
Farhan masih terdiam setelah meminum obat. Sepertinya rasa nyeri masih bersarang di kepalanya
Farhan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Setelah beberapa saat, ia merasa sudah membaik. Ia pun menegakkan tubuhnya, kembali ke posisi duduk.
“Alhamdulillahi rabbil alamin,” ucapnya lirih.
“Sakit kepalamu sudah hilang?” tanya Bu Aisyah.
“Alhamdulillah, Farhan sudah baikan sekarang,” jawab Farhan sambil tersenyum. Dipandanginya wajah sang bunda yang tengah mengkhawatirkan dirinya.
“Mas Farhan kuat melanjutkan cerita? Kalau enggak, mending besok saja. Sekarang, Mas Farhan istirahat,” saran Edi.
“Enggak apa-apa, kok. Semua pasti ingin tahu apa yang kualami selama beberapa hari terakhir ini, kan? Aku akan melanjutkan. Nanti kalau sakit lagi, ya tinggal istirahat,” sahut
Farhan.
“Terserah kamu saja, Nak. Yang penting, kamu tidak sampai memaksakan diri,” kata Pak Haris pasrah.
Flash Back on
Farhan POV
Adik-adik Agus ternyata bisa menerima kedatanganku di rumah mereka. Aku langsung merasa dekat dengan mereka.
Keesokan harinya, Agus mengundang seorang perawat datang ke rumah. Perawat itu seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun. Namanya Pak Wisnu. Rumahnya tak jauh dari rumah Agus.
“Tangan kiri Anda sepertinya cedera cukup parah. Sebaiknya di-rontgen untuk memastikan. Apakah saat digerakkan terasa samhat sakit?” tanya Pak Wisnu.
“Iya, Pak,” jawabku.
“Kemungkinan ada tulang yang patah, retak, atau dislokasi. Saya tidak berani memastikan” jelas Pak Wisnu.
“Tapi, saya belum punya cukup uang untuk memeriksakan lebih lanjut, apalagi sampai tindakan operasi,” jawabku lirih.
Pak Wisnu terdiam. Ia sepertinya kasihan kepadaku. Ah, aku sebenarnya tidak ingin
dikasihani siapa pun.
Setelah terdiam beberapa detik, ia mengeluarkan kain berwarna putih. Ia meminta papan kecil kepada Agus.
“Ada papan kecil? Aku membutuhkannya sekarang.Ukurannya sekitar 20 dan 30 cm," kata PakWisnu.
Agus keluar. Tak berapa lama ia kembali dengan memawa 2 papan kayu kecil.
Dengan cekatan Pak Wisnu memasang 2 papan itu ke lengan bawah kiriku. Ia kemudian mengikat menggunakan mitella yang telah dia siapkan. Terakhir, ia memasang mitella segi tiga untuk menggendong lengan kiri.
“Untuk sementara, saya pasang bidai agar cedera lengan kiri ini tidak bertambah parah.”
Aku mengangguk. Saat itu, aku tidak yakin akan segera mendapat penanganan yang lebih baik.
“O ya, tentang kepala. Tuan Farhan sebaiknya melakukan CT-scan untuk memastikan kondisi kepala. Saya tidak berani mengambil tindakan lebih lanjut,” terang Pak Wisnu.
Pria yang berprofesi sebagai perawat itu mengeluarkan 2 strip obat. Ia menuliskan aturan minum pada plastik pembungkusnya.
Setelah selesai, Agus menyerahkan tiga lembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah. Sangat murah.
__ADS_1
Agus mengantarkan Pak Wisnu sampai teras rumah. Aku sendiri tetap berdiam di kamar.
Aku sebenarnya merasa tak enak hati telah merepotkan keluarga Agus. Dengan kondisi ekonomi yang terbilang pas-pasan, atau setidaknya dia tidak termasuk orang berlebih, ia dengan tulus menolongku. Padahal aku bukan siapa-siapanya. Bahkan, kami baru
saling kenal.
“Maafkan aku. Aku telah merepotkan kamu dan keluargamu. Semoga Allah membalas dengan berlipat kebaikan,” ucapku.
“Aamiin. Mas Farhan nggak usah sungkan begitu! Mas Farhan sudah saya anggap saudara. Ah, seandainya ada uang cukup, saya antar Mas Farhan berobat ke rumah sakit,” kata Agus.
“Pertolonganmu ini sudah sangat luar biasa bagiku. Aku nggak tahu apa jadinya kalau kamu tak membawaku ke sini. Aku sangat berterima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku,” ucapku lirih.
Andai saja kartu ATM-ku tidak terblokir, tentu tidak akan kebingungan begini. Untuk makan pun, aku numpang. Bahkan, baju yang kupakai sehari-hari adalah baju milik Agus. Sisa
uang yang tinggal tiga lembar kuberikan kepada ibu Agus.
Terlintas di kepalaku pergi ke bank untuk melaporkan pemblokiran kartu yang kupegang. Aku ingin mengambil uangku untuk biaya hidup dan pengobatan, bahkan aku bisa beli tiket pesawat untuk pulang.
Namun, ketika aku utarakan niatku itu, Agus justru menentangku. Terlalu riskan, katanya. Anggota kelelawar hitam engetahui kalau aku masih hidup. Bisa saja mereka menangkapku
saat pergi ke bank.
Aku bisa menerima alasan Agus. Aku juga masih trauma bila bertemu mereka.
Hari-hari berat kulalui. Bagaimana tidak berat? Aku jauh dari keluarga tanpa kepastian sampai kapan seperti itu. Kondisi kesehatanku makin membuatku berat menapaki waktu di rumah Agus.
Sudah seminggu lebih aku hanya mengonsumsi obat dari perawat bernama Pak Wisnu. Lumayanlah, setidaknya obat dari perawat itu bisa meredakan sedikit nyeri yang kurasa. Aku pun bisa beraktivitas membantu sedikit pekerjaan rumah tangga, tidak hanya tiduran terus.
Untuk mengingat-ingat kontak keluarga, aku masih belum sanggup. Alamat rumah Om
Candra. Namun, sampai seminggu hasilnya tetap nihil.
Sore itu, setelah salat asar aku tiduran di kamar yang aku gunakan. Kamar itu sangat kecil, luasnya hanya sekitar 2X3 meter persegi. Biasanya, Roni yang menempati kamar ini. Namun adik Agus yang baru kelas VIII itu disuruh mengalah. Ia tidur bersama Agus.
Aku mendengar suara pintu diketuk. Tak lama berselang terdengar suara Agus berteriak
kegirangan. Tamu itu pun sepertinya senang karena aku mendengar tawa mereka.
Aku tidak ikut menemui tamu Agus. Toh, aku tidak kenal. Lagi pula kepalaku sedikit nyeri.
“Maaf. kamar yang ada hanya ini, dan ada saudaraku yang tinggal di sini,” kata Agus di depan pintu.
Aku bangkit dari posisi tiduran. Kutegakkan badanku dan bersiap menyambut si tamu kalau ia masuk kamar.
Pintu kamarku diketuk pelan. Kudengar Agus meminta izin untuk masuk.
“Masuklah!” jawabku.
“Mas, ada temanku mau menginap di sini barang 2 malam. Maaf, Mas Farhan nggak keberatan kalau tidur bersamanya?” tanya Agus.
“Tentu saja tidak kalau dia laki-laki,” sahutku sambil tertawa kecil.
“Ini kan rumahmu. Ya terserah kamu selaku tuan rumah."
“Sini, masuk dulu!” kata Agus kepada temannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang cowok berdiri di samping Agus. Mataku terbelalak melihatnya. Dia pun sama denganku, terlihat kaget.
“Doni!” pekikku.
“Mas Farhan? Ini beneran Mas Farhan?” ucapnya ragu.
“Iya, ini aku, Farhan.”
“Tapi, bukankah Mas Farhan ....” kata Doni ragu.
“Sudah meninggal?” tebakku.
“Iya. Di grup SMA, juga beberapa status teman menyebutkan kalau Mas Farhan sudah meninggal karena kecelakaan,” paparnya.
“Itu bukan aku. Aku berhasil selamat,” ucapku.
Agus tampak bingung. Ia menatap kami bergantian.
“Ka—kalian sudah saling kenal?" tanyanya ragu.
“Iya. Kan sama-sama dari Jogja. O ya, Doni sudah salat asar? Kalau belum sana wudu!”
perintahku.
Doni meletakkan tas pakaiannya di lantai kamar. Ia menuju kamar mandi.
Agus mengajakku berbincang di ruang tamu. Kuletakkan pantatku ke kursi rotan yang mulai kusam.
“Mas Farhan beneran kenal Doni?” Agus sepertinya tak percaya.
“Iya, benar. Dia teman sekolah istriku. Bundaku dulu wali kelas Doni,” jawabku mantap.
“Oh, begitu,” jawabnya singkat. Tiba-tiba wajahnya diseliputi mandung.
“Kamu teman Doni saat SMA juga?” tanyaku menebak.
“Bukan. Dia teman SMP-ku. Dialah yang kuceritakan kepada Mas Farhan. Dia yang membantu aku tinggal di sini dan mendapat pekerjaan,” ucap Agus sambil menunduk.
“Kenapa nggak dicarikan di Jogja?" tanyaku ingin tahu.
“Karena di Jogja saya memiliki masalah yang serius. Waktu itu, saya menerima order mencelakai seorang gadis. Namun, gadis itu dilindungi Doni dan Doni yang kutabrak hingga kaki kirinya patah. Aku mengakui kesalahanku dan minta maaf kepadanya. Ternyata dia nggak cuma memberi maaf, tetapi juga rumeh dan pekerjaan.” Agus berhenti sejenak.
Setelah itu, Agus melanjutkan, "Doni mengirimku ke sini karena di Jogja nyawaku terancam oleh orang yang menyuruhku. Dia terkenal kejam. Dia tidak bisa menerima laporan kegagalan. Kalau sampai tahu aku gagal dan tidak membereskan pekerjaanku, nyawaku sebagai gantinya."
"Kenapa nggak kamu saja yang merantau menghindari orang kejam itu?" tanyaku lagi.
"Tentu saja keluargaku terancam. Aku khawatir ia akan mencelakai ibu dan adik-adikku. Itulah sebabnya aku senang sekaligus sedih tiap ketemu Doni."
Aku mengangguk-angguk paham. Dari cerita Agus, aku baru menyadari kemuliaan hati Doni.
Selama ini aku memiliki kesan buruk akan sosok Doni. Ah, mungkinkah penilaian burukku atas Doni didorong kecemburuanku? Karena aku tahu Doni pernah menyatakan cinta kepada Dek Via, aku berasumsi Doni ambisius. Mungkinkah itu salah? Kalau memang salah, berarti aku telah bersuuzan?
***
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan Kakak semua. Kutunggu dukungan akak untuk karya recehan ini.