
Di teras ada seorang gadis yang
sedang menata hati karena tidak sengaja mendengar pembicaraan keluarga Via.
Jantungnya berdetak kencang mengetahui rencana Eyang Probo menjodohkan Via
dengan Azka, pria yang mencuri hatinya.
Saat membereskan minuman di meja, gadis bergamis biru dongker berhenti
sejenak mendengar nama Azka disebut. Ia mengenal Azka saat Azka datang ke
Azrina. Sikap Azka yang ramah, humble, membuat gadis itu tertarik.
Meski tidak pernah ngobrol
intens dengan cowok itu, ia sudah memiliki kesan yang mendalam terhadap Azka.
Ia terkesan dengan keramahan dan ringan tangannya Azka. Soal wajah, tentu saja
menarik. Apalagi tubuhnya yang atletis berotot, makin memancarkan pesona sosok
Azka.
Sebenarnya, kepergian Azka untuk
melanjutkan studi membuat ia harus menahan rindu. Ia hanya bisa memendam
perasaannya, menyembunyikan dari siapa pun. Ia pun berusaha membunuh perasaan
itu.
Namun, saat ia melihat kembali sosok Azka yang pulang
mengantarkan jenazah Farhan, rasa itu kembali membuncah. Sejak siang, ia memang
belum berbicara dengan cowok itu. Ia hanya memandang diam-diam.
Dan, kali ini perasaannya menjadi sakit mendengar ucapan
Eyang Probo. Kalau perjodohan dengan Via, mungkin bisa ditolak kalau Azka tidak
menghendaki. Tapi, Eyang Probo bilang kalau Azka menaruh hati kepada Via. Ini
di luar dugaan.
“Sudah selesai, Sa? Kok malah diam begitu? Ada apa?” teguran
dari belakang Salsa mampu membuat gadis itu terkejut.
“A—aanu be—lum. Hampir, iya hampir,” kata Salsa gugup.
“Kamu kenapa? Kalau capek, istirahat. Jangan memaksakan
diri!”
“Eng—enggak, kok. Salsa baik-baik saja,” sahut Salsa.
__ADS_1
“Ya sudah. Ingat, jangan terlalu lelah! Setelah ini,
istirahatlah! Mira dan Ratna ke mana?”
“Sepertinya di dalam,” jawab Salsa yang sudah mulai tenang.
“Aku masuk dulu.”
Salsa mengangguk. Ia memegang dadanya yang masih berdegup
kencang. Bagaimana tidak berdebar-debar? Cowok yang sedang ia pikirkan mendadak
muncul di belakangnya.
Setelah membereskan teras, Salsa bergegas ke dapur. Ia tidak
ingin mendengar percakapan keluarga Via lagi.
***
Paginya, setelah sarapan, keluarga Via termasuk Via, ditambah Edi, Ratna, Mira, dan Salsa berkumpul di ruang tengah. Mata Via masih terlihat bengkak. Warna hitam tampak di sekeliling matanya.
Pak Candra tampak berwibawa. Ia memandang ke semua orang yang duduk di ruangan tersebut.
"Saya bermaksud mengungkap fakta di balik musibah yang menimpa Farhan. Bukan berarti saya tidak mau mengikhlaskan kepergian Farhan. Namun, kecelakaan yang menimpa Farhan begitu janggal. Polisi pun sedang menyelidiki. Mungkin, kita bisa membantu memberikan keterangan yang dapat membantu pengungkapan kasus ini," kata Pak Candra.
"Apakah yang dimaksud Pak Candra ada rekayasa di balik kecelakaan kemarin?" tanya Pak Haris.
"Benar, Pak. Banyak kejanggalan di sini. Edi sudah menyampaikan kepada saya sebagian. Saya juga sudah menanyai karyawan perkebunan yang terakhir bertemu Farhan dan Tedi," jawab Pak Candra.
"Menurut karyawan perkebunan, Farhan meninggalkan perkebunan pagi itu tanpa sarapan. Tedi yang mengemudikan mobil. Namun, karyawan itu sempat mendengar pembicaraan Tedi melalui telepon kalau dia diminta pulang. Makanya, dia berniat sampai terminal," papar Pak Candra.
"Berarti, ada kemungkinan yang di dalam mobil itu bukan Farhan, tapi Tedi?" Eyang Probo bertanya penuh harap.
Via menunduk lesu. Ia menggelengkan kepala lemah.
"Mas Farhan sempat telepon Via. Katanya, Bang Tedi ikut temannya yang melintas saat mereka menunggu ban ditambal," kata Via lirih.
"Ban mobil bocor? Kok bisa?" Pak Haris kaget mengetahui fakta itu.
"Kemungkinan besar, itu bagian dari rekayasa mereka. Mas Farhan sendiri sudah curiga. Namun, almarhum hanya menduga ulah tukang tambal ban yang cari untung." Edi angkat bicara.
Via mengambil ponsel dari saku gamisnya. Ia memberi isyarat kepada Edi agar membantunya menghubungkan dengan speaker. Kemudian, Via memutar rekaman percakapannya dengan Farhan terakhir kalinya.
Meski tidak terlihat jelas gambarnya, suara percakapan tersebut cukup jernih. Mereka menyimak yang Farhan katakan.
"Berarti setelah meninggalkan bengkel, Farhan di mobil itu sendirian," gumam Eyang Probo kecewa. Tadinya, ia berharap orang lainlah yang menjadi korban kecelakaan.
"Iya, Tuan. Dan, perlu diketahui bahwa salah satu dari tukang tambal ban itu saya kenali sebagai anggota komplotan Kelelawar Hitam," jawab Edi.
Pak Candra tampak terkejut. Ia menatap Edi dengan tajam.
"Perasaan saya langsung tidak enak setelah menonton rekaman itu kemarin. Makanya, saya menghubungi Gio untuk melacak keberadaan Mas Farhan. Sayang, tindakan saya terlambat," kata Edi seraya menunduk lesu.
"Saya lengah, saya ceroboh. Gara-gara pulang kampung, saya mengabaikan keselamatan keluarga Mbak Via. Saya tidak tahu kalau Mas Farhan ke Medan. Makanya, saya tidak menempatkan bodyguard untuk mengawal Mas Farhan," lanjut Edi.
Pak Candra mulai memahami kegusaran Edi yang ia tangkap sejak kemarin. Sebagai orang yang telah mengenal Edi dengan baik, Pak Candra tentu tidak menyalahkan Edi begitu saja. Ia tahu persis dedikasi Edi.
__ADS_1
"Kau yakin kalau Kelelawar Hitam terlibat? Kalau iya, kita harus secepatnya melaporkan kepada pihak yang berwenang. Sebenarnya polisi sudah curiga, sih," ujar Pak Candra memastikan.
"Yakin, Tuan. Saya mengenali dari rekaman video percakapan Mbak Via dan Mas Farhan," jawab Edi penuh keyakinan.
"Kelelawar Hitam itu perkumpulan apa?" tanya Bu Aisyah polos.
"Itu adalah kelompok penjahat. Mereka biasa disewa untuk melukai, menculik, bahkan membunuh seseorang," terang Pak Candra.
Pak Adi tampak geram. Wajah tuanya menegang.
"Candra, kerahkan anak buahmu untuk menyelidiki dalang di balik kecelakaan yang menimpa Farhan! Koordinasi dengan pihak kepolisian agar tidak terjadi kesalahan," perintah Pak Adi.
"Baik, Pi. Nanti saya hubungi. O ya, Via bisa kirimkan rekaman video call kamu ke Om? Itu juga barang bukti," pinta Pak Candra.
"Baik, Om," jawab Via dengan suara hampir tak terdengar.
"Ed, kamu siap-siap ke Medan jika kerenganmu dibutuhkan," kata Pak Candra.
"Siap, Pak. Lalu, siapa yang akan mengurus perusahaan kalau saya pergi? Edi tampak ragu.
"Aku akan di sini untuk sementara waktu. Kalau kamu harus pergi ke Medan, pergi saja. Nanti biar Pak Arman membantuku mengurus Wijaya Kusuma," kata Pak Adi mantap.
"Kalau seperti itu, saya bisa tenang," ujar Edi.
"O ya, nanti saya beserta istri kembali ke Medan. Dini kembali ke Bandung kapan? Ujian kamu bagaimana?"
Dini menegakkan pandangannya ke papanya.
"Dini juga nanti kembali. Ujian sih sudah selesai. Tapi, masih ada tugas yang mesti Dini selesaikan, jawab Dini.
"O, begitu. Via, maaf ya, Om nggak bisa lama-lama di sini. Perusahaan membutuhkan kehadiran Om di sana," kata Pak Candra sambil menatap lekat Via.
Hati Pak Candra mendadak nyeri. Ia teringat yang sudah menimpa Via.
"Iya, Om. Via ngerti kok. Di sini toh masih ada kakek, ayah, bunda juga. Om nggak usah khawatir.
Pak Candra mengangguk-angguk. Rasa iba dan khawatir masih memenuhi hatinya.
Siang itu, keluarga Psk Candra pulang ke Medan, kecuali Dini. Ia ke Bandung terlebih dahulu untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
Via lebih sering mengurung diri di kamar. Ia terus mengenang kenangan yang terukir bersama Farhan.
Hatinya sering menolak fakta kalau Farhan sudah meninggal. Ia merasa Farhan masih hidup dan suatu saat akan pulang.
"Hubbiy, Via merindukanmu. Via nggak percaya Hubbiy meninggal. Tapi, rentetan fakta yang dibeberkan memang sulit dibantah," bisik Via sambil menatap foto Farhan.
Mendadak perutnya terasa kencang. Via meringis sembari memegang perut buncitnya.
"Kamu menanyakan ayahmu, Nak? Ini ayah. Ia pria yang soleh dan penyayang. Ikuti jejaknya, ya!" kata Via seolah sedang berdialog dengan anaknya.
Perut Via terus saja terasa kencang. Via meringis menahan sakit. Ia mencoba mengatur nafas untuk mengurangi sakit.
***
Bersambung
Tunggu kelanjutannya, ya! Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Aku siap dukung balik karya Kakak author yang meninggalkan komentar insya Allah 🙏
__ADS_1