
“Drrrttt...”
Getaran ponsel yang berkali-kali mengusik kenyamanan tidur Hendrik. Mau tak mau ia mencari ponselnya.
Tanpa membuka mata, tangannya meraba-raba tempat di sekitarnya. Setelah menemukan benda kotak
pipih miliknya, ia menggeser tombol hijau. Cukup menggunakan perasaan, tanpa melihat.
“Hallo,” sapanya dengan suara tak jelas, khas orang bangun tidur.
“Kau masih tidur, ya?” tanya orang yang menelepon.
“Hooh. Aku masih ngantuk, nih. Penting nggak? Kalau nggak penting, aku matiin aja, ya,” ucap Hendrik masih dengan suara terpejam.
“Kalau nggak penting, nggak bakalan telepon,” gerutu orang itu.
“Hem, ya, benar. Ada urusan apa?” tanya Hendrik.
“Buka mata dulu! Kalau perlu, cuci muka dulu sana!” perintah orang di seberang tegas.
Hendrik mengerjapkan mata. Ia menggosok matanya beberapa kali. Begitu tahu siapa yang menelepon, Hendrik terlonjak kaget. Kantuknya lenyap seketika.
“Astaga! Maaf, maafkan saya, Tuan Candra. Saya tidak bermaksud kurang ajar,” ucap Hendrik.
“Hmm, memang kau nggak tidur semalaman?”
“Eee...saya baru tidur setelah subuh tadi. Semalaman saya begadang bikin skenario, Tuan.”
Pak Candra terkekeh mendengar penjelasan Hendrik.
“Memang kau mau bikin film? Aku siap jadi produser kalau begitu. Dini aku jadikan artisnya,” kata Pak Candra.
“Ah, Tuan pandai meledek saya. O ya, bagaimana soal rencana saya?” tanya Hendrik.
Pak Candra menautkan alisnya. Ia tidak paham yang Hendrik maksud.
“Rencana yang mana? Semalam kau baru ngomong minta bantuanku. Pembicaraan kita terputus karena aku terima telepon dari rekan bisnisku,” ucap Pak Candra.
Hendrik menepuk dahinya. Ia lupa kalau dia belum menjelaskan apa pun ke bosnya.
“Ah, maaf saya lupa. Begini, Tuan. Ini soal keanehan laporan yang Mbak Via temukan. Kami sudah
berusaha membongkar aktor dan sutradara rekayasa laporan ini,” papar Hendrik.
“Aahh, sedari tadi kau pakai istilah film melulu. Siapa otaknya? Sudah ketemu? Atau baru kroconya?” cecar Pak Candra.
“Identitas otaknya sudah di kantong. Anak dari Beno. Kami belum menangkapnya. Dugaan kami, ia melakukan karena dendam, ayahnya dijebloskan ke bui.”
“Kenapa tidak kalian tangkap?” kejar Pak Candra.
Hendrik menghela nafas dalam-dalam.
“Dengan kondisi begini, dia bisa membahayakan orang lain. Dia masih punya kekuatan dan sandera,”
papar Hendrik.
“Sandera? Siapa maksud kamu?” tanya Pak Candra khawatir.
“Keluarga dari pegawai PT Wijaya Kusuma. Makanya, kami berhati-hati dalam bertindak agar tidak ada korban jiwa. Apalagi orang yang tidak bersalah, tidak tahu apa-apa.,” jawab Hendrik.
“Kukira keluarga Via. Aku sudah sangat khawatir”
“Lalu apa rencanamu?”
“Kita lumpuhkan Dika dulu. Buat klinik dan show room mobilnya kolaps. Saat dia sedang kelimpungan, kita culik dia, bebaskan sandera. Dika juga perlu dikasih pelajaran.”
__ADS_1
Pak Candra tertawa kecil mendengar penjelasan Hendrik. Ia sangat paham kemampuan anak-buahnya yang berada di garda depan.
“Terus, apa masalahmu? Bukannya kau biasa menangani hal semacam ini?”
“Masalahnya ada pada Edi, Tuan. Dia nggak mau bermasalah dengan calon isteri juga keluarga calon istrinya. Kan Dika sepununya si Ratna. Berarti saudara jauhnya Mira,calon istri Edi,” terang Hendrik.
Pak Candra mengulas senyum tipis di wajahnya yang masih menunjukkan guratan ketampanan di usia yang tak muda lagi.
“Oh, jadi semalam kau menelepon aku buat masalah begini?”
“Hehe...iya Tuan. Karena Dika masih punya hubungan dengan Ratna, Edi takut ia dapat masalah.”
“Kirimkan data warung si Dika! Yang lengkap! Urusan Dika, kau selesaikan sendiri nanti. Mengerti?”
“Siap, Tuan!”
Setelah bercakap-cakap sejenak, pembicaraan mereka berakhir. Hendrik segera mencari Edi.
“Astaga, jam 10 rupanya. Pantesan tu anak ngak ada. Mana lapar lagi. Huff, mi instan deh.”
***
Di ruang bercat dinding krem, seorang pria duduk terdism di depan layan laptopnya. Ia memparhaatikn
terus-menerus tulisan di layar laptopnya. Sesekali tangannya mengelap peluh di wajah, Padahal, ada AC yang
menyala.
“Hah! Kenapa bisa begini? Bisa gulung tikar kalau gini terus,” desis pria itu.
Wajah pria itu makin kusut. Ia menyugar rambut dengan kasar menggunakan tangan kirinya.
Ketukan di pintu membuat ia mencoba menetralkan wajahnya.
“Masuk!”
“Ma—maaf, Tuan Dika. Pak Anwar barusan menelpon, dia membatalkan pertemuan dengan Tuan yang
seharusnya nanti sore.”
“Hmmm, lalu kapan?”
“Ti—tidak” jawab gadis itu terbata.
“Apa maksudmu tidak?” tanya Dika geram.
“Be—beliau bukan menunda tapi membatalkan, Tuan,” jawabnya ketakutan.
“Brakkk!”
Dika menggebrak meja. Gadis di depannya makin ketakutan. Ia buru-buru permisi.
“Ada apa ini? Kenapa semua mendadak membatalkan rencana kerja sama, menarik investasi, ... Aaaahhh, pusing kepalaku.”
Berbagai masalah mendera Dika bertubi-tubi. Ia sudah mulai frustasi.
"Kenapa bisa seperti ini? Apa ada hubungan dengan Wijaya Kusuma yang kuusik? Memangnya siapa di balik Via dan Farhan? Kalau hanya tua bangka Probo, tidak mungkin bisa mempengaruhi investor dan klien seperti ini. Baik, mungkin besok kugunakan sanderaku. Mereka nggak tahu aku punya senjata pamungkas keluarga pegawai mereka. Tunggu pembalasanku!"
Saat ada notifikasi pangilan, ia mengangkat dengan perasaan yang masih diliputi kesal dan kecewa.
“Hallo!” suaranya terdengar seperti membentak.
“Hallo juga Tuan Dika. Apa kabar? Kenapa suaramu seperti itu? Mana keramahanmu?”
Dika mengambil nafas panjang, berusaha mengendaalikan emosinya.
__ADS_1
“Maaf, saya sedang banyak masalah,” desisnya.
“Ada apa? Kamu kehilangan para investor, hemm?” tanya pria di seberang lembut.
“I—iya. Maaf, saya bicara dengan siapa?” tanya Dika.
“Kau tak perlu tahu. Kau cukup tahu kalau orang akan memetik buah yang ditanam. Siapa menabur, dia menuai.”
Dahi Dika berkerut mencerna kalimat tersebut. Ia mencoba mengingat pemilik suara. Sayang, ia tak juga menemukan.
“Apa maksud Tuan?” Dika mulai menaikkan nadanya.
“Kau salah memilih lawan, Tuan Dika. Tunggu saja kehancuranmu. Besok masih berlanjut. Bersiaplah.”
Sambungan telepon diputuskan sepihak. Emosi Dika merembet naik. Tangannya bergetar menahan marah.
“Prang!”
Tempat pulpen ia banting ke lantai. Kemudian, dengan langkah cepat, Dika meniggalkan kantornya dengan muka merah padam.
Lima menit berselang, pria itu sudah berada di belakang kemudi. Mobil sport merahnya segera melesat menggilas aspal jalanan.
Saat melaju, ia menghubungi temannya untuk bertemu di bar. Tempat itu adalah tempat favorit Dika menghabiskan waktu saat berkumpul dengan teman-temannya dan pada saat pikirannya kalut.
Hingga malam, Dika di tempat itu bersama sahabat dekatnya. Botol-botol kosong menghiasi meja mereka segera diganti dengan yang baru.
Muka Dika sudah merah padam. Teman-temannya sudah melarang ia menenggak minuman beralkohol itu. Tapi, Dika tidak mempedulikan. Dengan minum, ia bisa melupakan masalahnya.
Ia mengambil ponselnya setelah berulang kali terdengar notifikasi panggilan.
“Hallo!” ucapnya dengan nada membentak.
“Tu—tuan, anu Tuan...” suara di seberang terdengar gugup.
“Katakan dengan jelas! Jangan bikin aku marah!” Nada suara Dika makin meninggi.
“I-iya. I—itu, gudang mo—mobil terbakar,.”
“Apa?!” Dika terlonjak.
“Iya, Tuan. Sekarang petugas damkar masih berusaha memadamkan apinya.”
“Gila! Siapa yang main-main denganku!” teriak Dika.
Tangan Dika menyapu botol-botol yang berdiri di meja.
“Prang!!!”
Teman Dika terkejut. Mereka berusaha menenangkan pria itu.
“Gu-gudang mobil terbakar. Aku harus bagaimana? Siapa yang berani mempermainkan aku? Kalian harus menerima akibatnya! Lihat saja. Hahaha.... Dika kok dilawan!” ucap Dika sambil sempoyongan keluar.
“Dika, tunggu! Kau mau ke mana? Kamu sudah mabuk, jangan menyetir!” seru salah satu teman Dika.
Dika tidak mempedulikan peringatan temannya. Ia terus berjalan menuju mobilnya. Teman Dika yang hendak mencegah justru didorong hingga tersungkur. Akhirnya, Dika mengemudikan mobilnya menuju gudang yang terbakar.
Mobil sport merah kembali Dika pacu menembus malam. Ia tidak memedulikan berapa kecepatannya. Dalam kondisi di bawah penaruh alkohol, ia mengemudikan mobil tanpa mengindahkan rambu lalu lintas.
Saat di perempatan, lampu merah menyala. Dika tidak melihatnya, tetap melajukan si merah. Tepat di tengah perempatan, sebuah mobil boks menghantam dari sisi kanan.
Mobil Dika pun terlempar beberapa meter. Kondisinya ringsek. Sementara mobil boks yang menabrak tetap melaju karena lalu lintas sedang sepi, tidak ada kendaraan lain.
***
Bersambung
__ADS_1
Tetap dukung aku dengan klik like dan tinggalkan koment, ya!
Terima kasih