SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Periksa Kehamilan


__ADS_3

Pendar kebahagiaan terpancar dari wajah pasangan suami-istri itu. Tidak hanya sorot mata yang berbicara. Bibir yang sebentar-sebentar dihias senyum pun pertanda pemiliknya dilanda kebahagiaan.


Hal itu tak luput dari perhatian orang lain yang tinggal di rumah mewah itu. Mereka bertanya dalam hati tentang apa yang tengah dialami oleh pasangan muda majikan mereka. Namun, untuk bertanya langsung tentu saja segan.


Farhan dan Via sengaja masih merahasiakan tentang kehamilan Via. Mereka ingin memastikan terlebih dahulu ke dokter sebelum memberi tahu orang lain.


Selesai sarapan, Farhan berencana mengantar Via ke rumah sakit. Ia sengaja memilih rumah sakit tempat ayahnya bekerja agar bisa langsung memberi tahu dokter Haris.


Namun, baru saja mereka selesai, Edi menerima panggilan telepon dari sekretaris Farhan.


"Ada apa, Tin?" tanya Edi tanpa basa-basi.


"Maaf, Pak, baru saja sekretaris Tuan Raka Putra Wijaya memberi tahu kalau Tuan Raka ingin bertemu Tuan Farhan nanti jam 10," jawab sekretaris yang bernama Tina.


"Kok mendadak? Apa sebelumnya sudah ada rencana pertemuan itu? Seingatku Tuan Raka akan bertemu Pak Farhan besok siang." Edi bertanya dengan nada dingin.


“Benar. Tapi Pak Raka hari ini kebetulan ada acara di Jogja. Makanya, beliau ingin pertemuan dengan Tuan Farhan dimajukan menjadi hari ini.”


Edi terlihat agak kesal. Ia baru saja diberi tahu kalau Farhan ada keperluan dengan Via dan ia ditugaskan menghandle tugas Farhan.


Namun, untuk pertemuan dengan Raka tentu tak bisa diwakilkan. Tuan Raka adalah seorang CEO. Tentu tidak sopan kalau hanya asisten sepertinya yang menemui.


“Maaf, Mas. Barusan ada telepon yang memberi tahu kalau Tuan Raka Putra Wijaya bermaksud memajukan jadwal pertemuan menjadi hari ini jam 10. Apa perlu saya menemui beliau dulu untuk mengatur ulang schedule?” ucap Edi.


Farhan terlihat ragu. Ia sudah tak sabar memastikan kehamilan Via. Namun, pertemuan dengan Raka juga penting.


“Sudahlah, temui dulu Tuan Raka. Kita perginya nanti siang saja habis zuhur.” Via menyela.


“Tapi, kita kan …” Farhan bermaksud memprotes Via.


“SSstt, coba lihat, nih. ternyata hari ini jadwal poli mundur jam 2 siang. Jam segitu Hubbiy udah selesai meetingnya, kan?’ bisik Via sambil menunjukkan layar ponselnya.


Farhan memperhatikan sebentar. Lalu, ia menoleh ke Edi.


“Sanggupi saja! Nanti aku temui Tuan Raka sesuai permintaan. Tolong siapkan berkas-berkasnya. Tapi, setelah meeting dengan Tuan Raka, aku pulang. Mas Edi handle tugas di kantor nanti siang,” kata Farhan.


Edi mengangguk. Ia kemudian menghubungi si sekretaris untuk menyampaikan keputusan Farhan.


“Hubbiy berangkat, sana! Via di rumah saja,” ucap Via.


“Tapi, Cinta nggak boleh ngapa-ngapain! Istirahat, ya! Jaga diri baik-baik!” Farhan mengatakan dengan nada tegas.


“Iya, Via paling ngetik tugas yang belum selesai sama ngecek perkembangan Azrina. Hubbiy ganti baju dulu!”


Farhan menunduk memperhatikan pakaiannya. Ia baru sadar kalau memakai t-shirt karena semula tidak berniat ke kantor.


Via beranjak dari duduknya. Ia menuju kamar untuk menyiapkan pakaian Farhan.


Seperempat jam kemudian, Farhan sudah rapi. Jas berwarna biru, warna favoritnya, membuat ia tampak berwibawa. Kemudian, ia berpamitan kepada sang istri. Lagi-lagi pesannya melarang Via melakukan berbagai aktivitas.


“Iya, Hubbiy. Kenapa Hubbiy jadi kayak emak-emak, sih?” gerutu Via.


“Kan khawatir sama keadaan istri yang cantik juga calon anak yang ada di sini.” Farhan membungkukkan badan lalu mengecup perut Via yang masih rata.


Via tertawa geli. Ia menolak kepala Farhan agar menjauh dari perutnya.


“Sudah, ah. Kasihan Mas Edi nunggu.”


Dengan berat hati, Farhan melepaskan pelukan dan ciuman kepada Via. Setelah berpamitan, Farhan bergegas turun.


Via melambaikan tangan kanannya kepada Farhan. Begitu Farhan keluar dari rumah, Via kembali ke kamar.


Via mengambil laptopnya. Ia mulai melanjutkan tugas kuliah yang belum selesai.


Via hanya beristirahat untuk salat duha. Setelahnya, ia kembali tenggelam bersama laptop bergambar apel.

__ADS_1


Ia menghentikan aktivitasnya saat terdengar notifikasi pesan dari ponselnya. Ia segera membuka.


Hubbiy


[Meeting sudah selesai. Setelah salat zuhur, Mas jemput. Bersiap, ya!]


Via tersenyum membacanya. Ia pun mengetik balasan.


[Ok. Via mau siap-siap salat. Insya Allah saat Hubbiy pulang, Via udah siap.]


Diletakkannya ponsel itu ke tempatnya. Ia keluar menuju musala.


Mbok Marsih mengingatkan agar Via makan siang kalau mau bepergian. Namun, perut Via menolak menu yang tersedia di meja makan.


Via hanya mengganjal perutnya dengan selembar roti tawar yang dioles selei kacang.


Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan roti. Via segera berganti pakaian.


Baju warna soft ia pilih karena ia memang tidak menyukai warna mencolok. Setelah dirasa cukup, ia turun.


Baru saja kakinya menginjak lantai 1, Farhan sudah muncul. Seulas senyum mengembang di bibir Farhan begitu melihat istri cantiknya yang sudah siap berangkat




"Pergi sekarang, yuk! Pamit sama Bu Inah dan Mbok Marsih, ya!"


Via mengangguk. Setelah berpamitan, mereka meluncur menyusuri jalan menuju rumah sakit. Farhan sengaja mengemudikan sendiri mobilnya.


Kurang dari setengah jam, mereka sampai di rumah sakit.


"Cinta sudah daftar online, kan?" tanya Farhan memastikan.


Farhan menurut. Mereka mendaftar ulang dan menunggu giliran di ruang tunggu bersama pasien lain.


"Rata-rata usia kandungan mereka sudah lebih dari 5 bulan sepertinya. Perutnya buncit. Eh, 4 atau 5 bulan lagi aku seperti mereka, dong," pikir Via.


"Mikir apa, sih? Kok dari tadi mengelus perut? Lapar? Tadi belum makan, ya?" Farhan memberondong dengan Via.


"Enggak, bukan begitu. Via lagi bayangin perut Via jadi gendut," kata Via.


"Pasti terlihat seksi," goda Farhan.


Via memajukan bibirnya. Farhan membiarkan hal itu. Ia hanya terkekeh pelan.


"Tuh, dipanggil. Yuk, masuk!" ajak Farhan.


Pria itu memegang lengan sang istri, membantunya berdiri. Lalu, dengan penuh perhatian ia membimbing Via masuk ruangan.


"Serasa orang jompo, deh. Hubbiy lebay kalau begini," batin Via.


"Lho, Mas Farhan? Kenapa nggak janjian saja? Kok seperti orang lain?" seru dokter Linda.


"Istri saya maunya begitu. Ya, sudah," ujar Farhan dengan nada pasrah.


"Oke, kita cek kondisi umum dulu," kata dokter Linda ramah. Ia memberi kode kepada perawat untuk melaksanakan tugasnya.


"Apa yang dirasakan?" tanya dokter Linda kepada Via.


"Kemarin pagi dan tadi pagi saya cek urine hasilnya positif. Tapi saya masih ragu," jawab Via.


Dokter yang berusia sekitar 40 tahun itu tersenyum. Ia kembali menanyai Via tentang riwayat menstruasi dan kesehatannya.


"Oke. Silakan tiduran ya! Kita coba lihat menggunakan USG perut."

__ADS_1


Perawat dengan sigap mengoles gel ke perut Via. Kemudian, dokter mulai menggerakkan


transducer di atas perut Via untuk mendapat citraan yang diinginkan.


"Mas Farhan dan Nyonya, di layar monitor tampak kantung janin. Usianya diperkirakan 7 minggu. Besar janin seukuran ceri. Tapi, organ-organ tubuh seperti mulut dan lidah sebetulnya sudah terbentuk. Ginjal, usus, pankreas juga sudah. Lengan dan kaki juga mulai terbentuk. Hanya, belum jelas. Tiap menit terjadi penambahan 100 sel baru. Menakjubkan, bukan?" papar dokter Linda.


Farhan ternganga mendengar penjelasan dokter. Ia tidak pernah membayangkan begitu luar biasanya perkembangan janin. Dan saat ini, ia melihat janin dalam perut wanita yang amat ia cintai. Janin itu adalah buah cintanya.


Tak terasa air mata Farhan menggenang. Haru dan bahagia bergulat dalam dirinya.


"Mas Farhan sudah memberi tahu dokter Haris?" tanya dokter Linda.


"Be--belum, dok. Kami belum ngasih tahu karena belum yakin," jawab Farhan sedikit gugup.


Via menatap lekat suaminya. Ia menemukan ada yang beda dengan mata Farhan. Ya, mata itu sedikit basah.


"Hubbiy menangis?" bisik Via sambil merapikan pakaiannya.


"Eh, enggak. Ini...ini karena Mas sangat bahagia. Sebentar, Mas ngasih tahu ayah, ya."


Farhan segera mengirim pesan kepada ayahnya.


[Kami sedang di rumah sakit, di ruangan dr. Linda.]


Farhan tersenyum ketika melihat pesannya terbaca tak lama setelah ia kirim.


"Dok, saya kan belum lama ini tifus. Apa itu berpengaruh terhadap perkembangan janin?" tanya Via sedikit khawatir.


"Tifus memang bisa berpengaruh buruk terhadap kehamilan. Apalagi kalau sampai terlambat dalam menangani. Bisa mengakibatkan penyebaran infeksi pada rahim, bahkan keguguran."


Raut muka Farhan berubah cemas. Ia menatap dokter Linda seolah sedang minta tolong.


"Nyonya Farhan harus menerapkan pola hidup sehat agar terhindar dari tifus berulang. Selalu konsumsi makanan dan minuman yang matang, juga higienis. Seringlah cuci tangan menggunakan sabun, juga harus cukup istirahat."


"Berarti kalau menerapkan pola hidup sehat, kemungkinan kandungan istri saya tidak terpengaruh oleh bakteri?" Farhan meminta kepastian dokter.


"Insya Allah aman. Tadi kami sudah mengambil sampel darah Nyonya Farhan untuk diuji di lab."


"Iya, dok," jawab Via lirih.


"Ini saya buatkan resep vitamin dan penambah darah yang dapat ditebus di apotek. Di apotek sini juga bisa. Ada hal lain yang akan ditanyakan?"


"Sementara cukup, dok," sahut Via mantap. Ia beringsut turun dari tempat pemeriksaan.


"Kalau tidak ada keluhan apa pun, silakan periksa ulang lagi bulan depan. Tapi kalau ada keluhan atau nanti hasil lab menunjukkan adanya masalah tolong secepatnya ke sini."


Via mengangguk paham. Setelah menerima resep, Farhan menggandeng tangan Via keluar.


"Bagaimana hasilnya?" tanya seorang pria mendadak saat Via baru di depan pintu.


"Alhamdulillah, ayah mau jadi kakek," jawab Farhan. Ia tak lagi bisa menutupi rasa bahagianya. Dipeluknya sosok ayah yang berdiri di hadapannya.


***


Bersambung


Meski belum bagus, author mohon dukungan readers untuk memberikan like dan komen, juga vote.


Sambil nunggu up, kalau ingin tahu kehidupan Tuan Raka Putra Wijaya silakan baca novel ini.



Silakan baca juga karya novelis kece ini, seorang CEO yang awalnya arogan akhirnya jatuh cinta kepada istrinya yang begitu setia.


__ADS_1


__ADS_2