SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian VII


__ADS_3

Bu Aisyah berjalan tergesa-gesa menuju ruang UKS. Di ruangan itu Ratna dengan setia masih menunggui sahabatnya, Via, yang belum juga membuka matanya.


"Bagaimana kondisi Via?" tanya Bu Aisyah dengan setengah berbisik.


"Belum sadar, Bu. Saya khawatir dia tertekan."


"Bagaimana ceritanya Via jadi begini? Tadi pagi dia sehat kok."


"Tadi kami ke perpustakaan. Di sana ketemu si ubur-ubur..."


"Tunggu! Siapa ubur-ubur?"


"Eh, anu Bu...maksud saya Aurelia."


"Oh, Aurelia," Bu Aisyah menahan geli.


"Lia mengejek Via, Bu. Katanya sekarang Via gembel melarat. Dia juga nuduh Via licik."


"Kok bisa?"


"Lia menuduh Via cari simpati Bu Aisyah agar Ibu kasihan terus ngajak Via tinggal bersama Ibu. Lia curiga itu trik Via untuk mendekati Mas Azka."


"Azka putra Ibu? Via kan baru kenal Azka kemarin."


"Iya, Bu. Tapi yang namanya hati sedang dengki kan jauh dari logika."


"Kasihan Via. Baru saja dia mulai move on, gangguan datang."


Mata Via mulai mengerjap. Sedikit demi sedikit ia membuka matanya.


"Via, kamu dengar aku?" tanya Ratna sambil menepuk pipi Via pelan.


"Rat...na?"


"Iya, ini aku Ratna. Alhamdulillah kamu sudah sadar."


"Aku di mana?"


"Di UKS, Vi," jawab Bu Aisyah.


"Bu Aisyah?"


"Iya, ini Bunda."


Via mengingat-ingat yang ia alami. Tak lama kemudian tangisnya pecah.


"Kenapa Via harus ngalami nasib seperti ini? Rasanya Via seperti jatuh dari ketinggian. Apakah papa itu serakah dan licik? Apa yang dialami keluarga Via buah dari kelakuan papa?"


Bu Aisyah segera mendekat dan duduk di kursi dekat kepala Via.


"Dengarkan Bunda. Kamu tidak usah mendengarkan omongan orang. Kamu lebih mengenal sifat papamu, bukan? Biarlah orang berprasangka buruk kepada keluarga kita."


"Via merasa sakit saat ada yang menjelek-jelekkan papa."


"Iya, Bunda mengerti. Makanya, kamu jangan ikut berprasangka buruk kepada papamu. Kalaupun ada kekurangan, kesalahan, kekhilafan papamu, itu wajar. Makanya, kamu harus selalu mendoakan orang tuamu."


"Bagaimana kalau teman-teman mengejek Via? Sekarang Via kan miskin, nggak punya apa-apa."


"Jangan bilang begitu. Kaya dan miskin di hadapan Allah bukan diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tapi besarnya rasa syukur atas yang ia dapatkan."


"Via minder, Bun."


"Via sekarang anak Bunda. Via bukan gembel. Jangan dengarkan hinaan temanmu! Kalau kamu dihina, itu berarti kamu memiliki kelebihan yang tidak mereka miliki."


"Tenang, Vi. Ratna siap jadi bodyguard buatmu. Kalau kamu tidak sanggup melawan, biar aku saja yang hadapi pemilik mulut usil macam Lia," Ratna menimpali.

__ADS_1


Via mengangguk. Tangisnya mulai mereda. Diusapnya pipi tirusnya yang basah oleh air mata.


"Nah, sekarang kamu tenangkan dirimu. Sebentar lagi waktunya pulang. Bunda pesankan taksi nanti. O ya, Ratna bisa temani Via pulang?"


"Bisa, Bu. Saya siap menjaga Via dari gangguan anak-anak yang terkutuk."


"Hus!" Bu Aisyah menepuk pundak Ratna. Yang ditepuk malah cengengesan.


"Kalau begitu Ibu tinggal ke kelas dulu. Ibu di kelas XII IPA-2, ya Rat. Kalau ada apa-apa kamu beri tahu Ibu segera."


"Siap, Komandan!" Ratna berdiri tegap sambil memberi tanda hormat.


Bu Aisyah tertawa kecil melihat tingkah Ratna. Kemudian wanita berjilbab itu keluar dari ruang UKS.


"Nah, sekarang dengarkan baik-baik. Yang namanya orang sirik itu biasanya gak pakai otak buat mikir. Apalagi hati nurani. Yang ada Nuraeni. Eh, kok jadi ngelantur. Pokoknya, kamu ingat bahwa sirik itu tanda tak mampu. Paham?"


"Iya, iya. Tapi gak pakai gerimis juga kalau ceramah, Buuu..."


"Eh, masa sih?" Ratna mengusap mulutnya.


Via tersenyum menahan tawanya. Ratna langsung melotot setelah menyadari kalau Via hanya meledeknya.


"Kau ini memang pasien menyebalkan," gerutu Ratna. Meski mulutnya menggerutu, hatinya justru senang. Ratna lega karena Via tidak terlihat tertekan lagi.


"Lia itu siapa, sih? Aku kok gak mengenal dia?"


"Karena dia emang gak terkenal," sahut Ratna cepat.


"Tapi kamu tahu anak itu?"


"Sudahlah, tidak penting banget tu anak."


"Aku kan penasaran kenapa dia begitu membenci aku?"


"Aku tetap khawatir, Ratna. Siapa tahu dia punya dendam sama aku atau keluargaku. Please, cerita tentang Lia yang kamu tahu." Mata Via menatap Ratna dengan tatapan polos.


"Iih, gak usah gitu lah. Aku jadi gak tega."


" Makanya, cerita dong!"


"Dia teman sekelasku waktu SMP. Ayahnya pengusaha yang lumayan. Si ubur-ubur tuh terkenal sombong, angkuh, sekaligus norak."


"Kamu kok kelihatannya sebel banget sih?"


"Bukan kelihatannya, tapi emang faktanya. Gak nyadar, Buuu? Dari tadi saia sudah bilang dia ga penting, ga penting, ga penting. Eh, si nyonya ngeyel suruh cerita." Ratna memajukkan bibirnya.


"Aduuuh, maaf Ferguso. Tapi aku tetap penasaran. Lanjutkan ceritamu! Ini perintah. Jadi, jangan membantah!"


"Iya, Marimar. Ah kau ini memang menyebalkan."


Via tersenyum melihat Ratna yang kesal saat membicarakan Aurelia.


"Tamat SMP dia melanjutkan SMA di Jakarta. Bilangnya sih di SMA internasional. Benar tidaknya aku nggak tahu. Cuma kalau lihat kemampuan bahasa Inggrisnya sih gak mungkin. Aku masih mending dibandingkan dia."


"Meski jawaban ulangan hasil contekan teman?" Via mengulum senyum.


"Ih pakai diungkit. Ikhlas nolong nggak sih tadi?"


"Ikhlas kok. Apa sih yang enggak buat sahabat terbaikku? Lanjutkan ceritamu!"


"Emang aku nenekmu yang sedang mendongeng biar kamu bocan?"


"Bukan begitu, tapi kalau nanggung kan bikin aku makin penasaran."


"Tadi sampai mana?"

__ADS_1


"Lia sekolah di SMA internasional."


"O iya." Ratna menepuk jidatnya. "Dia sekolah di Jakarta hanya tiga semester. Pas kelas XI ubur-ubur pindah ke sini."


"Oh, iya aku ingat ada kasak-kusuk tentang anak pindahan dari Jakarta. Tapi aku nggak begitu peduli."


"Kamu emang tipenya cuek."


Via tersenyum. Sebenarnya dia malu karena tidak mengetahui teman satu sekolahnya.


"Awal dia pindah saja sudah kelihatan belagu. Kalau ngomong biasanya pakai elo gue. Gaya anak metropolis gitu."


"Wajarlah. Kan pindahan dari Jakarta."


"Ish, kau ini malah membelanya. Yang sebel nggak cuma aku lo. Banyak yang gak suka. Karena dia anak orang kaya jadinya tidak ada yang berani sama dia."


"Oh, gitu."


"Kabarnya waktu itu dia naksir sang mantan ketua OSIS. Bahkan, dia pernah nembak."


Via terbelalak. Seakan ia tak percaya apa yang dikatakan Ratna.


"Maksudmu Doni?"


"Iyalah, siapa lagi?"


"Doni gimana?"


"Jelas saja dia nolak. Tipe dia kan anak baik-baik."


"Lia nembak Doni di mana?"


"Kantin sekolah pas jam istirahat. Otomatis banyak yang menyaksikan."


"Gila! Berani banget."


"Namanya juga anak muka tembok ya kayak gitu. Kalau aku di posisi ubur-ubur jelas tidak berani menampakkan diri di sekolah ini."


"Emang Doni nolaknya to the point?"


"Hooh. Dia bilang kalau dia sukanya ma anak yang serius belajar agar bisa saling memotivasi, gak suka hura-hura macam dia."


"Jujur amat si Doni."


"Dan, Doni bilang kalau sebenarnya dia naksir salah satu teman sekelas. Anaknya cantik, supel, tidak sombong meski anak orang kaya, pinter lagi. Nah, ciri-ciri itu ada di kamu."


"Haish, ngaco kamu."


"Enggaklah. Tapi Doni nggak mungkin berani nembak kamu. Almarhum papamu kan protektif orangnya. Setiap hari kamu pacarannya sama Pak Yudi kalau nggak Pak Nono."


"Bhuahaha...kamu ini."


"Banyak kok yang menyimpulkan kalau Doni itu suka sama kamu. Mungkin itu sebabnya si ubur-ubur benci kamu. Awal kelas XII cowok yang ditaksir konon suka sama kamu. Sekarang kayaknya dia ngincer Mas Azka. Eh, kamu tinggal bareng. Panas dong."


"Itu analisis kamu. Mungkin saja tidak seperti itu."


"Tapi kemungkinannya lebih dari 75 persen betul. Dataku valid."


"Tet...tet...tet...."


Bel tanda pelajaran berakhir terdengar.


"Kamu tunggu di sini. Aku ambil tas dulu."


***

__ADS_1


__ADS_2