
Baru beberapa langkah mereka keluar dari ruang peristi, dokter Haris tampak berjalan menghampiri. Langkah panjangnya begitu cepat hingga dalam sekejap sudah berdiri di depan kursi roda.
“Kalian habis nengok bayi Via?” tanya Pak Haris.
“Ya iyalah, masa bayi orang lain? Ayah gimana, sih?” Azka menggerutu.
“Ayah nggak nanya kamu,” sergah Pak Haris.
“Lho, kan Ayah tanya kalian. Azka salah satu di antara ….” ucapan Azka terhenti karena dipotong Bu Aisyah.
“Sudah, kok malah berdebat yang nggak ada gunanya, sih? Kami habis nengok bayi Via. Alhamdulillah, BB-nya naik terus,” sahut Bu Aisyah.
“Ketemu dokter Wibowo?” tanya Pak Haris lagi.
“Iya, Yah. Dokter Wibowo masih muda, ganteng, ramah juga,” jawab Azka.
“Kamu naksir, Ka?” canda Bu Aisyah sembari melirik putra bungsunya.
“Ih, Bunda apaan? Azka masih normal, Bun. Masak pisang makan pisang? Yang bener aja. Cewek-cewek cantik juga banyak yang ngantri,” sanggah Azka dengan mengerucutkan bibirnya.
“Ngantri tiket? Mau nonton film?” Pak Haris ikut menggoda Azka.
“Ngantri dilamar Azka, Ayah,” sahut Azka geram.
“Memang kamu mau melamar berapa orang?” Bu Aisyah masih dalam mode meledek Azka.
“Entahlah,” jawab Azka cuek.
Pak Haris dan Bu Aisyah terkekeh geli. Sementara Via hanya tersenyum.
“Kita kembali ke kamar, yuk!” ajak Via.
Azka mendorong kursi roda menuju kamar perawatan Via. Pak Haris dan Bu Aisyah mengekor langkah Azka.
Sesampai di kamar, Bu Inah sudah berada di dalam. Ia tampak gelisah karena tidak tahu ke mana perginya Via. Ia hanya diberi tahu perawat kalau Via keluar bersama Bu Aisyah.
“Mbak Via dari mana?” tanya Bu Inah begitu melihat Via masuk.
“Habis nengok dedek, Bu. Habisnya Bu Inah lama banget ke laundry,” jawab Via.
Dengan perlahan Via turun dan berjalan ke tempat tidur. Luka bekas operasinya masih terasa nyeri saat ia berjalan.
“O iya, tadi kalian ngobrol dengan dokter Wibowo?” tanya dokter Haris.
“Iya,” jawab Bu Aisyah singkat.
“Iya, Yah. Dokter Wibowo menjelaskan panjang lebar kali tinggi, eh nggak ding. Cuma panjang lebar nggak pakai tinggi. Bunda ingin tahu detail kondisi dedek bayi.
Kalau tanya ke Ayah, belum tentu dijelaskan begitu detail. Ayah dapat mosi
tidak percaya sekarang,” lanjut Azka diiringi tawa.
“Dasar somplak. Ni orang jangan-jangan tertular Pak Gibran,” batin Via.
Pak Haris menatap Azka dengan tajam. Namun, cowok itu tetap
cuek dengan tawanya. Sang ayah pun malas meladeni kekonyolan Azka.
“Via, tadi Ayah sudah bicara dengan dokter Linda dan dokter Ari. Kamu sudah diperbolehkan pulang hari ini. Minggu depan kamu kontrol untuk mengecek kondisi jaitanmu,” kata Pak Haris.
Via tertegun. Biasanya, seorang pasien akan gembira mendengar kabar dirinya diperbolehkan pulang. Namun, Via memberikan reaksi yang berbeda.
“Ada apa, Via? Kamu nggak seneng bisa pulang?” tanya Bu Aisyah.
Via menghelaa nafas panjang lalu menjawab, “Via senang sekaligus sedih, Bunda. Di satu sisi Via sudah rindu suasana ruah. Di sisi lain
Via berat meninggalkan dedek di sini.”
“Kamu kan bisa menengoknya setiap hari,” kata Bu Aisyah.
“Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Dia masih lemah,” ucap Via lirih.
Semua terdiam. Mereka bisa memahami kerisauan hati Via.
“Lalu, kamu inginnya bagaimana?” tanya Bu Aisyah.
“Kalau bisa, Via ingin tetap di rumah sakit sampai dedek boleh dibawa pulang. Bagaimana, Yah? Boleh, ya?” pinta Via penuh harap.
Pak Haris masih diam. Ia sedang mempertimbangkan segala sesuatunya.
__ADS_1
“Kalau di sini, jelas tidak boleh. Ini kamar rawat inap. Ini hak pasien yang membutuhkan
perawatan di sini. Bagaimana kalau kamu menempati kamar Ayah? Kamarnya juga
tidak begitu jauh dari ruang peristi. Tapi, Ayah tidak mengizinkan kamu
sendirian. Harus ada yang menemani seperti di sini.” Pak Haris memberi tawaran.
“Baik, Via setuju. Nanti Bu Inah atau Mbok Marsih menemani Via. Bisa kan, Bu Inah?” Via
menatap Bu Inah.
“Bisa, saya akan menemani di sini,” jawab Bu Inah mantap.
“Kalau begitu, nanti setelah makan siang, kamu pindah ke kamar tempat Ayah beristirahat saat lembur. Tentu saja tidak seperti kamarmu di rumah,” kata Pak Haris.
Via tertawa lirih. Kelegaan terpancar dari wajahnya.
“Iya, Ayah. Via tahu, kok. Yang penting, Via bisa di dekat bayi Via,” sahut Via.
Mereka pun membereskan barang-barang Via. Pukul 13.00 mereka memindahkan barang-barang tersebut ke kamar khusus.
Ruangan khusus dokter Haris berukuran 4 X 6 meter. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang kecil, meja kerja, sofa panjang, kulkas kecil, dan almari pakaian. Sebuah televisi ukran 20 inch terpasang menempel di dinding yang berwarna putih.
“Bagaimana, kamu tidak apa-apa menempti kamar ini?” Pak Haris memastikan.
“Tidak apa-apa, Ayah. Yang penting Via bisa menengok bayi Via sewaktu-waktu,” jawab Via mantap.
“Bunda tidak bisa menemanimu saat siang, Via. Kecuali Sabtu Minggu. Bunda sudah sering izin ketika jam kosong,” kata Bu Aisyah.
“Iya, Bunda. Via ngerti, kok,” ucap Via sambil tersenyum.
“Sekarang, istirahatlah! Bunda mau ke sekolah dulu. Bu Inah, pantau pola makan dan
istirahat Via, ya! Ingatkan juga waktunya minum obat! Pastikan dia minum obat
tepat waktu sesuai dosis,” pesan Bu Aisyah.
“Siap, Nyonya eh Bu,” jawab Bu Inah.
“Aku juga pamit, ya. Aku mau ketemu Rio. Dia bilang mau ngomogin sesuatu,” kata Azka.
Pak Haris pun ikut meninggalkan ruangan itu. Tinggal Via dan Bu Inah yang ada.
Sorenya, Edi datang mengantarkan laptop pesanan Via. Ia juga membawakan keperluan Via yang lain.
“Ini laptop yang Mbak Via minta. Saya sudah mengirimkan laporan seminggu terakhir melalui email,” jelas Edi sambi; meletakkan laptop dke atas meja kerja.
“Terima kasih, Mas. O ya, bagaimana pelaksanaan proyek kita? Apa ada kendala?” tanya Via.
“Alhamdulillah, semua lancar.”
“Alhamdulillah. Berarti selama saya tidak bisa ke kantor, semuanya aman, ya?”Via berusaha
memastikan.
“Insya Allah seperti itu.”
“Syukurlah,” kata Via seraya menarik nafas lega.
Pembicaraan mereka terhenti karena ada suara pintu diketuk diiringi salam. Setelah salam dijawab, tiga gadis muncul dari balik
pintu.
“Hai sayangku! Bagaimana keadaanmu? Makin cantik aja, nih,” seru gadis yang paling depan. Siapa lagi kalau bukan Ratna.
“Iyalah, siapa dulu? Via gitu lo,” sahut Via.
Ratna, Mira, dan Salsa terkekeh. Mereka duduk di sofa panjang.
“Kok nggak ngabari kalau pindah ke sini. Kami tadi nyariin lo. Untung ada perawat baik
hati ngsih tahu. Jahat banget, sih,”omel Ratna.
“Aku kan baru pindah ke sini. Sebetulnya, aku sudah boleh pulang. Tapi, aku nggak tega
ninggalin dedek. Makanya, ayah nyaranin aku di sini,” jelas Via.
“Kamu sendirian, Dek?” tanya Mira.
__ADS_1
“Enggaklah. Nih ada kalian, ada Mas Edi juga,” jawab Via santai.
“Maksud aku, kalau kami pulang nanti malam Dek Via sendiri?” Mira mengulang pertanyaannya.
“Enggak, ada Bu Inah yang menemani. Ayah nggak ngizinin aku sendirian. Sekarang sedang ke musala.”
“Kondisi bayimu gimana?” tanya Ratna.
“Beratnya masih sangat kurang, bilirubinnya masih tinggi, dan pernafasannya masih dibantu.”
Mereka pun bertanya banyak hal tentang bayi Via. Alhasil Via seperti sedang diwawancarai.
“Kok aku jadi seperti saksi sedang ditanyai penyidik, sih?” protes Via.
Mereka hanya tertawa melihat Via cemberut.
“Kan penasaran sama anakmu. Lagian, kami nggak bisa lihat si dedek, sih,” ujar Ratna.
“O iya, kapan Mas Edi mau melamar Mbak Mira? Jangan kelamaan, nanti disambar orang,” ucap Via beralih topik pembicaraan.
Blush..wajah Mira memerah. Sedangkan Edi hanya menggaruk kepala yang tak gatal.
“Jangan ditunda karena aku, Mas! Kasihan tuh, Mbak Mira digantung kelamaan,” lanjut Via.
“Digantung? Mana ada? Ni Mbak Mira baik-baik saja. Kalau Mbak Mira digantung, pasti ...” ucapan Ratna terhenti.
“Lama-lama aku pengin ngetok jidatmu pakai palu!” potong Via geram.
“Untunglah tidak ada palu di sini,” kata Ratna santai.
“Ada kok. Dokter Ardi menyimpannya. Aku telepon sebentar,” ancam Via.
“Eits, nggak usah
nafsu gitu dong! Nanti kepalaku pecah, gimana?” kata Ratna dengan wajah
memelas.
“Jangan khawatir! Nggak sampai pecah, paling ada telor di jidatmu,” sahut Via.
“Aku jadi kayak Jarjit teman Upin Ipin kalau gitu,” sewot Ratna.
Mereka tertawa lepas. Suasana ruangan itu menjadi hangat.
“Auw!” pekik Via.
“Kenapa, Mbak?” tanya Salsa sambil berlari mendekat.
“Bekas luka operasiku nyeri. Aku lupa tadi.”
“Lupa apa?” tanya Salsa khawatir.
Ratna bangkit dari duduknya lalu ikut mendekat.
“Tadi tertawa lepas, jadi terguncang. Nggak apa-apa, kok. Sebentar juga sembuh. Aku tiduran, ya,” kata Via.
Via pun merebahkan diri. Ia mengambil nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Suasana menjadi hening.
“Maaf, ya. Gara-gara aku ke sini kamu jadi sakit, “ ucap Ratna dengan wajah sendu.
Via tersenyum melihat wajah sahabatnya. Sebenarnya, ia ingin tertawa, tetapi rasa nyeri di perutnya masih tersisa.
“Nggak usah sok melow gitu, deh. O iya, kalau mau minum, ambil saja di kulkas! Keluarkan saja makanan yang ada!” perintah Via.
Melihat nada bicara
Via terlihat santai, kekhawatiran Ratna dan Salsa menghilang. Ratna menuruti
perintah Via. Ia mengeluarkan makanan dan minuman yang ada lalu diletakkan di
meja dekat sofa.
Mereka terlibat obrolan ringan hingga suasana kembali hangat. Obrolan mereka terhenti ketika ada dua pria tampan berdiri di depan pintu.
***
Bersambung
Yang ringan dulu,
__ADS_1
ya! Peristiwa penting di next episode. Nantikan dengan sabar! Terima kasih
sudah dukung author dengan karya receh ini.