SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kekhawatiran


__ADS_3

Azka bingung saat menatap layar monitor lap topnya. Pikirannya tidak fokus. Sejak tadi pesannya ke Meli belum juga dibaca, apalagi dibalas. Ditelepon pun tidak diangkat.


Akhirnya, Azka memutuskan untuk mematikan laptopnya. Ia beralih ke gawai. Lima pesan sejak pukul 5 sore masih dengan tanda centang warna abu-abu.  Ia membisikkan doa untuk keselamatan sang istri.


Karena bosan, Azka keluar kamar. Ia berniat cari angin.


“Mau ke mana?” tanya Bu Lena yang berpapasan dengan Azka di ruang tamu.


“Cuma mau duduk di luar. Kali aja Pak Satpam mau menemani. Azka bingung, mau mengecek laporan, pikiran Azka belum bisa fokus,” jawab Azka apa adanya.


“Memang kenapa sampai nggak fokus? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Pak Candra yang baru masuk ruang tamu.


“Iya, Meli belum ngasih kabar. Azka khawatir terjadi sesuatu dengannya.” Azka tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


Pak Candra dan istrinya saling tatap dan melempar senyum.


“Ya sudah, sana temui Ridwan! Kalau dia ngajak main catur sampai dia kalah, jangan mau! Bisa semalaman kamu duduk memelototi bidak catur,” kata Pak Candra diiringi tawanya.


Azka tampak bingung. Ia tak mengerti yang Pak Candra maksud.


“Memang kenapa, Om?”


“Selama ini, hanya Edi yang bisa mengalahkan Ridwan. Ya sudah, sana kamu kalau mau menemani Ridwan!”


Azka berpamitan keluar. Ia menghampiri Ridwan yang tengah duduk termenung di dalam pos satpam.


“Bang, melamun?” tegur Azka.


“Eh, Mas Azka. Tumben ke sini?” Ridwan tampak heran melihat kedatangan Azka.


“Iya, lagi suntuk. Ngecek laporan malah nggak konsen,” jawab Azka.


“Ada masalah, Mas?”


“Isteriku belum kasih kabar. Ditelepon juga nggak diangkat. Dia sedang dalam perjalanan ke Jember,” jelas Azka.


Ridwan mengernyitkan kening. Ia bingung karena setahunya Azka belum menikah.


“Istri? Pacar, maksud Mas Azka?”


Azka tergelak melihat kebingungan Ridwan.


“Istrilah, Bang. Aku udah nikah, kok. Abang ingat waktu Om Candra kecelakaan? Nah, saat itu Om Candra hendak ke Jember menghadiri pernikahanku,” jelas Azka.


“Oh, terus istri Mas Azka kok nggak diajak ke sini?”


“Besok kalau aku wisuda, Bang. Habis itu, kami tinggal di Jogja.”


“O, begitu. Mas, main catur, yuk! Kalau aku kalah, berhenti, ya!” ucap Ridwan.


“Nggak, ah! Kita mainnya sampai jam 9 saja, ya!” Azka ingat pesan Pak Candra.


“Yah, nggak seru, Mas!” protes Ridwan.


Azka tersenyum. Namun, ia bersikukuh tak menuruti kemauan Ridwan. Akhirnya, Ridwan menurut.


“Ayolah, daripada nggak ada teman. Lumayan ada teman ngobrol sampai jam 9,” gumam Ridwan.


Pria yang berusia 30-an tahun itu menyiapkan papan catur beserta bidaknya. Tak lama kemudian, keduanya terlibat perang strategi menjalankan bidak.


“Berarti setelah Mas Azka wisuda, Mas Azka nggak tinggal di sini?” tanya Ridwan sambil memajukan pion.

__ADS_1


“Iya, Bang. Aku juga mesti ngurus perusahaan cabang milik eyangku. Saat ini kantor pusat sih sudah dipegang kakakku.”


“Kakak Mas Azka yang ke sini bareng istrinya yang cantik sama anaknya yang masih setahunan itu? Yang mukanya cool?”


Azka terbahak mendengarnya. Terbayang wajah sang kakak yang memang terkesan dingin menghadapi orang yang belum dikenal.


“Bang Ridwan ni ternyata memperhatikan ya?”


Ridwan terdiam memandangi papan catur. Entah apa yang ada di benaknya.


“Mas Azka seneng, ya? Bisa kuliah tinggi, lulus sudah ada kerjaan, langsung mapan,” ucap Ridwan.


“Alhamdulillah, Bang. Semua kalau disyukuri tu terasa nikmat. Kadang orang melihat orang lain dari sisi enaknya, tanpa tahu detailnya,” sahut Azka.


“Bener juga. Seperti Tuan Candra ini. Orang pasti menilai enak banget karena kaya raya. Tapi, nyawanya sering terancam. Untung saja anak buahnya hebat-hebat.”


Azka menatap Ridwan. Ia menemukan keseriusan dalam ucapan pria itu.


“Pantas saja pengawalan keluarga Om Candra begitu ketat,” gumam Azka.


“Sekarang sudah lebih luwes, Mas. Pengawalan tidak terlalu ketat dan tidak selalu berseragam formal. Dulu, ke mana pun keluarga Tuan Candra pergi, selalu ditempel body guard. Makanya, keluarga Tuan Candra tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga. Baru dua tahunan ini mereka membuka diri, mulai bersosialisasi dengan tetangga.”


Azka hanya mengangguk-angguk mendengar penuturan Ridwan. Ia sebenarnya sudah pernah mendengar cerita tentang keluarga Candra Wijaya yang tertutup.


“Skak mat!” seru Ridwan.


Azka terperangah. Ia mengakui kebenaran cerita Pak Ridwan.


“Azka, HP-mu di mana?” terdengar teriakan Pak Candra.


Azka terkejut. Spontan dia meraba sakunya. Benda pipih yang ia cari tidak ditemukan.


“Masya Allah, ada di kamar. Aduh, jangan-jangan Meli telepon,” desis Azka. “Bang, aku masuk dulu. HP-ku tertinggal.”


“HP nggak kamu bawa? Ni istrimu telepon Via nanyain kamu. Via tadi telepon Om,” jelas Pak Candra.


“Maaf, Om. HP Azka tertinggal di kamar.”


“Ya sudah, sana ke kamar. Istrimu pasti bingung.”


Azka segera melesat ke kamarnya. Diraihnya benda pipih yang tadi ia cari.


“Sepuluh panggilan tak terjawab,” desis Azka sambil tersenym.


Azka menelepon balik Meli dengan video call. Hanya beberapa detik setelah tersambung, muncul wajah Meli di layar.


“Assalamualaikum, Mas. Mas Azka ke mana, sih?”


“Waalaikumsalam. Tadi ngobrol dengan satpam, HP ketinggalan. Habis, di kamar bosan nungguin telepon atau chatt dari istriku.”


“Maaf, pikiran Meli nggak tenang, selama di kereta nggak buka HP sama sekali.”


Azka tersenyum. Ia sudah hafal dengan kebiasaan Meli.


“Sekarang sudah tenang? Sudah sampai rumah, kan?” tanya Azka lembut.


“Iya, sekitar seperempat jam yang lalu sampai rumah. Begitu sampai, telepon Mas Azka. Eh, malah nggak diangkat-angkat. Meli tanya aja ke Mbak Via. Katanya Mbak Via mau menghubungi Om Candra.”


“Ya, tadi Om Candra bilang ditelepon Mbak Via. O ya, bagaimana dengan Anjani? Kamu sudah tahu kabarnya?”


Meli mengangguk. Mukanya tampak sedih.

__ADS_1


“Sebelum Mas Azka telepon, Meli baru saja bicara dengan Anjani. Firasat Meli benar. Anjani kemarin diculik, Mas. Dia sempat disekap dan hampir diperkosa.”


Azka terkejut. Ia tidak mengira seburuk itu kejadian yang menimpa sahabat istrinya.


“Lalu, polisi berhasil menyelamatkan?” tanya Azka penasaran.


“Bukan polisi, tapi Kak Mario. Beruntung, Anjani tidak sampai diperkosa. Sudah sampai dilecehkan gitu, sih. Ih, ngeri Meli bayanginnya,” ucap Meli sambil begidik.


“Mario tahu pelakunya? Sudah dilaporkan ke pihak berwajib?”


“Tahu, orang dalam. Namanya Daniel.  Meli nggak tanya sudah dilaporkan apa belum. Meli cuma memastikan kondisi Anjani. Ah, kasihan bener Anjani.”


Azka teringat kejadian beberapa waktu silam saat Mira diculik. Mereka sempat berlibur untuk menyembuhkan trauma Mira.


“Sayang, besok kau temui Anjani! Temani dia! Mungkin saja dia trauma akibat tragedy itu. Kamu sebagai sahabatnya harus bisa menghibur, membantu pemulihan traumanya.”


“Kok Mas Azka jadi perhatiaan banget sama Anjani?”


Ada nada kecemburuan dalam ucapan Meli. Azka bisa merasakannya. Terbersit keinginan untuk menggoda istrinya.


“Lho, memang nggak boleh ikut mengkhawatirkan sahabat istri? Lagian aku juga kenal Anjani. Kita pernah liburan bareng, kan?”


Meli seketika menggelembungkan pipnya. Ia tampak kesal.


“Mas Azka sebenarnya suka sama Melia apa Anjani, sih?”


Azka tergelak. Ia merasa gemas melihat wajah Meli.


“Mas jadi gemes pengin nyubit pipimu, Sayang. Cobaa kamu ada di deket Mas.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan!” sergah Meli kesal.


Azka makin tergelak. Ia sampai harus memegang perutnya yang terguncang.


“Oke, Sayang. Dengarkan penjelasan Mas. Kamu nggak usah cemburu gitu, Mas cuma ingin godain kamu.”


“Nyebelin!” gerutu Meli.


Azka tersenyum mendengarnya.


“Soal kekhawatiran Mas kepada Anjani, itu karena Mas teringat tragedi yang menimpa Mira.”


“Maksud Mas Azka, Mbak Mira istri Mas Edi? Tragedi apa?” tanya Meli kaget. Ia tak lagi menampakkan kekesalannya.


“Iya, Mira istri mas Edi. Beberapa tahun silam, Mira pernah diculik. Sebenarnya targetnya adalah Mbak Via. Tapi, mereka salah sasaran mengira Mira adalah Mbak Via. Mira sempat disekap. Tapi, Mas Edi dan anak buahnya beserta apparat kepolisian bisa membebaskannya. Mira trauma akibat kejadian itu. Makanya, aku berpikir mungkin saja Anjani trauma seperti yang dialami Mira waktu itu.”


Meli mengangguk mengerti. Kecemburuannya telah lenyap berganti kekhawatiran.


“Jadi orang kaya ternyata banyak yang mengincar keselamatannya, ya? Kemarin Meli baru tahu sakitnya Eyaang Probo karena dicelakai oraang. Sekarang, Anjani. Dulu, Mira karena dikira Mbak Via. Ih, Meli jadi takut.”


“Sayang, dengarkan! Kamu nggak usah takut berlebihan! Mas Edi kan sudah menempatkan anak buahnya untuk menjaga keluarga di Jember. Selain itu, ada penjaga yang utama yang harus kita jadikan sandaran pokok.”


“Maksud Mas Azka?” Meli tak mengerti.


“Allah. Jadikan Allah sebagai sandaran utama, tempat kita menyembah dan memohon pertolongan. Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn.”


Hati Meli seperti tersiram es. Ia menjadi lebih tenang setelah mendengar nasihat suaminya.


***


Apakah ada cobaan lain? Ikuti karya receh ini dan dukung dengan berikan like juga komentar setelah membaca. Jangan lupa ketik “MAU” di episode terakhir (170) CS1 karya Kak Indri Hapsari agar Kak Indri membuat season 2.

__ADS_1


Salam hangat. Barakalahu fiik



__ADS_2