SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Melamar Mira


__ADS_3

Dua mobil memasuki kompleks hotel. Satu mobil dikemudikan Pak Yudi dengan penumpang Farhan, Bu Lena, dan Dini. Via tidak ikut karena harus menunggui Baby Zayn. Mobil kedua dikemudikan Pak Nono. Di sampingnya, Edi duduk dengan raut sedikit tegang.


Setelah mobil terparkir, Edi dan Farhan turun. Pak Hendra dan istrinya sudah menunggu di lobi.


“Assalamualaikum, Pak, Bu, “ Farhan menyapa keduanya dengan hormat.


“Waalaikumsalam,” jawab Nyonya Hendra disertai senyuman.


Edi mencium tangan ibunya dengan takzim dan bersalaman dengan ayah tirinya. Farhan pun bersalaman dengan Pak Hendra dan menangkupkan tangan di depan dada saat berhadapan dengan Bu Hendra.


“Perkenalkan, saya Farhan. Saya keponakan Om Candra,” kata Farhan memperkenalkan diri.


“Kami orang tua Edi. Terima kasih telah menampung anak saya,” sahut Bu Hendra.


Farhan tersenyum ramah. Sementara Pak Hendra hanya diam, tidak bereaksi.


“Bagaimana kalau kita langsung berangkat agar tidak terlalu malam? Tante saya, istri Om Candra ada di dalam beserta putrinya,” ajak Farhan.


Edi mengarahkan kedua orang tuanya menuju mobil yang dikemudikan Pak Nono. Farhan kembali ke mobil bersama Bu Lena dan Dini.


Dua mobil tersebut kembali beriringan membelah jalanan yang diterangi lampu jalan. Kondisi lalu lintas yang tak terlalu ramai membuat perjalanan lancar. Mobil bisa melaju dengan kecepatan stabil.


Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di luar kota. Roda mobil mulai menapaki jalanan yang tidak terlalu mulus. Namun, jalanan lengang sehingga perjalanan tetap lancar.


Akhirnya, mobil berbelok ke halaman rumah sederhana bercat krem yang sudah agak kusam. Pagarnya terbuat dari bambu. Tidak ada taman di halaman rumah tersebut, hanya pohon mangga dan beberapa tanaman bunga.


Edi turun dan membukakan pintu untuk kedua orang tuanya. Pak Yudi membukakan untuk Bu Lena dan Dini. Setelah itu, ia membuka bagasi belakang. Bu Lena menghampiri Bu Hendra. Mereka bersalaman dan cipika-cipiki. Lalu, Bu Lena mengajak Bu Hendra ikut membawa seserahan yang ada di mobil.


“Banyak sekali, Nyonya? Ini semua Nyonya yang beli?” Bu Hendra melongo melihat banyaknya


seserahan yang disiapkan.


“Keponakan saya yang bantu belanja beserta teman-temannya. Teman-teman Mira juga, sih. Tentu saja tanpa sepengetahuan Mira,” jawab Bu Lena.


Mereka membawa barang-barang yang sudah disiapkan. Pak Nono dan Pak Yudi ikut membantu.


Setelah semua barang pindah ke teras, Edi bermaksud mengetuk pintu. Namun, pintu rumah Mira terbuka sebelum Edi sempat mengetuknya.


“Mas Edi?” ucap Mira yang membuka pintu.


“Assalamualaikum. Bapak dan ibu ada?” tanya Edi.


“Waalaikumsalam. Iya, ada. Silakan masuk. “ Mira menggeser posisi berdirinya.


Setelah bersalaman dengan Bu Hendra, Bu Lena, juga Dini, Mira masuk memanggil orang tuanya. Tak lama kemudian seorang pria berusia sekitar 50 tahun dan wanita yang sebaya Bu Lena keluar menemui tamu yang datang.


Mira kembali keluar membawa minuman. Ia bolak-balik karena harus membawa beberapa makanan kecil. Kedua orang tuanya terus mengobrol dengan para tamunya.


“Nak Mira, duduklah bersama kami. Ada yang ingin kami tanyakan,” kata Bu Lena.


Mira menurut. Ia duduk di kursi dekat ibunya.

__ADS_1


“Begini, Pak, Bu,Mira, kedatangan kami ke sini ingin bersilaturrahim dengan keluarga Bapak Handoyo. Yang kedua, bila semua berkenan, kami ingin meminta Nak Mira menjadi pendamping anak saya, Edi. Mohon maaf kalau kedatangan kami mungkin membuat keluarga Bapak menjadi repot,” kata Bu Hendra.


Kedua orang tua Mira saling berpandangan. Mereka bertukar senyum dan menganggukkan kepala.


“Alhamdulillah panjenengan  sekeluarga kerso rawuh di gubuk kami. Maaf bila sambutan kami hanya seadanya. Kami sangat senang dengan kunjungan panjenengan semua. Mengenai keinginan Ibu, saya tanyakan kepada anak saya dulu,” jawab Pak Handoyo.


Pak Handoyo menoleh ke Mira. Gadis itu masih menundukkan kepala.


“Nduk, gimana? Apa kamu mau memenuhi permintaan orang tua Nak Edi?” tanya Pak Handoyo.


Muka Mira sedikit memerah. Tangannya diremas-remas untuk menghilangkan grogi.


“Nak Mira, apakah bersedia mendampingi hidup anak saya, diajak bersusah payah bersama, berdua mengarungi kehidupan?” tanya Bu Hendra kepada Mira.


Mira menegakkan kepala sebentar. Pandangannya beradu dengan tatapan Edi. Itu membuatnya gugup hingga ia kembali menunduk.


“I—iya, sa—saya mau,” jawab Mira lirih.


“Alhamdulillah,” semua orang kecuali Pak Hendra tampak lega.


“Lalu bagaimana soal waktu ijab dan resepsi?” tanya Bu Lena.


Pak Handoyo kembali menoleh ke istrinya. Ibu dari Mira itu membalas dengan bisikan.


“Bapak dan Ibu Hendra, kami serahkan kepada keluarga Bapak Ibu,” jawab Pak Handoyo.


Bu Hendra menoleh ke Edi bergantian dengan Bu Lena. Mereka sendiri belum menyiapkan waktu.


“Mohon maaf kalau saya lancang. Saya sudah menganggap Edi sebagai anak saya. Kalau boleh saya mengusulkan bulan depan saat  liburan agar kami sekeluarga bisa menghadiri. Saya juga minta ijab dan resepsi menjadi satu waktu. Maksud saya, setelah ijab langsung resepsi,” papar Bu Lena.


“Bagaimana, Pak?” tanya Bu Hendra.


Lelaki yang sebagian rambutnya telah memutih itu hanya diam. Bu Hendra menyikut suaminya.


“Ah, iya. Terserah kalian saja bagaimana baiknya.”


Bu Hendra menahan geramnya. Dari tadi suaminya tidak ada inisiatif sama sekali.


“Kami setuju usul Nyonya Lena. Pak Handoyo dan Bu Handoyo bagaimana?” Bu Hendra melempar bola ke


orang tua Mira.


“Pada dasarnya kami setuju. Namun, yang namanya menikahkan anak kan butuh persiapan. Kami hanya orang kecil, butuh waktu cukup untuk mempersiapkan segala sesuatu,” jawab Bu Handoyo.


Edi terlihat gelisah. Melihat Edi, Bu Lena tanggap dan tersenyum.


“Maaf sekali lagi, Bapak dan Ibu. Bukan berarti saya menyombongkan diri dan lancang, tetapi untuk masalah dana insya Allah sudah disiapkan. Kalau memang Bapak dan Ibu Handoyo setuju, semua keperluan biar ditanggung Edi. Dia sudah siap. Kalau ditunda terlalu lama, sepertinya calon mempelai pria sudah tak bisa menahan,” kata Bu Lena.


Mendengar ucapan Bu Lena, orang-orang tertawa. Sementara Edi tertunduk sambil menahan senyum.


“Maaf kalau kami jadi merepotkan. Tapi kalau memang kehendak keluarga Nak Edi begitu, kami ikut saja.” Pak Handoyo akhirnya setuju.

__ADS_1


Senyum lebar pun mengembang di bibir semua orang kecuali Pak Hendra. Lelaki itu hanya mengulas senyum tipis seolah pemantas pertemuan saja.


Berarti sepakat mereka menikah bulan depan, ya?” Bu Hendra meminta ketegasan lagi.


Pak Handoyo mengangguk mantap dan menjawab, “Iya, Bu. Insya Allah jadi.”


“Untuk detail acara pernikahan seperti apa, sebaiknya kita bicarakan lain hari,” usul Farhan.


Kedua pasang orang tua itu mengangguk setuju. Bu Lena pun demikian.


“Wah, Mas Edi lega banget tuh,” ledek Pak Yudi.


“Jelas, Pak. Akhirnya lepas lajang juga,” Farhan menambahi.


Yang diledek hanya senyum-senyum tanpa membalas. Dari wajahnya jelas terpancar kebahagiaan.


Mereka melanjutkan dengan obrolan ringan. Sesekali ledekan untuk calon pengantin pun terlontar bergantian.


Sekitar dua jam bertamu, mereka berpamitan pulang. Bu Lena berpamitan kepada Bu Hendra tidak mengantar ke hotel.


Dalam perjalanan ke hotel, Pak Hendra menanyai Edi tentang rencana pernikahannya. Ia meragukan kemampuan anak tirinya.


“Memangnya kamu punya uang berapa untuk nikah? Kamu mau hutang ke majikanmu?” tanya Pak Hendra sinis.


“Insya Allah cukup, Pak,” jawab Edi.


“Kamu jangan mau menanggung sendirian! Calon mertuamu juga harus ikut keluar duit, dong! Masa hanya kamu.” Pak Hendra mulai memprovokasi Edi.


Edi menahan kesal. Namun, ia berusaha keras menahannya.


“Bukankah ini sudah pernah kita bicarakan? Yang penting, saya tidak merepotkan. Biar saya pikirkan. Saya hanya butuh restu orang tua. Bapak dan Ibu yang penting bisa memberikan doa restu dan hadir dalam acara pernikahan saya bersama adik-adik,” jawab Edi dengan nada datar.


Bu Hendra merasa dadanya sesak mendengar perdebatan keduanya. Sebenarnya, ia tidak suka dengan


sikap suaminya. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak


“Kamu mau belikan tiket untuk kami semua? Ingat, tiket nggak murah lo!” ucap Pak Hendra lagi.


“Iya, saya tahu. Pokoknya semua sudah saya siapkan,” sahut Edi.


Pak Nono yang sejak tadi diam pun ikut merasa geram mendengarkan pembicaraan ayah dan anak itu. Ia  tak habis pikir ada orang tua seperti itu.


***


Bersambung


Terima kasih


kepada semua readers yang dukung karya receh ini. Terus dukung ya, biar aku


lebih semangat. Cuma klik like dan komen aja aku dah seneng kok.

__ADS_1


__ADS_2