
Udara sejuk terasa menyegarkan. Embun belum beranjak dari dedaunan. Burung-burung kecil memamerkan suaranya menyemarakkan pagi yang cerah.
Cerahnya pagi itu seiring cerahnya hati Via dan Farhan. Farhan sudah mulai bisa beraktivitas meski terbatas. Setidaknya, dia sudah bisa bangun dari tempat tidur. Tentu saja Via bahagia melihat sang suami menunjukan perkembangan positif.
Setelah membersihkan diri, Via menyiapkan ASI yang akan dibawa ke ruang peristi. Sekarang, ia membiarkan Farhan memperhatikannya saat ia menampung ASI-nya.
Mereka berjalan bersama menuju ruang peristi. Bodyguard siap siaga mengawal mereka meski posisi mereka dibuat menyebar.
Ruang peristi memang dijaga lebih ketat. Dua orang bodyguard perempuan yang menyamar sebagai petugas di dekat pintu masuk sudah siaga. Untuk menghindari kecurigaan pembezuk lain yang mungkin masuk untuk suatu keperluan, Via tetap mengisi buku pengunjung sesuai prosedur.
Mereka disambut petugas asli dengan ramah. Dua baju khusus telah disiapkan.
“Ada kabar gembira, Nyonya,” kata seorang perawat.
“O ya? Apa itu?” tanya Via antusias.
“Mari kita masuk,” ajak perawat itu.
Mereka bertiga masuk ke ruang perawatan baby Zayn. Bayi itu tengah terjaga. Tangan dan kakinya bergerak-gerak.
“Nyonya Via, bayi Nyonya mengalami pertumbuhan yang bagus. Sekarang, Nyonya bisa belajar menyusui bayi Nyonya langsung.”
Via bahagia sekaligus gugup mendengar penjelasan dari perawat. Ia bingung karena tidak tahu cara menyusui langsung.
“Tenanglah, Nyonya. Saya akan membantu Nyonya,” ujar si perawat menenangkan.
Via mengangguk. Perawat itu mempersilakan Via duduk. Ia kemudian mengambil bantal dan diletakkan di pangkuan Via.
“Rileks, Nyonya,” kata perawat itu lagi. Ia tersenyum melihat kegugupan Via.
“I—iya. Saya coba untuk rileks,” sahut Via. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Farhan mengusap punggungnya memberikan kepercayaan diri kepada Via.
Tak lama kemudian, si perawat mengambil bayi Via. Ia membawanya ke si ibu yang tengah menenangkan diri.
“Sudah siap, Nyonya?” tanya perawat dengan nada lembut.
“Iya, sudah. Bismillahirahmanirrahiim.”
Perawat itu meletakkan baby Zayn ke atas bantal di pangkuan Via dengan hati-hati. Ia
menyuruh Via membuka kancing gamisnya. Dengan bantuan perawat, baby Zayn
dibantu menemukan p***ng sang bunda.
Meski cukup lama, perawat dengan sabar membantu baby Zayn menyusu langsung. Tidak mudah
bagi baby Zayn menemukan p***ng bundanya. Akhirnya\, setelah percobaan beberapa kali\, baby Zayn berhasil memasukkan p***ng ke dalam mulutnya.
Mata Via terbelalak bahagia melihat mulut bayinya lekat dengan pa*****anya. Ia mulai merasakan baby Zayn menghisap. Mula-mula hisapannya tidak kuat. Lama-kelamaan\, Via merasakan hisapan yang semakin kuat. Ia melihat bayinya meneguk ASI dengan lahap.
Senyum pun merekah di bibir Via dan Farhan. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka.
Tatapan takjub terarah ke baby Zayn yang asyik menikmati pengalaman pertamanya.
__ADS_1
“Alhamdulillah,” ucap ketiganya.
Via ganti menatap Farhan. Sang suami merasakan ada tatapan ke arahnya, balas menatap Via. Mereka pun saling tatap dan bertukar senyum. Farhan reflek menundukkan kepalanya ke Via. Sebuah kecupan lembut pun mendarat di ubun-ubun busui muda yang tertutup jilbab hijau.
Melihat adegan itu, perawat tersenyum. Ia menyingkir, memberi kesempatan pasangan suami istri itu menikmati momen yang membahagiakan itu.
Kurang lebih sepuluh menit berlalu, baby Zayn melepaskan hisapannya. Ia terlihat memejamkan mata.
“Hubbiy, tolong panggilkan perawat! Ni harus bagaimana?” ujar Via sedikit panik.
“Iya. Itu masukkan dulu p*****ramu! Nanti ASI-mu netes!” kata Farhan. Ia meninggalkan Via dan bayinya guna mencari perawat.
Tak lama kemudian, Farhan kembali bersama perawat. Perempuan berusia sekitar 40 tahun itu mengajari Via menyendawakan bayi. Setelah itu, ia juga mengajari Via menggendong bayi.
Kursus kilat itu sangat berharga bagi Via. Itu adalaah pengalaman pertama baginya.
Farhan pun terus menyemangati Via. Tatapan penuh kasih sayang dan perhatian yang ia berikan membuat Via lebih termotivasi.
“Kapan bayi kami bisa dibawa pulang?” tanya Farhan yang terlihat begitu antusias.
“Nanti siang mungkin bisa. Bapak konsultasikan saja dengan dokter Wibowo nanti,” jawab perawat.
“Apakah kami boleh membawanya ke ruangan kami?”
“Tunggu instruksi dari dokter, ya. Mohon maaf, kami tidak bisa mengambil keputusan,” kata perawat dengan sopan.
“Iya, Suster. Kami mengerti. Kalau begitu, kami permisi dulu,” sahut Via.
Ketika sampai depan ruangan, ternyata Bu Inah dan Pak Yudi sudah menunggu di teras.Mereka membawakan makanan untuk sarapan.
Farhan pun memanggil Azka dan Edi untuk bergabung. Sarapan pagi itu terasa lebih nikmat bagi Via dan Farhan.
“Makan yang banyak biar baby Zayn tidak kekurangan ASI,” saran Farhan.
“Iya, ni porsinya sudah ditambah,” jawab Via.
Usai sarapan, mereka membicarakan hal yang ringan.
“Kapan kita akan mengadakan akikah untuk baby Zayn?” tanya Via.
“Bagaimana saat ia berusia 21 hari?” Farhan mengajukan tawaran.
“Boleh saja. Apakah kira-kira siap?” Via meminta penjelasan lebih lanjut.
“Insya Allah siap. Kita bisa menghubungi katering yang dapat dipercaya agar tidak melelahkan. Kalau kita beli kambing, disembelih di rumah, memasak hidangan, sepertinya menguras tenaga. Masih banyak yang kita pikirkan. Kondisi kita belum sepenuhnya fit. Baby Zayn juga BB-nya masih rendah, butuh perhatian ekstra.”
“Iya, Via setuju saja,” ujar Via.
“Mas punya kenalan pemilik katering yang bisa membantu pelaksanaan akikah. Insya Allah orangnya amanah.”
Via mengangguk setuju. Sementara Edi seperti orang yang kebingungan.
“Mas Farhan, boleh saya bertanya?” ucap Edi berhati-hati.
__ADS_1
“Ya, Mas. Apa yang mau Mas Edi tanyakan?” sahut Farhan.
“Setahu saya, akikah itu dilaksanakan waktu bayi berusia 7 hari. Apa boleh ketika bayi berusia lebih dari 7 hari?”
Farhan tersenyum. Ia senang mendapat pertanyaan begitu. Namun, si jail Azka tentu tidak melewatkan kesempatan meledek.
“Cieee, Mas Edi sudah ancang-ancang bikin akikah? Rencana berapa kali, Mas?”
“Hush, kau ini! Kebiasaan usil,” tegur Farhan.
Azka tersenyum. Ia mencolek Edi.
“Serius, Mas? Sudah diskusi sama Mira?” Azka masih melanjutkan mode jailnya.
“Ah, Mas Azka nih. Nikah juga belum,” jawab Edi malu-malu.
“Sudah, jangan diladenin tu anak! Ntar menjadi-jadi!” kata Farhan.
Azka tertawa keras.
“Aku jawab pertanyaan Mas Edi tadi, ya! Untuk hukumnya, hadist riwayat Abu Daud menyebutkan bahwa Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah SAW bersabda, ‘Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur (habis) rambutnya dan diberi nama.’Farhan memaparkan.
Edi menyela,”Berarti benar bahwa akikah itu dilakukan pada hari ketujuh?”
Farhan tersenyum lalu melanjutkan penjelasannya,” Para ulama madzhab Hanafiyah dan Malikiyah berpandangan bahwa waktu akikah paling sunnah adalah pada hari ketujuh dan tidak boleh sebelumnya.”
“Kalau baru lahir, berarti bukan akikah, Mas?” Pak Yudi ikut bertanya.
“Betul. Pak Yudi. Batas waktunya tidak boleh sebelum bayi berusia 7 hari. Kebanyakan ulama berpendapat seperti itu. Kalau Asy-Syafiiyah membolehkan sebelum hari ketujuh. Lalu bagaimana dengan batas waktu terakhir akikah?”
Farhan terdiam sebentar. Ia mengedarkan pandangannya ke semua orang.
“Di sini ada beberapa pendapat. Ulama Malikiyah membatasi bahwa waktu akikah setelah hari ke-7 dianggap sudah gugur. Sementara Asy-Syafiiyah membolehkan disembelihkan akikah meski waktunya sudah lewat dari hari ketujuh. Mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa bila seorang ayah tidak mampu menyembelih hewan akikah pada hari ketujuh dari kelahiran bayinya, maka dia masih dibolehkan untuk menyembelihnya pada hari ke-14. Dan bila pada hari ke-14 juga tidak mampu melakukannya, maka boleh dikerjakan pada hari ke-21.”
Edi mengangguk-angguk tanda memahami penjelasan Farhan. Pak Yudi pun terlihat puas dengan penjelasan Farhan.
“Besok kalau cucu kedua saya lahir, saya suruh hari ke-14 atau ke-21 saja biar waktu persiapannya lebih matang,” celetuk Bu Inah.
Via, Farhan, dan Azka tertawa. Rupanya Bu Inah masih kurang memahami penjelasan Farhan.
“Bu Inah, kalau bisa melaksanakan seperti yang dicontohkaan Rasulullah, kenapa tidak? Dalam hadist riwayat Al-Baihaqi disebutkan bahwa dari Aisyah radhiyallahuanha bahwa Rasulullah SAW menyembelihkan hewan akikah untuk Hasan dan Husain alaihimassalam pada hari ketujuh dan memberi nama keduanya.”
Bu Inah tersenyum malu. Namun, itu tak menyurutkan semangatnya menggali ilmu.
“Berarti yang paling afdol pelaksanaan akikah itu hari ke-7, ya?”
Farhan tersenyum lagi. Ia mengacungkan jempolnya ke arah Bu Inah.
***
Bersambung
Tak bosan kuucapkan terima kasih untuk Kakak yang setia mengikuti karya ini dan mendukungnya. Mohon terus dukung karya receh ini. Klik like, ketik koment, beri vote 😍
__ADS_1