SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ada Apa dengan Mira?


__ADS_3

Farhan bertambah protektif. Daftar larangan yang ia buat untuk Via bertambah panjang. Tentu saja hal itu tidak Via sukai. Namun, Via juga tidak mau membantah keras.


Sekarang, Via tidak lagi tiap hari ke kantor. Ia datang ke Wijaya Kusuma hanya seminggu sekali, pada Jumat siang.


Izin kegiatan memasak Via yang tadinya akan diberikan setelah 6 bulan Via sembuh dari tifusnya, tidak jadi diberikan. Farhan tetap melarang Via mengerjakan tugas rumah.


Untunglah, Farhan masih mengizinkan Via ke ruko. Setiap selesai kuliah atau jeda kuliah, Via menyempatkan diri ke ruko.


Seperti siang ini. Saat jarum pendek arlojinya menunjuk angka 11, Via berjalan bersama Ratna menyusuri trotoar menuju ruko. Ketika melihat tulisan soto ayam, mendadak terbit air liur Via. Ia menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Via?" tanya Ratna heran.


"Aaa...itu, soto. Aku kepengin soto ayam, Ratna," jawab Via.


"Ya udah, kita beli. Dulu kan kita sering makan di sana. Yuk!" Ratna menggandeng tangan Via menuju warung soto ayam.


"Dibungkus saja. Kita makan bareng nanti," ujar Via begitu melihat Ratna mencari tempat duduk favoritnya.


Ratna menghentikan langkahnya lalu berbalik mendekati Via yang tengah memesan soto. Ia ikut duduk di dekat penjual soto yang tengah meracik pesanan Via.


"Seorang keturunan Wijaya beli makannya di warung rakyat jelata," gumam Ratna.


Via melirik tajam sahabatnya. Bibirnya mengerucut.


"Memang ada larangan bagi keluarga Wijaya makan di warung?"


"Hahaha...nggak, sih. Cuma aneh aja." Ratna terkekeh.


"Yang ada larangan dari suamiku, nggak boleh makan ini, nggak boleh makan itu. Bosan, makannya itu itu terus," gerutu Via setengah curhat.


"Iyalah, Mas Farhan kan protektif luar biasa. Kamu pasti kayak putri kerajaan yang harus menaati aturan ketat sampai masalah makan dan minum."


Via mengangguk. Ucapan Farhan saat mengatakan tentang larangan makan dan minum sembarangan kembali melintas.


"Aku sering menahan keinginan menikmati banyak makanan," keluh Via.


"Oh, kasihan bener sahabatku. Padahal kamu lagi hamil muda. Ah, bilang aja ke suamimu kamu ngidam kalau dia tidak mengizinkan makan yang kamu inginkan. Itu maunya jabang bayi. Kalau gak dituruti, bayimu kelak ileran lo," saran Ratna.


Sebelum Via menanggapi ucapan Ratna, ibu penjual soto memberikan soto pesanan Via. Setelah transaksi selesai, mereka melanjutkan perjalanan ke ruko.


Mira tengah duduk sendiri saat Via dan Ratna datang. Rupanya Salsa tengah ke kamar mandi.


"Sa, kalau turun sekalian bawa mangkok ya!" Ratna berteriak dari dekat tangga.


"Hari ini ramai, Mbak?" Via bertanya kepada Mira.


"Lumayan. Kalau OL shop malah ramai banget. Sampai jam 11-an tadi sudah ada 13 order masuk," jawab Mira.


Via mengangguk-angguk. Senyum tipis ia sunggingkan di bibirnya.


"Perlu tambahan tenaga?" Via memberikan penawaran.


"Mau rekrut pegawai baru, Mbak?" Salsa datang memotong pembicaraan.


Gadis itu meletakkan mangkok yang ia bawa. Kemudian, dengan cekatan ia menuangkan soto ke mangkok tersebut.


"Boleh saja. Silakan kalian diskusikan butuh berapa orang," jawab Via santai.


"Aku heran sama Dek Via. Kok bisa seperti kita-kita meski dari keluarga kaya raya. Besok kan jadi pewaris perusahaan besar juga, kenapa masih mempertahankan toko ini?" Mira mengungkapkan keheranannya.


Via tersenyum. Ia bisa memaklumi keheranan sahabatnya.


"Mbak, toko ini adalah usaha pertamaku. Aku membangun dari nol. Dari sini aku merasakan hasil keringat sendiri dan menghargai penghasilan yang didapat. Aku tidak bisa mengabaikan itu. Sekarang, setelah berkembang begini masa mau dikubur?" papar Via.


Mira mengangguk. Sementara Ratna senyum-senyum sambil sesekali melirik Via.


"Mbak, bukankah kita ikut merasakan manisnya usaha Via? Sekarang orientasi dia bukan keuntungan materi," tambah Ratna.


"Maksud kamu?" Mira mengerutkan keningnya.


"Dia menjalankan untuk kita. Mana pernah dia ambil bagian dia sekarang?"

__ADS_1


Via tersenyum mendengar perkataan Ratna. Dia tidak menyangkalnya.


"Via juga belajar memanajemeni toko untuk bekal Via memanajemeni perusahaan kelak," ungkap Via.


"Berarti Mbak Via nggak akan nutup toko ini meski Mbak Via sudah jadi bos perusahaan besar. Begitu, kan?" Salsa ikut meminta penjelasan.


"Iya, Sa. Insya Allah toko ini terus jalan. Mungkin saat aku pegang Wijaya Kusuma, aku tidak bisa banyak bantu ngurus Azrina. Kalian harus belajar mengelolanya."


"Siap, Bos!" sahut Ratna.


Mereka tertawa gembira. Tak terasa mangkok di depan mereka sudah kosong.


"Ngomong-ngomong tadi kamu makan sotonya nggak pakai sambal, kan?" Ratna sedikit khawatir.


"Nggak, Ratna. Aku masih bisa menahan diri, kok."


"Syukurlah. Aku khawatir," ucap Ratna lega.


"Dek Via nggak mual-mual? Sudah pernah ngidam yang aneh-aneh?"


Via menggeleng. Ia memang tidak merasakan morning sickness.


"Soto ini karena Mbak Via ngidam apa bukan?" tanya Salsa kepo.


Via tertawa kecil lalu menjawab, "Mungkin. Aku sebenarnya khawatir ketahuan Mas Farhan. Anak buah Mas Edi kan selalu mengawasi aku," jawab Via.


"Anak buah Mas Edi? Memang Mas Edi itu siapa, Dek?" tanya Mira.


Via kemudian menjelaskan kepada Mira tentang sosok Edi. Mira terlihat begitu antusias mendengarkan penjelasan Via.


Sikap Mira tidak luput dari perhatian Ratna. Ia merasa ada yang aneh dengan cara Mira menyimak.


"Kok seolah belum tahu sama sekali tentang Edi? Bukannya Mbak Mira sudah tahu siapa Mas Edi? Bukankah dulu Via sudah pernah menjelaskan bahwa Mas Edi adalah orang kepercayaan Om Candra? Mbak Mira yang sekarang mulai pikun atau aku yang menjadi cerdas?"


"Kamu dijemput jam berapa?" tanya Ratna memotong cerita Via.


"Jam 2. Kenapa?" Via balik bertanya.


Mira melirik Ratna sekilas. Raut mukanya seperti kurang senang.


"Dek, Mas Edi memang tinggal bareng Dek Via?" Mira kembali ke topik semula.


"Iya. Tapi, tidak di dalam. Ada paviliun di bagian samping. Mas Edi tinggal di situ bersama Pak Nono dan Pak Yudi," terang Via.


Mira mengangguk-angguk tanda mengerti. Sementara Via mengambil ponselnya untuk mengecek pesan yang masuk. Matanya terbelalak mengetahui ada 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan dari Farhan. Ia buru-buru membuka pesan suaminya.


[**Cinta di mana?]


[Cinta masih ada jam kuliah?]


[Mas sedang menghadiri peresmian cabang perusahaan milik kolega Mas. Lokasi dekat kampus Cinta


[Cinta mau ikut?]


[Sudah selesai kuliah? Sekarang di mana**?]


Via menarik nafas panjang. Ia menyesal mengabaikan pesan dan panggilan dari suaminya.


Via bermaksud menelepon sang suami. Namun, hal itu ia urungkan karena khawatir Farhan sedang sibuk. Ia segera mengetik pesan untuk Farhan.


[Maaf Hubbiy, Via baru buka chatt Hubbiy. Via sudah selesai kuliah. Sekarang di ruko.]


Ternyata Farhan sedang dalam posisi daring (online). Ia mengetik balasan tak lama setelah pesan Via dibuka.


[Acara di sini hampir selesai. Jam 1 Mas jemput, ya.]


[Ok. Via tunggu.]


[Jangan kangen, ya! 😘😘😘]


Via tertawa membaca pesan Farhan. Tentu saja hal itu memancing perhatian tiga sahabatnya.

__ADS_1


"Ada apa, Via? Sama Mamas tersayang, ya?" tebak Ratna.


"Iya. Mas Farhan ternyata bisa nggombal, bikin aku ketawa." Senyum Via masih setia di bibirnya.


"Kalian mulai bucin kayaknya," ujar Ratna.


"Halah, bilang aja kalau pengin. Dasar jomblo!" Mira ikut berkomentar.


"Memang Mbak Mira nggak jomblo?" balas Ratna.


Muka Mira memerah. Sesaat kemudian, ia menunduk. Ratna menjadi serba salah.


"Mbak, salat dulu! Salsa lagi enggak. Sana, bertiga aja!" Ucapan Salsa memecah kecanggungan.


Via, Ratna, dan Mira menuju lantai 2. Mereka berjamaah salat zuhur.


Ketika jarum pendek masih bergerak mendekati angka 1, terdengar suara mesin mobil dimatikan. Tak lama kemudian dua pria sudah berada di depan ruko.


"Mbak Via lagi di atas. Sebentar, saya panggil," ucap Salsa.


Tak sampai 5 menit kemudian, Via turun bersama Mira.


"Mau pulang sekarang?" tanya Via.


"Iyalah. Atau mau mampir dulu?" Farhan balik bertanya.


"Enggak. Tuh, Mas Edi sudah kusut kayaknya," canda Via.


Farhan tersenyum lebar. Ia menoleh ke sampingnya. Lelaki yang menjadi asistennya itu memang tampak lelah.


"Perlu diseterika kayaknya," sahut Farhan," Mbak Mira ada seterika?"


Mira tampak gugup mendengar pertanyaan Farhan. Ia tidak menjawab, tetapi langsung berbalik ke lantai 2. Tak lama kemudian, ia kembali dengan menenteng seterika.


Melihat benda di tangan Mira, Farhan dan Via tak dapat menahan tawanya. Salsa pun demikian. Edi hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


"Mas, siap diseterika?" bisik Farhan.


Mira kebingungan mendapati orang-orang tertawa. Ia juga terlihat canggung.


"Saya salah, ya?" ucap Mira lirih.


"Eng---enggak, nggak Mbak. Tadi Mas Farhan cuma becanda, kok."


"Oh, begitu." Mira menundukkan kepalanya.


Edi menatap Mira. Ia merasa kasihan melihat gadis itu salah tingkah.


"Mbak Via sudah siap?" tanya Edi menetralisir kecanggungan.


"Sudah. Eh, belum pamit Ratna."


Via kembali ke atas. Ia berpamitan kepada Ratna.


Saat itu, tiba-tiba terlintas di benak Mira tentang jaket. Ya, jaket yang dipinjamkan Edi waktu insiden di restoran belum dikembalikan.


"Permisi, saya mau ambil jaket dulu," kata Mira diikuti langkah kilat ke kamar.


Mira kembali dengan membawa jaket bersama Via. Ia kemudian menyerahkan jaket itu kepada Edi.


"Terima kasih, Mas," ucap Mira lirih.


Edi menerima jaketnya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.


"Yuk, pulang!" Via menarik tangan Farhan.


"Kami pulang. Assalamualaikum," ucap Farhan sambari melambaikan tangan.


Mira menjawab salam dan lambaian tangan Farhan. Namun, tatapannya lebih mengarah ke Edi. Bahkan, Mira masih mematung di depan ruko meski mobil Via sudah tak tampak.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2