SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Berita Mengejutkan


__ADS_3

Kediaman Keluarga Candra Wijaya tampak ramai. Mereka ngobrol sambil menikmati hidangan yang tersedia. Semua  yang hadir saat itu adalah keluarga besar Wijaya, keluarga Farhan, dan keluarga pegawai yang bekerja di rumah Pak Candra Wijaya.


Sengaja Pak Candra dan istrinya tidak menyelenggarakan di gedung karena intinya mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang terdekat dan menjalin silaturrahim. Bagaiman para tetangga? Mereka diundang  saat siang hari. Biasanya, keluarga Candra Wijaya tidak pernah mengundang tetangga datang ke acara seperti itu.


Tidak hanya keluarga dan tetangga. Pak Candra dan istri juga mengundang anak-anak dari 2 panti asuhan yatim-piatu.Bersama dengan tetangga Pak Candra, anak-anak yang kurang beruntung itu menikmati hidangan yang tersedia. Saat pulang, Pak Candra beserta istri memberikan bingkisan hadiah.


Hampir sama dengan yang Via lakukan saat mapati dan tingkeban? Ya.Pak Candra diam mengagumi keponakannya dalam memperlakukan  tetangga dan kaum papa. Jadi, konsep tasyakuran Ardi mencontoh yang Via lakukan saat mapati dan tingkeban.


Semula, keluarga Candra Wijaya tertutup. Mereka tidak pernah bergaul dengan tetangga. Bu Lena lebih sering berkumpul dengan gank sosialita. Koleksi barang-barang branded menjadi keharusan.


Setelah mengenal Via, sedikit demi sedikit kebiasaan itu berubah. Mereka lebih menghargai orang lain, juga peduli dengan kaum dhuafa. Pak Candra menjadi donatur tetap beberapa yayasan untuk kaum dhuafa.


Keluarga besar Wijaya pun menangkap perubahan itu. Mulai dari penyelenggaraan tasyakuran sampai penampilan keluarga. Namun, tentu saja mereka tidak  berani menggunjingkan apalagi mengejek.  Mereka tahu kalau keluarga Candra Wijaya berubah menjadi terlihat sederhana bukan karena bangkrut maupun pelit.


Via senang karena bisa mengenal keluarga besarnya. Dia pernah menghadiri acara yang melibatkan keluarga besar Wijaya di Jakarta. Namun, tidak seakrab saat ini.


“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Pak Adi kepada Ardi.


“Ardi ingin lanjut S-2. Maunya sih di New York atau London. Tapi, papa bilang sebaiknya aku ambil di sini saja sambil pegang perusahaan papa. Hitung-hitung belajar terjun langsung, Kek,” jawab Ardi.


“Kakek setuju. UI juga bagus. Lagi pula, yang lebih penting  adalah pengalaman. Coba kamu lihat kakekmu ini. Nggak pernah menikmati pendidikan di luar, nyatanya sukses. Papamu juga. Sekarang ini, kakak sepupumu, Via, sudah menunjukkan hal itu. Dia hanya D-3. Rintisan olshopnya bagus. Kakek lihat managemen Via itu luar biasa.”


Via melangkah mendekati kakeknya.


“Kok Via disebut-sebut. Ada apa, Kek?” tanya Via.


“Ini, Kakek sedang menasihati sepupumu kalau ijazah bukan satu-satunya penentu sukses tidaknya seseorang memimpin perusahaan.”


“Oh, begitu. Ardi mau lanjut S-2? Kan bagus biar pengetahuan nambah, pengalaman juga,” komentar Via.


“Iya, Kak. Tadinya pengin di New York atau London. Tapi, papa keberatan karena aku disuruh belajar memegang salah satu perusahaan papa agar aku bisa mulai belaja,” jawab Ardi.


“Oh, gitu. Kan bisa kuliah sambil bekerja. Tinggal pandai-pandai mengatur waktu,” sahut Via.


“Iya, mau papa kuliah sambil bekerja. Makanya, aku disuruh di Indonesia saja. Kakek mendukung pendapat papa,” jelas Ardi.


“Betul. Perguruan tinggi dalam negeri banyak yang bagus, kan?” Pak Adi menimpali.


Via tersenyum. Ia menatap sepupunya sekilas.


“Semua terserah kamu dan Om Candra. Tapi, aku pribadi setuju pendapat Om Candra dan Kakek Adi. Sebaiknya salat istikharah, memohon petunjuk Allah agar memutuskan yang terbaik,” saran Via.

__ADS_1


“Kau sungguh bijak dalam memberi saran. Kakek salut,” ucap Pak Adi kepada Via.


“Ah, Kakek terlalu memuji.” Via tampak tersipu.


Mereka melanjutkan dengan obrolan ringan.


Saat sebagian besar tamu sudah pulang, Om Candra mengajak Via dan Farhan ke ruang kerja pribadinya. Hanya mereka bertiga yang ada di ruangan tersebut.


Pak Candra mempersilakan Via dan Farhan duduk di sofa.


“Ada apa, Om?” Via segera bertanya didorong rasa penasarannya.


“Ada yang akan Om sampaikan berhubungan dengan orang-orang yang berniat mencelakai Farhan,” jawab Pak Candra.


“Bukankah mereka sudah ditangkap dan menjalani persidangan?” Farhan angkat bicara.


“Iya. Mereka sudah dinyatakan bersalah dan dipidana penjara. Semua sudah mendekam di hotel prodeo.”


“Lalu, ada apa lahi?” tanya Vi.


Pak Candra tampak mengambil nafas panjang. Ia mengatur emosinya.


“Temanmu, Aurelia, sekarang di rumah sakit.”


“Tadi pagi Aurelia melakukan percobaan bunuh diri. Ia melakukannya di kamar mandi menggunakan pecahan kaca. Entah dari mana ia mendapatkannya,” jelas Pak Candra.


Via melongo sesaat. Lalu ia menatap Farhan. Kebetulan, Farhan pun menoleh ke istrinya. Mereka saling tatap tanpa menemukan titik yang diinginkan.


“Aurelia melakukan percobaan bunuh diri itu pada waktu jam mandi. Ia pergi ke kamar mandi tanpa dicurigai siapa pun. Setelah seperempat jam lebih di kamar mandi, salah seorang napi menggedor pintu karena ia juga akan mandi. Tidak ada jawaban dari dalam membuat napi tersebut curiga. Ia segera melapor kepada petugas lapas. Pintu kamar mandi akhirnya didobrak dan Lia sudah tergeletak bersimbah darah.” Pak Candra melanjutkan ceritanya.


“Astaghfirullahaladzim,” desis Via. Ia tak mengira temannya nekad melakukan tindakan itu.


Farhan pun tak kalah terkejut. Berulang kali ia mengucap istighfar.


“Saat ini, Aurelia berada di rumah sakit. Nyawanya tertolong, tetapi kondisinya belum stabil,” kata Pak Candra.


“Om, mungkin Lia depresi hingga nekad bunuh diri. Coba minta kepada pihak lapas untuk mengirimkan psikholog,” usul Via.


“Mereka tentu sudah menghadirkan psikholog untuk mendampingi Aurelia. Kita tunggu besok perkembangan informasi selanjutnya,”


“Om, apa kita boleh menjenguknya?” tanya Farhan.

__ADS_1


“Untuk apa? Apa kamu tidak takut dia semakin membencimu?” tanya Pak andra khawatir.


“Kita cari informasi dulu penyebab Lia bunuh diri, baru kita putuskan jadi tidaknya minta izin menengok Lia,” usul Via.


“Iya, Mas setuju begitu,” sahut Farhan.


“Baiklah, Om nanti minta anak buah Om mencari keterangan. Sekarang, kalian istirahat. Kasihan Zayn,” ujar Pak Candra sembari berdiri.


Via dan Farhan ikut berdiri. Mereka meminta izin kembali ke kamar. Sebelum masuk ke kamar, Via menjemput Baby Zayn di kamar Bu Aisyah.


Setelah Zayn terlelap, Via mendekati Farhan yang tengah menggunakan gawainya.


“Via bener-bener nggak nyangka kejadiannya seperti ini,” ucap Via. Ia meletakkan pantatnya di samping Farhan.


Farhan meletakkan alat komunikasi cerdasnya. Ia beringsut merapat ke istrinya.


“Mungkin dia merasa tertekan karena hidup di penjara, mungkin dia ketakutan, atau bisa juga dia merasa bersalah,” sahut Farhan.


“Via nggak habis pikir, kok sependek itu pemikiran Lia, ya?” gumam Via.


“Namanya juga kondisi psikhis sedang tertekan sementara iman kurang, ya begitu jadinya. Masih beruntung nyawanya terselamatkan.”


Via mengangguk. Ia menyetujui ucapan suaminya.


“Mudah-mudahan Lia sadar kalau tindakannya keliru. Setelah ini, semoga ia bisa memperbaiki diri agar lebih baik,” harap Via.


“Aamiin. Semoga begitu, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan. Mas juga lebih menghargai hidup Mas, menyayangi keluarga Mas dan semua yang menyayangi Mas. Apalagi istri yang cantik ini.”


Tanpa Via duga\,tangan Farhan meraih tengkuk Via\, mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka beradu. Sejenak Farhan me****t lembut bibir Via.


“Hubbiy nakal, deh,” desis Via setelah bibirnya terlepas.


“Habis Cinta menggemaskan, sih. Kalau dekat-dekat begini penginnya meluk, nyium juga.” Farhan terkekeh.


“Sudah, ah. Kita bobok, yuk! Besok kita ke rumah Agus membicarakan rencana kita. Semoga Agus bisa menerima. Habis itu, kita jenguk Lia kalau memungkinkan,” kata Via. Ia meninggalkan Farhan yang masih duduk di sofa.


Setelah ditinggal Via ke kamar mandi, Farhan mengambil ponselnya. Ia kembali berkirim pesan kepada seseorang.


*


Bersambung

__ADS_1


Kira-kira Farhan chatting sama siapa, ya? Apakah Agus setuju dengan tawaran Farhan?


Ikuti next episode besok, ya! Jangan lupa klik like dan tinggalkan koment. Gratis kok.😃 Biar aku semangat hehe..


__ADS_2