SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pembicaraan Pagi Hari


__ADS_3

Di sepertiga malam terakhir biasanya suhu cukup dingin. Orang-orang kebanyakan sedang nyenyak dalam tidur. Hanya orang-orang pilihan yang dengan ringan bisa bangun di sepertiga malam terakhir untuk mendirikan salat malam.


Farhan terjaga seperti ada yang membangunkan meski badan cukup letih. Saat membuka mata, ia sedikit kaget karena tangannya menyentuh seseorang.


"Masya Allah, siapa ini? Eh iya, aku tidur bersama Dek Via. Kok bisa lupa," batinnya.


Alhamdulillahiladzi ahyaanaa bakda maa amaatanaa wa ilaihinnusyuur.


(Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.)


Farhan menatap wanita yang masih dalam buaian mimpi. Semakin dipandang, Farhan merasa wajah Via semakin menarik. Saat memperhatikan bibir mungilnya, Farhan tak tahan untuk mengecupnya.


Farhan mencondongkan wajahnya ke bibir Via. Mendadak Via membuka matanya.


"Aaw!" Via memekik kaget.


Farhan terkejut dengan pekikan Via. Ia mengurungkan niatnya.


"Kenapa? Ada apa, Cin?"


Via mengerjapkan matanya. Ia mulai mengingat apa yang terjadi. Setelah ingatannya terkumpul, Via tersenyum malu.


"Via kaget kok ada lelaki di dekat Via, lupa kalau tidur bareng Mas Farhan. Assalamualaikum, Hubbiy," kata Via malu.


Farhan menjawab salam Via lalu terkekeh. Ia tidak bisa menahan rasa gemasnya. Ia pun merengkuh tubuh wanita di sampingnya dan menghujani dengan ciuman.


"Ish, Via belum berdoa," kata Via.


"Ya sudah, berdoa. Mas sambil kasih morning kiss kan nggak papa."


Akhirnya, morning kiss berlanjut ke ciuman yang menggelora. Farhan dan Via mengulang kegiatan mereka sebelum tidur.


Saat selesai, Via kebingungan.


"Ada apa?" tanya Farhan sambil mengenakan pakaian.


"Jam berapa? Via belum QL," ucap Via.


"Jam 3. Masih ada waktu, kok. Mas juga belum. Nanti lanjut salat subuh. Yuk, mandi dulu! Sudah bisa mandi besar?" balas Farhan.


Via mengangguk. Ia mengambil pakaiannya. Saat itu, ia melihat ponselnya bergetar.


Via meraih benda kotak pipih di meja. Satu pesan dari bundanya.


Bunda Aisyah


[Sudah bangun? Bunda lupa kasih tahu, ada gamis dan kemeja di paper bag. Bunda taruh di dalam laci.]


Via membuka laci yang terletak di sudut. Ia menemukan 2 paper bag berisi pakaian.


Via segera membalas pesan dari Bu Aisyah.


Via


[Iya, Bun. Via sudah menemukan. Terima kasih.]


Bu Aisyah


[Alhamdulillah, kalian tetap bisa QL kan?]


Via


[Iya, Bun. Ni Via mau siap-siap dulu.]


Selesai membalas pesan dari Bu Aisyah, Via menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan juga dirinya.


Usai bersuci, mereka melaksanakan ibadah malam hingga menjelang subuh.


"Kalau Mas tinggal salat subuh, Cinta berani sendiri di kamar?"


Via tertawa kecil. Ia merasa suaminya lucu menanyakan hal itu kepadanya.

__ADS_1


"Iya, Via nggak papa kok. Pergilah jamaah subuh!"


Sepeninggal suaminya, Via melanjutkan zikir hingga subuh. Baru saja selesai merapikan mukena dan sajadah, Farhan sudah kembali.


"Assalamualaikum, Cinta."


"Waalaikumsalam, Hubbiy."


Sebuah kecupan mesra mendarat di kening Via. Farhan menarik tangan Via ke ranjang.


"Mas, masa mau bobok lagi?" protes Via.


"Siapa yang mau bobok, sih? Tidur jam segini nggak bagus. Rasulullah bersabda, idza shalaytumul-fajra fala tanamuu an thalabi arzuqakum, yang artinya ketika kalian sudah selesai melakukan salat subuh, janganlah (mementingkan) tidur yang menjadi penyebab hilangnya rezekimu. Oleh karena itu, hindari tidur setelah salat subuh."


Via mengangguk sambil tersenyum. Ia senang karena Farhan mulai membimbingnya.


"Kok senyum-senyum?" tegur Farhan.


"Suka aja. Suamiku membimbing istrinya, ngasih ilmu yang bermanfaat," ujar Via.


"Duuh, kalau gini Mas tambah sayang. Sini, duduk sini! Kakimu masih pegal?"


tanya Farhan sembari memposisikan diri di dekat Via.


"Enggak. Kenapa? Mau mijitin lagi?" tantang Via.


"Boleh. Kali ini bayar, ya!"


"Kok perhitungan sih sama istri?"


Farhan mendekatkan wajahnya ke wajah Via.


"Bayarnya pakai yang lain bukan duit. Yang kayak semalem," bisik Farhan.


Via melongo sejenak. Kemudian tangannya dengan cepat mencubit pinggang Farhan.


"Auw, sakit. Tega amat sama suami, Cin."


Farhan terkekeh melihat istrinya cemberut. Ia menarik tubuh Via hingga rebahan di dadanya.


"Cin, Mas sudah lama banget menginginkan saat begini. Mas dari dulu ingin dekat denganmu. Saat kamu terpuruk karena kehilangan orang tua, Mas memang belum bisa membantumu. Tapi, mulai sekarang Mas ingin menjadi orang pertama tempatmu bersandar, tempatmu berkeluh kesah. Terbukalah kepada Mas jika ada masalah. Maukah Cinta melakukannya?"


Via terdiam. Ingatannya kembali ke masa kelas XII SMA. Saat dia hampir menghadapi Ujian Nasional, dirinya justru mengalami ujian hidup teramat berat. Untunglah wali kelasnya begitu baik, memberikan tempat bagi Via untuk bersandar kala terpuruk saat itu. Dan kasih sayang wali kelasnya terus dapat ia rasakan dengan status mertua.


Tak terasa air mata Via mulai menggenang. Perlahan air itu meleleh menyusuri pipi Via yang putih.


Farhan menyadari diamnya Via. Ia mengeratkan pelukannya. Via pun semakin terbawa perasaan.


Setelah isakan Via mereda, Farhan mengendurkan pelukannya.


"Maaf kalau Mas melukai perasaanmu."


Via menggeleng. Sesekali isakannya masih terdengar.


"Tetaplah bersama. Mas ingin kita berdua menghadapi segala ujian. Mas tidak hanya ingin menua bersamamu, tapi ingin Cinta yang menjadi bidadari surgaku kelak. Kita harus saling mengingatkan dan menguatkan, ya," pinta Farhan.


Via hanya mengangguk.


"O ya, mau sarapan di kamar apa turun?"


"Turun saja. Via mandi dulu deh," jawab Via sambil beranjak dari ranjang.


"Mau kutemani?" goda Farhan.


"Ish, nggak usah. Yang ada malah gak jadi mandi," kata Via sambil mencebik.


"Emang ngapain?" Farhan masih ingin menggoda istrinya.


"Main!" teriak Via dari dalam kamar mandi.


Farhan terbahak-bahak. Rasa bahagia membuncah di dadanya. Ia senang karena Via tidak lagi canggung. Ia meraih ponselnya dan mengetikkan pesan untuk bundanya.

__ADS_1


[Kami mau sarapan di bawah. Tunggu, ya!]


Tak lama bundanya sudah mengirimkan balasan.


Bunda


[Beneran? Ya sudah, kami tunggu setengah jam lagi. Jam 8 kami check out.]


Setelah Via selesai mandi, ganti Farhan yang mandi. Guyuran air shower membuat badan menjadi lebih segar.


Tak sampai 30 menit mereka sudah siap. Farhan menggandeng istrinya keluar kamar.


"Wah, pengantin baru semakin segar penampilannya," komentar Dini.


"Bukan pengantin baru, orang nikahnya sudah hampir setahun," sahut Azka.


"Tapi kan baru tidur bersama tadi malam. Ya, kan?" Dini tak mau kalah.


"Sudah, jangan ribut! Sekarang, ayo sarapan!" potong Bu Aisyah.


Via bernafas lega. Tadinya, ia sedikit khawatir menjadi bahan ledekan.


Selesai makan, Eyang Probo membuka pembicaraan.


"Ada yang mesti kita bicarakan mumpung kumpul. Kita nanti check out sekitar jam 8, kan?"


"Betul. Saya beserta papi juga anak istri saya langsung terbang ke Jakarta. Farhan dan Via check out nanti saja. Nanti kan kalian ke Bali. Jadwal penerbangan kalian jam 4 sore."


Farhan dan Via saling tatap. Via mengangguk tanda setuju.


"Baik, Om. Ke bandara memang lebih dekat dari sini," jawab Farhan.


"Cie...yang mau honeymoon," Dini mulai meledek.


"Ssstt, diam kamu anak kecil!" hardik Bu Lena.


Dini hanya tertawa kecil melihat mamanya melotot.


"Begini. Saat ini kondisi Wijaya Kusuma mulai stabil. Namun, untuk kembali besar saya kira butuh waktu dan kerja keras. Dengan diakuisisinya Santoso Grup, peluang untuk kembali ke kejayaan masa kepemimpinan Wirawan sangat terbuka. Tapi, butuh orang-orang yang handal," kata Eyang Probo.


"Terima kasih atas bantuan Tuan Probo selama ini. Saya sependapat dengan Tuan. Menurut saya, Nak Farhan morang yang tepat menggantikan posisi almarhum anak saya. Kemampuan Nak Farhan tidak diragukan. Sementara Pak Arman pegang Santoso. Bagaimana?" Pak Adi menyampaikan gagasannya.


"Cucu saya memang cukup kompeten. Tapi, saya juga butuh pengganti. Saya sudah tua. Farhan sudah saya persiapkan mengganti saya," ujar Eyang Probo.


Mereka terdiam. Semua tengah berpikir mencari solusi.


"Bagaimana kalau sementara Farhan pegang Wijaya Kusuma untuk memastikan kestabilan kondisi Wijaya Kusuma. Edi dan kawan-kawan saya tinggal saja di sini untuk membantu Farhan. Sambil memulihkan kondisi perusahaan, Farhan mengajari Via untuk menjalankan perusahaan. Setelah Via mampu, Farhan beralih ke perusahaan Tuan Probo. Bagaimana?" usul Pak Candra.


Orang-orang mengangguk-angguk. Sementara Via tampak resah.


"Om, apa Via mampu? Lagian Via belum selesai kuliah," protes Via.


"Om yakin kamu mampu. Farhan nggak keberatan kalau Via terjun ke dunia bisnis?" tanya Pak Candra.


"Tentu saja tidak, Om," jawab Farhan mantap


"Tuh, suamimu sudah mengizinkan. Kamu kan ingin perusahaan almarhum papamu kembali jaya. Bukankah tujuan awal kamu memutuskan menikah untuk perusahaan papamu?" tandas Pak Adi.


Via terdiam. Dalam hati ia membenarkan semua ucapan kakeknya.


***


**Bersambung


Insya Allah novel ini kembali update tiap pagi. Semoga bisa.


Terima kasih atas dukungan seluruh readers.


Yang mau usul kelanjutannya boleh deh di koment. Gratis kok hehehe...


Jangan lupa tinggalkan cap jempol juga ya**!

__ADS_1


__ADS_2