
Menghapus Trauma
Setelah menghabiskan makanan yang telah dipesan, mereka ke musala yang terletak di bagian belakang restoran. Dengan diimami dokter Haris, mereka berjamaah salat zuhur. Sementara Mira, yang tengah datang bulan, duduk termenung di kursinya.
Selesai salat, Bu Aisyah mendekati suaminya.
"Yah, gimana kalau kita berlibur untuk menghilangkan trauma Mira. Kasihan, dia."
Sebelum Pak Haris menanggapi, Eyang Probo menyahut, "Aku setuju. Bagaimana kalau Lava Tour saja? Nanti habis asar kita berangkat. Kita nginap di villa milik temanku. Kalau setuju, aku telepon dia sekarang."
"Bagus juga. Farhan, Azka, Via, Ratna, kalian setuju?" tanya dokter Haris.
"Boleh, Yah. Sudah lama nggak berlibur," sambut Farhan antusias.
"Pesen paket sunrise lava tour, Yang," usul Azka.
"Via dan Ratna setuju?" tanya Eyang Probo.
"Boleh. Mudah-mudahan Mbak Mira terhibur."
"Andi dan Arman ikut juga, ya! Biar tambah ramai. Kalau beramai-ramai kan tambah seru. Aku yakin Mira lebih cepat melupakan kejadian tadi malam," lanjut Eyang Probo.
"Okelah," kata Pak Arman dan Pak Andi.
Mereka sepakat untuk pulang dulu dan berangkat dari rumah Eyang Probo bersama.
"Farhan anterin mereka ke ruko dulu, Yah," pamit Farhan.
"Tungguin sekalian, Han. Kamu berangkat bersama para gadis nanti sore," kata Pak Haris.
"Bajumu biar Bunda siapkan," imbuh Bu Aisyah.
"Oke, kita pulang dulu dan kumpul jam 4," kata Eyang Probo.
"Siap," seru yang lain kompak.
Mereka pun meninggalkan restoran menuju kediaman masing-masing. Farhan mengendarai mobilnya ke ruko. Kali ini, Via duduk di samping Farhan sementara Ratna dan Mira duduk di kursi belakang.
Berkali-kali Farhan melirik Via. Sayangnya, gadis itu tidak menyadari.
"Coba saja kalau berdua. Tentu kita bisa lebih mesra. Eh, kita? Dek Via mau nggak, ya? Hemmm, jangan-jangan dia belum bisa menerimaku," batin Farhan.
Sesampai di ruko, Ratna membimbing Mira ke kamarnya. Sementara Via dan Farhan mengikuti dari belakang.
"Kalau kita berdua ke sananya, pasti bisa romantis, Dek. Bagaimana kalau minggu depan berdua saja?" bisik Farhan ke telinga Via.
Via terbelalak. Ia tidak mengira Farhan akan mengucapkan hal itu.
"Ssstt, kalau nggak bisa Mas juga nggak maksa," bisik Farhan lagi.
Via tidak menjawab. Sebenarnya, tidak hanya ajakan Farhan yang membuat dirinya gugup, tetapi wajah Farhan yang sangat dekat dengan wajahnya membuat Via sibuk menata hati. Hembusan nafas Farhan terasa di pipinya.
"Emm, minggu depan kan Via mid semester," jawab Via setelah bisa menguasai diri.
Farhan tersenyum. Ia juga tidak terlalu berharap Via menerima ajakannya.
__ADS_1
Sesuai rencana, pukul 16.00 mereka berangkat bersama. Dengan kecepatan sedang, waktu yang ditempuh hampir satu jam.
"Temanku sedang mengurus bisnisnya di Surabaya. Jangan khawatir, ia sudah berpesan kepada pegawainya untuk melayani kita," kata Eyang Probo.
"Tak mengapa, Yang. Kita kan mau berlibur bukan mau ketemu teman Eyang," sahut Azka.
Benar saja. Begitu mereka memasuki lobby, dua staf menyambut mereka.
"Selamat sore, selamat datang di Villa Cempaka. Apakah ini rombongan Tuan Probo?"
"Benar, aku sudah memesan tadi," jawab Eyang Probo.
"Iya, Tuan. Mari silakan ikut kami."
Mereka pun masuk ke kamar masing-masing sesuai panduan staf villa. Tidak lama di kamar, mereka hanya meletakkan koper dan tas lalu keluar.
"Kita bersepeda keliling sini, yuk!" ajak Azka.
"Boleh. Waktu maghrib masih sekitar 40 menit lagi," sahut Ratna.
"Kalian yang masih muda saja sana! Kami para orang tua duduk-duduk di sini menikmati teh hangat," kata Pak Haris.
Akhirnya mereka berlima yang pergi. Dengan sepeda yang disediakan pengelola villa, mereka berkeliling lokasi.
Raut wajah Mira mulai tampak gembira. Hal ini selalu Via perhatikan. Selama setengah jam bersepeda, mereka bercanda riang. Senyum Mira sering menghiasi bibirnya.
"Jangan lupa, habis subuh kita bersiap untuk petualangan sunrise lava tour," kata Farhan sebelum mereka berpisah untuk bersiap salat magrib.
Keesokan harinya, pukul 4.20 mereka telah bersiap berangkat ke puncak untuk menikmati sunrise. Jeep yang akan membawa mereka pun sudah siap. Namun, mendadak Via berlari kembali ke kamar. Farhan menyusulnya.
"Perut Via mules. Via nggak jadi ikut saja. Yang lain suruh berangkat, kasihan kalau kelewatan sunrise-nya," teriak Via dari dalam.
Farhan segera menghubungi Azka. Ia memberi tahu agar orang-orang berangkat lebih dahulu. Ia dan Via tetap di villa.
Farhan memperhatikan Via yang baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat biasa.
”Bagaimana, Dek? Sakit?” tanya Farhan tetap cemas.
“Enggak, udah sembuh, kok. Sayang ya, nggak ikut lihat sunrise,” ucap Via dengan nada kecewa.
“Dek Via mau? Ini belum ada jam 5, insya Allah masih keburu. Ayo, kita susul yang lain! Mas hubungi rental jeep, ya!”
“Beneran bisa?” tanya Via dengan mata berbinar.
“Iya, insya Allah. Ayo, kita keluar. Jangan lupa, kunci pintu!”
Sambil keluar villa, Farhan menelepon pemilik rental jeep. Ia sudah pernah menggunakan jasa rental jeep lava tour sehingga masih menyimpan kontaknya.
Tak perlu menunggu lama, sebuah jeep telah siap mengantar Farhan dan Via melakukan trip lava tour. Farhan mengajak Via duduk bersama di belakang.
Setelah sepuluh menit, Via tampak kedinginan. Farhan menyadari hal tersebut saat tangannya tak sengaja menyentuh Via.
“Dingin? Pakai jaketku, ya!” Farhan melepas jaketnya.
“Enggak, nggak usah. Via sudah pakai jaket. Ntar Mas Farhan kedinginan,” tolak Via.
__ADS_1
“Mas pakai sweater, kok. Udah, pakai aja.” Farhan memakaikan jaketnya ke tubuh Via.
“Mas Farhan nggak kedinginan?” tanya Via khawatir.
“Mas kan lelaki, lebih kuat dong. Biarpun dingin, hati Mas selalu hangat di dekatmu, Dek,” bisik Farhan.
“Ih, gombal!” Via mencebik.
Farhan terkekeh. Ia senang sekali melihat Via memasang muka cemberut karena ia tahu kalau ia tahu istrinya tidak marah. Ia justru melingkarkan tangan kirinya ke belakang bahu Via dan merengkuhnya.
“Aku ingin selalu begini. Aku ingin selalu menjadi sandaranmu,” bisik Farhan lagi.
Via hanya diam. Kali ini ia mencoba menikmati perlakuan Farhan. Ia merasakan kehangatan menyelimuti hatinya.
Sesampai di lokasi, matahari sudah menampakkan dirinya. Sang surya terlihat malu-malu dengan warna kemerahan. Orang-orang sudah mengambil foto dengan latar belakang matahaari yang baru bangun dari peraduan.
Farhan sengaja mengajak Via memisahkan diri dari rombongan. Berkali-kali ia mengambil gambar gadis itu secara sembunyi-sembunyi.
Saat menemukan batuan yang besar, Farhan menarik tangan Via, mengajaknya duduk.
Farhan memeluk Via dan mengarahkan kamera depan mengambil gambar mereka. Lima kali ganti pose barulah Farhan puas.
“Ternyata Mas Farhan suka selfi,” desis Via.
“Hehe…belum lama, kok. Mas sukanya foto sama kamu.”
“Masa? Gombal banget.”
“Nggak percaya? Nih, buka HP Mas,” kata Farhan sambil menyerahkan ponselnya.
Via menerimanya. Ia mulai membuka galeri foto di ponsel Farhan. Di sana ia menjumpai banyak foto dirinya, termasuk yang baru saja diambil Farhan secara diam-diam.
“Mas, kok banyak sekali foto Via? Kapan ngambilnya?”
Farhan tertawa lalu menjawab,”Seringlah. Mas suka mengambil gambarmu secara diam-diam. Hampir setiap malam, Mas memandang fotomu sebelum tidur.”
Via menatap lekat lelaki di sampingnya. Rasanya ia tak percaya kalau kata-kata itu keluar dari mulut Farhan.
“Nggak percaya? Memang Dek Via nggak pernah kangen Mas?”
Via hanya diam. Ia gugup dan bingung.
“Dek, banyak hal yang ingin kuungkapkan. Makanya, kemarin aku bilang seandainya kita pergi berdua tentu bisa bermesraan. Aku ingin mengungkapkan perasaanku.”
Via masih diam. Jantungnya berdegup kencang.
“Kapan-kapan kita pergi berdua, yuk!” ajak Farhan. “Sekarang, kita bergabung dengan yang lain.”
Farhan menggandeng tangan Via. Namun, begitu melihat Ratna dan Mira Farhan melepaskannya.
“Mbak Mira terlihat gembira. Semoga ia sudah bisa melupakan penculikan itu,” ucap Via.
Mereka pun bergegas mendekati yang lain dan bergabung bersama mereka.
***
__ADS_1
Bersambung