
Selesai mandi, Mira terlihat segar dan lebih tenang. Ia mendekati Via dan Ratna.
"Sudah lebih nyaman?" tanya Ratna.
"Iya," jawab Mira lirih.
Saat mereka akan ngobrol lagi, seorang polwan mendekat. Ia adalah orang yang mendampingi Mira saat Via dan Ratna belum datang.
"Maaf, Mbak Mira sudah lebih baik? Apa bisa dimintai keterangan sekarang?"
Mira menatap Via dan Ratna bergantian. Kelihatannya ia masih ragu.
"Boleh kami menemani? Kami tinggal bersama di ruko," kata Via.
"Oh, iya iya. Bisa, Mbak. Mari!"
Mereka masuk ke ruang pemeriksaan.
Ternyata cukup lama. Begitu banyak pertanyaan yang harus Mira jawab. Via dan Ratna pun akhirnya ditanyai karena mereka memang berkaitan. Apalagi Via. Dialah yang sebenarnya menjadi target penculikan.
Pukul 8 mereka bertiga keluar. Farhan segera menyambutnya.
"Sudah selesai?"
"Belum. Tapi kami lapar, belum sarapan. Tadi kami diijinkan sarapan dulu."
"Kalau begitu, kita sarapan sama-sama di kantin, yuk!" ajak Farhan.
Mira tampak begitu susah menelan makanan. Sesekali ia hanya mengaduk-aduk nasi goreng di depannya.
"Kenapa, Mbak? Nggak enak?" bisik Ratna.
"Eh, eng---nggak. En--enak, kok."
"Mbak Mira masih trauma dengan kejadian dini hari tadi?" sambung Via.
Mira mengangguk. Ia kembali menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Mbak Mira harus memenangkan diri. Alhamdulillah, Mbak Mira selamat," kata Ratna.
"Aku bingung, kenapa Om Beno jadi jahat begitu? Dulu, saat keluargaku tinggal bertetangga dengan Om Beno, kami sering saling berbagi makanan. Dia dan tante sama-sama ramah. Setelah sukses, keluargaku jarang kontak dengan keluarga Om Beno," ucap Mira.
"Sebenarnya bagaimana hubungan antara Pak Beno dengan Dek Ratna dan Dek Mira?" Farhan menyela.
__ADS_1
"Om Beno itu adik ibuku, Mas. Kalau bapaknya Mbak Mira, kakak ayahku. Jadi, Om Beno nggak bersaudara langsung sama Mbak Mira. Tapi, dulu Om Beno pernah tinggal bertetangga dengan keluarga Mbak Mira. Waktu itu, Om Beno masih kerja di perusahaan Pak Danu, papahnya si ubur-ubur," ungkap Ratna.
"Kita belum tahu alasan Pak Beno melakukan ini. Namun, apa pun itu, semoga Pak Beno menyadari kesalahannya. Masalah ini kita serahkan kepada yang berwenang."
Setelah mereka menyelesaikan sarapan, Farhan membayar ke kasir. Lalu, mereka kembali ke ruang semula.
Baru saja mereka masuk ruangan, Pak Andi dan Pak Arman datang. Mereka juga dimintai keterangan mengenai Pak Beno.
Menjelang pukul 11, pemeriksaan selesai. Mereka keluar dari ruangan. Ternyata, keluarga Pak Haris sudah datang, termasuk Eyang Probo.
"Saya tidak mengira kesalahan saya di masa lalu berbuntut panjang seperti ini," keluh Pak Arman.
"Memang apa yang terjadi?" tanya Eyang Probo penasaran.
"Bagaimana kalau cerita Pak Arman dilanjutkan sambil makan siang? Yang baru ditanyai petugas tentu lelah dan lapar," usul Bu Aisyah.
"Kau benar. Ayo, kita makan dulu! Kita ke restoran Aldan yang tidak terlalu jauh. Bagaimana?" usul Eyang Probo.
Semua setuju. Tiga mobil beriringan meninggalkan kantor polisi. Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai restoran yang dimaksud Eyang Probo.
Tak hanya raga yang lelah karena duduk cukup lama di hadapan penyidik. Jiwa pun terasa penat setelah menjawab berbagai pertanyaan petugas. Apalagi Mira. Dia masih merasa trauma akibat penculikan dirinya.
Namun, makan bersama-sama menikmati hidangan yang lezat ternyata dapat menghilangkan lelah dan stress. Mereka menyantap hidangan dengan lahap.
Pak Arman menghela nafas panjang. Ia meneguk minumannya terlebih dahulu sebelum bercerita.
“Dulu, saya bekerja di perusahaan milik Tuan Beno. Saya bekerja di sana sejak perusahaan itu mulai dirintis. Seiring berkembangnya perusahaan, saya menjadi tangan kanan Tuan Beno. Namun, suatu kesalahan saya lakukan sekitar 7 tahun silam. Saya merekomendasikan sebuah perusahaan milik teman saya sebagai patner. Ternyata, teman saya korupsi dana proyek yang mengakibatkan kerugian cukup besar.”
“Bukankah itu kesalahan teman Pak Arman?” Farhan menyela.
“Iya. Tapi saya ikut andil karena sayalah yang merekomendasikan.”
“Pak Arman dipecat?” tanya Via dengan suara berat.
“Tidak hanya dipecat, Mbak,” sahut Pak Arman getir.
“Maksud Bapak?” tanya Via lagi.
“Tuan Beno mem-black list saya.
Kolega-koleganya dihubungi agar tidak menerima saya. Puluhan lamaran saya ditolak. Untunglah, almarhum Pak Wirawan menerima saya. Bahkan, dalam waktu tergolong singkat karir saya melejit. Nama besar Wijaya Kusuma pun berkibar dalam kurun waktu dua tahun berikutnya. Itulah yang membuat Tuan Beno marah.”
“Bukankah masalah Pak Beno dengan Pak Arman? Mengapa almarhum Pak Wirawan ikut dimusuhi?” tanya Pak Haris heran.
__ADS_1
“Itulah yang saya sesalkan. Kenapa kemarahan Tuan Beno juga ditimpakan kepada almarhum dan keluarganya?Saya merasa bersalah sama almarhum dan Mbak Via. Karena saya, Mbak Via ikut menanggung akibatnya,” kata Pak Arman dengan suara parau.
"Ini bukan kesalahan Pak Arman. Almarhum papa menerima Bapak, tentu punya alasan. Apa pun itu, tentu tidak seharusnya dipermasalahkan," komentar Via.
"Kamu benar, Nak. Mungkin Beno marah karena Arman diterima di Wijaya Kusuma, ikut membesarkan Wijaya Kusuma. Almarhum Wirawan bertambah sukses dengan kehadiran Arman, orang yang dibuang Beno. Aku rasa itu yang menyulut dendam dalam diri Beno," kata Eyang Probo.
"Emm, aku atas nama Om Beno mohon maaf kepada Via dan keluarganya. Karena kelakuan om aku, kalian jadi menderita. Mbak Mira juga. Maafkan Om Beno, ya. Hiks... aku---aku malu sebagai keponakannya," Ratna terisak.
"Sudahlah, Rat. Kamu tidak usah merasa bersalah begitu. Yang lalu biarlah berlalu. Mudah-mudahan Om Beno menyadari kesalahannya," ujar Via.
Bu Aisyah tersenyum bangga. Ia merasa anak angkat sekaligus menantunya itu semakin dewasa.
"Tapi, aku rasa Beno perlu mendapat pelajaran. Masalah penculikan Mira biar diselesaikan secara hukum. Mungkin ia perlu merasakan dinginnya tidur di hotel prodeo selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Mudah-mudahan selama mendekam di sel, dia bisa belajar banyak hal termasuk menghilangkan dendamnya," lanjut Eyang Probo.
"Memangnya ancaman hukuman untuk Om Beno berapa tahun?" tanya Ratna dengan raut cemas.
"Karena korban bukan anak di bawah umur, mungkin jaksa akan menggunakan pasal 328, ancamannya paling lama 12 tahun," jawab Pak Andi.
"Ratna tidak membenci Om Beno, kan?" tanya Bu Aisyah.
Ratna menggeleng dan menjawab lirih, "Saya malu, Bu. Perbuatan om saya telah menyengsarakan banyak orang."
"Nak Mira bagaimana?" Bu Aisyah menatap sepupu Ratna.
Mira masih diam. Wajahnya terlihat tegang. Pikirannya masih dihantui bayang-bayang penculikan yang dialaminya.
"Mbak! Bu Aisyah tanya, tuh," kata Ratna sambil menepuk lengan Mira.
"Eh, iya. Em, bagaimana, Bu?"
"Sepertinya kamu masih trauma. Benar begitu?" tanya Bu Aisyah lembut.
"Sa---saya sangat takut, Bu. Ikatan di tangan saya seperti masih terasa. Apalagi pisau lipat itu." Mira begidik ngeri.
Semua orang terdiam. Mereka prihatin dengan kondisi psikologis gadis itu.
***
**Bersambung
Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan meninggalkan jejak koment, like, juga vote.
Terima kasih atas dukungan Kakak semua** 😘
__ADS_1