
Matahari mulai beringsut dari posisi puncak. Panasnya tak lagi menyengat. Apalagi di ruangan khusus dokter Haris. Suhu ruangan yang diatur 25⁰ C cukup nyaman bagi dua insan yang tengah
menikmati kebersamaan, berdua di ruangan itu. Sekitar pukul 13.00 orang-orang yang tadinya bersama mereka sudah meninggalkan ruangan itu.
Pak Haris kembali ke ruang kerjanya, Bu Aisyah ke sekolah, Edi ke kantor,
sedangkan Pak Nono dan Mbok Marsih pulang ke rumah.
Mereka berjanji untuk kembali menemani mereka selepas asar. Sedangkan sepasang suami istri itu melepaskan kepenatan pikiran dengan bersama merebahkan diri di ranjang.
Sejak pagi mereka
bergelut dengan ketegangan. Mereka sama-sama berbagi rasa. Kerinduan yang mengendap lama telah mengerak di dasar hati.
Tidak ada kata yang terucap dari dua bibir yang sering beradu. Dua pasang mata mewakili dialog di antara mereka. Rindu dan cinta mereka sampaikan kepada si pasangan.
Meski hati mereka bergemuruh karena kerinduan yang telah lama terpendam, mereka tetap masih dapat mengendalikan diri. Tuntutan nafsu tidak membuat mereka menurutinya, menerjang larangan agama. Panggilan menunaikan kewajiban kepada sang khalik pun tetap ditunaikan di awal waktu.
Saat kembali ke kamar, Farhan mendapati istrinya tengah mengupas apel. Karena pisau hana satu, Farhan hanya memperhatikan terus-menerus.
“Ada apa, sih? Kok ngeliatinnya gitu?” tegur Via.
“Kangen, tahu?” jawab Farhan tanpa melepaskan tatapannya.
Via tertawa. Ia menyuapkan sepotong apel ke mulut Farhan. Sang suami pun tak mau kalah. Ia mengambil potongan lain dan disuapkan ke mulut Via.
Acara suap-suapan terhenti oleh suara ketukan pintu. Sejenak keduanya ragu. Apalagi Via yang sudah mendapat informasi dari Edi kalau ada gerakan mencurigakan.
Salam yang terucap dari orang di depan pintu membuat keraguan pudar. Mereka mengenali pemilik suara itu.
Sambil menjawab salam, Via berjalan ke pintu dan membukanya.
“Mana kakakku?" tanya Azka.
“Hai adikku yang bandel! Bawa oleh-oleh apa kamu? Bika ambon, lapis legit, atau bolu?” sahut Farhan.
“Kau ini, Mas. Sudah tahu adikmu ini masih anak kuliahan. Kenapa tega menagih oleh-oleh?” ucap Azka dengan wajah memelas.
“Kok bisa beli tiket pesawat Medan-Jogja?” sanggah Farhan.
“Kan dibelikan Om Candra,” jawab Azka masih dengan wajah memelasnya.
Farhan tertawa. Ia memeluk Azka seraya menepuk punggungnya. Azka pun balas memeluk Farhan. Sejenak mereka larut dalam suasana haru.
“Ya Allah, puji syukur kepada-Mu yang telah mengembalikan kakakku ke tengah keluarga kami.”
“Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bertemu dengan adik yang kusayang, bisa memeluknya lagi.”
Pelukan mereka terlepas ketika Azka meronta. Sontak Farhan pun melepaskan dan mundur selangkah.
“Ih, apaan sih? Mas Farhan kok main peluk-peluk? Memangnya pelukan dari Mbak Via masih kurang?” ucap Azka sengit.
“Selalu kurang. Karena pelukan dari kakak iparmu itu bikin nagih,” jawab Farhan dengan berbisik. Namun, bisikan itu masih cukup keras hingga telinga Via masih bisa menangkapnya.
__ADS_1
“Ish, nggak boleh bilang kayak gitu! Itu konsumsi 18 tahun ke atas. Aku kan masih kecil,” protes Azka.
Mata Farhan terbelalak. Ia pun mencebikkan bibirnya.
“Masih kecil? Apanya yang kecil?”
“Banyak, Mas. Anuku juga masih kecil.”
Pipi Via mendadak memerah. Ia merasa jengah mendengar ucapan Azka yang ia rasa mengandung kemesuman.
“Kalau ngomong disaring, Dek!” Farhan mengingatkan sembari menonjok lengan Azka.
“Memang kenapa pakai disaring? Kayak teh saja pakai disaring. Udah gitu Mas Farhan main tonjok aja. Bilangnya kepengin jitak aku. Kenapa malah nonjok?”
“Itu kamu ngomong kayak gitu di dekat istriku, nggak malu? Kalau kamu ingin dijitak, dengan senang hati Masmu mengabulkan,” ucap Farhan sambil menjitak Azka.
Azka memajukan bibirnya.
“Kenapa malu, coba?” tanya Azka tanpa merasa bersalah.
“Lha kamu bilang kalau anumu kecil, memang itu bukan hal yang memalukan? Kecil nggak apa-apa,
yang penting khasiatnya.” Farhan berbisik ke telinga Azka saat mengucapkan kalimat yang terakhir.
“Khasiat? Memang berkhasiat?”
Pembicaraan keduanya tampak makin tidak jelas. Via bangkit dan membuat minuman untuk mereka bertiga.
“Jelas berkhasiat. Di antaranya untuk melahirkan generasi baru. Punya Mas sudah ada buktinya, baby Zayn,” jawab Farhan sambil tersenyum bangga.
Muka Farhan berubah merah. Sekarang, ia yang tersenyum malu.
“Dasar adik badung, gak berakhlak,” gerutu Farhan dalam hati.
Pembicaraan mereka terjeda ketika Via meletakkan dua cangkir di atas meja.
“Diminum dulu daripada ribut nggak jelas,” sindir Via.
“Terima kasih, kakak iparku,” ucap Azka.
Farhan berpindah posisi. Ia duduk di sofa agar bisa menikmati teh hangat yang Via buat. Azka pun mengikuti, duduk di samping Farhan.
“Mas, gimana ceritanya Mas Farhan bisa selamat dari maut itu? Jujur kalau Mas Farhan gak jawab 3 pertanyaanku, aku nggak percaya kalau Mas Farhan masih hidup,” ucap Azka dengan mimik serius.
Farhan pun menceritakan kisahnya lolos dari kecelakaan tragis itu. Ia bercerita sampai dengan bertemu Doni dan diantar pulang oleh Doni.
“Tunggu, tunggu! Agus? Apakah Agus yang Mas maksud adalah Agus teman SMP-nya Doni?” potong Azka.
“Betul. Kamu kenal, Dek?”
“Mbak Via ingat cerita Doni waktu itu?” Azka mengalihkan pertanyaan ke Via.
Via mengerutkan kening. Ia mengingat-ingat pembicaraan dengan Doni di masa lalu.
__ADS_1
Setelah memilah memori, ingatannya terantuk pada saat mereka berbicara bertiga bersama Ratna. Ketika itu, Ratna berkali-kali ke belakang karena diare.
“Ya, ya. Aku ingat, Doni mengatakan siapa yang menabrakku waktu hari terakhir UN. Juga yang di dekat tempat kost saat aku dan Ratna akan mengirimkan barang hingga Doni yang malah jadi korban. Namanya juga Agus.” Via mengingat peristiwa beberapa tahun silam.
“Agus memang mengatakan Doni teman SMP-nya. Dia juga bilang kalau Doni sangat baik. Meski Agus pernah mencelakainya, Doni malah memberi rumah dan pekerjaan,” kata Farhan.
“Aku yakin itu orang yang sama. Agus yang menolong Mas Farhan adalah Agus yang menabrak Mbak Via.” Azka menyimpulkan.
“Ya sudahlah. Kamu sudah memaafkan Agus, kan?” tanya Farhan seraya menatap sang istri.
Via tersenyum manis. Anggukan kepalanya menunjukkan ia tidak dendam sama sekali.
“Agus mengaku dia sudah bertobat. Kalau pun ia pernah berbuat jahat, setidaknya dia sudah berubah. Lagi pula, ia sudah menyelamatkan nyawaku,” lanjut Farhan.
“Iya, Mas. Dia yang Allah kirim untuk menyelamatkanmu,” ujar Via.
Mereka menghentikan pembicaraan saat ada orang yang datang. Ternyata Edi.
“Kok sudah keluar dari kantor? Ada sesuatu yang penting?”
“Iya, Mas. Tadi urusan penting sudah selesai. Saya tinggal mengecek ulang laporan yang harus Mbak Via tandatangani. Ada berita baru dari
Tuan Candra.” Edi menjelaskan.
“Berita apa? Tentang Dini?” tebak Via.
“Bukan. Ini tentang kecelakaan itu.”
“Polisi berhasil menangkap otak di balik kecelakaan yang menimpaku?” Ganti Farhan yang bertanya.
“Bukan, polisi masih kesulitan mengungkap kasus itu. Tapi, Tuan Candra diam-diam juga bergerak. Nah,
dari orang suruhan Tuan Candra dikumpulkan banyak bukti yang mengerucut kepada orang itu.”
“Siapa yang Mas Edi maksud?” Farhan sudah tak sabar.
“Orang lama, Mas. Tapi, ini juga baru dugaan, sih. Apa pun bukti yang kita punya, muaranya tetap ada pada polisi.” Edi memaparkan hasil penyelidikan yang dilakukan anak buah Pak Candra dengan melibatkan detektif swasta yang disewa Pak Candra.
Via, Farhan, juga Azka mendengarkan baik-baik apa yang disampaikan Farhan. Sesekali mereka mengangguk-angguk.
***
Bersambung.
Siapa yang
menyuruh Kelelawar Hitam?
Ikuti terus
kisahnya, ya! Jangan lupa klik like dan rate 5, juga koment dan vote. Insya
Allah aku dukung balik karya Kakak. Aku biasa setelah membaca koment, kuklik
__ADS_1
data person Kakak yang koment lalu baca karya Kakak.