SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XVII


__ADS_3

Bel tanda les berakhir telah berbunyi. Anak-anak bersiap pulang. Setelah guru keluar, mereka pun bersiap mengikuti keluar. Namun Doni mendadak menahan mereka.


“Sebentar, teman-teman. Saya ingin menraktir kalian sebagai ungkapan rasa syukur telah memenangkan lomba debat kemarin. Sekalian melunasi hutang saya kepada Ratna.”


Anak-anak pun heboh. Beberapa anak yang sudah sampai pintu langsung balik kanan.


“Serius, Don? Kita mau makan-makan di mana?”


“Serius, dong! Kita ke Kafe Mickey, ya! Aku dah booking tempat kok. Silakan yang bawa kendaraan langsung ke lokasi. Yang tidak bawa kendaraan, boleh ikut aku.”


“Horeee!!!” teriak anak-anak.


“Yang nyampai duluan, bilang aja temannya Doni. Biar diantar ke tempat yang ku-booking.”


“Siap, Komandan!”


Mereka keluar dari kelas dengan ceria.


“Don, aku ikut kamu bisa? Eh, Via gimana? Dia tadi diantar putranya Bu Aisyah,” pinta Ratna.


“Ya udah, bareng aja. Aku bawa mobil, kok.”


“Aku dan Miko juga ikut kamu, Don!” celetuk Yudi.


“Oke. Yuk ke luar!”


Via dan Ratna berjalan bersama di belakang Doni. Yang lain mengekor.


“Bentar, aku ngabarin bunda dulu.” Via mengeluarkan ponsel berlambang apel yang tidak utuh. Jarinya dengan lincah mengetikkan pesan.


[Bunda, Via ke Kafe Mickey. Doni menraktir semua teman.]


Baru saja Via akan memasukkan ponsel ke dalam tas, terdengar notifikasi pesan.


[Semua siswa XII IPA-1? Ada acara apa? Doni ulang tahun?]


[Iya, semuanya. Bukan ulang tahun, Bun. Doni syukuran hasil lomba kemarin]


[Ya, sudah. Hati-hati! Jangan lupa sholat dhuhur, ya!]


[Baik, Bun.]


“Dapat ijin nggak?” tanya Ratna.


“Iya, boleh kok. O iya, Don, bagaimana kalau Viki kita ajak?”


“Boleh. Tuh kebetulan Viki baru keluar kelas. Viki!” terian Doni. Dilambaikaan tangannya, memberi isyarat agar Viki mendekat.


“Gabung, yuk! Kita mau ke Kafe Mickey.”


“Aku sendiri yang dari IPS-1?”


“Ya nggak papa, kan? Atau kamu mau ajak teman?"


“Nggak usah. Ayolah sesekali bareng anak IPA. Jangan bicara rumus-rumus, ya! Otakku nggak nyambung ntar!”


“Kau ini! Bawa motor, nggak?”


“Bawa. Kenapa?”


“Ya udah, langsung ke sana. Tahu Kafe Mickey, kan?”


“Iya, tahu.”


Mereka bersama-sama menuju tempat yang telah dipesan Doni. Begitu sampai, pelayan dengan ramah melayani mereka.


“Don, mushola ada di sebelah mana? Ini kan sudah masuk waktu dhuhur. Aku mau sholat dulu. Kalau makan dulu, sholatnya nggak di awal waktu jadinya.”


Doni menatap Via. Rasanya baru kali ini Via peduli dengan sholat di awal waktu.


“Di sebelah sana. Kita bareng aja, yuk!”

__ADS_1


“Ajak teman-teman yang mau sholat sekalian! Besar nggak musholanya?”


“Cukup untuk menampung 30-an orang. Bentar, aku umumin. Teman-teman yang mau sholat dhuhur, yuk ke mushola dulu. Sambil nunggu pesanan siap.”


Beberapa orang ikut ke mushola. Mereka sholat berjamaah diimami Doni.


“Kafenya lumayan ramai. Tempatnya bersih, pelayanannya prima. Recommended deh,” komentar Mita.


“Ini kafe punya om-ku.”


“Oh, jangan-jangan kamu nggak bayar?”


“Ish, bayar dong. Cuma harga special karena ponakan. Hehe…”


“Makasih, ya! Sayang, kita udah hampir lulus. Kamu nggak bakal disuruh ikut lomba lagi,” celetuk Toni.


“Kan nggak harus menang lomba untuk ngajak kalian makan-makan kayak gini.”


“Wah, asyik. Ada harapan besok ditraktir lagi,” ganti Mita yang menyeletuk. Semua anak tertawa. Namun tidak dengan Via. Dia malah terdiam.


“Ah, seandainya papa masih ada, aku tentu bisa mengajak teman-teman seperti ini. Biasanya aku juga mengajak mereka makan-makan kalau aku baru memenangkan lomba atau dapat penghargaan. Sekarang aku cuma bisa traktir Ratna. Itu pun di kantin sekolah,” keluh Viaa dalam hati.


“Kok diam? Ada apa?” bisik Ratna.


“Eng…nggak. Nggak ada…nggak ada apa-apa, kok,” Via tergagap.


“Beneran? Ayo, habiskan!”


“Iya.”


Via membuka tasnya saat terdengar notifikasi pesan. Dengan cepat jarinya membuka kunci layar. Sebuah pesan dari nomor tak disimpan.


[Pulang jam berapa?]


Via segera mengirim balasan.


[Maaf, ini dari siapa?]


[Farhan]


Via kaget. Ia memang belum tahu dan tidak pernah menanyakan kontak Farhan. Meski agak bingung, ia tetap membalas.


[Mungkin sekitar 15 menit lagi].


“Ada apa si kulkas tanya-tanya? Apa pedulinya?” pikir Via. Satu menit kemudian sebuah pesan membuat Via tersentak kaget.


[Tunggu di depan kafe. Nanti aku jemput]


“Kok bengong?” tanya Ratna mengagetkan.


“Eh, nggak kok.”


“Dari tadi kuperhatikan kamu kayak kebingungan. Memang siapa yang ngirimi pesan?”


“Ini dari rumah. Bunda khawatir aku pulangnya gimana.”


“Kuantar, Vi. Jangan khawatir!” ujar Doni.


“Cieee…si abang siaga, ya? Berani menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Bu Aisyah?” ledek Ratna.


“Kan cuma nganter. Emang kenapa?”


“Nggak apa-apa.”


“Ya udah, aku ke kasir dulu.”


Beberapa teman Via keluar dari kantin dan ke tempat parkir. Sebagian lagi masih cuci tangan di wastafel.


“Kamu jadi pulang bersamaku, Vi?” tanya Doni.


“Terus aku pulang sama siapa?” sela Ratna.

__ADS_1


“Kalau kamu nggak keberatan, antarkan Ratna saja, Don. Aku ada yang jemput, kok.”


“Beneran, Vi? Mas Azka, ya?” tebak Ratna.


“Mas Azka tu siapa, sih?” tanya Doni penasaran.


“Putra Bu Aisyah,” jawab Ratna cepat.


“Sudah pasti kalau kamu dijemput, Vi? Jam berapa?”


“Iya, tadi sudah kirim pesan.”


“Jam berapa jemputnya?”


Via menggelengkan kepala. Farhan memang tidak memberi tahu kapan ia akan menjemput hanya menyuruh Via menunggu di depan kafe.


“Apa kamu kirim pesan agar tidak usah dijemput, kamu ikut aku?”


“Enggak usah. Kamu anterin Ratna aja. Paling sebentar lagi datang. Kalian duluan, deh,” tolak Via.


“Ya udah, kita tunggu sebentar lagi,” kata Ratna.


Baru saja Ratna mengucapkan kalimat tersebut, terdengar bunyi klakson 2 kali. Mereka menoleh. Sebuah city car putih berhenti di dekat mereka. Via hafal, itu mobil Pak Haris.


“Tuh jemputan sudah datang. Titip Ratna, ya, Don!”


“Emang aku barang, kok dititipin?” gerutu Ratna.


Via berlari ke mobil dan segera membuka pintu. Hanya ada Farhan di dalamnya, duduk manis di belakang kemudi. Meski ada keraguan, Via tetap masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang.


Saat melewati Doni dan Ratna, Via melambaikan tangannya.


“Temanmu ke sekolah bawa mobil?” tanya Farhan dengan nada datar.


“Tadi iya.”


“Memang diperbolehkan?”


“Boleh kalau bukan hari efektif.”


“Tapi kesannya berlebihan anak SMA bawa mobil.”


“Ini tumben si kulkas bisa bicara agak lama. Apa kompresornya rusak ya? Sayang omongannya negatif,” gumam Via dalam hati.


“Biasanya Doni tidak bawa mobil. Tadi karena dia ngajak kami makan-makan. Yang gak bawa kendaraan kayak aku kan jadi bisa nebeng,” bela Via.


“Oh, dia yang jadi bos?’


“Iya.”


“Dia yang ikut lomba sama kamu kemarin, kan?”


“Iya. Acara makan-makan tadi juga dalam rangka syukuran hasil lomba kemarin.”


“Oh,” tanggapan Farhan sangat singkat.


“Memang menurut Mas Farhan yang kayak gitu nggak baik?”


“Yang mana?”


“Yang dilakukan Doni. Bawa mobil dan traktir teman-teman.”


“Aku nggak berhak menilai.”


Setelah jawaban yang sedikit ketus keluar dari mulut Farhan, Via terdiam. Akhirnya, pembicaraan mereka terhenti. Hanya suara mesin dan klakson yang sesekali terdengar.


***,


to be continued


Bagaimana karakter Farhan sebenarnya? Benarkah dia cowok yang dingin seperti julukan yang diberikan Via?

__ADS_1


__ADS_2