SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XLIII


__ADS_3

Mohon maaf, author belum bisa kasih crazy up. Selamat membaca, semoga suka 😘


🌱🌱🌱


Dalam perjalanan, Pak Andi mulai menanyai keponakannya. Ia ingin tahu tanggapan sang keponakan terhadap Via.


"Kalian tadi bisa ngobrol seru?"


"Seru sih, enggak. Tapi, nyambung."


"Bagaimana penilaian kamu terhadap gadis itu?"


"Via maksud Om?"


Pak Andi menoleh. Tangan kirinya memukul lengan Surya pelan.


"Ya iyalah. Memang ada gadis lain?"


Surya terkekeh. Ia melirik omnya sekilas.


"Baik, sopan. Sepertinya dia gadis yang cerdas. Aku sih nggak tahu yang sebenarnya. Kira-kira aja."


"Dari mana kamu memperkirakan itu? Dari cara bicaranya?"


"Dia pendiam. Tapi sorot matanya menunjukkan dia punya karakter yang kuat."


"Wah, luar biasa keponakan Om ini. Kamu bisa menilai hanya dari tatapan matanya."


"Memangnya bener yang Surya katakan, Om?"


Pak Andi mengangguk sambil tersenyum. Ia menoleh ke kiri sekilas.


"Dia memang seorang gadis yang baik dan cerdas. Tapi, dia juga memiliki nasib yang kurang baik satu setengah tahun terakhir. Ia menjadi yatim piatu dalam waktu kurang dari 2 bulan. Mamanya meninggal karena sakit, tak lama papanya meninggal karena kecelakaan."


"Jadi, Via bukan anak dokter Haris?"


"Bukan. Ia diangkat anak oleh keluarga dokter Haris setelah papanya meninggal. Kamu berarti tidak mendengarkan waktu Om bicara dengan Via tadi?"


"Mendengarkan, sih. Tapi, kadang blank. Jadi, Surya nggak paham dengan yang Om bicarakan."


Pak Andi melirik keponakannya sekilas. Ia merasa gemas karena Surya tidak cepat paham.


"Kamu tertarik nggak?" tanya Pak Andi.


"Tertarik? Tertarik sama apa, Om?"


Ini anak kok lemot jadinya ya?


"Tertarik sama Via. Kamu suka nggak?"


"Ih, masa baru ketemu sekali langsung suka. Nggak mungkin, Om."

__ADS_1


"Kesanmu bagaimana?"


"Tadi kan Surya udah bilang kalau Via gadis yang baik," gerutu Surya.


"Iya. Kalau kamu menikah dengan gadis itu, kamu mau?"


Surya kaget. Seandainya tidak terikat seatbealt mungkin dia sudah meloncat.


"Om bikin kaget aku. Masa aku disuruh menikahi gadis itu?"


Pak Andi tersenyum simpul mendapat protes dari keponakannya.


"Kan Om bilang kalau. Berarti itu baru pengandaian. Kalau kamu tidak mau, ya tidak apa-apa. Om nggak nyuruh, kok."


"Nggak, Om. Via memang mungkin baik, tapi dia hanya anak angkat Om Haris. Dia sudah yatim piatu."


"Memang kenapa?"


"Dia nggak berhak atas warisan dari Om Haris, dong."


" Dasar, cowok matre," dengus Pak Andi kesal.


"Bukan matre, Om. Tapi realistis lah. Anak papah gak cuma aku. Harta papah nantinya dibagi bertiga. Aku sekarang cuma pegawai papah. Honor yang papah kasih cuma cukup untuk jajan. Kalau sudah punya istri, mau dikasih makan apa? Makanya, perlu cari camer tajir."


Muka Pak Andi memerah. Untunglah, suasana temaram hingga Surya tidak tahu perubahan wajah omnya.


Setelah diam beberapa detik, Pak Andi berkata, "Via itu pewaris tunggal almarhum Pak Wirawan. Memang, saat ini perusahaan belum membaik. Tapi insya Allah bisa bangkit lagi. Kamu nggak tertarik ikut mengelola perusahaan milik almarhum Pak Wirawan?"


"Memang perusahaan itu besar, Om?"


"Dulu, iya. Sekarang Om sedang membantu agar bisa bangkit lagi, meski tak sebesar dulu."


"Kenapa Om kelihatannya ngotot banget bantu Via?"


"Om berhutang banyak sama papanya Via. Bukan hanya harta, tapi nyawa. Beberapa kali almarhum menolong Om dulu. Termasuk saat tantemu mau melahirkan Andri. Kondisinya tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Sementara, Om tidak punya cukup uang untuk bayar biaya operasi. Almarhum Pak Wirawan yang membayar biaya operasi, tanpa pamrih."


Surya menatap omnya. Ia merasa heran.


"Hari gini, nggak mungkin ada orang yang bantu orang lain tanpa pamrih. Apalagi bukan siapa-siapanya."


"Kamu mikir apa?" tanya Pak Andi mengagetkan Surya.


"Enggak, kok. Nggak ada."


"Kalau Via punya warisan besar, apa kamu tertarik?"


"Mungkin. Tapi, jujur Om. Surya tidak tertarik dengan sikap dan gaya busana Via. Juga keluarga dokter Haris."


"Kenapa?" Pak Andi heran.


"Pakaiannya nggak modis. Udah gitu, kayaknya kurang menghargai tamu."

__ADS_1


"Hah? Kok bisa?"


"Mereka nggak mau bersalaman. Memang tanganku kotor?"


"Itu yang namanya menjaga diri. Mereka muslim yang taat," sanggah Pak Andi.


"Tapi Surya nggak cocok model begituan. Terus, sikap anak yang namanya Farhan itu menyebalkan. Lebih tepatnya menyeramkan. Serasa menghadapi dosen penguji waktu sidang skripsi."


Pak Andi terdiam. Pria itu tidak menanggapi lagi perkataan sang keponakan.


Sepertinya Surya tidak cocok. Besok aku harus memberi tahu soal ini kepada Mas Haris. Mudah-mudahan ada calon yang lebih baik dan Via mau menerima.


***


Di kediaman dokter Haris, Via tengah bercakap-cakap dengan orang tua angkatnya.


"Mungkin yang disampaikan oleh Pak Andi tadi mengejutkan kamu. Bunda yakin, kamu belum berpikir untuk menikah dalam waktu dekat. Iya, kan?" ucap Bu Aisyah.


Via menunduk. Saat ini ia tengah menghadapi dilema.


"Ini memang berat untuk seusiamu. Namun, kamu tidak usah khawatir. Selalu ada tempat untuk kita bersandar saat ada masalah. Allah tentu yang utama karena Dia adalah zat yang menguasai kita, tempat kita bergantung. Dalam keadaan apa pun, selalu mohon pertolongan kepada-Nya. Allah telah berfirman dalam Surat Al Ghafir ayat 60, mintalah kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan. Kita wajib meyakininya," kata Pak Haris.


"Iya, Ayah.," jawab Via lirih.


"Dan kami insya Allah siap menjadi sandaranmu di dunia. Janganlah menganggap kami orang lain. Kamu jangan sungkan untuk mengadukan masalah yang kamu hadapi." Bu Aisyah menambahkan.


"Soal pernikahan, sekali lagi tidak ada pemaksaan untukmu. Juga dalam menentukan calon suamimu," sambung Pak Haris.


"Seandainya Via menikah, Via juga bingung dengan siapa. Selama ini Via tidak pernah pacaran. Bukankah itu tidak boleh?"


Pak Haris dan Bu Aisyah tersenyum.


"Kalau keponakan Pak Andi tadi, bagaimana?" goda Pak Haris.


"Mas Surya? Mm...maaf, kayaknya Via nggak srek. Dari penampilannya Via sudah kurang suka. Via tahu kalau tidak baik menilai seseorang dari penampilan. Tapi jujur saja, Via nggak suka dengan cowok yang rambutnya dicat apalagi bertato. Sekilas tadi Via lihat ada tato di lengannya." Via menunduk. Pipinya sedikit memerah.


Pak Haris dan Bu Aisyah tertawa. Pak Haris menatap istrinya penuh arti.


"Begini saja, kamu pikirkan dulu masalah mau tidaknya kamu menikah dalam waktu dekat. Mohonlah petunjuk-Nya. Kamu bisa sholat istikharah. Masalah jodohmu, serahkan juga kepada Allah. Sekarang, kamu istirahat!" kata Bu Aisyah lembut.


Via bangkit dari duduknya. Ia meminta izin ke kamar.


Setelah Via pergi ke kamar, Pak Haris mengajak istrinya menyusul masuk kamar. Di dalam kamar, mereka masih melanjutkan pembicaraan.


***


Bersambung


Semoga tidak bosan mengikuti kisah ini. Silakan berikan krisan di komentar. Terima kasih atas dukungan semua pembaca.


Besok insya Allah up 2 episode. Tapi episode 45 agak siang, ya. Nantikan dengan sabar. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2