baca CS1 karya Kak Indri Hapsari dilanjut Ikatan Cinta Alenna.
Jangan lupa untuk selalu klik like, tinggalkan komentar, dan bintang 5!
__ADS_1