
Tak lama kereta mulai bergerak. Meli menatap ke luar. Matanya terus menatap ke cowok yang berdiri tegap memperhatikan kereta yang terus bergerak meninggalkan stasiun.
Ada hampa terasa. Perpisahan memang begitu berat, terutama bagi Meli dan Azka. Mereka berharap rencana indah di benak mereka menjadi nyata.
Tepukan pelan di bahu Azka membuat cowok itu tersadar. Rupanya Baby Zayn yang mengusili om-ya. Azka mengembangkan senyum sambil menatap keponakannya gemas.
“Jangan melamun, Om Azka! Berdoa saja agar dalam waktu kita ganti ke Jember. Ya nggak, Rat?” ucap Via.
Ratna tersenyum sambil mengangguk. Kemudian, mereka melangkah keluar menuju mobil milik Bu Aisyah.
“Dek, kamu nggak khawatir nanti ketika sampai sana? Jadwal kereta jam berapa tiba di Jember?” tanya Via.
“Jam 8-an. Kan mereka berdua. Mbak Via tahu sendiri, Meli nggak mau dibelikan tiket pesawat. Tiket kereta yang jam 7 sudah habis. Ya sudah, aku beli yang itu.” Azka tampak santai.
“Tenang saja, jam 8 malam pasti masih ramai. Masih bisa pesan taksi lewat aplikasi,” Ratna menimpali.
“Iya, iya. Yang jelas ada Anjani. Soalnya kalau Meli sendirian, aku nggak yakin. Dia nggak beda jauh sama kamu,” sahut Via.
“Apanya?” Ratna menoleh ke Via.
“Cerobohnya.” Via menjawab santai.
“Enak saja!” seru Ratna tak terima.
Mereka segera masuk mobil. Azka melajukan mobil perlahan, meninggalkan stasiun.
“Kamu ke kantor, nggak?” tanya Ratna kepada Via.
“Enggak. Kenapa?” Via balik bertanya.
“Kalau gitu, aku ikut kamu saja. Sudah lama nggak ngobrol berdua.”
Azka pun menurut. Ia tidak mengantarkan Ratna ke ruko , tetapi langsung mengarahkan ke rumahnya.
Begitu sampai, Via mengajak Ratna ke kamarnya. Ia juga sekalian menidurkan Zayn yang telah terlelap.
“Vi, aku masih kepikiran Salsa. Dia terlihat murung tadi pagi.”
“Terus, kata mau bagaimana? Aku yakin, Salsa bisa move on. Dia hanya butuh waktu,” jawab Via sambil mengusap dahi Zayn.
“Masalahnya, butuh berapa lama untuk move on? Aku khawatir dia makin terpuruk kalau tahu Mas Azka melamar Meli.”
Via menoleh ke Ratna. Ia menatap tajam sahabatnya.
“Kamu jangan berlebihan, ah!” ucap Via.
“Berlebihan bagaimana? Salsa orangnya tertutup. Kalau ada masalah, dia nggak mau cerita,”Ratna menegaskan.
Via menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar.
“Kamu masih ingat beberapa waktu silam, saat aku akan mengadakan resepsi pernikahan? Bukannya Mbak Mira malah menyukai Mas Farhan, suamiku sendiri?” kata Via.
“Tapi, karakter Mbak Mira dan Salsa itu beda, Via,” sanggah Ratna.
“Ya memang beda. Aku juga tidak mengatakan kalau mereka sama.Aku hanya membandngkan antara Salsa dan Mbak Mira,” kata Via.
“Terus?”
__ADS_1
“Mbak Mira dalam beberapa hari setelah curhat ke kita, dia sudah move on. Dia nggak marah ke aku,” tutur Via.
Ratna terdiam. Pikirannya terbang, melanglang mencari gambaran kedua orang yang tengah diperbandingkan.
“Apa kita carikan seseorang yang bisa mengobati luka hati Salsa, ya?” gumam Ratna.
“Maksud kamu?” Via tak paham.
“Kita cari cowok yang mirip karakter Mas Azka, kita comblangi mereka.”
Via geleng-geleng kepala mendengar kekonyolan sahabatnya.
“Rat, tidak semudah itu. Bisa-bisa cowoknya mau, Salsa nggak mau, apa tidak menyakitkan bagi si cowok. Apalagi sebaliknya. Salsa akan kembali terluka. Menurut aku kita cukup mengajak Salsa gembira agar ia tidak memikirkan Dek Azka. Jangan biarkan dia menyendiri apalagi sampai melamun.”
Ratna terdiam mendengar ucapan Via. Dalam hati ia membenarkan risiko menjodohkan orang.
“Pengajian sore masih jalan?” tanya Via.
“Masih, cuma nggak rutin. Penyebabnya kesibukan di kampus. Masa cuma diikuti aku dan Mbak Mira yang selalu bisa?” kata Ratna.
“Coba ganti jadwal yang sekiranya semua bisa. Kalau perlu, cari pengisi yang memiliki waktu lebih longgar!” saran Via, “Ingat, pengajian itu juga obat hati, lo!”
Ratna mengiyakan. Karena mendengar azan zuhur, mereka pergi ke musala. Usai salat, Via menyiapkan makan siang dibantu Ratna.
“Wah, sudah siap ya? Kebetulan aku sudah lapar. Sini, kita makan bareng!” celetuk Azka yang baru pulang dari masjid.
“Kamu ajak siapa, sih?” tanya Via penasaran.
“Teman. Bentar, dia pasti masih malu kalau disuruh makan. Aku seret dia ke sini.”
Azka kembali keluar dari ruang makan. Tak lama kemudian, ia kembali menggandeng seorang cowok seusianya.
Ratna terkesiap melihat cowok yang dimaksud Azka. Sudah cukup lama dia tidak melihatnya. Jantungnya mendadak memainkan lagu dangdut.
“Apa kabar, Mas Rio? Sudah lama tak bertemu. Sekarang tampak segar,” ucap Via sambil tersenyum.
“Alhamdulillah baik. Ya karena sekarang lebih terjamin, pikiran tenang jadinya lebih segar,” jawab Rio.
Setelah mengyelesaikan makan siang, mereka tidak beranjak dari duduknya. Mereka melanjutkan ngobrol.
“Kok tumben bisa mampir? Mas Rio nggak ngantor hari ini?” tanya Via.
“Tadi aku disuruh ke kantor pusat. Ada sedikit urusan yang harus diselesaikan. Saat kembali, ternyata masuk waktu zuhur. Aku salat di masjid situ. Eh, malah ketemu Azka,” tutur Rio.
Ratna hanya diam mendengarkan. Ia takut kalau perasaannya terbaca.
“Oh, begitu. O ya, bulan lalu aku ke Medan. Aku mengunjungi Lia di sana.”
“Lia? Lia anaknya Papa Danu?” Rio meminta kepastian.
“Iya, adik angkatnya Mas Rio.”
“Ngapain kamu nengokin dia?” ucap Rio dingin.
“Lia mencoba bunuh diri.”
Rio tampak kaget. Ia sempat ternganga beberapa dekat. Berita itu sungguh mengejutkan. Meski hanya saudara angkat, meski ia sudah dicampakkan, ia masih memiliki rasa peduli.
__ADS_1
“La—lalu bagaimana keadaannya?”
“Alhamdulillah Lia tertolong.”
Via kemudian menceritakan yang ia ketahui tentang Lia. Ia juga menceritakan perubahan dalam diri Lia.
“Syukurlah kalau begitu. Aku sendiri belum siap bertemu kembali dengan keluarga yang mengadopsiku. Di samping itu, mahalnya tiket ke sana juga membuatku berpikir ulang. Rasanya mending kutabung,” ucap Rio lirih.
“Wah, rupanya sudah menyiapkan masa depan. Sudah punya calis belum, Bro?” ledek Azka.
Rio menatap Azka sambil menggembungkan pipinya.
“Boro-boro nyari calis. Modal juga belum siap,” kata Rio sebal.
Azka terkekeh mendengarnya. Ia menepuk bahu Rio.
“Bosmu kan baik. Tenang saja, Bro! Yang penting mental. Tuh, di samping Mbak Via ada yang masih jomblo,” ucap Azka sambil mengedipkan mata kirinya.
Rio menoleh ke Ratna. Gadis itu cepat-cepat menundukkan kepalanya. Mukanya sudah memerah.
Via melirik ke sahabatnya. Ia menangkap perubahan sikap Ratna. Segera ia memberi kode kepada adik iparnya.
“Nabung dulu buat modal, ah. Mana ada menikah tanpa modal. Belum lagi nanti cari tempat tinggal,” ujar Rio serius.
“Kamu memang bertanggung jawab. Mbak Via, catat nih kelebihannya. Bantu dia menemukan jodoh, ya! Jangan cuma adik angkatnya yang Mbak Via bantu!” Azka tersenyum lebar.
“Ashiap! Ada beberapa kandidat muslimah yang layak jadi pendamping Mas Rio. Kau mau mendaftar, nggak?” tanya Via sambil menyikut Ratna.
Ratna memberikan tatapan tajam ke Via. Hatinya masih belum terkondisikan normal.
“Tuh, kakak iparku siap bantu. So, tenang saja. Dia kan punya stok yang berkualitas,” ujar Azka sambil cengengesan.
“Kamu sendiri masih jomblo,” gerutu Rio.
“Eh, jangan salah! Aku tinggal nunggu lampu hijau dari camerku. Begitu nyala, cusss...berangkat melamar,” sahut Azka.
Via tertawa renyah. Ia melihat keseriusan adik iparnya. Sementara Rio tampak tak percaya.
“Beneran tuh, Mas Rio. Dek Azka hampir melamar gadis. Ayah bunda sudah tahu dan sudah setuju. Tinggal nunggu keputusan calon mertua Dek Azka.” Via membenarkan ucapan Azka.
“Wah, selamat! Aku nggak nyangka kamu sudah siap melangkah ke babak kehidupan baru.” Rio memluk Azka.
“Ih, apaan peluk-peluk! Kayak Teletubbies,” sungut Azka.
Via terkekeh dibuatnya. Ratna yang menjadi pendiam pun ikut tertawa. Kali ini jantungnya mulai normal.
“Makanya, cepetan nyusul! Soal modal, tenang saja! Orang baik, niat baik, insya Allah dibantu orang-orang baik. Ya kan, Ratna?” Azka melempar ke Ratna.
Ratna dibuat gelagapan. Ia hanya mengangguk.
*
Bersambung
__ADS_1
Akankah Rio menyusul Azka menemukan tambatan hatinya? Ratnakah jodoh Rio? Bagaimana jawaban orang tua Meli? Untuk mengetahui jawaban orang tua Meli, baca novel Cinta Strata 1 karya Kak Indri Hapsari, ya!
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar pada karya kami! Terima kasih untuk yang telah mendukung kami, memberikan like, komentar, juga menyumbang vote dan rate 5. Barakallahu fikum.