
Usai mengantar bundanya, Azka kembali ke rumah. Ia akan menyelesaikan persyaratan nkah sampai RT. Selanjutnya, anak buah Edi yang akan mengurusnya.
Pak Haris yang sedang bersiap berangkat ke rumah sakit tersenyum melihat keceriaan di wajah anak bungsunya. Aura kebahagiaan Azka menular ke arang di sekitarnya. Dalam hati Pak Haris tak berhenti bersyukur karena tugas utama sebagai orang tua akan ia penuhi.
“Sudah siap, Ka?” tanya Pak Haris melihat Azka menenteng stomap.
“Sudah, Yah. Ni Azka mau ke rumah Pak RT sama Pak RW. Nggak apa-apa ke sana pagi-pagi gini?”
“Nggak apa-apa. Pak RT dan Pak RW kan pensiunan. Beliau nggak pergi ke kantor. Bawa saja oleh-oleh dari Jember. Kan masih banyak. Kemarin calon mertuamu ngasihnya banyak banget.”
“Oke, siap. Eh, dulu kayaknya Mas Farhan gak ngurus-ngurus kayak gini ya? Makanya Azka nggak kepikiran,” gumam Azka sambil meletakkan map.
“Kamu lupa kalau kakakmu nikahnya diam-diam? Makanya, Ayah yang datang ke Pak RT dan Pak RW minta agar belau merahasiakannya. Kita juga nggak bikin acara kenduri. O iya, jangan lupa siapkan maharmu! Memang mau uang atau barang?” tanya Pak Haris.
“Barang deh. Biarada kenangan,” jawab Azka.
“Boleh tahu?”
“Nanti sore insya Allah Ayah tahu. Azka mau beli dulu.”
Pak Haris tersenyum lembut. Ditatapnya anak bungsu yang sebentar lagi melepas masa lajangnya.
“Untuk mahar, Ayah memang menginginkan kamu beli pakai uangmu sendiri supaya lebih terasa sakralnya, ikatan pernikahan kalian makin kuat. Hati-hati belanjanya! Ayah berangkat dulu, ya! Jangan lupa oleh-oleh buat Pak RT! Assalamualaikum,” ucap Pak Haris.
“Waalaikumsalam. Siap, Bos!” jawab Azka.
Setelah ayahnya pergi, Azka menuju ke belakang. Ia memasukkan suwar-suwir dan prol tape ke dua paper bag lalu berangkat ke rumah Pak RT lanjut Pak RW.
“Pernikahan Mas Farhan dulu nggak normal, sih. Jadinya aku nggak bisa belajar dari Mas Farhan, deh. Segalanya ada yang ngurus. Enak banget dia. Eh, nggak juga. Mas Farhan kan nggak bisa menikmati hidup bareng Mbak Via. Hampir setahun mereka baru bisa hidup bersama. Kalau aku, malam Minggu depan sudah punya istri. Ah, ngapain ya? Haish, pikiranku makin liar kalau gini.”
Selesai urusan di kompleks, Azka mengendarai mobil bundanya menuju butik emas. Usai transaksi, ia ganti menuju Azrina. Hanya Ratna dan Mira yang ada di ruko.
“Assalamualaikum,” ucap Azka yang dibalas kedua orang itu serempak.
“Kalian cuma berdua, nih?” tanya Azka.
“Iya. Yang lain kan pulang kampung. Kalau Salsa, dia lagi sakit,” jawab Mir.
Azka menautkan alisnya. Ia sedikit kaget mendengar Salsa sakit. Bukan karena ada perasaan khusus terhadap gadis itu, melainkan karena ia sudah mengenal Salsa.
“Sakit apa?” tanya Azka spontan.
“Demam biasa, kok. Mungkin kelelahan. O ya, Mas Azka membutuhkan sesuatu?” tanya Mira lagi.
“Ada mukena yang bagus?” tanya Azka balik.
Ratna dan Mira tersenyum lebar.
“Ah, pasti mau buat mahar, ya? Kebetulan barusan ada koleksi mukena premium model terbaru baru dikirim. Mau lihat dulu?” Ratna mengajukan tawaran.
“Boleh.”
Ratna bangkit dari duduknya. Ia membuka kardus yang masih tertutup rapat.
“Belum sempat dikeluarkan, nih. Ini gambarnya,” ucap Ratna sembari menyodorkan katalog.
Azka melihat-lihat gambar yang ada pada katalog dan memilih satu yang menurutnya paling bagus.
“Seperti kemarin, bungkus sekalian. Mira, tolong nanti dibawa, ya. Yang bawa ke sana kan besok anak buah Mas Edi pakai mobil. Yang lain pakai pesawat. Kalian juga ikut, ya! O iya, Salsa juga kalau dia sudah sembuh,” kata Azka semangat.
Mira dan Ratna saling tatap. Ada keraguan di mata mereka.
“Salsa nggak tahu bisa apa enggak, Mas,” kata Mira.
__ADS_1
“Bukannya tadi kamu bilang demam biasa?”
“Salsa patah hati, Mas,” gumam Ratna lirih, tetapi masih tertangkap telinga Azka.
“Patah hati? Dia diputuskan tunangannya? Berarti nggak jodoh. Eh, bilang ke Salsa agar segera move on. Ikut saja ke Jember. Siapa tahu ketemu jodoh di sana,” saran Azka.
“Dia patah hati karena kamu, Mas. Apa hatinya nggak makin sakit lihat kamu bersanding dengan Meli di pelaminan?” batin Ratna.
“Ya sudah, aku pamit dulu. Makasih sudah dibantu. Aku mau ke Wijaya Kusuma. Mira nitip sesuatu buat kakanda?” tanya Azka sambil nyengir.
Mira hanya menggeleng. Namun, tidak dengan Ratna.
“Mbak Mira nitip cium mesra. Tolong diwakili, ya!” Ratna mulai keluar jailnya.
Azka melototi Ratna. Gadis itu malah tersenyum sambil memainkan alisnya.
“Ogah! Nanti malam saja biar Mira menyampaikan langsung,” kata Azka sewot.
Ratna terbahak-bahak melihat reaksi Azka. Ia masih tertawa saat menjawab salam Azka.
Azka mengarahkan mobilnya ke Wijaya Kusuma. Saat masuk, ia disambut resepsionis cantik.
“Selamat datang. Mas Azka. Mau menemui Bu Via? Perlu saya antar?” Resepsionis mengaajukan tawaran sambil berjalan mendekati Azka.
Dina memang sedikit mengenal keluarga Azka karena pernah mengantarkan gawai Farhan yang tertinggal. Waktu itu, Farhan menjabat sebagai manager untuk menyelamatkan Wijaya Kusuma. Sebenarnya Dina memiliki ketertarikan terhadap Farhan yang tampan. Namun, sikap Farhan yang dingin membuatnya mundur teratur.
“Nggak, saya mau menemui Mas Edi, kok. Mbak nggak usah repot-repot. Saya tahu ruangan Mas Edi,” tolak Azka.
Dina tampak kecewa. Ia kembali ke kursinya.
Azka melenggang masuk ke lift. Saat keluar lift, Via tengah berdiri menunggu pintu terbuka.
“Lho, Dek, ngapai ke sini?” tanya Via. Ia urung masuk ke lift.
Via tertawa. Ia membalikkan badan kembali menuju ruangannya.
“Ngobrol di ruanganku saja,”ajak Via.
Azka pun mengekor langkah Via. Sebelum sampai, Via menyempatkan memanggil Edi.
“Sudah siap semua berkas yang dibutuhkan Mas?” tanya Edi begitu masuk ruangan Via.
“Mas Edi lihat sendiri. Masih ada yang kurang?” Azka balik bertanya.
Edi membuka stopmap yang Azka sodorkan. Beberapa saat ia mencermati dokumen yang ada.
“Pengantar dari kalurahan yang belum ada. Biar nanti saya suruh Sarno yang urus sebelum berangkat ke Jember,” kata Edi.
“Terima kasih, Mas.”
“Kamu sudah menyiapkan mahar, Dek?” tanya Via.
“Sudah, dong. Barusan aku dari Azrina. Mira nitip cium buat Mas Edi. Aku ogah mewakili.”
Via dan Edi tertawa mendengarnya.
“O ya, apa maharnya?” tanya Via lagi.
“Seperangkat alat salat dan emas 90 gram dibayar tunai,” jawab Azka mantap.
“Sah! Eh belum, “ seloroh Edi.
Tawa renyah kebali menggema d ruangan Via.
__ADS_1
“Itu pakai uang kamu sendiri, Dek?” tanya Via kepo.
“Iya, dong! Biar lebih mantap. Gini-gini Azka sudah punya gaji, Mbak,” jawab Azka bangga.
“Iya, tahu. Kalau cuma emas segitu pasti kamu mampu,” sahut Via.
Azka mengangguk senang. Ia teringat rencana keberangkatan yang mesti dibicarakan.
“Mas, aku berencana mengajak trio Azrina dan Rio untuk ikut. Sekalian pesankan tiket, ya,” pinta Azka.
Edi mengerutkan kening. Ia tak paham yang Azka maksud.
“Trio Azrina? Maksud Mas Azka?”
“Ratna, Mira, Salsa. Siapa tahu Ratna bisa nyusul. Terus Salsa bertemu jodoh.”
Via tersenyum. Ia mengerti yang dimaksud adik iparnya.
“Soal izin Rio, nanti aku bicarakan dengan Mas Farhan. Kamu sudah ngomong ke Rio belum?” tanya Via.
“Belum. Tapi kalau ke Mira dan Ratna sudah. Tadi sebelum ke sini,” jawab Azka, “Tinggal Salsa yang belum. Dia lagi sakit. Patah hati,” tutur Azka.
“Patah hati? Setahuku dia belum punya calon,” gumam Via.
Edi menatap Azka sekilas. Ia sudah mengetahui tentang Salsa dari Mira meski Mira tak membeberkan secara rinci.
“Mas Azka hanya mengajukan tambahan 4 orang?” tanya Edi.
“Ya, itu saja belum tentu Salsa Mau.”
Edi mengangguk. Selamapembicaraan, Edi membuat catatan.
“Bsik, nsnti saya pesan tiketnya untuk hari Jumat agar semua bisa beristirahat. Untuk mahar dan hantaran, malam Jumat diangkut pakai mobil. Sebaiknya pakaian juga biar perjalanan di pesawat lebih nyaman.”
“Berarti koper diantar ke rumah Mas Edi?” tanya Azka.
“Biar anak buah saya yang ambil ke rumah Mas Azka. Punya Ratna dan Salsa saya ambil di Azrina Kamis sore.”
Azka mengangguk paham.
“O ya, mukenanya saya titipkan ke Mira.”
“Oke, Mas.” Edi mengacungkan jempolnya.
“Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku mau menemui Rio, memastikan dia ikut. Sekalian menjalankan misi,” ucap Azka sambil tersenyum ke Via.
Via membalas senyum Azka sambil mengangguk dan mengacungkan dua jempol.
Setelah Azka pergi, Edi pun berniat kembali ke ruangannya. Namun ada yang masih mengganjal di benaknya.
“Tadi Mas Azka bilang mau menjalankan misi. Memang misi apa?”
“Misi perjodohan,” jawab Via singkat.
Edi masih belum mengerti. Namun, untuk kembali bertanya, ia segan. Akhirnya, ia membiarkan pertanyaan itu tersimpan di pikiran.
*
Bagaimana persiapan pernikahan di Jember? Intip yuk di novel Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1! Jangan lupa dukung kami dengan meninggalkan like dan komentar.
Barakallahu fiikum
__ADS_1