SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Keputusan Orang Tua Meli


__ADS_3

Azka tersenyum malu. Ia tidak menjawab ledekan kakeknya. Ia justru memperhatikan getaran dari saku celananya. Tangannya segera mengambil benda pipih dari saku.


Ada panggilan dari nomor tak dikenal. Azka menautkan alisnya. Dengan sedikit ragu, ia menggeser tombol hijau.


“Assalamualaikum,” ucap Azka.


Tak ada jawaban dari seberang. Azka hanya melihat wajah seorang pria berusia sekitar 40-50 tahun. Azka pun mengulang salamnya. Namun, video call tersebut justru berakhir.


“Siapa yang menelepon? Meli?” tanya Eyang Probo seraya mengulas senyum.


Azka mengangkat bahunya. Ia memang tidak tahu siapa orang tersebut.


“Kau tidak mengenalnya?” tanya Eyang Probo lagi.


“Enggak, Eyang. Kontaknya tak ada di daftar. Azka belum pernah lihat orang itu. Tapi, entah kenapa tatapannya mengingatkan Azka kepada seseorang. Rasanya tatapan itu tak asing.”


“Mungkin teman sekolahmu,” tebak Eyang Probo.


“Bukan. Sepertinya usianya sekitar 40-50 tahun,” sanggah Azka.


“Ya sudah, tak perlu dipikir terlalu jauh! Kalau dia memang ada perlu, pasti akan telepon kamu lagi.”


“Iya, Eyang.”


Eyang Probo kembali melanjutkan pembicaraan tentang masa depan Azka.Ia menanyai banyak hal tentang Meli.


“Jadi, dia ambil ekonomi? Berarti dia bisa bantu kakakmu. Nggak usah cari kerja! Kencana dan Wijaya Kusuma masih butuh tenaga fresh untuk mengembangkan usaha. Peluang masih terbuka lebar. Apalagi, bantuan dari keluarga Wijaya sangat berarti. Tuan Adi dan puteranya terus membantu Via mengembangkan Wijaya Kusuma,” tutur Eyang Probo.


“Berarti Mbak Via kaya raya, ya?” gumam Azka.


Eyang Probo tertawa. Ia gemas dengan pemikiran cucu keduanya.


“Tentu saja. Kau kan tinggal bersama om-nya. Tentu kamu bisa menaksir berapa kekayaannya. Nah, Via tak jauh berbeda.  Dia kan juga sebagai pemegang saham di beberapa perusahaan Wijaya Grup.”


Azka menggelengkan kepala. Ia tak membayangkan sosok Via yang ia kenal dalam kondisi  terpuruk karena kehilangan sandaran, kini menjelma menjadi wanita tangguh.


“Tapi, bukan jumlah kekayaan Via yang membuat Eyang kagum. Bukan pula keberhasilannya mengembangkan Wijaya Kusuma hingga hampir sama seperti saat papanya masih ada,” kata Eyang Probo.


Azka mengerutkan dahinya. Ia belum mengerti arah pembicaraan sang kakek.


“Eyang kagum sikap rendah hatinya. Ia selalu tampil sederhana. Padahal, ia pasti mampu membeli barang-barang branded. Dia juga ringan tangan membantu orang lain, termasuk Edi dan Mira yang bukan keluarganya. Ia juga menjadi donatur tetap beberapa yayasan sosial,” lanjut Eyang Probo.


“Wah, berarti Azka besok bisa minta dukungan dana untuk lamaran dan resepsi, dong!” Azka mengembangkan senyum manisnya.


“Haish, kau ini!” Eyang Probo menoyor sang cucu.


“Lho, mereka tidak sayang mengeluarkan uang ratusan juta untuk membiayai pernikahan Mas Edi dan Mira, masa sama adiknya malah enggak?” Azka berargumen.


“Kau kira oang tuamu juga Eyang tidak sanggup membiayai apa?” gerutu Eyang Probo.


Azka terkekeh. Ia yakin kakak dan iparnya bukan orang pelit. Pasti mereka dengan senang hati membantunya.  Meski dirinya dan kakak satu-satunya  sering bertengkar, itu sebatas ucapan.


“Pokoknya, Eyang mau ikut kalau kalian ke Jember,” kata Eyang Probo yang mirip anak kecil yang tak mau ditinggal orang tuanya.


Lagi-lagi Azka terkekeh. Ia merasa lucu melihat kelakuan kakeknya.


Azka pulang sebelum azan ashar. Ia heran melihat bundanya sudah berada di rumah.


“Bunda kok sudah pulang? Bukannya tadi pagi nyuruh Azka menjemput Bunda jam 4 sore?” ucap Azka heran.


“Ada urusan penting. Tadi ayah yang menjemput Bunda,” terang Bu Aisyah.


Azka heran, tak mengerti  kedua orang tuanya pulang awal secra mendadak. Ia pun tak melanjutkan usaha untuk menjawab rasa penasaran. Ia memilih membersihkan diri, bersiap ke masjid.

__ADS_1


Sepulang dari masjid, ia melihat mobil Via terparkir. Ia heran. Saat bertanya kepada ayahnya, dokter Haris hanya mengangkat bahu.


Ternyata, Via tak ada di dalam. Yang Azka jumpai justru Pak Nono yang baru datang dari musala.


“Pak Nono dari masjid? Kok kita nggak ketemu?” tanya Azka.


“Saya di musala, Mas. Kalau ke masjid pasti nggak keburu.”


“Pak Nono datang bersama Mbak Via?”


“Iyalah. Mas Azka belum ketemu?” Pak Nono balik bertanya.


‘Belum. Kalau sudah ketemu, Azka nggak nanya-nanya.”


Azka  akan melangkah masuk lagi. Namun, ia mengurungkan niatnya melihat mobil Farhan memasuki halaman rumah.


“Ada apa, nih? Tumben Mas Farhan juga datang,” gumam Azka.


Cowok itu menyambut kedatangan kakaknya dengan pertanyaan. Sayangnya, Farhan  mengabaikan penasaran Azka. Ia justru berjalan ke kamarnya.


Karena tidak mendapat jawaban, Azka memutuskan masuk ke kamar. Ia mengambil gawainya, menatap lekat benda pipih itu. Hingga menjelang maghrib, ia tidak keluar kamar.


Saat keluar, Azka lebih kaget lagi. Ia mendapati keluarganya berkumpul di ruang keluarga, termasuk Eyang Probo. Ayahnya pun ikut. Entahlah, ang ayah libur praktik atau melimpahkan kepada dokter Rudi patnernya.


“Sini, Ka! Kita ngobrol sebentar!” ajak dokter Haris. Lambaian tangan pria itu menegaskan kalau Azka harus segera duduk.


Meski masih dengan ekspresi kebingungan, Azka menurut. Ia duduk di samping kakeknya.


“Ka, Meli sudah memberi kabar tentang keputusan ayahnya,” tutur Pak Haris tenang.


“Ba—bagaimana keputusan mereka? Kok cepat sekali?” Azka bingung.


“Bukannya itu yang kamu harapkan?” ucap Farhan sambil menatap tajam Azka.


“Wah, berarti Meli mengabaikan kamu. Atau, mungkin dia kasihan ke kamu , takut kamu tidak siap mengetahui keputusan ayahnya.” Farhan masih alam mode menggoda adiknya.


Wajah Azka memucat. Ia menduga-duga hal buruk karena ucapan Farhan. Lagi pula yang dikatakan Farhan memang masuk akal.


“Meli memberi kabar kepada Bunda sekitar 3 jam yang  lalu. Ia mengirim pesan kepada Bunda, kalau ibunya sudah memberikan lampu hijau sejak kemarin.” Bu Aisyah berkata dengan tenang.


“Alhamdulillah!” seru Azka senang.


“Tapi, ayahnya tidak demikian,” lanjut Bu Aisyah.


Wajah ceria Azka kembali memucat. Senyumnya kembali luruh, dadanya bergemuruh.


“Ayahnya memiliki pertimbangan-pertimbangan hingga tadi siang memutuskan kalau....” Bu Aisyah sengaja menjeda ucapannya.


“Kalau apa, Bunda?” tanya Azka tak sabar.


Bu Aisyah melirik Pak Haris yang memasang wajah datar. Farhan dan Via pun tak berbeda. Hal itulah yang membuat Azka tambah berdebar.


“Ayah Meli tidak keberatan kau melamar dan menikahi putrinya,” jawab Bu Aisyah dengan diakhiri senyuman.


“Alhamdulillah!” seru Azka untuk kedua kalinya. Tak terasa tubuhnya melorot ke lantai hingga bersimpuh.


Kelima orang lainnya terkekeh melihat reaksi Azka.


“La—lalu kapan kita ke Jember?” Azka bangkit dan kembali ke tempat duduk semula.


“Kamu minta restu dulu sama Eyang! Bukankah kamu belum mendapat restu dari Eyang?” canda Pak Haris.


“Sudah, kok. Tadi kita sudah ngobrol banyak dan Eyang setuju. Ya, kan Eyang?” ucap Azka manja.

__ADS_1


Eyang Probo hanya tersenyum. Ia mengacak rambut sang cucu.


“Wah, gercep juga kau, Dek,” komentar Via.


Azka hanya tersenyum malu. Namun, ia tak bisa menyembunyaikan rona kebahagiaan.


“Kita ke Jember besok,” kata Pak Haris.


“Hah, besok?” Azka terlonjak kaget.


“Bukannya kamu mau cepat-cepat?” ejek Farhan.


Azka menatap ayah bundanya bergantian dengan wajah kebingungan.


Bu Aisyah mengangguk dan berkata,”Mumpung besok libur. Atau kamu mau minggu depan saja?”


“Aaa, be—sok saja. Tapi, seserahan giman? Bukankah perlu barang-barang macam baju, sepatu, kosmetik, ....”


“Malam ini kamu belanja!” sahut Farhan cepat.


“Hah? Aku yang harus belanja? Mbak Via, temenin Azka belanja, ya! Azka kan nggak tahu. Mana waktunya mepet banget,” rengek Azka.


“Ish, senang banget goda adik,” ucap Via sambil mencubit pinggang Farhan pelan.


Farhan terkekeh geli. Ia memang senang menggoda Azka.


“Ayah dan Farhan, bikin rencana perjalanan kita ke Jember! Kita berangkat jam berapa, naik apa, juga nginap di mana. Minta pendapat Eyang. Azka, ikut kami!” perintah Bu Aisyah tegas. Ia bangkit dari duduknya sambil memberi isyarat kepada Via dan Azka untuk mengikutinya.


Ternyata, Bu Aisyah mengajak ke salah satu kamar tamu. Ia membuka pintu kamar. Azka melongo melihat yang ada di kamar.


“Kapan Bunda belanja? Kok sudah siap semua?” ucap Azka heran.


Di atas ranjang tampak berbagai kotak hantaran berjajar. Azka memperhatikan benda itu satu per satu.


“Belum lengkap, Dek. Ini baru yang diserahkan ke Meli. Untuk makanan, belum. Nanti malam baru akan diantar ke sini,” jawab Via.


Azka menatap kakak iparnya. Ia yakin kalau Via yang menyiapkan itu semua.


“Mbak Via yang belanja ini semua?”


“Kalau bukan kakak iparmu, siapa lagi? Bunda tak paham beginian. Bunda juga tidak tahu ukuran Meli,” sahut Bu Aisyah.


“Kapan Mbak Via membelinya? Kok bisa secepat ini?”


Via tertawa melihat kebingungan Azka.


“Dek, Azrina itu sudah cukup lengkap. Gamis dan mukena premium sudah tersedia. Aku cuma pesan barang-barang yang kumaksud. Kebetulan tenaga tambahan yang baru punya keahlian menghias hantaran. Yang tidak ada di Azrina cuma perhiasan, skincare, dan kosmetik. Aku memesannya di toko langgananku sekaligus menta dihias. Kamu suka dengan perhiasannya?” tutur Via.


“Suka banget. Sedehana tapi elegan. Mbak Via emang top!” Azka mengacungkan ibu jarinya.


Bu Aisyah mengeajak keduanya kembali ke ruang keluarga setelah mengecek kekurangan hantaran.


“Bagaimana rencana esok?” tanya Bu Aisyah.


“Kita naik mobil, Bunda. Kalau menggunakan kereta atau pesawat, repot membawa hantaran yang sudah disusun itu. Mungkin nanti kita bawa sopir cadangan karena perjalanan sangat jauh, 500-an kilometer.”


Bu Aisyah dan Via mengangguk setuju


***


Bersambung


Tunggu keseruan lamaran keluarga Azka, ya! Ikuti terus kolaborasi SATB dan CS1. Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komentar di setiap episode! Terima kasih atas dukungan Kakak.

__ADS_1



__ADS_2