SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Dilema


__ADS_3

Gelapnya malam terus merayap, menebar sunyi ke penjuru kota. Malam memang diciptakan Allah sebagai waktu untuk beristirahat. Beberapa ayat Al Quran menjelaskan tentang pergantian waktu siang dan malam, menyediakan malam untuk beristirahat sedangkan siang untuk mencari nafkah. Di antaranya dalam An-Naba disebutkan Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.


Jarum pendek jam di kamar Via sudah menunjuk angka 10. Biasanya, Via sudah tidur karena ia memang membiasakan diri tidak tidur larut malam. Ia tidak ingin meninggalkan waktu sepertiga malam terakhir yang berharga.


Namun, kali ini kantuk enggan menyapa. Padahal, ia sudah merebahkan diri di tempat tidur lebih dari seperempat jam yang lalu.


Ucapan dan tingkah Mira mengganggu pikiran Via. Gadis itu merasa kalau sikap Mira tidak wajar.


"Kenapa Mbak Mira begitu antusias menanyakan tentang Mas Azka dan Mas Farhan, ya? Aku juga merasa ada yang beda saat Mbak Mira menyebut nama Mas Farhan. Apa ini cuma perasaan aku saja? Ah, kenapa aku jadi mikirin Mbak Mira terus. Mata ini kok susah amat diajak kompromi? Kantuk, datanglah!"


Akhirnya, Via tertidur setelah hampir satu jam membolak-balik badan.


Meski tidur agak larut, Via tetap terbangun pukul 02.30. Karena sudah menjadi kebiasaan, tanpa alarm pun Via bisa rutin bangun sebelum pukul 03.00. Setelah menjadi anak angkat Bu Aisyah, gadis itu rutin melaksanakan qiyamullail di sepertiga malam terakhir. Bisa dikatakan ia tidak pernah meninggalkan rutinitas di waktu yang mustajab untuk berdoa.


Via pun ke kamar mandi untuk bersuci lalu menunaikan qiyamullail. Usai salat sunah dan membaca ayat-ayat Al Quran, Via bermaksud tidur lagi. Namun, ia melihat ada notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ia pun membuka pesan tersebut.


Mas Farhan


[Assalamualaikum. Sudah bangun, istriku? Jangan lupa qiyamullail di sepertiga malam terakhir ini. Semoga doamu diijabahi.]


Via tersenyum. Ia merasa Farhan semakin menunjukkan perhatiannya. Tanpa menunggu lama, Via mengetik pesan balasan.


Via


[Waalaikumsalam. Alhamdulillah, sudah. Sekarang mau bobo lagi. Mas sudah QL?]


Mas Farhan


[Alhamdulillah. Mas juga sudah. Ya udah sana kalau mau bobo lagi. Jangan mimpiin Mas, ya! Ntar malas bangun, subuhannya telat.]


Via cekikikan sendiri. Ia membalas pesan Farhan hanya dengan emoticon tertawa. Ia pun meletakkan kembali ponselnya lalu berbaring.


Hanya satu jam Via tertidur. Sebelum azan subuh bergema, ia sudah bersiap salat.


Lain halnya di kamar sebelah. Ratna masih terbuai dalam mimpi. Kadang ia senyum-senyum sendiri.


Sementara di ranjang satunya, Mira justru sudah terjaga. Ia memang tidak salat. Gadis itu menatap langit-langit dengan tatapan kosong.


"Kenapa semenjak liburan kemarin aku teringat Mas Farhan terus. Memang dia terkesan angkuh nggak kayak adiknya, Mas Azka. Tapi, aku justru tertarik ingin tahu lebih banyak tentang dia. Ah, apa aku menyukai cowok itu?"


Mira membalikkan tubuhnya. Ia menatap tembok kamarnya. Lagi-lagi bayangan wajah Farhan muncul.


"Aduh, kok wajah Mas Farhan muncul terus? Gimana ini? Aku takut jatuh cinta sama dirinya. Nggak mungkin dia menyukai aku. Aku dan dia begitu jauh berbeda. Tapi, apa aku salah? Terus, bagaimana menghilangkan perasaan ini?"


Mira masih tenggelam dalam lamunan tentang Farhan. Ia sampai lupa membangunkan Ratna yang belum lepas dari jerat mimpinya.

__ADS_1


Saat mentari mulai merangkak naik, Ratna dan Via berangkat bersama ke kampus. Mereka mengobrol tentang kegiatan liburan hari sebelumnya


"Eh, Vi. Aku kok merasa ada yang aneh dengan Mbak Mira, ya?"


"Aneh gimana?"


"Sejak lava tour itu, mukanya kelihatan cerah banget."


"Bagus, dong! Berarti dia sudah melupakan trauma akibat penculikan. Tujuan utama kita lava tour kemarin kan menghilangkan trauma Mbak Mira," sahut Via.


"Itu sih, iya. Ini ada yang lain. Nggak sekadar ia lupa akan traumanya."


"Lalu?"


"Kayaknya Mbak Mira lagi jatuh cinta, deh."


"Masa, sih? Emangnya kamu tahu tanda-tanda orang jatuh cinta? Kamu sendiri pernah jatuh cinta?" cecar Via.


"Hehehe... nggak tahu. Kalau suka sama cowok ganteng sih sering," ujar Ratna sambil cengengesan.


"Dasar!" gerutu Via.


"Eh, menurutmu kalau Mbak Mira beneran jatuh cinta, gimana?"


"Aku yakin 70 %. Dari ciri-ciri cewek yang sedang jatuh cinta, Mbak Mira menunjukkan hal itu."


"Kamu baca di buku apa?"


"Novel," jawab Ratna singkat.


"Ratnaaa!" seru Via kesal.


"Iya. Aku nggak tuli, kok. Kamu nggak usah teriak gitu, deh."


"Habis, kamu ngeselin. Aku serius, kamu malah becanda," gerutu Via.


"Aku serius, kok. Dengerin, ya. Dari novel kita bisa belajar banyak hal, kok. Banyak novel yang logis. Novel itu dibuat, tapi tidak dibuat-buat. Memang direka, tapi tidak direka-reka."


"Tauk ah."


"Eh, Vi. Kalau Mbak Mira jadi ipar kamu, gimana?"


"Maksud kamu?"


"Mbak Mira berjodoh sama Mas Farhan, kamu sama Mas Azka."

__ADS_1


Via terkesiap. Dadanya terasa berdesir.


"Ngaco, ah. Udah, kita masuk ke kelas, yuk!"


Memang mereka sudah sampai kampus. Lima menit berselang, perkuliahan sudah dimulai.


Hari itu, Via sulit berkonsentrasi. Kata-kata Ratna tentang Mira dan Farhan mengganggu pikirannya.


"Apa benar Mbak Mira jatuh cinta sama Mas Farhan? Kalau benar apa yang dikatakan oleh Ratna, aku mesti bagaimana? Aku perhatikan memang gelagat Mbak Mira agak aneh," pikir Via.


"Sssttt, melamun? Perhatikan tuh yang disampaikan Bu Hastuti!" bisik Ratna yang duduk di sebelah kiri Via.


Via mencoba untuk mengembalikan konsentrasinya. Lima menit, sepuluh menit, ia masih dapat bertahan. Namun, saat melirik Ratna, lagi-lagi Via teringat ucapan sahabatnya itu.


"Bagaimana kalau Ratna atau Mbak Mira nyuruh aku nolongin Mbak Mira biar deket sama Mas Farhan? Mereka kan nggak tahu kalau aku dan Mas Farhan udah nikah. Apa aku menolak saja? Apa alasan yang kugunakan? Masa aku bilang nggak mau. Mereka tahunya aku deket sama keluarga Mas Farhan. Atau aku pura-pura mau? Lalu, kalau Mbak Mira tambah cinta, Mas Farhan juga mau, aku mesti bagaimana? Ah, nggak bisa bayangin deh."


"Plukk!" Sebuah gulungan kertas kecil jatuh mengenai lengan Via. Sesaat Via tersadar dari lamunannya. Beberapa menit kemudian, ia tenggelam lagi dalam pikiran yang kacau.


"Apa aku jujur kepada mereka kalau Mas Farhan sebenarnya suamiku? Bagaimana reaksi mereka? Apa mereka bisa merahasiakan pernikahanku? Kalau Ratna sampai cerita ke orang-orang, apa tidak membahayakan rencana Mas Farhan? Aduh, bingung jadinya."


Via tak sadar kalau waktu sudah habis. Ia masih duduk di kursinya tanpa bereaksi. Sebuah tepukan yang cukup keras membuat ia tersadar.


"Kamu kenapa, sih? Aku perhatikan dari tadi melamun terus. Ingat bentar lagi mid, Neng!" ucap Ratna.


"Iya, aku tahu. Nggak tahu nih, mendadak banyak hal berseliweran di otakku."


"Apaan, sih? Coba cerita mumpung dosen belum datang. Masih seperempat jam lagi," bujuk Ratna.


"Soal perusahaan. Banyak masalah yang harus diselesaikan," kata Via berbohong.


"Kan sudah ada yang mengurus, kan? Pak Arman kalau nggak salah."


"Tetap saja aku harus tahu."


"Kalau kamu lulus, kamu akan bekerja di perusahaan almarhum papamu itu?"


"Entahlah," jawab Via sambil mengangkat bahunya.


****


Bersambung


Author ucapin makasih atas dukungan pembaca tercinta 😘


Author minta maaf kalau akhir-akhir ini telat/ tidak membalas komentar. Tapi, author janji untuk dukung balik author yang komen di sini insya Allah 🙏.

__ADS_1


__ADS_2