SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ada Asa


__ADS_3

Jantung keduanya berpacu dengan cepat. Selama beberapa detik mereka seperti terhipnotis, hanya diam. Kedua tangan Azka memegang lengan Meli.


“Ehm, mau sampai kapan begitu?” tegur Via.


Azka segera melepaskan Meli. Karena Meli tidak siap, ia kembali limbung. Azka pun kembali menangkapnya dengan sigap.


“Eh maaf. Aku lepas sekarang, ya,” desis Azka.


Semua orang yang melihat adegan itu tersenyum. Sementara Azka dan Meli tersipu malu. Wajah mereka bak tomat matang.


Ledekan demi ledekan harus mereka terima dari orang-orang yang mereka sayangi. Bahkan, Baby Zayn pun ikut tertawa membuat semua gemas.


Menjelang Ashar mereka sudah bersiap kembali. Begitu semua orang sudah berada dalam posisi siap, ban mobil pun menggilas jalanan meninggalkan wilayah Kulonprogo yang tengah berbenah.


Malam itu menjadi malam ketiga bagi Via menginap di rumah orang tua angkat sekaligus mertuanya. Sementara bagi Meli dan Anjani, malam itu menjadi malam terakhir mereka menginap bersama dengan keseruan liburan.


Tentu saja pertemuan yang terasa singkat itu tak mereka sia-siakan. Setelah Zayn terlelap, Via masuk ke kamar tamu menemui Meli dan Anjani. Berbagai topik seru mewarnai obrolan mereka.


“Kenapa waktu berjalan cepat sekali? Kok kalian nggak liburan lama di sini?” keluh Via.


“Kami kan juga kerja di toko bunga. Meski cuma sambilan dan nggak seberapa dibanding penghasilanmu, lumayanlah buat nambah uang jajan kami. Lagi pula, kasihan Kak Lisa kalau kami tinggal terlalu lama,” tutur Anjani memberi alasan.


Via mengangguk-angguk. Sejujurnya, ia memang berat berpisah. Meski persahabatan mereka lebih banyak melalui media sosial, Via merasakan kedekatan dengan Anjani dan Meli. Kedua gadis itu pun sama.


“Besok kalian jadi naik kereta? Kenapa nggak pesawat saja? Kan lebih cepat,” ucap Via.


“Kami menikmati sensasi perjalanan dengan kereta. Tenang, bisa menikmati pemandangan, juga lebih aman. Jadwal hampir pasti nggak kayak bus,” sahut Meli.


Mereka tertawa mengingat kedatangan Meli beberapa waktu yang lalu. Dan itu menjadi awal pertemuan dengan sang hero.


Sementara Via tidak hanya itu. Ia teringat perjalanan dengan kereta bersama Farhan ketika baru menikah. Kenangan menjadi penumpang kereta terasa begitu indah.


“Tiap liburan semester kalian datang, dong. Kami senang sekali kedatangan kalian,” pinta Via.


Meli dan Anjani saling tatap. Kemudian, mereka mengangguk sambil tersenyum.


“Siapa tahu semester depan Meli sudah berubah status,” celetuk Anjani.


“Maksud kamu apa?” tanya Meli.


“Ah, nggak usah sok polos. Kalau orang tuamu setuju, Mas Azka lamar kamu, lalu nikah, kan semester depan kamu jadi Nyonya Azka,” ucap Anjani.


Meli memajukan bibirnya. Ia pura-pura kesal diledek Anjani. Padahal, dalam dadanya penuh beraneka macam bunga tengah bermekaran.


“Siapa tahu juga kamu sudah jadi Nyonya Mario,” balas Meli.


“Aamin,” ucap Anjani spontan.


“Tuh, berarti kamu beneran masih mengharap Kak Mario melamarmu lagi,” ledek Meli.


Blush.


Pipi Anjani memerah. Dalam hati, ia meruntuki mulutnya yang tidak tahu sikon.


“Anjani pernah dilamar?” tanya Via penasaran.


Meli dengan senang hati menceritakan kisah cinta Anjani-Mario hingga proses hijrah.

__ADS_1


“Menikah itu fitrah sekaligus sunah. Nggak usah takut menjalani pernikahan di usia muda. Juga nggak usah khawatir pernikahan mengganggu kuliah. Niat baik insya Allah akan menjadi ibada dan Allah akan mempermudah,” kata Via memberikan masukan.


Menjelang pukul 22.00, Via berpamitan kembali ke kamar. Meli dan Anjani pun bersiap-siap merebahkan diri.


“Anjani, aku deg0degan, nih. Kalau ayahku nggak mengizinkan aku menikah. Terus, apa yang harus kusampaikan ke Bu Aisyah? Beliau tentu kecewa,” ucap Meli bingung.


“Kamu harus menyampaikan apa pun yang diputuskan Paman Roni. Aku yakin, Bu Aisyah dan keluarga bisa menerima. Kamu kok mikirnya aneh? Sudahlah, kamu harus optimis, ya! Kita berdoa yang baik-baik saja,” sahut Anjani.


Setelah selesai rutinitas menjelang tidur, mereka merebahkan diri di atas kasur.


**


Keesokan harinya, setelah sarapan, Meli dan Anjani menata barang-barang. Via menunggui di kamar tamu sambil memangku Zayn.


“Meli, Anjani, Bunda  nggak bisa mengantar kalian. Bunda harus ke sekolah,” ucap Bu Aisyah.


“Iya, Bunda. Nggak apa-apa, kok,” sahut Meli.


“Kalian hati-hati, ya! Jangan lupa, sampaikan salam buat keluarga kalian. Dan, Meli punya pesan khusus dari Bunda, jangan lupa!” Bu Aisyah tersenyum.


Meli tersipu-sipu.  Via dan Anjani melirik sahabatnya sambil tersenyum penuh makna.


“Kalau begitu, Bunda ke sekolah dulu. Azka mengantar Bunda sebentar, dia balik lagi. Kalian berangkat jam 9, kan?”


“Iya, Bun,” jawab Meli singkat.


“Sekali lagi, hati-hati ya! Assalamualaikum.”


Bu Aisyah mengulurkan tangannya dan disambut oleh ketiga wanita muda. Mereka mencium tangan Bu Aisyah dengan takzim.


“Via, kamu tahu toko yang jual bakpia dekat sini? Aku lupa belum beli,” kata Anjani.


“Tenanglah, bunda sudah memesan kok. Mungkin sebentar lagi diantar ke sini,” ucap Via santai.


Benar saja. Baru saja Via selesai mengucapkan kalimat itu, terdengar orang mengucap salam dari teras depan. Ternyata pengantar oleh-oleh yang dipesan Bu Aisyah.


“Nih, oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman kalian. Insya Allah cukup,” kata Via,” Ini bakpia, ini geplak, dan ini Yangko.” Via menunjuk 3 kardus yang baru sampai.


Anjani melongo melihatnya. Ia tak mengira sebanyak itu.


“Ini buat kami semua?” tanya Anjani heran.


“Iya. Bagi dua, ya! Terserah kalian, deh,” jawab Via.


“Aku nggak enak, nih. Masa kami datang nggak bawa apa-apa pulang membawa sebegini banyak,” gumam Anjani.


Via tertawa mendengarnya. Ia mengusap bahu Anjani.


“Ingat, kami senang melakukannya. Kami justru sedih kalau kalian tolak pemberian kami.”


“Terima kasih banyak, ya,” ucap Anjani lirih.


Meli tersenyum lalu menyeletuk, “Ini enaknya kalau main ke sini. Aku juga gitu. Makanya, waktu Bunda nyuruh ke sini, aku dengan senang hati mengiyakan.” Ucapan Meli diikuti tawa ketiganya.


“Ada yang membuat alasan Meli lebih kuat. Ia bisa bertemu sang hero,” sahut Anjani.


Via terkekeh lagi. Ia paham yang Anjani maksudkan.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Azka datang bersama Ratna. Rupanya, ia mampir ke ruko terlebih dahulu.


Tepat pukul 9 semua barang milik Meli dan Anjani beserta oleh-oleh sudah tersusun rapi di bagasi. Azka mempersilakan semua masuk. Kemudian, ia melajukan mobil perlahan menuju Stasiun Lempuyangan.


Masih banyak waktu sebelum kereta berangkat. Azka menawari untuk cari minuman terlebih dahulu. Namun, Anjani dan Meli menolak. Akhirnya, mereka tetap masuk ke stasiun.


Azka membawakan kardus oleh-oleh, sementara Meli dan Anjani menarik kopernya. Saat akan masuk, Azka baru ingat kalau ia hanya pesan 3. Via dan Ratna tidak bisa masuk.


Akhirnya, Azka mengantar kedua gadis itu ke ruang tunggu penumpang. Sementara Via dan Ratna menunggu di luar.


Baru lima menit mereka duduk, Via dan Ratna menyusul. Meli terkejut.


“Kalian mendadak beli tiket?” tanya Meli.


“Prameks. Hehe....” Ratna cengengesan.


“Kalian ngapain sih buru-buru balik? Kenapa nggak menghabiskan liburan di sini?” keluh Ratna.


“Gantian kamu yang ke Jember, dong!” kata Anjani.


“Besok kalau melamar Meli,” sahut Via santai.


Sontak muka Meli  memerah. Sementara Azka senyum-senyum dengan mata berbinar.


“Siap! Aku akan stand by di rumah Meli,” ucap Anjani.


Pembicaraan mereka terhenti ketika ada pengumuman dari speaker kalau kereta Ranggajati akan memasuki stasiun.


“Hati-hati, ya! Maaf kalau sambutan kami kurang,” ujar Via. Ia menyalami Anjani dan Meli diikuti cipika-cipiki.


“Lebih malah. Sampai-sampai tiket pun dibelikan. Uang kami utuh jadinya. Maafkan kami sudah merepotkan,” kata Anjani.


“Mas Azka malah senang kalau direpotkan,” sahut Ratna.


“Kami menunggu jawaban dari orang tuamu. Aku berharap kamu jadi tantenya Zayn,”  bisik Via saat cipika-cipiki dengan Meli.


Meli mengulum senyum. Ia menyembunyikan kebahagiaan yang meletup-letup.


Akhirnya, Anjani dan Meli masuk ke gerbong eksekutif diantar Azka. Setelah semua beres, Azka bergegas turun.


“Mel, ini uang saku dari Paman Sam utuh jadinya. Mas Azka keluar banyak duit nih buat kita,” kata Anjani.


“Begitulah. Aku juga dulu begitu. Oleh-oleh yang aku bawa juga dibelikan Mas Azka,” ucap Meli sambil asyik memainkan gawainya.


Tak lama kereta mulai bergerak. Meli menatap ke luar. Matanya terus menatap ke cowok yang berdiri tegap memperhatikan kereta yang terus bergerak meninggalkan stasiun.


Ada hampa terasa. Perpisahan memang begitu berat, terutama Meli dan Azka. Mereka berharap rencana indah di benak mereka menjadi nyata.


***


Bersambung


Bagaimana Meli menyampaikan lamaran Bu Aisyah kepada orang tuanya? Apakah orang tuanya menerima? Temukan jawabannya di novel karya Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1.


Jangan lupa tinggalkan like dan koment di setiap episode. Meski hanya 5 karakter, itu sangat berharga. Terima kasih atas dukungan readers, baik like, koment, rate 5, maupun vote.


__ADS_1


__ADS_2