SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pertolongan


__ADS_3

Fals Back on


Farhan POV


Aku melihat ada mobil pick up hitam terpasrkir. Aku jongkok di sisi kiri mobil. Kupikir mobil ini bisa melindungi aku dari pandangan orang-orang yang mengejarku.


Jantungku berdegup kencang saat kudengar pintu sebelah kanan dibuka dan tak lama ditutup kembali. Itu artinya, mobil akan segera pergi. Dan, tidak akan ada lagi yang


menghalangi pandangan para penjahat itu.


Aku  hampir berteriak kaget tatkala pintu mobil sebelah kiri terbuka. Aku pasrah kalau sopir pick up adalah bagian dari komplotan penjahat itu.


“Naiklah, Bang! Abang dikejar penjahat, ya? Ayolah, jangan takut! Cepat naik, mereka makin dekat!” suruhnya.


Entah kenapa aku menurut. Aku ikuti perintah pemuda berkaos oblong warna hitam. Aku segera naik dan menutup pintu.


“Jongkok, Bang! Abang jangan bergerak kalau belum aku perintah,” ucapnya datar.


Lagi-lagi aku seperti robot yang menuruti perintah dari remote control. Kulipat kakiku dengan susah payah karena terasa perih menyengat lututku.


Begitu aku jongkok, dia meletakkan beberapa lembar lipatan karung ke atasku. Tentu saja


risih rasanya meski tidak berat. Entahlah, aku percaya begitu saja kepadanya. Hatiku mengatakan dia orang baik.


“Maaf, Bang. Abang  tetap diam jangan bergerak kalau belum aku suruh,” ucapnya lagi.


Tak lama kudengar suara mesin mobil distater. Aku merasakan mobil mulai bergerak perlahan. Namun, baru beberapa detik mobil kembali berhenti. Aku tetap diam sesuai perintahnya.


“Hei, kau mau ke mana?” Aku mendengar ada orang yang bertanya dari arah kanan pengemudi.


“Pulang dong, Bang. Aku kan baru saja drop sayuran sekalian beli karung-karung baru,” jawab pemuda yang mengemudikan pick up ini.


“Kau tadi tak lihat ada lelaki pakai baju robek-robek dan kotor?” tanya orang dari luar


mobil.


“Tak kulihat orang seperti itu. Atau mungkin aku tak begitu memperhatikan. Ada apa, Bang?” tanya sopir pick up.


“Nggak apa-apa. Ya sudah, kau lanjutkan perjalanan sana!” sahut  lelaki yang semula bertanya terus.


“Baik, Bang. Jalan dulu, ya.”


Aku kembali merasakan mobil melaju. Sekitar lima menit berselang, karung yang ditaruh di


atas kepalaku diambil. Huff, rasanya lega.


“Duduklah, Bang! Keadaan aman,” ucap si sopir.


“Makasih, ya, kau telah menyelamatkan aku. Aku berhutang budi bahkan nyawa kepadamu.”


Jangan berlebihan, Bang! Aku hanya menyelamatkan orang yang aku yakini baik.


Yang dikejar-kejar kelelawar hitam setahuku orang-orang baik,” ucapnya sambil tersenyum.


“Kau kenal mereka?” tanyaku heran.


“Aku hanya tahu sedikit. Aku dulu juga seperti mereka, mau dibayar untuk melakukan hal keji


kepada seseorang yang menjadi target. Aku pernah melakoninya," jawabnya dengan nada getir.


“Oh, begitu. Aku sendiri tidak tahu mengapa mereka mengejarku, berniat membunuhku,” ucapku.

__ADS_1


“Mereka pasti dibayar seseorang yang menginginkan nyawamu,” jelasnya.


“Siapa orang itu?” tanyaku heran.


“Mana aku tahu? Aku hanya tahu kalau mereka komplotan penjahat bayaran. Abang sendiri, bagaimana bisa compang-camping nggak jelas begini?”


“Aku mengalami kecelakaan. Rem blong. Aku sebenarnya curiga  itu rekayasa. Yang jelas, saat itu aku berdua dengan temanku. Aku


berhasil loncat tapi temanku sepertinya tidak. Aku belum tahu pasti nasibnya. Yang jelas, saat aku masih terbaring di bawah, aku sempat mendengar percakapan sepertinya tiga orang, tentang rencana mereka menghabisi aku.” Aku menjelaskan semampuku. Lagi-lagi kepalaku terasa berdenyut nyeri. Kupegang erat kepalaku.


“Kenapa, Bang?” tanyanya khawatir.


“Kepalaku nyeri sekali. Aaargh...” pekikku kesakitan.


“Sabar, Bang. Sebentar lagi kita sampai rumahku, Abang bisa istirahat.”


Sesampai rumah orang baik hati itu, aku dipapah masuk. Seorang wanita berusia sebaya Mbok Marsih menyambut kami.


“Siapa orang ini, Gus? Dia kenapa?” tanyanya gugup.


“Sebentar, Bu. Aku bawa dia ke kamar dulu,” jawab lelaki yang barusan dipanggil Gus.


Aku dibawa ke kamar yang cukup sempit. Ia membantuku beerbarik di tempat tidur dengan kasur kapuk yang sudah tipis.


“Maaf, adanya seperti ini,” ucapnya.


Tentu saja ini lebih baik dibandingkan aku tertangkap orang-orang itu. Aku memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhku. Sepertinya lelaki itu keluar. Samar kudengar suaranya


bebincang dengan perempuan yang dipanggil bu.


Rasanya kasur tipis itu nyaman sekali. Aku bisa tertidur lelap. Saat aku bangun, nyeri di


angka 1.


Aku duduk sambil mengingat-ingat yang terjadi. Nyeri itu datang lagi. Aku pun mengatur pernafasan sambil berzikir. Alhamdulillah, sekitar 5 menit kemudian nyeriku berkurang.


“Sudah bangun, Bang?” tanya lelaki penolongku dari arah pintu.


“Iya. Eh, sekarang sudah zuhur, ya?”


“Iya, Bang. Mau salat?” tanyanya.


“Iya. Tapi, bajuku ....” ucapku bingung.


“Kau pakai saja punyaku. Sedikit kebesaran tak apalah, Bang” ujarnya. Ia keluar sebentar lalu kembali dengan membawa kemeja dan sarung.


Aku diantar ke kamar mandi. Kubersihkan tubuhku lalu berwudu.


Ketika masuk kamar, kulihat sebuah sajadah telah terbentang di lantai. Aku bisa mendirikan salat dengan tenang. Kupanjatkan doa, memohon pertolongan pemilik kehidupan. La haula wala kuata ila billah, tiada daya kekuatan kecuali dari Allah.


“Sudah selesai, Bang? Ayo, makan dulu!” ajak lelaki itu.


Aku melipat sajadah lalu keluar. Ia sudah menungguku lalu mengajakku duduk di tikar.


“Makan dulu seadanya. Ibuku sudah menyiapkan,” katanya.


“Terima kasih,” ucapku.


Kami pun menyantap hidangan yang ada. Hanya berdua. Nasi dengan lauk tempe goreng ditambah sayur kacang panjang terasa begitu nikmat. Mungkin karena perutku


sudah sangat lapar.

__ADS_1


“Kita belum kenalan. Namaku Agus. Aku di sini bersama ibu dan dua adikku yang masih


sekolah. Abang ini siapa dan dari mana?” tanyanya.


“Namaku Farhan. Aku dari Jogja,” ucapku.


Dia terlihat kaget. Sejurus kemudian, senyum lebar terlukis di bibirnya.


“Ah, aku panggil Mas Farhan saja kalau begitu. Aku juga dari Jogja, Mas. Baru sekitar tiga tahun yang lalu aku pindah ke sini,” kata Agus.


Aku pun tersenyum mendengarnya. Ah, rasanya seperti bertemu dengan saudara yang lama tak berjumpa.


Kuceritakan sedikit tentang aku dan kepergianku ke Medan hingga kecelakaan itu. Tak lupa kuceritakan kalau aku mencoba mengambil uang di ATM, tetapi kartuku terblokir.


“Soal uang, tidak usah kau pikirkan dulu, Mas. Untuk sementara, tinggallah di sini sampai Mas Farhan bisa mengingat alamat Om Mas Farhan. Aku juga sambil mencari. Aku minta, jangan bepergian. Terlalu berbahaya mengingat anggota kelelawar hitam itu cukup


banyak,” ucap Agus.


“Sepertinya kamu cukup paham tentang mereka,” ucapku.


Agus berubah murung. Ia menguas senyum getir di bibirnya.


“Di perjalanan tadi aku sudah sempat ngomong kalau aku dulu pernah


seperti mereka, menjadi orang bayaran. Aku memang tidak bergabung dalam suatu perkumpulan. Namun, yang kulakukan tak kalah menjijikkan. Entah berapa orang yang kucelakai demi uang. Kalau membunuh, aku memang tidak pernah. Makanya, aku mengenal komplotan hitam macam mereka itu,” cerita Agus.


“Setidaknya kamu sudah bertobat. Itu jauh lebih baik,” ucapku menghiburnya.


“Iya, salah seorang temanku yang menolong aku keluar dari lembah hitam. Dia yang kasih aku tempat tinggal ini juga pekerjaan. Padahal, sebelumnya tindakanku membuat dia celaka sampai patah tulang. Bagiku, dia malaikat dalam ujud manusia. Sekarang, aku bekerja nganterin barang dari lahan pertanian milik om temanku,” lanjut Agus.


“Mulia sekali temanmu,” komentarku.


“Iya, dia memang baik. Aku bersyukur tinggal di sini. Setidaknya, aku bisa membiayai pengobatan ibuku juga menyekolahkan adik-adikku. Ibuku sakit-sakitan sehingga ia terlihat lebih tua dibandingkan usia sebenarnya.”


“Memangnya, ibumu sakit apa?” tanyaku penasaran.


“Diabetes dan hipertensi. Pola makannya harus dijaga ketat. Ibu juga kontrol rutin,” kata


Agus.


Aku terharu mendengar cerita Agus. Rasanya, aku seperti telah lama mengenalnya. Dalam hati aku berjanji untuk membantu Agus jika aku bisa pulang.


Flash Back off


Farhan mengernyitkan keningnya. Ia meringis seperti menahan sakit.


"Istirahat dulu, Han. Kamu sudah cukup lama bercerita," tegur sang ayah.


"Nggak apa-apa. Farhan belum minum obat," ucapnya.


Bu Aisyah mengambil obat yang ada di nakas. Bu Inah menyiapkan segelas air putih.


Farhan masih terdiam setelah meminum obat. Sepertinya rasa nyeri masih bersarang di kepalanya


***


Bersambung


Mohon klik like dan koment kalau Kakak sudah selesai membaca novel recehku ini. Semoga dukungan Kakak mendapat balasan yang lebih baik.


Terima kasih atas dukungan Kakak, baik yang kasih vote, rate 5, like, juga koment. Lop yu pull 😘😘

__ADS_1


__ADS_2