
Baru saja masuk rumah, Farhan dan Via langsung disambut dengan kehebohan.
"Kalian naik apa? Kok tidak kasih kabar pulang sekarang? Kenapa tidak minta jemput?" Bu Aisyah langsung menghujani dengan banyak pertanyaan.
"Masya Allah, Bunda. Kami baru pulang langsung diberondong banyak pertanyaan. Ni gimana jawabnya?"
"Lagian Mas Farhan dan Mbak Via aneh. Kenapa pulang gak kasih kabar? Kayak jelangkung aja," tambah Azka.
"Hadeeeh, ni lagi malah nambahin," keluh Farhan.
"Pertemuan kalian bagaimana? Lancar?" Kali ini Pak Haris yang bertanya.
Farhan tertawa terbahak-bahak. Hal ini membuat yang lain menatapnya heran.
"Ada apa? Kenapa tertawa?" tanya Bu Aisyah.
"Habis lucu. Farhan belum jawab sudah diberi pertanyaan lain. Akhirnya tidak ada yang dijawab," jawab Farhan sambil memegang perutnya.
"Ah, iya. Kalian tentu lelah. Sana, mandi dulu!"
Farhan dan Via menuju kamar mereka. Setengah jam kemudian, mereka kembali ke bawah. Pak Haris, Bu Aisyah, dan Azka telah menunggu di ruang keluarga.
"Sini, Nak! Kami ingin dengar cerita kalian," kata Pak Haris.
Farhan dan Via duduk bersebelahan. Itu tak luput dari perhatian Bu Aisyah. Ia tersenyum melihat keduanya mulai dekat.
"Pertemuan dengan Pak Chandra, orang yang mengajak kerja sama itu, diundur jadi sore karena beliau menunggui ayahnya yang sedang dioperasi. Akhirnya, pembicaraan kami selesai jam 8nan."
"Mereka jadi kerja sama?" Pak Haris menyela.
"Alhamdulillah, jadi. Mereka sangat baik, Yah."
"Lalu, bagaimana ceritanya kalian baru pulang? Atau ...." Azka sengaja menggantung kalimatnya.
"Atau apa? Jangan mulai!" ancam Farhan.
"Apaan, sih? Atau jalan-jalan dulu, begitu maksudku," sahut Azka.
Via tersenyum menyaksikan perseteruan kakak beradik itu.
"Kami nggak dapat tiket pesawat untuk penerbangan pagi sampai siang. Adanya sore. Daripada pulang sore dari Jakarta, mendingan naik kereta yang berangkat pagi."
"Jadi, ini dari stasiun?" tanya Bu Aisyah.
"Iya, Bun."
"Pantesan tadi waktu baru datang kelihatan kusut. Ternyata seharian duduk di kereta," kata Azka.
"Eh, naik kereta tuh asyik. Apalagi ada yang baru pertama kali naik kereta. Aduuuuh ...!"
Ucapan Farhan diakhiri pekikan. Ternyata sebuah cubitan mendarat manis di pahanya.
Pak Haris dan Bu Aisyah saling pandang dan tersenyum bahagia.
"Ehem... Nggak usah lebay, Mas," ejek Azka.
"Orang sakit, nih. Tentu saja aku menjerit," kilah Farhan.
Via tertunduk malu. Ia menyesal mencubit Farhan.
"O ya, tadi pagi eyang telepon ngasih kabar soal ruko," kata Bu Aisyah mengalihkan pembicaraan. Ia tahu Azka pasti siap melancarkan bully-an dan itu akan membuat Via semakin salah tingkah.
"Ruko buat Dek Via?" tanya Farhan.
"Iya. Lusa Via sudah mulai kuliah, kan? Nah, besok pagi kabari Ratna agar dia ikut pindah ke ruko. Soal pembayaran sewa, tidak usah kalian pikirkan. Eyang sudah membereskannya. Kalian tinggal menempati," kata Pak Haris.
Via terperangah. Ia baru ingat pembicaraan beberapa hari yang lalu. Kesepakatan mereka, Via tinggal di ruko yang letaknya strategis, mudah dipantau.
"Kau telepon Ratna, beri tahu dia!" perintah Bu Aisyah.
"Baik, Bun," jawab Via. Ia segera bangkit dari duduknya, lalu menuju ke kamar mengambil ponselnya.
Ia segera menghubungi kontak Ratna.
__ADS_1
....
"Waalaikumsalam. Rat, ada yang mau kusampaikan. Ini serius."
....
"Iya, aku sibuk. Sekarang dengerin! Besok kita pindah ke ruko! Nanti aku kirimi alamat rukonya."
....
"Rat, keluargaku khawatir teror itu berulang. Tempat kost kita kan agak terpencil. Mereka maunya aku tinggal di tempat yang mudah dipantau."
....
"Dengerin aku dulu, Markonah! Kita bisa buka toko offline, toko fisik. Kalau perlu, kita cari orang buat jaga toko saat kita kuliah."
....
"Kamu sukanya nyerobot aja. Sudah kubilang, dengerin dulu. Aku belum selesai ngomong."
....
"Soal sewa, nggak usah kamu pikirkan! Aku aja nggak tahu berapa harga sewanya. Kita tinggal menempati ruko itu."
....
"Beneran, bawel! Besok pagi aku kabari lagi. Pokoknya siap-siap pindah!"
....
"Assalamualaikum."
....
Minggu pagi kali ini Via tidak ikut jogging. Ia membereskan baju dan keperluan lain yang akan dibawa ke ruko.
Setelah selesai sarapan, ia pergi diantar Farhan dan Azka. Pak Haris dan Bu Aisyah tidak ikut mengantar karena harus menghadiri resepsi pernikahan kolega Pak Haris.
"Ni kunci rukonya. Kemarin eyangmu menyuruh orang nganterin ke sini," kata Pak Haris sambil menyerahkan kunci kepada Via.
"Iya, Bun. Kami berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mereka menuju ke tempat kost Via untuk mengambil barang-barang Via sekaligus berpamitan kepada pemilik kost.
"Ratna sudah kamu hubungi?" tanya Azka.
"Sudah. Dia sudah otewe, kok."
Sesampai tempat kost Via, Ratna belum datang. Sambil menunggu, Via pun membereskan barang-barang miliknya dan memasukkan ke dalam mobil.
"Dek, mobilnya penuh dengan barang. Punya Ratna saja belum dimasukkan. Nanti Mas sama Dek Azka bawa barang ke ruko, kalian pamitan. Sesudah antar barang, Mas balik ke sini jemput kalian," kata Farhan.
"Iya, Mas. Nah, tuh Ratna datang," seru Via.
"Assalamualaikum. Maaf, bus kotanya pakai acara ngetem lama."
"Waalaikumsalam. Ya sudah, yuk aku bantuin."
Selesai membereskan barang-barang Ratna, Azka dan Farhan langsung berangkat ke ruko.
"Eh, kok kita ditinggal?" Ratna kebingungan.
"Kita pamitan dulu. Nanti mereka balik lagi ke sini, kok. Yuk, kita ke rumah pemilik kost ini!" ajak Via.
Saat Via dan Ratna kembali usai berpamitan, Farhan sudah menunggu.
"Mas Azka mana?" tanya Ratna.
"Dia di ruko, beres-beres. Yuk, kita ke sana!"
Sesampai ruko, Ratna dibuat melongo.
__ADS_1
"Gila! Ini besar banget. Pasti sewanya mahal. Kamarnya di atas, ya Mas?"
"Iya, yuk masuk!" ajak Farhan.
Ratna mengedarkan pandangan ke sekeliling ruko. Lagi-lagi ia dibuat takjub. Sudah ada etalase dan beberapa manekin tersedia di sana. Barang dagangan mereka pun sudah dimasukkan ke dalam etalase.
"Kok sudah rapi?" tanya Via heran.
"Kan ada yang merapikan. Orangnya di atas, tuh," jawab Farhan sambil tersenyum.
Mereka bergegas ke lantai 2. Koper dan barang pribadi mereka sudah di depan kamar. Azka tengah duduk santai sambil menonton televisi.
"Wah, kok ada sofa, televisi besar juga?" Ratna kaget.
"Eyang yang nyuruh nyiapin ini," jawab Azka santai.
Ratna geleng-geleng kepala takjub.
"Tuh, kalian masukkin barang-barang kalian ke kamar! Aku nggak tahu kamar kalian. Silakan pilih kamarnya," kata Azka lagi.
Selesai menata barang-barang pribadi mereka di kamar, Via dan Ratna bergabung dengan Farhan dan Azka menonton televisi. Sudah ada cemilan dan minuman tersedia di meja.
"Suka nggak dengan tempatnya?" tanya Farhan.
"Suka banget. Ini lebih dari ekspektasi," jawab Ratna.
"Sudah lihat dapur belum?" tanya Azka.
"Kami kan baru selesai beres-beres kamar," kata Via.
"O iya. Dapur di sebelah sana," tunjuk Azka.
Via tak sabar segera ke dapur. Ternyata dapur yang tersedia tidak hanya bersih, juga sudah lengkap dengan peralatan memasak.
"Eyang Probo kok tiba-tiba baik?" bisik Ratna.
Via hanya tersenyum. Dalam hati ia sangat bersyukur karena Allah telah membalikkan hati Eyang Probo.
"Kalau masih ada yang kalian perlukan, bilang saja! Mumpung kami masih di sini," kata Farhan yang tiba-tiba berdiri di belakang Via.
"Enggak, Mas. Ini sudah lebih dari cukup," sahut Via.
"Beneran? Jangan lupa, telepon bunda! Nanti beliau khawatir," kata Farhan lembut.
"Iya, Mas."
Setelah beristirahat sejenak, Azka dan Farhan berpamitan.
"Makasih, Mas. Kami jadi merepotkan," ucap Ratna tulus.
Farhan dan Azka hanya tertawa. Farhan menyapukan pandangannya ke sekeliling ruko, seolah memastikan kondisi ruko aman. Saat pandangannya beradu dengan Via, ia tersenyum.
"Aku ingin sekali mencium dan memelukmu, Sayang."
"Dek Via, Ratna, kami pulang dulu. Kabari kalau ada apa-apa. Assalamualaikum," ucap Farhan.
"Waalaikumsalam."
Setelah Farhan dan Azka pergi, Via dan Ratna masuk ke dalam ruko.
"Mas Azka baik banget. Baju-baju sebanyak ini sudah tertata rapi di etalase. Kamu beruntung banget jadi saudara angkat mereka," kata Ratna.
"Iya, Rat."
" Mas Farhan juga beda, ya?"
" Beda gimana?"
" Biasanya kan dingin, jutek. Sekarang kok jadi ramah, banyak senyum.
Via ikut tersenyum.
"Maaf, Rat. Aku belum bisa kasih tahu ke kamu."
__ADS_1
"O iya, aku harus menelepon bunda"
Via buru-buru ke lantai 2 mengambil ponselnya.