SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Eyang Sakit


__ADS_3

“Tadi Mas Edi bilang kalau Mas Kiki lagi jatuh cinta. Memang jatuh cinta kepada siapa?” tanya Mira kepo.


“Temanmu. Kalau kamu setuju, kita bantu deketin mereka,” jawab Edi tanpa menoleh.


“Siapa yang Mas Edi maksud?”


“Salsa. Tadi dia mengakui kalau menyukai Salsa.”


Mira tampak terkejut. Sepertinya ada sesuatu yang membebani pikirannya. Namun, sepertinya Mira ragu untuk mengungkapkannya.


“Kok diam? Apa menurutmu Kiki tidak cocok sama Salsa?” tanya Edi setelah tidak ada respon dari Mira.


“Aaa—bukan, bukan begitu.” Mira menjawab dengan sedikit gugup.


“Lalu?”  kejar Edi.


Mira mengambil nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri.


“Salsa sebenarnya sedang patah hati.”


Edi tidak menanggapi. Ia membiarkan Mira bercerita dengan lengkap.


“Salsa menyukai Mas Azka. Sebenarnya sudah lama. Alasan dia kuliah pun salah satunya memantaskan diri bersanding dengan Mas Azka. Tapi, kedatangan Meli memupuskan harapannya. Ia sempat sakit gara-gara cintanya bertepuk sebelah tangan.”


Edi masih diam menunggu kelanjutan penuturan Mira.


Setelah menarik nafas panjang lagi, Mira melanjutkan, “Sampai sekarang, hatinya masih terluka. Dia minder, Mas. Salsa merasa tidak pantas dicintai. Saat pernikahan Mas Azka waktu itu, Salsa bertemu seorang cowok. Sepertinya, cowok itu juga sedang patah hati karena pernikahan Mas Azka dan Meli. Dia sering melihat Meli dengan tatapan gimana , gitu.”


“Salsa suka sama cowok itu? Siapa namanya?” tanya Edi.


Mira menggelengkan kepala. Ia melirik Edi, suaminya yang masih menatap ke depan sambil memegang kemudi.


“Kami juga nggak tahu siapa cowok itu,” jawab Mira.


“Lalu, apa hubungannya dengan Salsa?” kejar Edi.


“Salsa punya ketertarikan. Namun, ia  segera memupusnya. Ia tidak mau dekat dengan cowok. Takut patah hati.”


“Kalau cowoknya beneran sayang, dia punya niat baik, tentu dia datang meminta dengan baik-baik. Dia tidak akan menyakiti hati wanita yang disayanginya.”


Mira tersenyum. Hatinya bagai disiram es.


“Yang seperti itu kan tidak banyak. Salsa belum yakin masih ada pria seperti itu yang menyayanginya dengan tulus.”


“Berarti aku manusia langka, ya?” gumam Edi.


Mira terkekeh. Ia paham maksud Edi.


“Patut dijadikan koleksi museum dong!” celetuk Mira.


“Sembarangan!” sahut Edi sambil mengacak jilbab mira.


“Ih, jilbab Mir kan jadi berantakan,” gerutu Mira.


Edi melirik istrinya sambil tersenyum lalu menanggapi, “Salah sendiri menggoda. Masa aku pantas jadi koleksi museum. Eh, menurut kamu, niat Kiki kita bantu nggak?”


Mira terdiam lagi. Ia seperti sedang berpikir.


“Menurut Mira, sebaiknya Mas Kiki bersabar. jangan dekati Salsa dulu! Biarkan dia menyembuhkan lukanya, memulihkan kepercayaan dirinya. Dia bukan tipe orang yang bisa move on dengan cepat kayak aku.”

__ADS_1


Edi menoleh ke Mira. Ia menatap Mira dengan tatapan heran sesaat. Lalu, ia kembali fokus ke depan.


“Maksud kamu?”


“E—ma—maksud aku, aku bukan tipe orang yang mudah terpuruk kemudian sulit bangkit lagi,” jawab Mira.


“Hampir saja aku keceplosan. Aku nggak mau Mas Edi tahu kalau aku pernah naksir Mas Farhan.”


“Aku kira kamu pernah patah hati seperti Salsa. Seandainya pernah, aku tak masalah. Yang penting kamu jaga hatimu untukku,” ucap Edi sembari menginjak pedal rem. Mereka sudah sampai istana mungil yang asri.


Mira tidak segera turun. Setelah membuka seat belt, ia menggeser posisi duduknya menghadap Edi. Ia menatap lekat wajah sang suami.


Merasa diperhatikan, Edi pun melakukan yang sama. Setelah seat belt terlepas, ia menyerongkan posisi duduknya. Mata mereka saling beradu. Entah siapa yang mendahului, bibir sepasang suami istri itu telah beradu, membelit satu sama lain.


*


Getaran gawai berulang kali mengusik tidur Pak Haris. Pria itu bangkit mengambil benda yang terus-menerus bergetar. Ternyata memang ada panggilan.


“Assalamualaikum,” ucap Pak Haris dengan suara serak.


....


“Iya, saya Haris. Maaf, ini dari siapa?”


.....


“Apa? Ya bawa ke sana! Saya segera menyusul.” Suara Pak Haris terdengar panik.


....


“Waalaikumsalam.”


“Ay, bangun,” ucapnya sambil menepuk lembut kaki Bu Aisyah.


Dengan tiga kali tepukan, Pak Haris sudah berhasil membuat Bu Aisyah terjaga. Matanya mengerjap beberapa kali menahan silau lampu kamar.


“Lho, kok sudah rapi? Ini jam berapa?” tanya Bu Aisyah dengan suara serak khas orang bangun tidur.


“Baru jam 2. Ayah mau ke rumah sakit.”


“Ada pasien gawatkah?”


“Iya, Eyang Probo. ART tengah membawa beliau ke rumah sakit.”


“Bunda boleh ikut?” tanya Bu Aisyah penuh harap.


“Besok saja. Sekarang biar Ayah yang ke sana. Nanti Ayah kabari kondisi Eyang. Ayah berangkat dulu! Jaga diri baik-baik!”


Bu Aisyah mengangguk. Ia mencium tangan kanan sang suami yang dibalas kecupan di kening.


Tak lama kemudian, terdengar suara mesin mobil yang menjauh. Bu Aisyah segera menutup pintu. Ia tidak kembali ke kamar, tetapi menuju musala keluarga. Usai salat sunah, dipanjatkannya doa termasuk untuk kesembuhan sang ayah mertua.


Sementara itu, begitu sampai rumah sakit, dokter Haris langsung menuju IGD. Kedatangannya hanya berselang lima menit dari kedatangan ayahnya. Dokter jaga pun mempersilakan dokter Haris menangani Eyang Probo.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter Haris keluar mencari ART yang mengantarkan ayahnya.


“Bi Sumi, apa akhir-akhir ini ayah tidak teratur makannya?” tanya dokter Haris kepada perempuan berusia sekitar 40 tahun.


“Ndoro sepuh dahar teratur, kok. Cuma, menunya memang lebih sering bersantan dan berbahan daging. Beliau jarang kerso dahar sayuran hijau dan buah, Pak dokter,” jelas Bi Sumi. (dahar\= makan; kerso \= mau)

__ADS_1


Pak Haris menghela nafas panjang. Sepertinya ada beban berat menggelayuti pikirannya.


“Maafkan saya, Pak dokter,” ucap Bi Sumi lirih.


“Bi Sumi tidak bersalah karena hanya mengikuti kemauan ayah. Ya sudah, Bi Sumi pulang saja sama sopir. Setelah hasil lab keluar, kemungkinan ayah dibawa ke ICU. “


Perempuan itu mengangguk. Ia menuruti perkataan dokter Haris untuk pulang.


Pak Haris kembali ke bilik pemeriksaan ayahnya. Mata pria berusia lebih dari 70 tahun itu masih tampak terpejam.


Dokter Haris berdiskusi sebentar dengan dokter jaga dan perawat. Setelah semua menyampaikan hasil pemeriksaan, Eyang Probo dipindahkan menuju ruang ICU.


Dokter Haris menatap ayahnya dengan tatapan sendu. Ada perasaan bersalah menyusup di hati. Ia tak mendampingi sang ayah di usia senja.


Sekali lagi dokter senior pemegang jabatan kepala rumah sakit itu memeriksa kondisi Eyang Probo. Setelah yakin, ia keluar menemui petugas jaga.


“Mbak, saya titip ayah saya,” ucapnya.


“Siap, dok,” jawab seorang gadis berusia sekitar 25 tahun.


Pak Haris melangkahkan kaki menuju musala rumah sakit. Masih ada waktu untuk melaksanakan qiyamulail. Sambil berjalan, ia mengetikkan pesan lalu dikirim kepada istri dan anak-anaknya.


Lima menit berselang, Pak Haris sudah berada di bangunan berukuran 8 X 10 meter. Ia larut dalam dialog panjang bersama Sang Khalik.


Sementara di kediaman Via, ibu muda itu baru menidurkan kembali buah hatinya yang terbangun karena haus. Ia melihat ada pesan masuk di gawai Farhan. Ia pun membawa benda pipih itu ke pemiliknya yang tengah membaca kitab suci.


Via duduk di samping Farhan. Ditunggunya sang suami menyelesaikan bacaannya.


“Ada apa, Cinta? Kok bawa HP ke sini?” tanya Farhan sambil menutup Al Quran.


“Via lihat ada pesan dari ayah. Via yakin itu penting karena tidak biasanya ayah mengirim pesan jam segini.”


Farhan menerima benda miliknya. Jemarinya membuka layar dan membaca pesan sang ayah.


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun,” bisiknya.


Meski lirih, Via masih dapat mendengar bisikan Farhan. Ia menatap sang suami dengan penuh tanda tanya.


“Apa yang terjadi?” tanya Via.


“Eyang Probo sakit. Tadi sekitar jam 2 dibawa ke rumah sakit dan sekarang dirawat di ruang ICU.”


“Sakit apa?” Via kembali bertanya.


“Ayah tidak menjelaskan. Nanti saja kutanyakan langsung kepada ayah.”


“Hubbiy kapan mau ke rumah sakit?”


“Setelah salat subuh. Cinta nggak usah ikut, ya. Kasihan Zayn kalau ditinggal jam segini. Nanti saja agak siang kalau mau nengok,” saran Farhan.


Via mengangguk setuju. Dalam hati sebenarnya ia gelisah mengkhawatirkan Eyang Probo.


***


Ada yang kangen Azka? Meski LDR tetap mesra lo. Intip di novel CS1 Kak Indri, ya!


jangan lupa terus dukung kali dengan meninggalkan like dan komentar.


Barakallahu fiik

__ADS_1



__ADS_2