SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XIII


__ADS_3

Via turun dari mobil Bu Aisyah. Ia tidak ke kelasnya tetapi ke perpustakaan. Di sana adik-adik kelas yang akan ikut lomba debat sudah berkumpul.


"Kak Viki dan Kak Doni belum datang?" tanya Via.


"Sudah, baru saja," jawab cowok yang berdiri di belakang Via.


"Eh, Viki. Rapi amat?"


"Ya kan mau lomba. Penampilan perlu diperhatikan dong."


"Siapa tahu ada cewek yang ngajak kenalan. Ya nggak, Ki?" ledek Doni yang baru datang.


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui," jawab Viki cuek.


"Pulau kapuk, Mas?" Anton, siswa kelas XI menimpali.


"Hus, anak kecil jangan ikut-ikutan!" dengus Viki pura-pura marah.


"Anak-anak sudah siap?" tanya Bu Ratri dari pintu perpustakaan.


"Sudah, Bu," jawab mereka kompak.


"Siapkan mental kalian.Ingat, kunci utamanya adalah percaya diri."


"Kita berangkat jam berapa, Bu?" tanya Viki.


"Jam 7.15. Sampai sana sekitar jam 7.30. Kalian masih ada waktu untuk memperhatikan suasana dan lawan yang akan kalian hadapi. Kita tunggu Pak Herman."


"Siap, Bu!" jawab Doni.


"Kalian jangan tegang, rileks," pesan Bu Ratri.


"Perasaan dari tadi semuanya santai. Malah Bu Ratri yang kelihatan tegang. Kenapa malah nyuruh rileks sementara Bu Ratri sendiri kelihatan spaneng gitu. Kayak orang mau perang aja. Selow, Bu..." batin Via.


"Nah, Pak Herman sudah datang. Kalian bersiap-siap, ya! Tunggu di halaman depan!" perintah Bu Ratri.


"Oke, Bu."


Mereka berenam beriringan menuju halaman depan sekolah. Suasana sudah sepi karena anak-anak sudah masuk kelas masing-masing.


Setelah berpamitan dengan kepala sekolah, keenam anak beserta Pak Herman dan Bu Ratri masuk ke mobil. Pak Herman mengendarai dengan kecepatan sedang. Sesuai perkiraan, 15 menit kemudian mereka sampai lokasi lomba.


Pak Herman dan Bu Ratri ke sekretariat untuk mengurus daftar ulang. Sementara keenam siswa langsung menuju ruangan lomba.


"Vi, wajah-wajah lama muncul," bisik Viki.


"Hooh. Berarti kita melawan musuh bebuyutan. Jangan-jangan lawan yang kita hadapi sebagian besar yang itu-itu juga."


"Aku mengenali 6 orang yang kemarin ikut. Dari SMA 8 ada 2, dari SMA Pancasila ada 3, dan yang 1 dari SMA 11."


"Ingatanmu bagus juga, Ki. Aku cuma hafal yang dari SMA Pancasila."


"Belum banyak yang datang kayaknya. Kuperhatikan baru sekitar 6 sekolah yang datang," kata Doni.


"Masih setengah jam lombanya, Don," Viki menanggapi.


Seperempat jam kemudian peserta mulai memadati aula hotel. Via menatap Viki dengan tatapan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Beneran banyak muka lama, Vi."


"Iya, tidak hanya kita bertiga yang udah tua," ujar Via. Ia terkekeh menyadari ucapannya.


"Beneran banyak yang kelas XII?" tanya Doni.


Viki dan Via mengangguk.


"Kita paham kekuatan mereka. Tapi jangan lengah karena kita tidak tahu perkembangan mereka," bisik Viki.


"Sudah siap berlaga, anak-anak?" tanya Pak Herman.


"Siap, Pak," jawab mereka.


"Banyak musuh lama, Pak," bisik Viki.


"O ya? Kalian hafal?"


"Iya, Pak. Ada sekitar 50 persen muka lama," Via meyakinkan.


"Berarti musuh kalian berat karena sudah memiliki pengalaman," ujar Bu Ratri.Wajahnya tampak semakin tegang.


Via tersenyum,"Tenang, Bu. Kami sudah siapkan strategi. Ya nggak, Ki?"


"Okelah. Yang penting jangan meremehkan lawan. Itu bisa jadi bumerang."


Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari loud speaker. Peserta diminta berkumpul untuk mendengarkan penjelasan peraturan lomba dan mengambil undian.


Tepat pukul 8 lomba dimulai. Mereka menyampaikan argumen dengan penuh percaya diri. Apalagi peserta yang sudah berpengalaman berlomba pada tahun sebelumnya.


Lomba diskors pada pukul 12 untuk ishoma. Tim sekolah Via memutuskan sholat dulu baru makan siang.


"Semoga lolos, Pak," jawab Doni.


"Tim 2 cukup hebat. Meski kalian baru pertama ikut, argumen kalian bagus dan meyakinkan. Cuma, Anton perlu percaya diri kalau berbicara. Kamu sering terlihat ragu. Itu bisa jadi celah yang dimanfaatkan lawan untuk menyerang kalian."


Mereka berdiskusi strategi untuk babak selanjutnya. Mereka juga membuat pemetaan kekuatan lawan.


Begitu asyiknya berdiskusi, Via tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya. Orang itu hanya memperhatikan dari jarak yang agak jauh.


Setelah satu jam beristirahat, juri mengumumkan hasil babak penyisihan. Ternyata kedua tim dari sekolah Via maju ke babak perempat final. Pelaksanaan babak perempat final siang itu juga.


Untungnya, undian babak perempat final cukup menguntungkan. Mereka tidak saling berhadapan. Jadi, ada peluang bertemu di babak berikutnya jika menang.


Pukul 14.30 babak perempat final selesai. Ternyata, hanya 1 tim sekolah Via yang lolos. Sesuai prediksi, tim 1 lolos babak semi final.


"Tidak apa-apa hanya sampai perempat final. Kalian sudah bagus. Ini jadi pengalaman kalian tahun depan," Bu Ratri menghibur.


"Iya, Bu. Kami tidak kecewa kok," jawab Anton.


"Kalian memang hebat!" puji Via.


"Kakak yang hebat. Kami harus belajar banyak dari Kakak."


"Kalian semua hebat. Bapak bangga pada kalian," Pak Herman menengahi.


Akhirnya mereka tertawa. Mereka berjalan bersama menuju tempat parkir.

__ADS_1


"Kita kembali ke sekolah, Pak?" tanya Anton.


"Enggaklah. Sampai di sekolah paling tersisa satu jam pelajaran. Lagi pula kalian sudah lelah. Kita langsung pulang. Bapak antarkan kalian ke rumah."


"Tapi saya tidak satu arah. Masa Bapak bolak-balik. Nggak efektif, Pak. Bapak sampai rumah kesorean. Mending saya naik ojol saja," kata Via.


Pak Herman berpikir sejenak. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya.


"Baiklah. Tapi beneran kamu nggak apa-apa pulang naik ojol?" Pak Herman masih ragu.


"Beneran nggak apa-apa, Pak."


"Lebih aman taksi. Kalau begitu, biar Bapak yang pesen taksi online."


"Dek Via! Sedang apa di sini?"


Seorang cowok berjas biru dongker berjalan mendekat. Via terkejut melihat sosok di depannya.


"Mas Farhan?"


"Iya."


"Via barusan ikut lomba. Baru saja lombanya selesai dan kami akan pulang."


"Mas Farhan putranya Bu Aisyah, ya?" tanya Bu Ratri.


"Iya, Bu," jawab Farhan sambil mengatupkan tangan ke depan dada. Kemudian ia menyalami Pak Herman dan para cowok teman Via.


"Kami sudah selesai, mau pulang. Via tidak searah dengan yang lain, maunya pulang naik ojol," tambah Pak Herman.


"Biar bareng saya saja. Kebetulan saya juga mau pulang sekarang."


"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Saya titip Via, ya. Terima kasih, Mas Farhan."


"Sama-sama. Mari semuanya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Farhan berjalan ke mobil diikuti Via. Gadis itu duduk di jok belakang.


Farhan mulai melajukan mobilnya perlahan keluar kompleks hotel dan resto.


"Mas Farhan kok ada di hotel tadi?" tanya Via ragu. Ia mencoba memecah kebisuan agar mereka tidak canggung.


"Meeting dengan tamu eyang," jawab Farhan datar.


"Oh..."


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi. Farhan tampaknya tidak ingin bertanya apa pun kepada Via. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Ya Allah, ini kulkas atau pinguin sih yang nyetir? Begitu dinginnya. Tanya soal lomba kan bisa. Coba kalau aku ditanya tentang lomba tadi. Aku pasti jawab panjang lebar kali tinggi. Eh, volume dong." Via menghentikan pikiran konyolnya.


Dua puluh menit mereka dalam kebisuan. Akhirnya mereka sampai rumah.


"Terima kasih, Mas," kata Via sebelum turun.


Farhan hanya mengangguk. Ia menyusul turun dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


***


__ADS_2