
Sejak mengetahui Farhan sudah ada yang memiliki, Mira tampak sedikit berbeda. Ia sedikit murung. Senyum yang tadinya sering mengembang menjadi jarang terlihat.
Via merasakan perubahan itu. Ia merasa bersalah kepada Mira. Namun, ia juga tidak akan bisa merelakan suaminya untuk orang lain. Via juga sadar, suaminya pun tidak menginginkan perempuan lain mendampinginya.
"Maafkan aku, Mbak Mira. Aku akan jujur di saat yang tepat. Semoga Mbak Mira mendapatkan jodoh seorang pria yang soleh," bisik Via dalam hati.
Meski hatinya sakit, Mira berusaha untuk tetap tegar. Ia tidak mau terlihat cengeng. Semangat kerjanya pun tidak memudar.
"Vi, omset kita sudah hampir tiga kali lipat dibandingkan awal kita buka toko, lo. Aku nggak nyangka perkembangan toko ini bisa melesat. Kamu hebat," puji Ratna.
"Haish, apanya yang hebat? Ini kan hasil kerja bersama, bukan aku. Alhamdulillah, ternyata pertolongan Allah memudahkan kerja kita," ujar Via.
"Vi, habis ujian semester aku ingin liburan barang dua atau tiga hari. Boleh, nggak?" tanya Ratna.
"Aku rasa kita semua butuh liburan. Bagaimana kalau toko tutup seminggu, kita menikmati liburan?"
"Wah, aku mau banget. Tapi, apa tidak akan berpengaruh terhadap performa toko kalau sampai tutup seminggu?"
"Bagaimana kalau toko online tetap buka? Toko online-nya tutup dua hari saja? Kita bergiliran."
"Nanti kita bicarakan bersama Mbak Mira dan Salsa, ya," usul Ratna.
Via mengangguk. Mereka mempercepat langkah agar segera sampai ruko.
"Assalamualaikum," ucap Via dan Ratna bersama begitu sampai ruko.
Mira dan Salsa pun menjawab bersama. Mereka sedang packing orderan.
Mbak Mira, Salsa, setuju nggak kalau toko kita libur?" tanya Ratna.
"Libur? Berapa hari? Salsa balik bertanya.
"Toko online jangan lama-lama. Paling dua atau tiga hari. Kalau ada order, kita kirim dari rumah," kata Ratna menjelaskan.
"Terus, ruko tutup berapa hari?" Mira ganti bertanya.
"Seminggu," jawab Via singkat.
"Memang nggak rugi, Mbak?" Salsa tampak khawatir.
"Rezeki sudah ada yang ngatur. Insya Allah dari toko online masih ada keuntungan yang lumayan," ujar Via.
Salsa merasa takut kalau pendapatan toko berkurang, gajinya pun berkurang. Semenjak ia bekerja di Azrina, kondisi ekonomi keluarga gadis itu membaik. Ia bisa membantu membiayai sekolah dua adiknya.
"Tenang, Sa. Insya Allah gajimu nggak akan dipotong meski toko kita tutup beberapa hari," ujar Via sambil tersenyum. Ia seolah tahu yang ada di benak Salsa.
"Lalu, kapan tutupnya?" tanya Mira.
"Setelah kami ujian semester," jawab Ratna.
Akhirnya, mereka sepakat untuk menutup toko. Mereka akan menikmati liburan dengan acara masing-masing.
"O ya, habis zuhur aku akan menemui produsen tas. Kemarin aku dapat tawaran tas dan dompet produksi lokal dengan harga cukup murah. Kali aja cocok, pengembangan produk yang kita jual," kata Via.
"Perlu ditemani, nggak? Jauh nggak, sih?" tanya Ratna.
"Nggak usah. Pakai taksi mungkin sekitar setengah jam. Kamu bantu Mbak Mira dan Salsa saja. Order dari toko online kan cukup banyak, tuh."
"Okelah. Hati-hati, ya! Yuk, salat dulu!" ajak Ratna.
__ADS_1
Usai salat zuhur, Via bersiap pergi. Ia sudah memesan taksi lewat aplikasi.
"Aku berangkat dulu, teman-teman. Assalamualaikum," ucap Via sambil melangkah keluar ruko. Taksi yang dipesan sudah tiba.
Baru lima menit berjalan, nada dering panggilan telepon berbunyi. Via mengambil benda kotak pipih dari dalam tasnya. Di layar tertera kalau Farhan yang menelepon.
"Assalamualaikum, Mas," ucap Via.
"Waalaikumsalam. Dek Via di ruko?" tanya Farhan.
"Enggak. Ini lagi dalam perjalanan mau ketemu produsen tas. Gimana?"
"Bisa ketemu? Ada yang mau Mas omongin."
"Bisa, nanti setelah Via ketemu produsen tas, ya!"
"Aku susul saja, ya. Share lok!" pinta Farhan.
"Baik, Mas."
"Sampai ketemu di sana. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Baru beberapa menit Via sampai, Farhan sudah menyusul. Tentu saja Via kaget.
"Cepat amat, Mas?"
"Kebetulan Mas baru ketemu teman SMA. Rumahnya nggak jauh dari sini. Ayo, Mas temani."
Via menyetujui ajakan Farhan. Dengan bantuan Farhan, mereka mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Via pun pamit dengan membawa beberapa sampel produk.
"Belum. Tadi belum lapar," sahut Via.
Farhan membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Via masuk. Setelah menutup pintu mobil, Farhan masuk dan bersiap mengemudikan mobil.
"Ke kafe mana?" tanya Farhan.
"Terserah Mas. Kan Mas Farhan yang ngajak."
"Okelah. Yang dekat saja, ya," ujar Farhan sambil tersenyum.
Kafe tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang menempati 2 meja. Farhan memilih tempat duduk di sudut ruangan, agak jauh dengan pengunjung lain.
Sambil menunggu pesanan datang, Farhan mengajak Via berbincang.
"Dek, ada yang mau Mas sampaikan. Kesabaran kita, usaha untuk melemahkan orang-orang yang memusuhi kita sudah membuahkan hasil."
Via menatap Farhan dengan tatapan berbinar. Ia berharap Farhan memberikan kabar gembira.
"Apa semua sudah terungkap?"
Farhan mengangguk. Ia meraih tangan Via dan menggenggam dengan erat.
"Alhamdulillah, sudah. Insya Allah semua teratasi. Setelah Pak Beno ditahan, kekuatan mereka melemah."
Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika pelayan kafe menyajikan hidangan yang mereka pesan.
Selesai makan, Farhan melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
"Mereka memiliki latar belakang masalah yang berbeda-beda. Ada yang semata-mata bisnis, ada yang pribadi."
Farhan berhenti sebentar untuk minum. Via tetap diam menunggu ucapan Farhan selanjutnya.
"Om Danu ternyata memiliki dendam pribadi kepada almarhum papa. Kejadian pemicunya sudah belasan tahun silam. Sedangkan Pak Widodo, Pak Kuncoro, dan Feri karena alasan bisnis. Pak Kuncoro pernah menjadi rekanan bisnis almarhum papa, tetapi berbuat curang. Almarhum memutuskan hubungan mereka dan Pak Kuncoro sakit hati. Sedangkan Feri dan Pak Widodo karena masalah intern perusahaan, hubungan atasan dan bawahan."
"Apa tidak memunculkan dendam baru?" tanya Via khawatir.
"Mudah-mudahan tidak. Yang jelas, ibarat ayam jago mereka sudah tidak punya taji."
Via hanya mengangguk-angguk. Ia memercayakan semuanya kepada Farhan.
"Berarti, kita bisa mengumumkan pernikahan kita, Dek. Ayah dan bunda berencana mengadakan resepsi setelah Dek Via selesai ujian semester. Bagaimana?"
Pipi Via mendadak memerah. Ia tidak berpikir sampai ke situ.
"Apa masih perlu?" tanya Via ragu.
"Maksud Dek Via?" Farhan mengernyitkan keningnya.
"Apa harus mengadakan resepsi, Mas?"
Farhan tersenyum lalu menjawab,"Resepsi itu bentuk pengumuman bahwa kita sudah menjadi pasangan yang halal. Jadi, orang tidak salah sangka terhadap kita. Kalau tidak, nanti Mas dikira single terus ditaksir cewek."
Via cemberut. Bibirnya mengerucut lucu.
"Jangan gitu, Dek! Mas jadi gemes lihat bibirmu, pengin cium kamu," bisik Farhan.
"Ish, Mas Farhan mesum," gerutu Via.
Farhan tertawa terkekeh. Ia benar-benar bahagia.
"Mesumnya kan sama istriku. Lagian cuma segitu, belum ada apa-apanya," bisik Farhan lagi.
"Maksud Mas?" Via tak paham.
Lagi-lagi Farhan tertawa. Ia merasa istrinya begitu lugu.
"Tunggu saja tanggal mainnya. Sekarang, Dek Via fokus ke ujian semester. Urusan persiapan resepsi biar bunda saja. Kita tinggal terima beres."
"Kasihan bunda kalau nggak ada yang bantu."
"Kan ada WO. Kalau ditangani WO, bunda nggak bakal capek."
"Terserahlah," ujar Via pasrah.
Cerahnya langit semakin nyata karena suasana hati yang ceria. Farhan membayangkan hidup bersama Via sebagai mana suami istri.
***
Bersambung
Ada yang mau kondangan? Tunggu undangan dari Via dan Farhan. 😉
Jangan lupa untuk selalu dukung author ya 🙏.
Sambil menunggu resepsi, baca karya teman2 author yang keren ini, yuk!
__ADS_1