
Usai meletakkan gelas, Via duduk di sofa lalu menghubungi Farhan.
"Assalamualaikum, Cinta," terdengar suara lembut dari gawai Via.
"Waalaikumsalam, Hubbiy. Eyang bagaimana? Stabil?"
"Iya, stabil," jawab Farhan.
"Alhamdulillah," ucap Via.
Baru saja Via akan menyampaikan berita dari Kiki, Farhan sudah mendahului.
"Cinta, papa Doni setuju Doni segera menikahi Dini, lo!"
"Alhamdulillah. Eh, memang Doni langsung ngomong ke papanya? Cepat amat?" Via terkejut.
Terdengar suara tawa renyah Farhan. Via membelalakkan matanya, mengira Farhan bercanda.
"Ini serius, Cinta. Setelah Mas provokasi Doni sesuai permintaan istri tercinta, papa Doni keluar. Kami ngobrol tentang pernikahan. Eh, papa Doni sependapat dengan Mas, Doni sebaiknya segera menikah," tutur Farhan.
"O, begitu. Alhamdulillah, niat baik mendapatkan jalan baik dan mudah," sahut Via.
"Iya, benar."
"Ada yang mau Via sampaikan. Tadi Kiki menelepon, memberi tahu kalau anak dari ART Eyang Probo benar disekap anak buah Rahardian di tempat terpencil. Penjagaan di sana sangat ketat."
"Berarti perempuan itu jujur. Laly, apa tindakan Kiki selanjutnya?" Farhan terdengar tak sabar.
"Kiki belum berbuat apa-apa. Dia berhitung kalau menyerang secara frontal, akan jatuh banyak korban."
"Kiki sudah memberi tahu Mas Edi?" tanya Farhan.
"Belum. Kiki minta kepastian dari aku, anak itu dibebaskan atau tidak," jawab Via.
"Cinta sudah memberikan jawaban?"
"Sudah. Via jawab harus. Via mau anak itu kembali ke ibunya. Tapu, resikonya terlalu besar."
"Coba nanti Mas bicarakan dengan Mas Edi."
"Saran Kiki, kita minta bantuan Om Candra. Beliau memiliki anak buah yang handal untuk masalah seperti ini," kata Via.
"Oke, Mas bicarakan dengan Mas Edi dulu, ya! Sekarang Cinta istirahat dulu. Assalamualaikum." Farhan menutup pembicaraan.
"Waalaikumsalam."
Via menyimpan gawainya. Ia kembali membuka laptopnya, mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda.
Satu jam kemudian, barulah ia bersiap tidur. Sebelum tidur, ia menyempatkan diri mengirim pesan kepada sang suami agar tetap menjaga kesehatan disertai emoticon daun waru.
***
Edi mengetuk pintu ruangan Via diiringi salam. Setelah salam dijawab dan diizinkan masuk, barulah ia membuka pintu lalu melangkah masuk.
Via tengah memeriksa beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani. Karena Edi datang, ia menghentikan kegiatannya.
"Bagaimana, Mas Edi?" tanya Via setelah mempersilakan Edi duduk.
"Soal penculikan anak ART itu. Saya semalam sudah berdiskusi dengan Mas Farhan," kata Edi.
"Oh iya, Mas Farhan memang belum memberi tahu soal itu."
__ADS_1
"Iya, tadi pagi Eyang Probo ingin ditemani ngobrol, jadi Mas Farhan tidak sempat menghubungi Mbak Via."
Via tersenyum. Ia merasa senang mendengar penjelasan Edi. Dalam benaknya, terbayang Eyang Probo yang bahagia ditemani cucunya.
"Iya, Mas. Tentu Eyang Probo senang. Insya Allah itu perkembangan ysng positif. O ya, bagaimana hasil pembicaraan dengan Mas Farhan?"
"Iya, kami sepakat untuk membebaskan anak itu. Kiki semalam juga saya minta datang."
Via mengangguk-angguk. Ia yakin sudah ada rencana yang matang.
"Kami sepakat meminta bantuan Tuan Candra. Ada tim yang biasa menangani kasus seperti itu," lanjut Edi.
"Bagaimana resikonya? Aku tidak ingin ada korban jiwa baik di pihak kita maupun pihak Rahardian. Mereka hanya menjalankan tugas. Meski Rahardian salah, jangan sampai kita mengorbankan nyawa anak buahnya. Apalagi orang-orang Om Candra," pinta Via.
Edi mengeluarkan catatan dari Kiki. Ia menjelaskan kepada Via rencana pembebasan sandera yang sudah mereka rancang semalam.
Via mendengarkan dengan saksama penjelasan Edi. Sesekali ia bertanya saat tidak paham.
Setelah Edi selesai, Via pun memberikan persetujuan. Ada beberapa saran dari Via untuk memperkecil risiko. Edi pun setuju.
"Kapan akan dilaksanakan?" tanya Via.
"Insya Allah dua hari lagi. Nanti kita kontak Tuan Candra. Kemungkinan nanti malam mereka datang. Kami harus berdiskusi langsung mematangkan rencana. Barulah esoknya lagi kita bertindak."
"Oke, aku setuju. Lalu, bagaimana nasib mereka setelah anak itu dibebaskan? Itu juga harus kita pikirkan," kata Via.
Edi terperangah. Ia melupakan hal itu.
"Mas Edi lupa?" tanya Via sambil tersenyum.
Edi tertunduk malu. Ia menyesali keteledorannya.
Edi mengangkat wajahnya. Ia salut akan pemikiran Via yang cepat memikirkan solusi.
"Ya, saya kira itu bisa jadi solusi yang tepat." Edi menyetujui.
"Baik. Nanti biar aku bicarakan dengan Om Candra. Mas Edi persiapkan saja keperluan untuk pembebasan anak itu," ujar Via.
Edi mengangguk. Ia segera undur diri, kembali ke ruangnya.
Sepeninggal Edi, Via tidak melanjutkan tugasnya mengecek dokumen. Ia menghubungi Pak Candra terlebih dahulu.
Saat itu, Pak Candra kebetulan tidak banyak pekerjaan. Ia dengan mudah menerima penjelasan Via.
Dalam hati Pak Candra salut dengan cara berpikir dan bertindak sang keponakan. Meski perempuan, Via cukup gesit.
Pak Candra pun menyetujui rencana Via. Ia mendukung penuh segala sesuatu yang sudah Via rancang. Ia pun segera memerintahkan anak buahnya untuk membantu Via.
Via tersenyum lega. Setidaknya, sudah ada titik terang penyelesaian masalah yang ia hadapi.
Semalam ia sudah mendapat bantuan dari kakeknya untuk menyelesaikan urusan dengan Rahardian. Kali ini om-nya mendukung pula.
Via merasa beruntung bertemu dengan keluarga papanya. Meski baru beberapa tahun, ikatan darah memang lebih kuat.
Baru saja Via akan kembali mengecek dokumen, notifikasi vicall dari gawainya.
Via kembali mengurungkan niatnya untuk mengecek dokumen. Ia menerima vicall Meli terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Mel."
"Waalaikumsalam. Via eh Mbak Via lagi sibuk, ya?" Terlihat Meli memamerkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
"Biasa, ni lagi melototi dokumen. Tumben nih, vicall," ucap Via.
Meli mengerucutkan bibirnya. Ia memasang mode merajuk.
"Ih, Mbak Via jahat. Bukannya kemarin sore aku vicall?"
Via terkekeh melihat iparnya. Ia semakin ingin menggodanya.
"Ah, iya, waktu itu kamu janjian sama Dek Azka, kan? So sweet...," ledek Via.
"Iiiih, bukan begitu. Aku nggak sengaja bareng Mas Azka vicall," protes Meli.
"Ah, sengaja juga nggak apa-apa. Namanya juga pasutri. Ada cinta yang bikin sehati," kata Via maaih bersemangat meledek Meli.
"Ah, Mbak Via ni! Aku sebel," rajuk Meli.
Via terkekeh melihat reaksi Meli. Ia senang sekali karena gadis itu memang cepat akrab.
"Aaah, aku jadi hampir lupa tujuan utamaku. Mbak Via sih godain aku terus," gerutu Meli.
"Memang ada apa?" Via bertanya dalam mode serius.
"Anjani mau nikah, nih. Mbak Via dan Mas Farhan bisa datang, kan? Ayolah, Anjani pasti senang kalau kalian bisa datang. Nanti aku kirim foto undangannya, ya," kata Meli bersemangat.
"Anjani menikah dengan Mario?"
"Iyalah, siapa lagi?"
Via terdiam sejenak. Ia sangat ingin menghadiri hari bahagia sahabatnya.
"Mel, aku nggak bisa janji. Saat ini begitu banyak masalah yang harus aku selesaikan," kata Via dengan raut sedih.
"Eyang belum sembuh, ya? Kalian harus menjaga Eyang," ucap Meli.
"Bukan hanya itu. Kalau Eyang Probo masih ada ayah bunda yang menjaga. Lagi pula beliau sudah membaik. Ada masalah lain yang cukup pelik, yang harus kami tangani sendiri saat ini. Mungkin butuh waktu paling tidak seminggu," jelas Via.
"Oh, begitu. Baiklah, nanti aku sampaikan."
"Sampaikan permohonan maaf kami kepada Anjani, ya. Insya Allah kalau masalah ini bisa selesai cepat, kami ke Jember," kata Via.
"Semoga masalah Mbak Via cepat selesai. Aamiin," ucap Meli.
"Aamiin. O ya, Ratna sudah kau beri tahu?"
"Belum. Habis ini aku telepon dia," jawab Meli sambil cengengesan.
"Ya, jangan sampai lupa!"
Setelah menutup telepon, Via kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mencoba konsentrasi penuh, melupakan masalah lain.
***
Bersambung
Mohon maaf, ada yang membaca episode ini baru sebagian karena keliru klik. Maaf, ya 🙏
Tentang pernikahan Anjani, silakan kunjungi novel kece Kak Indri Hapsari, CS1. Jangan lupa selalu dukung kami dengan memberikan like dan komentar.
Barakallahu fiik
__ADS_1