
Maaf baru hadir lagi. Kemarin ikutan Azka dan Eyang, sakit. Sekarang belum sembuh, sih. Tapi agak mendingan.
Happy reading 🙏
🌱🌱🌱🌱
Matahari telah beringsut ke barat. Teriknya tak lagi menyengat. Angin senja pun menyapa lembut.
Gerah yang semula mendera telah berganti kesejukan. Apalagi bagi yang sudah dibasuh air wudu. Seperti yang dirasakan Via saat ini. Meski musala keluarga tidak ada pendingin ruangan, ia tetap merasakan kesejukan.
Usai salat asar berjamaah bersama Bu Inah dan Mbok Marsih, Via sengaja berlama-lama di musala. Ia berusaha menenangkan kegalauan yang tengah melanda. Maklumlah, baru kali ini ia berpisah jauh dengan Farhan setelah resepsi pernikahan mereka.
Lebih dari 30 menit Via duduk di atas sajadahnya. Mulutnya tak henti-henti melafalkan zikir. Hatinya merasa lebih tenang.
Ia kembali ke kamar dengan perasaan sudah tak lagi gundah. Ia mengambil ponselnya. Baru saja ia akan mengecek, ada panggilan masuk ia terima.
“Assalamualaikum,” ucap Via tanpa melihat kontak yang memanggil. Ia mengira Farhan yang melakukan panggilan.
“Waalaikumsalam. Dari mana, Via? Bunda telepon dari tadi kok nggak diangkat?” Terdengar suara Bu Aisyah dari seberang.
“Maaf, Bunda. Via baru selesai salat Asar,” jawab Via.
“Sudah ada kabar dari suamimu?” tanya Bu Aisyah lagi.
“Belum. Kan jadwal landing pesawat jam 4 sore. Via juga masih nunggu kabar dari Mas Farhan. Lalu, bagaimana dengan Eyang Probo?” Via balik bertanya.
“Alhamdulillah, Eyang tidak mengalami gangguan jantung yang serius. Memang, sekarang eyang harus menjaga pola makan dan juga aktivitasnya. Mungkin lusa sudah bisa pulang.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Bunda tutup dulu, ya. Tolong kabari kalau Farhan sudah memberi kabar. Assalamualaikum.” Bu Aisyah mengakhiri panggilan.
“Waalaikumsalam,” jawab Via. Ia mengecek pesan dan panggilan yang masuk.
Setelah semua pesan ia balas, ia bermaksud menyimpan kembali ponselnya. Namun, niat itu ia urungkan karena ada notifikasi pesan masuk.
Farhan
[Mas baru saja sampai. Nanti Mas kasih kabar lagi setelah ketemu Dek Azka.]
Via tersenyum lega. Ia segera membalas pesan suaminya.
[Iya. Hati-hati, ya!]
Kemudian, ia memberi tahu kabar tersebut kepada Bu Aisyah.
***
Ke mana pun Via melangkah, ponsel selalu ia bawa. Ia khawatir ada kabar dari Farhan dan ia tidak segera mengetahui.
__ADS_1
Kehampaan memang terasa menghimpit hati Via. Meski ia tak pernah membayangkan bersuamikan Farhan, tetapi garis takdir menyatukan mereka menjadi suami istri. Kebiasaan bersama membuat ada yang tak lengkap saat berpisah.
Rasa cinta, rasa sayang, tumbuh seiring seringnya kebersamaan mereka. Rindu pun mengikuti kasih sayang yang terjalin. Itulah yang membuat kangen mendera meski baru hitungan jam mereka berpisah.
Hal yang sama dialami pria yang sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk adik satu-satunya. Farhan pun berniat melakukan video call setelah mengetahui kondisi Azka.
“Dek, aku keluar dulu mau kasih kabar orang rumah. Di sini sinyal agak jelek, takut putus-putus. Nggak apa-apa, kan, aku tinggal sebentar?” pamit Farhan.
Azka mengangguk. Toh, ia sudah terbiasa mandiri selama ini. Dari kemarin juga sering ditinggal karena hanya satu orang yang menunggui.
Farhan menuju ke taman tak jauh dari kamar rawat Azka. Setelah menemukan kontak Via, ia segera melakukan video call.
“Assalamualaikum, Hubbiy,” sapa Via dengan senyum manisnya.
“Waalaikumsalam. Cinta baik-baik saja, kan?” tanya Farhan tak sabar.
“Iya, baik. Yang seharusnya nanya begitu tu Via. Kan Hubbiy yang baru bepergian jauh,” ujar Via.
“Kan khawatir dengan kesayangan Mas. Ingat, Cinta sedang hamil tua. Hati-hati, ya!”
“Iya. Gimana kabar Dek Azka? Sakit apa dia?” tanya Via.
“Kata dokter hepatitis. Sebetulnya bisa dirawat di rumah. Tapi, Azka mutah-mutah terus hingga kurang cairan. Makanya, ia perlu rawat inap untuk memulihkan kondisinya melalui infus. Insya Allah tidak lama lagi dia bisa pulang.” Farhan menjelaskan.
“Alhamdulillah. Eyang Probo juga tidak parah. Kata bunda kemungkinan lusa bisa pulang.”
“Kenapa?” tanya Via.
Farhan tampak menarik nafas panjang, Ia terdiam sejenak.
“Ini menyangkut masalah perkebunan. Dek Azka tadi sudah menceritakan masalah yang terjadi. Kemungkinan besar memang ada penggelapan dana, tetapi belum tahu siapa oknum yang melakukan itu. Ini cukup rumit. Mudah-mudahan Mas bisa mengatasi segera.” Farhan menjelaskan dengan suara tak bersemangat.
Via merasakan keresahan Farhan dari nada bicaranya. Ia pun berusaha menghibur suaminya.
“Hubbiy semangat, dong! Kalau Hubbiy semangat, insya Allah usaha Hubbiy lebih cepat membuahka hasil. Tidak usah mencemaskan kami. Via bisa jaga diri, kok. Ada ayah dan bunda juga.”
“Iya, Mas percaya. Ya sudah, nanti kita sambung lagi. Bentar lagi di situ maghrib, kan? Mas tutup, ya. Assalamualaikum. Mmmuah,” ucap Farhan diakhiri dengan gerakan bibir dimajukan.
“Waalaikumsalam,” jawab Via disertai senyum mengembang.
Via meletakkan ponselnya. Tanpa disadari bibirya membentuk senyum yang tak putus. Keresehannya telah menguap begitu saja setelah berkomunikasi dengan Farhan.
Bayangan sosok atletis nan tampan menari-nari di benaknya. Senyum manis yang menyejukkan mampu membuat Via terpesona. Kelembutan sikapnya membuat Via selalu ingin menyandarkan dirinya kepada sosok suami tercinta.
Azan magrib membuyarkan lamunan Via. Bumil itu mengusap wajahnya. Ia bergegas ke musala.
Selepas isya, Via mempersiapkan keperluannya untuk esok ke kantor. Setelah semua siap, ia membuka laptopnya untuk mengecek laporan. Sengaja ia tidak melakukan di ruang kerja karena ia hanya sendirian.
Konsentrasinya buyar kala terdengar nada panggilan telepon. Tadinya, ia mengira Farhan yang memanggil. Namun, dari nada deringnya Via yakin bukan Farhan.
__ADS_1
“Assalamualaikum. Ini saya, Edi,”terdengar suara di seberang.
“Waalaikumsalam. Oh, Mas Edi. Ini pakai nomor siapa?” tanya Via heran karena tidak ada nama pemanggil.
“Ini saya pinjam punya teman. Sinyal agak susah di sini. Provider kartu yang saya pakai tidak mendukung. “
Via menarik nafas lega mendengar penjelasan Edi. Ia sempat memiliki dugaan buruk.
“Mas Edi baik-baik saja? Bapak dan ibunsudah meresetui rencana Mas Edi? Kapan mau melamar Mbak Mira?” Via memberondong Edi dengan pertanyaan.
Edi tertawa lirih mendapat banyak pertanyaan begitu.
“Itu yang akan saya sampaikan. Sebelumnya, saya minta maaf karena rencana saya tidak sampai satu minggu saya sudah kembali. Namun, ada sedikit masalah di sini sehingga sampai sekarang saya belum kembali. Proyek kita tidak ada masalah?” Edi bertanya dengan nada khawatir.
“Alhamdulillah semua baik-baik saja. Mas Edi ada masalah apa?’ Via penasaran.
“Bapak tiri saya bikin ulah. Tadinya, saya tidak akan meminta restu kepadanya karena toh ia bukan orang tua kandung saya. Tapi, ibu memaksa saya meminta restu,” gerutu Edi.
“Iya, Mas. Bagaimana pun beliau pengganti ayah Mas Edi. Lalu, masalahnya apa?”
“Saya menceritakan siapa Mira dan bagaimana keluarganya. Bapak tiri saya tidak setuju. Ia menginginkan saya cari istri dari keluarga kaya. Dasar matre! Butuh waktu berhari-hari untuk meyakinkan diakalau pilihan saya tepat. Alhamdulillah, tadi sudah setuju,” papar Edi.
“Syukurlah kalau begitu. Mas Edi bisa melangsungkan pernikahan dengan tenang. Kapan rencana melamar Mbak Mira?”
"Rencana 2 minggu lagi ibu datang melamar Mira. Soal bapak, saya tidak peduli dia mau datang atau tidak. " Tersirat perasaan Edi begitu hambar saat menyinggung ayah tirinya.
"Semoga lancar, Mas."
"Aamiin. Insya Allah lusa saya baru kembali karena pesan tiketnya telanjur untuk lusa."
"Nggak apa-apa. Yang penting Mas Edi bisa menyelesaikan semua masalah secara baik-baik dan kembali lagi dengan lancar."
"Terima kasih atas dukungan Mbak Via. Saya tutup dulu, ya. Assalamualaikum."
Via pun menjawab,"Waalaikumsalam." Ia meletakkan kembali ponselnya.
Tatapan mata Via kembali ke layar monitor laptop-nya. Ia ingin matanya cepat lelah dan mengantuk.
***
Bersambung
Terima kasih atas dukungan Kakak semua 🙏. Tetap dukung author dengan meninggalkan jejak like dan komentar juga vote, ya! 😍
Semoga besok bisa up lagi. Sambil menunggu, intip novel ini, deh.
__ADS_1