
Kafe di pusat kota itu memang cukup ramai. Apalagi pada jam makan siang. Banyak pegawai kantor yang memilih makan siang di situ sambil melepas penat.
Di bagian sudut, seorang cowok berkaos warna biru mencolok tengah duduk sambil menikmati secangkir kopi. Tampaknya ia sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Boleh gabung, nggak?" tanya seorang cewek cantik yang mengenakan tank top merah.
Cowok yang tengah duduk itu tidak mengacuhkan. Tatapannya tidak beralih dari layar ponsel.
"Boleh, Mas?" tanya cewek itu lagi.
"Maaf, sudah ada yang booking," jawab si cowok tanpa memperhatikan orang yang bertanya.
Cewek ber-tank top mendengus kesal. Ia duduk tak jauh dari cowok berkaos biru.
Tak lama kemudian, seorang pria berbadan kekar berjalan ke sudut kafe. Kulit hitamnya tampak kontras dengan kaos kuning yang ia kenakan. Wajahnya terlihat tidak bersahabat.
"Sudah lama, Don? Maaf, tadi motorku mogok," kata pria itu.
Cowok yang dipanggil "Don" tersenyum ramah lalu mempersilakan duduk.
"Baru 15 menit, kok. Duduk dulu! Mau pesan apa? Aku juga belum pesan makanan," ujar si cowok sambil melambaikan tangan memberi kode kepada waiters.
Setelah memesan makanan, dua orang itu tampak membicarakan hal serius.
"Kamu beneran butuh pekerjaan?"
"Iya. Ayahku sakit-sakitan, adikku butuh biaya untuk bayar sekolah. Cukup aku yang hanya tamatan SMP. Aku ingin adikku bisa kuliah nantinya."
"Aku salut sama kamu. Kamu rela berkorban demi keluarga. Ngomong-ngomong sekarang kamu kerja di mana?"
"Aku kerja serabutan. Apa saja, yang penting dapat uang."
"Halal, kan?"
Pria itu tersenyum kecut tanpa menjawab sepatah kata pun.
"E... begini, Gus. Kafe milik om-ku ini butuh sopir. Apa kamu mau? Tapi gajinya nggak gede. Paling standar UMR."
"Aku nggak peduli. Minimal aku punya pekerjaan tetap. Nanti aku cari-cari sampingan buat uang jajan adikku."
"Maaf, Gus. Aku nggak bisa bantu banyak. Kau tahu sendiri kalau aku malah masih kuliah, minta jatah orang tua."
"Santai, Don! Aku sudah sangat berterima kasih atas bantuanmu ini. Kapan aku mulai kerja?"
"Lusa, Gus. Sekarang ok dan tanteku sedang ke Bali. Kamu ketemu dulu sama mereka. O ya, dimakan! Nanti keburu dingin."
Saat mereka mulai makan, terdengar nada dering yang cukup keras. Lelaki bernama Agus itu segera merogoh saku celananya mengambil ponsel.
"Halo, Bos."
....
"Ciri-ciri cewek itu seperti apa?"
....
__ADS_1
"Namanya Via? Kuliahnya di mana?"
....
"Jadi, dia sering ke kantor ekspedisi itu sekitar jam 2?"
....
"Aku hanya membuat cedera kan?"
....
"Jangan cuma ringan? Sampai patah tulang?"
....
"Kalau ada foto cewek itu, kirim saja. Itu kan lebih mudah. Biar aku nggak salah orang."
....
"Aku percaya. Aku temui Bos setelah melaksanakan tugas besok siang. Nanti aku pelajari lokasi dulu."
....
"Ya, makasih."
Agus meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia melanjutkan makan.
"Ada tawaran pekerjaan, Gus?"
"Ee...itu hanya sampingan. Nggak sampai sehari selesai."
"Ah, cuma ketemu cewek, nyampein pesan, udah."
"Kurir?"
"Haaa...kurir spesial. Ah, udah nggak usah dibahas. Aku tetap menerima tawaran pekerjaan dari kamu. Aku butuh pekerjaan tetap, Don. Dengan ijazah SMP, tidak banyak yang bisa kuharapkan. Beda sama kamu. Nantinya kamu sarjana, orang tuamu punya perusahaan sendiri. Pasti terjamin."
"Alhamdulillah. Tapi hidup kan nggak cuma butuh materi."
"Jodoh? Dengan tampang keren gini, cewek mana yang mau nolak. Cewek di meja sebelah aja ngliatin kamu terus. Kamunya aja yang dingin sama cewek dari dulu."
"Ah, bukan gitu. Belum ketemu yang cocok dan mau. Aku pernah naksir cewek dan ditolak, kok."
"O ya? Gila tuh cewek."
Ponsel Agus berkedip diiringi nada notifikasi pesan. Tangan kiri Agus membuka kunci layar tanpa mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Jarinya membuka pesan gambar yang baru diterima. Tampak wajah gadis cantik yang dibalut gamis dan jilbab.
Setelah selesai makan, Agus meraih ponselnya dan membuka aplikasi ojol. Kemudian, ia berpamitan.
"Doni, makasih atas bantuanmu. Makasih juga untuk makan siang yang lezat ini. Aku pamit dulu."
"Nggak usah sungkan gitu. Hati-hati, Gus!"
Agus keluar dari kafe. Ia menghampiri tukang ojol yang telah menunggunya.
__ADS_1
****
Kantin PT Surya Kencana begitu ramai. Saat itu memang jam makan siang. Karyawan karyawati perusahaan milik Eyang Probo memadati kantin. Hampir tidak ada meja yang kosong.
Di salah satu meja, Farhan baru saja menghabiskan soto ayam pesanannya. Ketika ia berdiri, terasa ada getaran di saku. Ia mengambil ponselnya. Tertera di layar tulisan "Reno memanggil." Farhan segera menerima panggilan itu sambil menjauh dari pegawai yang sedang makan siang.
"Bos, segera buka video yang saya kirim. Urgent," kata orang yang menelpon.
"Baik," jawab Farhan. Ia segera mengakhiri pembicaraan. Beberapa detik kemudian, ada kiriman video masuk.
Farhan segera membukanya. Tampak di rekaman video tersebut dua orang yang tengah makan siang di sebuah restoran. Jam dinding yang tertangkap rekaman menunjukkan pukul 12.30. Berarti sekitar 15 menit yang lalu.
Farhan mengenali betul kedua orang tersebut meskipun wajah mereka tidak terlalu jelas. Namun, yang membuatnya terkesiap adalah pembicaraan salah satu dari orang itu lewat telepon.
"Kamu segera menuju lokasi sekarang. Gadis itu sebentar lagi biasanya ke kantor ekspedisi."
....
"Bagus. Pastikan gadis yang bernama Via, anak Wirawan, sasaranmu. Jangan sampai salah sasaran! Biasanya dia jalan berdua dengan temannya."
Farhan segera memasukkan ponselnya. Ia berlari ke ruangannya.
"Maaf, Pak. Bapak dipanggil Pak Probo," kata salah satu karyawan yang satu divisi dengannya.
"Tolong sampaikan kepada beliau, saya ada kepentingan mendadak. Ee...nanti saya bicara langsung dengan beliau. Permisi," sahut Farhan sambil menyambar kunci mobilnya.
Sambil berjalan ke tempat parkir, ia memberi tahu eyangnya.
[Maaf, Eyang, Farhan ada keperluan mendadak. Nanti akan Farhan jelaskan. Farhan keluar dulu.]
Ia buru-buru melajukan mobilnya. Di jalan, ia sering diomeli pengemudi lain karena mengemudikan mobil ugal-ugalan. Beberapa kali ia hampir menabrak mobil lainnya.
"Semoga tidak terlambat, semoga tidak terjadi apa-apa. Ya Allah, lindungi Dek Via di mana pun ia berada," doa Farhan dalam hati.
Setelah mengemudi lebih kurang 30 menit, Farhan sampai di kompleks kampus Via. Ia melihat sebuah kantor ekspedisi.
Pandangannya diarahkan ke sekeliling area.
Setelah beberapa saat memutar penglihatan, matanya tertumbuk pada seorang gadis bergamis coklat muda yang tengah berjalan cepat. Tangannya menenteng tas plastik besar. Beberapa meter di depannya, seorang gadis lainnya melambaikan tangan.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh.
"Via, awaaas!"
"Brakkk..."
"Aaauw...!"
"Viaaaa...!"
Seketika orang-orang berlari ke tempat kejadian. Farhan pun ikut mendekat dengan perasaan kacau.
****
**Bersambung
__ADS_1
Penasaran nggak? Apa yang terjadi, ya? Jawabannya ada pada episode selanjutnya besok pagi insya Allah 🙏
Jangan lupa berikan like dan komentar agar author lebih semangat. Terima kasih** 🙏