SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XLVI


__ADS_3

Via meresapi apa yang dikatakan Bu Aisyah. Ia mulai bisa meredam kesedihannya.


"Bisa bantu Bunda masak? Bunda mau masak cap cay dan udang tepung kesukaan Farhan. Azka suka juga, sih."


"Iya, Bun. Ayo! Bahan-bahannya masih ada, kan?"


"Seingat Bunda masih. Kita lihat, yuk!"


Mereka keluar kamar menuju dapur. Saat melewati ruang makan, Azka masih duduk di situ.


"Vi, bubur ayam tinggal satu. Kamu mau, nggak? Kalau nggak, aku siap ngabisin."


"Iya, habisin aja. Via sudah kenyang, kok."


Bu Aisyah menggelengkan kepalanya. Ia heran dengan kelakuan anak bungsunya.


"Ka, itu perut apa karet, sih? Atau jangan-jangan...."


"Jangan-jangan kenapa, Bun?" tanya Azka sambil membuka kotak bubur ayam.


"Jangan-jangan kamu cacingan."


Via tertawa cekikikan. Sementara, Azka langsung pasang wajah cemberut.


"Bunda jorok. Azka kan mau makan lagi. Kenapa Bunda ngomong binatang menjijikkan itu? Kan selera makan Azka jadi menguap," gerutu Azka.


Bu Aisyah tersenyum lalu membalas, "Lha kamu makannya banyak sekali tapi kok nggak gemuk? Kan Bunda jadi curiga kalau semua makanan itu diembat si ca dalam perut."


"Si ca itu apa, Bun?" bisik Via.


"Si cacing," jawab Bu Aisyah juga sambil berbisik.


Lagi-lagi Via tak kuat menahan tawa.


"Apaan sih bisik-bisik?" tanya Azka penasaran.


"Udah, makan aja. Nanti kamu protes lagi kehilangan selera makan. Tapi, ayahmu perlu memeriksamu nanti untuk memastikan idi perutmu. Ayo, Vi, kita ke dapur," ajak Bu Aisyah.


Azka sendiri di ruang makan menyantap bubur ayam dingin. Meski mengatakan kalau selera makannya menguap, dalam waktu kurang dari sepuluh menit bubur ayam telah ludes tak bersisa.

__ADS_1


Sementara itu, Bu Aisyah dan Via sedang sibuk memasak.


"Kamu kupas bawang dan potong-potong sayuran, ya!" perintah Bu Aisyah.


"Baik, Bun."


"Vi, Bunda mau nanya. Kalau kamu mau menikah, calon suami seperti apa yang kamu inginkan?"


"Uhuk...uhuk..."


Mendadak Via tersedak. Ia segera mengambil air minum.


"Pertanyaan Bunda mengagetkan kamu, ya?"


"Ii--ya, Bun."


"Maafin Bunda, ya. Tapi, Bunda perlu tahu. Karena, suatu saat kamu siap, ada yang melamarmu, Bunda sudah mempersiapkan jawaban ya atau tidak."


Pipi Via merona merah. Jantungnya berdegup lebih kencang.


"Memangnya ada yang mau melamar?"


"Sekarang sih, belum. Atau kamu mungkin suka sama seseorang?" ledek Bu Aisyah.


Bu Aisyah tersenyum tipis. Ada perasaan lega saat tahu Via tidak sedang menyukai seseorang.


"Kamu pernah pacaran, Vi? Eh, maaf kalau pertanyaan Bunda menyinggung perasaan kamu."


Via justru terkekeh.


"Nggak papa, Bun. Via nggak tersinggung, kok. Via nggak punya pacar dan nggak kepengin pacaran," jawab Via mantap.


"Kenapa? Boleh Bunda tahu?"


"Kan nggak boleh. Via tahu dari kajian muslimah setiap Jumat di masjid kampus. Pacaran itu sama saja dengan mendekati zina."


"Langsung halalin aja, ya?" ledek Bu Aisyah.


Lagi-lagi Via terkekeh.

__ADS_1


"Lalu, kriteria calon suami idaman kamu seperti apa?"


Via terdiam sejenak. Setelah beberapa detik, ia baru menjawab, "Yang sholeh, bertanggung jawab, sabar, bisa menjadi imam yang baik. Wah, ideal bsnget, ya Bun?"


Bu Aisyah tertawa kecil.


"Aku kira Farhan memenuhi kriteria itu. Tapi, apa mereka mau?"


"Kok Bunda terdiam? Keinginan Via terlalu muluk-muluk, ya?"


"Enggak. Bagus, kok. Namanya harapan kan yang baik. Tercapai tidaknya, itu Allah yang menentukan."


"Kamu selalu memohon petunjuk kepada Allah tentang pernikahan, kan? Masalahnya, calon investor itu menginginkan bertemu dalam waktu dekat."


"Iya Bun, Via paham. Mudah-mudahan Allah menjawab doa Via dalam waktu dekat ini."


"Aamiin."


Tak terasa mereka telah menyelesaikan masakan untuk makan siang.


"Hhmm...harumnya. Pasti lezat nih," ujar Via.


"Kamu sekarang sudah pintar memasak.


Kalau jadi istri, bisa membahagiakan suami lewat sentuhan masakan," ledek Bu Aisyah.


"Ah, Bunda. Via masih harus banyak belajar dari Bunda." Via tersipu malu.


"Bunda perhatikan kamu sekarang lebih dewasa, juga lebih cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Sepertinya sudah siap nih jadi istri."


"Ih, apaan sih? Ni kayaknya Bunda kok memprovokasi aku untuk segera menikah, ya? Aku sendiri sebetulnya juga sayang kalau melewatkan peluang membangkitkan perusahaan papa. Tapi, aku takut. Aku tidak siap menikah muda."


"Kok malah melamun? Ayo, kita siapkan!"


"Eh, iya. Ayo, Bun!"


Mereka segera menyiapkan hidangan untuk makan siang.


****

__ADS_1


Bersambung


Maaf cuma sedikit 🙏🙏🙏


__ADS_2